Senin, 16 November 2009

Saya dan SIM

Pernahkah Anda melanggar peraturan ? Bagaimana rasanya jika melanggar aturan ? Tentu saja rasanya tak enak, hati menjadi tak tenang *ups...tapi bagi orang-orang yang memiliki kelainan jiwa, perasaan ini tentu saja tak ada dalam benak mereka*

Berbulan-bulan di Merauke, saya juga merasa hidup tidak tenang. Penyebabnya padahal simple saja, yaitu saya tak punya SIM. Mungkin banyak orang akan mentertawakan saya karena tidak punya SIM sampai membuat hidup saya gundah gulana. Didikan dari kecil akan kedisiplinan membuat saya sering merasa bersalah dan tidak tenang jika melanggar peraturan, mungkin inilah yang disebut dengan conditioning-terbiasa karena dikondisikan. Sebenarnya saya sudah memiliki SIM, tapi sudah habis masa berlakunya tahun 2006 dan karena terlambat diperpanjang, maka saya harus buat baru. Beberapa waktu yang lalu, saya coba buat di Jember, tapi apa daya...disana saya tak lolos ujian praktek. *jago di jalanan ternyata belum tentu berhasil mengatasi rintangan di tempat ujian praktek*. Akhirnya, dengan koneksi yang bisa mengusahakan pembuatan SIM dengan 'jalur cepat', saya memilih membuat SIM di Merauke, walaupun harus merogeh kantong dalam-dalam. Hmm...untuk mematuhi peraturan, saya 'terpaksa' melanggar aturan. Dan, itu adalah praktik yang lumrah di muka bumi Indonesia tercinta ini. Tapi untunglah...beberapa kota sekarang sudah menerapkan aturan yang ketat tentang pembuatan SIM ini sehingga praktek-praktek percaloan atau 'jalur cepat' tak lagi bisa digunakan. Semoga saja aturan yang ketat tentang pembuatan SIM ini akan dapat mengurangi angka kecelakaan di jalan raya karena SIM benar-benar diperuntukkan bagi orang-orang yang memang ahli mengemudikan kendaraan bermotor.

Tidak patuh aturan selain membuat hidup tidak tenang, juga ternyata membawa dampak kerugian ekonomi bagi yang berusaha mengabaikan aturan. Hal ini saya alami sendiri. Akibat tidak memiliki SIM, saya harus memilih jalan memutar untuk menghindari tempat-tempat yang sering terkena razia dan, bensin-pun jadi cepat habis. Dan jika terkena razia, maka harus mengeluarkan uang lebih banyak. UU Lalu lintas yang baru membuat aturan denda Rp. 1.000.000 bagi pengendara yang terbukti tidak memiliki SIM. Hii...ngeri!

Jadi, sudahkah Anda memiliki SIM ?

Kamis, 12 November 2009

Buntu

Pernahkah Anda merasa tidak tahu harus melakukan apa ? Berada pada satu titik dimana Anda tidak tahu harus maju atau mundur. Apa yang Anda lakukan jika menghadapi situasi seperti ini ?

Kamis, 05 November 2009

CEMBURU

Cemburu...saya yakin semua pernah merasakannya dan mungkin pernah melakukan tindakan konyol karena terbakar rasa cemburu. Dan, tepat ketika saya menulis posting ini, seorang teman wanita melakukan tindakan konyol atas nama cemburu. Saya yang lebih dahulu mengenal kekasihnya merasa sah-sah saja dan tidak memiliki tendensi apa-apa ketika memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang karena itu memang biasa saya lakukan terhadapnya. Rupanya panggilan akrab saya itu disalah artikan oleh teman saya. Bisa ditebak kan kelanjutannya ? Saya akhirnya harus sibuk menjelaskan bahwa saya tak memiliki maksud apa-apa *sempat terlintas pikiran jahat untuk membumbui agar dia semakin panas. xixixixixi...* Come on, girls...! Tak sadarkah dirimu bahwa jika kamu bersikap begitu, maka kamu akan membuat lelakimu tak bebas dan akhirnya hanya menjadi seonggok manusia yang tak bisa diharapkan karena terlalu kau lindungi ?

Rasa cemburu rupanya tak hanya berkaitan dengan masalah asmara saja, tapi juga dalam hal pekerjaan. Beberapa hari ini, saya menerima keluhan dari karyawan. Mereka mengeluh tentang apa yang mereka terima mengapa tidak sama dengan karyawan yang lain atau mengapa diperlakukan beda dari karyawan yang lain. Di dalam dunia kerja, rasa cemburu ini mungkin muncul karena karyawan merasa diperlakukan tidak adil *jika sudah banyak yang mengeluh, maka perusahaan bisa dituding tidak berlaku adil. tapi, kalau cuma 1 atau 2 orang, mungkin mereka hanya sirik saja* Tapi tak jarang, rasa cemburu ini muncul karena ingin memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain, ingin meraih apa yang diraih oleh orang lain tanpa mau berbuat atau bekerja sama kerasnya dengan orang lain. Akhirnya jegal menjegal, saling mengkritik dan menjatuhkan nama baik menjadi akibat nyata dari rasa cemburu. Kadang-kadang rasa cemburu juga tidak memiliki dasar yang jelas, seperti keluhan seorang teman tadi pagi...
Fs : "Eh, si X itu sekarang statusnya apa?"
Me:"Karyawan"
Fs : "Oooo...kalau begitu, berarti bisa menegur-negur dengan lebih leluasa"
Me :"Maksudnya?"
FS :"Lha...dia sering pulang cepet. Aku kan iri. Yang lain gak bisa pulang cepet, giliran dia bisa kabur seenaknya."
Me : "Halah"
Bukankah itu bukanlah hal yang seharusnya dicemburui ? Pulang cepat atau tidak itu kan hak karyawan dan tergantung pada keahlian mereka sendiri dalam melakukan manajemen waktu. Hmm...rasa cemburu sepertinya sama persis karakternya dengan rasa cinta...tak memiliki logika!

Apakah anda juga dikuasai rasa cemburu hari ini ?

Selasa, 03 November 2009

PARANOID

Bumi Indonesia tengah bergolak menyesuaikan dirinya ke dalam bentuk yang pas. Pergolakan itu-pun dirasakan sebagai gempa dan meluluhlantakkan segala sesuatu yang ada di atas permukaan. Terakhir, gempa dahsyat membuat Padang menjadi porak poranda. Dan tak lama kemudian, gempa-gempa kecil-pun terasa di beberapa tempat di seluruh Indonesia, hanya Kalimantan saja yang tidak tersentuh *sepertinya tinggal di Kalimantan cukup menyenangkan*. Bencana sekecil apapun dengan dampak yang sekecil apapun pasti akan membuat orang yang mengalaminya merasakan trauma. Adik sepupu saya yang tinggal di Jogja pada saat gempa terjadi pada tahun 2004 selama beberapa saat selalu shock setiap kali mendengar suara ribut. Keluarga di Jogja juga tak pernah mengunci pintu rumahnya selama beberapa waktu karena takut tak bisa melarikan diri jika gempa terjadi. Ruang tamu-pun menjadi pilihan yang paling praktis untuk tidur karena letaknya yang dekat dengan pintu keluar.

Saya bersyukur pada Sang Pencipta Alam Semesta karena tak pernah berada di tempat yang dilanda bencana *matur nuwun Gusti Allah* sehingga saya tak mengalami trauma. Namun, pemberitaan media massa yang gencar dan bertubi-tubi menayangkan berbagai bencana tak urung membuat nyali saya-pun ciut. Manusia memang hanyalah setitik noktah di alam semesta ini sehingga wajar jika rasa takut melekat padanya. Memang saya tak mengalami trauma, karena saya tak pernah mengalami kejadian yang traumatis, tapi saya menjadi paranoid. Saya sering merasakan ketakutan yang tak berdasar sehingga seringkali merasa khawatir dan was-was yang berlebihan. Panca indra saya-pun dirangsang bekerja lebih keras untuk merasakan hal-hal yang saya kuatirkan. Beberapa kebiasaan-pun terpaksa dirubah atas dasar rasa takut. Jika orang-orang ahli agama atau religius mencerna apa yang saya rasakan ini maka tak pelak mereka pasti akan melabel saya kurang pasrah dan tidak percaya akan kehendak Tuhan. Mungkin saja...tapi yang jelas, perasaan ketakutan dan kecemasan tak dapat dikontrol kapan datangnya...hanya insting saja bahwa semua tidak baik-baik saja dan segala kemungkinan dapat terjadi dalam hidup saya, termasuk tertimpa bencana.

Apakah anda merasakan hal yang sama dengan saya ?


Jumat, 30 Oktober 2009

The Devil Wears Prada

Beberapa waktu yang lalu, saya iseng-iseng membuka kumpulan tulisan saya yang telah lampau. Dan, saya menemukan sebuah tulisan yang cukup bagus *narsis banget ya...memuji tulisan sendiri* tentang sebuah film yang diangkat dari novel dengan judul yang sama. Dan, inilah tulisan lampau saya .....

The Devil Wears Prada menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang baru saja lulus dari Fakultas Hukum, Standford University. Dia pintar, cantik, dan sangat berbakat dalam bidang jurnalistik. Impiannya adalah menjadi seorang jurnalis. Namun impian tidaklah mudah untuk didapatkan. Ia diterima bekerja di majalah Runaway, tapi sayangnya bukan sebagai jurnalis. Ia diterima sebagai assisten kedua sang pemimpin tertinggi di majalah itu, Miranda Priestly. Ups…saya lupa menyebutkan nama wanita yang beruntung mendapatkan pekerjaan yang diinginkan oleh jutaan gadis di seluruh dunia itu ya? Namanya Andrea Sachs atau Andy. Andy mengalami gagap budaya berada di lingkungan kerja barunya karena disana semua karyawannya modis dan trendy, sementara Andy adalah wanita yang konservatif dalam berpenampilan. Belum lagi, sang bos adalah tipe wanita berdarah dingin yang menggunakan manajemen by ‘pokokmen piye carane’ alias bagaimana caranya harus dapat/harus bisa. Dia tidak peduli kalau assistennya harus jungkir balik atau hampir mati sekalipun, asalkan semua permintaannya terpenuhi tanpa cacat dan tepat waktu. Hal-hal itu membuat Andy stress. Namun, bukan Andy namanya kalau tidak mampu mengatasi masalahnya dengan baik karena ia adalah seorang yang ulet dan memiliki motivasi kerja yang tinggi. Sedikit demi sedikit, Andy mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan mampu membuat si boss terkesan, bahkan ia mendapatkan penghormatan tertinggi untuk seorang assisten, yaitu mendampingi bos menghadiri gala pameran busana di Paris, mengalahkan assiten pertama. Tapi, prestasi yang diraih Andy menuntut pengorbanan tertentu, yaitu kehidupan pribadinya. Hubungannya dengan kekasih dan teman-temannya hancur berantakan karena ia tidak mampu lagi memberikan waktu bagi mereka, seluruh hidupnya tersedot sebagai pelayan bos. Suatu hari, Andy menyadari bahwa pekerjaan ini bukanlah impiannya dan ia telah kehilangan segalanya sehingga ia-pun memutuskan untuk mengakhiri pekerjaannya di puncak kesuksesannya. Ia kembali menekuni impiannya, menjadi jurnalis. Andy berani meninggalkan pekerjaan yang menjadi impian semua gadis demi sebuah aktualisasi diri.

Sebuah film yang menarik, kan? Film ini seperti refleksi kehidupan bagi saya: kisahnya, perjuangan tokohnya, dan konfliknya. Yang berbeda adalah saya belum mencapai ending yang membahagiakan seperti Andy karena bagaimanapun durasi film dan kehidupan nyata sangat berbeda jauh. Saya jadi teringat pada masa-masa awal saya bekerja setelah lulus kuliah. Lulus kuliah terlambat dari waktu yang ditentukan membuat saya sempat ‘goyah’ dan kurang PD untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Penolakan demi penolakan membuat saya terjebak dan akhirnya menerima tawaran apapun, asalkan mendapatkan pekerjaan meskipun kurang sesuai dengan minat dan kemampuan saya. Namun, ambisi dan keinginan untuk segera hidup mandiri membuat saya melupakan cita-cita yang pernah tergantung setinggi langit. Hari demi hari dijalani dengan penuh kekosongan sampai pada akhirnya seorang bos berkata pada saya, “Apa yang kamu cari, Deb?” Yup…apa yang saya cari? Dalam 3 tahun, 3 kali berganti pekerjaan bukanlah suatu rekor yang bagus. Saya tidak mampu bertahan lebih dari 1,3 tahun dalam sebuah perusahaan karena saya sangat mudah bosan. Kutu loncat, kata orang-orang. Saya-pun belum menemukan nikmatnya bekerja, belum merasakan gairah yang meluap-luap dalam bekerja karena semua saya jalani demi sebuah keharusan, yaitu keharusan untuk bertahan hidup. Saya menjalani pekerjaan yang diinginkan oleh semua orang, tapi tidak oleh saya sendiri meskipun saya mampu melakukannya dengan cukup baik. Ini bukanlah seperti yang saya impikan!

Lalu mengapa tidak keluar saja seperti Andy? Hmmm…sekali lagi, hidup saya bukanlah film yang endingnya bisa ditebak atau diciptakan. Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah hidup saya dan saya tidak cukup berani untuk mengambil resiko mengubah haluan dari apa yang saya jalani sekarang. Saya tidak berani untuk berhenti bekerja tanpa mendapatkan kepastian akan keberlangsungan hidup saya. Dalam bekerja, rupanya saya masih berada dalam hirarki Maslow pertama, yaitu berusaha memenuhi kebutuhan dasar, bukan berusaha untuk mengaktualisasikan diri.

Jadi, kapan saya bisa seperti Andy? Saya kira jawabannya adalah ketika saya tidak lagi membiarkan diri saya mengikuti arus-let it flow!

Kamis, 22 Oktober 2009

Mak Comblang

Di blog saya yang lama, saya pernah menulis tentang sebuah kisah cinta monyet saya di masa SMU. Kisah cinta itu begitu membekas dalam hati saya hingga menjadi sebuah obsesi. Dan, obsesi itu-pun terwujud 10 tahun kemudian berkat jasa adik dari pujaan hati saya itu. Tapi namanya bukan jodoh, kisah itu berlalu begitu saja, hanya menyisakan perkenalan yang seharusnya terjadi 10 tahun yang lalu. Sekarang-pun saya tak lagi tahu bagaimana kabarnya. Buat saya, biarlah dia mengendap dalam memori saya seperti dia apa adanya ketika jaman remaja dulu karena dialah kenangan termanis yang saya miliki semasa SMU.

Putus kontak selama beberapa bulan ternyata tak otomatis memutus tali silaturahmi. Sebulan yang lalu, sang adik yang berjasa mewujudkan obsesi cinta monyet menghubungi saya. Berbincang tentang hal-hal ringan hingga akhirnya tercetus keinginannya untuk mencari pendamping hidup. Sasarannya adalah adik saya. Hmm...tak ada salahnya juga saya memberikan nomor contact adik, karena toh adik saya juga sedang membutuhkan teman untuk berbagi rasa. He's very excited when he knows my sister using the same celluler provider. *bahkan untuk urusan hati, prinsip ekonomi tetap berlaku* Setelah pemberian nomer itu, saya tak lagi update kabar berita mereka dan saya kira dia tak terlalu serius dengan adik saya, hanya ingin berkenalan saja. Tapi, kemarin saya bak mendapat hujan deras dengan tiba-tiba di tengah siang hari yang terik. Adik saya bilang bahwa ia sekarang 'jalan' atau pacaran dengan adik dari pujaan hati saya. Wow...sebuah proses yang cepat buat saya dan saya hanya bisa mengucap syukur atas apa yang terjadi. Tak sadar, saya telah sukses menjadi mak comblang. *padahal saya sama sekali tak berniat menjodohkan mereka* Membayangkan mereka, saya jadi sering tersenyum-senyum sendiri. Apa jadinya jika kelak mereka menikah ? Lalu, hubungan saya dengan obsesi 10 tahun saya akan berbentuk seperti apa ya ? *can't wait*

Jadi...siapa berikutnya yang ingin saya comblangin ?

PS: Tulisan ini adalah sebuah letupan kegembiraan yang tak dapat dibendung dan ditulis sambil mencuri-curi waktu di saat jam kerja. Dipersembahkan untuk adikku yang hatinya sedang berwarna merah jambu. I love you, sis!

Senin, 12 Oktober 2009

Lompatan Ide


Setiap orang pasti dianugerahi dengan kemampuan untuk berpikir, bahkan orang yang mengalami keterbelakangan mental sekalipun. Hanya saja, kapasitas berpikirnya saja yang berbeda. Ada orang yang mampu berpikir dengan baik sehingga menghasilkan output berupa ide dan gagasan yang cemerlang, dan ada pula orang yang daya berpikirnya rendah sehingga idenya 'tampak' kurang bermutu. Saya bersyukur dilahirkan dengan kemampuan berpikir yang cukup baik, bahkan menurut tes IQ, kapasitas berpikir saya di atas rata-rata. Dengan kemampuan tersebut, maka saya tak sulit untuk memproduksi ide-ide, meskipun tak brilian!

Nah, pernahkah Anda tiba-tiba merasa punya bermacam ide di benak Anda? Saya sering mengalaminya! Ide-ide dengan lancar masuk dalam ruang pikir saya, berlompatan bak lumba-lumba, menari-nari seperti penari hawai. Darimana munculnya ide-ide tersebut ? Bisa bermacam-macam sumbernya, tapi seringkali ide tersebut muncul begitu saja ketika saya melihat sesuatu, merasakan sesuatu ataupun mengalami sesuatu. Namun, seringkali ide tersebut cuma mengendap saja di benak saya, tak ada kelanjutannya. *seperti halnya tulisan tentang ide ini, mangkrak di folder draft selama 3 hari* Sulit sekali membuat sebuah ide terwujud dalam sebuah aksi. Alhasil, ide-ide itu hanya berlompatan saja dalam pikiran saya, tak pernah tercetus keluar dan mengejawantah dalam bentuk perilaku atau tindakan.

Tulisan ini-pun saya buat sebagai pengingat bagi saya untuk terus membulatkan tekad dan butuh lebih dari sekedar semangat untuk membuat ide-ide saya terwujud, tak sekedar melompat, meloncat dan akhirnya dilupakan karena tertimbun oleh ratusan ide baru yang muncul belakangan. *sebuah pembenaran akan tidak produktifnya saya menulis di blog ini*

PS: Gambar diambil dari blog ini

Sabtu, 03 Oktober 2009

GOJEK KERE

Pernah mendengar istilah 'gojek kere'? Saya yakin sebagian dari anda belum pernah mendengar istilah ini, terutama yang berasal dari luar jawa. Gojek kere adalah sebuah istilah dalam bahasa jawa. Gojek bisa diartikan sebagai guyonan *halah... boso jowo meneh!* atau gurauan. Sementara kere bisa diartikan sebagai melarat *iki boso jowo opo endonesa yo?* atau miskin papa. Jadi kalau digabung maka arti dari gojek kere adalah guyonane wong melarat atau gurauannya orang miskin. Mengapa bisa disebut gojek kere? Kalau ini, jujur saya tidak tahu asal muasalnya. Yang saya tahu gojek kere biasanya dilakukan untuk mentertawakan nasib sendiri atau orang lain dan nasib yang ditertawakan adalah nasib yang tragis atau menyedihkan. Mengapa sesuatu yang menyedihkan bisa ditertawakan ? Yah...daripada ditangisi yang tak memberikan faedah apapun, maka lebih baik ditertawakan-bisa memberikan efek kesehatan karena tertawa itu sehat *filosofi ngasal ala deBoeng* Gojek kere-pun biasanya berkembang menjadi saling ejek, seperti mentertawakan fisik yang kurang rupawan, kisah hidup yang kurang mulus ataupun kisah-kisah asmara yang sad ending. Tapi, syarat utama dari gojek kere adalah tidak bermaksud untuk membuat orang lain tersinggung atau menyakiti hati orang lain. Maka, para pelaku utama dari gojek kere biasanya memang memiliki jiwa yang besar dan pantang untuk tersinggung serta memiliki tingkat intelektualitas dan pemahaman akan makna hidup yang dalam. Mengapa begitu ? Karena orang-orang yang cerdas dan berwawasan luas sajalah yang bisa mentertawakan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa dirinya adalah hanya secuil titik di tengah dunia *halah...sok berfilsafat lagi!* Baik...cukup sudah membicarakan asal muasal gojek kere karena nanti kalau dilanjutkan saya kuatir saya bakalan menciptakan ilmu baru tentang dunia pergojekan.

Bicara tentang gojek kere, saya selalu rindu dengan teman-teman kuliah yang aktif di PALAPSI. Gojek kere adalah kebiasaan yang tidak dapat dilepaskan ketika nongkrong bersama mereka. Saya heran bagaimana sesuatu hal bisa menjadi bahan gojekan yang meluas dan mampu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal melupakan segala masalah. Dan, gojek kere mencapai klimaksnya jika seseorang yang dijadikan bahan gojekan tampak menyerah pada keinginan publik. Sasaran gojek kere bisa siapa saja tergantung dari hot issue saat itu dan kasus yang menerpa sang objek penderita. Di komunitas PALAPSI *alumni* saat ini, yang paling sering dijadikan objek penderita adalah adik kelas saya. Tampangnya yang jauh dari lumayan, penampilannya yang kurang menjual, dan nasib perjalanan cintanya yang selalu kandas membuatnya jadi sasaran empuk. Memang kadang-kadang ia tersinggung, tapi itu tak lebih dari hitungan jam, ia akan kembali ceria. Dan gojek kere sebenarnya akan lebih seru jika sang objek memberikan perlawanan berupa pembelaan diri.

Gojek kere jika dilihat memang tidak memberikan manfaat, tapi jika dirasakan maka gojek kere sebenarnya memiliki banyak manfaat, terutama adalah membentuk kekuatan mental dan kepasrahan diri. Saya belajar untuk tidak terlalu stress dalam menghadapi segala persoalan (lebih legawa dan pasrah) dan juga tahan banting menghadapi segala ocehan dan cemoohan. Mengapa harus stress jika semua hal di dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah panggung drama yang penuh dengan hal-hal yang lucu ? Mari kita tertawa bersama !

Kamis, 03 September 2009

Curhat si single di usia 28 (1)

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapat telpon dari adik yang mengabarkan tentang pernikahan seorang tetangga. Adik saya yang gaya bicaranya berapi-api mampu membuat saya shock pada saat mendengar berita bahagia tersebut, apalagi dia menceritakan dengan nada lebay dot (.) com. Yang membuat saya kaget yaitu sang calon mempelai tak lain tak bukan adalah tetangga depan dan sebelah rumah. Pertama kali, adik saya membuka percakapan dengan memberikan sebuah pernyataan mengejutkan, "Spe..., si X mau nikah lho!" Dalam pikiran saya, langsung terbersit pikiran negatif, yaitu pernikahan itu terjadi karena MBA alias Married by Accident. Menurut saya, tak salah saya berpikiran begitu karena usia sang calon pengantin a.k.a tetangga depan rumah saya itu relatif masih muda, lebih muda dari adik saya yang tahun ini genap berusia 25 tahun. Tapi, ternyata pikiran saya salah...kata adik saya, si X menikah karena sudah waktunya menikah. Pertanyaan saya berikutnya...kok bisa ? *sambil menggeleng-gelengkan kepala dan melongo* Dan, jawaban adik saya adalah...karena cowoknya udah mapan. *semakin melongo* Hmm...baiklah...sekarang siapa lagi yang menikah ? Ternyata, si Y, tetangga sebelah rumah yang usianya juga masih muda. Karena adik saya menyampaikan beritanya dengan gaya yang lebih lebay dari sebelumnya, tak urung pikiran jelek MBA muncul lagi, dan...saya keliru lagi! Alasan si Y menikah juga sama dengan si X...karena calon suaminya sudah mapan sehingga sudah waktunya menikah.
Hmmm....jadi sekarang kalau cowoknya sudah mapan, harus segera menikah ya? *dan ukuran kemapanan itu yang seperti apa?* Sebuah alasan yang kurang kuat untuk mengakhiri masa lajang dan mengikatkan diri pada orang lain. Kemapanan memang salah satu faktor yang akan menyebabkan rumah tangga menjadi harmonis, tapi ada sekian banyak faktor lain yang juga menjadi penentu kelangsungan rumah tangga dan saya tidak yakin calon pasangan muda itu sudah memikirkannya. Bukti nyata bahwa kemapanan bukan satu-satunya faktor penentu kebahagiaan rumah tangga adalah banyak pasangan yang secara ekonomi sangat mapan, contohnya artis, akhirnya bercerai juga-bahkan ada yang dalam hitungan bulan saja. Menurut saya, salah satu faktor yang penting untuk menjalin rumah tangga bahagia adalah kedewasaan dan kematangan emosional. Bayangkan saja...mengatur emosi sendiri saja susah, apalagi harus dituntut untuk memahami emosi orang lain, belum lagi harus berkompromi dengan keinginan pasangan. Butuh tingkat kedewasaan yang tinggi untuk menjalani itu semua. Saya jadi ingat, salah satu dari tetangga saya itu, yaitu si X, tingkat ketergantungannya pada orang tua sangat tinggi karena ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang cukup protektif dan memanjakan. Bagaimana anak seperti itu dapat menjalani hidup rumah tangga, benar-benar tak terbayangkan oleh saya! Dulu semasa kuliah, saya dan teman-teman satu geng pernah membuat penelitian dengan tema kesiapan psikologis wanita-wanita muda suku Tengger untuk berumah tangga. Hasilnya, mereka ternyata memang sudah siap secara psikis untuk menikah meskipun masih dalam usia muda karena lingkungan-lah yang mendidik mereka seperti itu. Pendidikan cukup hanya sampai SD saja, selanjutnya wanita dididik untuk siap berumah tangga. Nah, jika di kota besar ? Saya tidak yakin bahwa keluarga-keluarga di kota besar saat ini mendidik anak-anaknya untuk siap menikah di usia muda karena perkembangan jaman yang pesat ikut menggeser nilai-nilai yang diajarkan dalam keluarga. Contohnya, adalah keluarga saya. Saya, kakak dan adik saya tidak diajarkan secara langsung maupun tidak langsung untuk siap membina rumah tangga tapi kami diajarkan untuk hidup mandiri, memiliki pendidikan tinggi sehingga mampu mencari penghasilan sendiri. Kesiapan berumah tangga atau menikah dipercayai akan terjadi secara otomatis sesuai dengan pertambahan usia. *tapi kok saya belum siap-siap juga ya di usia nyaris 30 ini?* Akhirnya, hanyalah doa yang bisa terucap untuk tetangga depan dan sebelah rumah bahwa mereka benar-benar siap untuk menikah dan menjalani semua problematikanya dengan sikap dewasa.

Tak lama berselang setelah adik menelpon, giliran ibu saya yang telepon. Beliau juga mengabarkan hal yang sama, tapi kali ini diberi tambahan bumbu-bumbu berupa testimoni tetangga, mirip dengan iklan-iklan produk kesehatan yang ada di televisi. Kata yang punya hajat, sama dengan yang disampaikan oleh adik saya tadi. Kata tetangga yang lain...mereka juga ingin menikahkan anaknya dengan segera. Kata ibu saya...jangan dulu, biar saja sekolah dulu. Kata tetangga yang lain...semoga ibu saya segera menyusul menikahkan anaknya 6 bulan lagi setelah pernikahan tetangga saya itu. Hmmm...it means tetangga berharap saya akan menyusul menikah 6 bulan lagi. Ibu saya berkomentar...ya mudah-mudahan ya, nduk. Ibu saya melontarkan harapannya secara tak langsung melalui cerita tetangga yang menikah agar saya cepat mengakhiri masa lajang saya. Dan, pernyataan-pernyataan tak langsung ini bukan hanya sekali saya dengar, tapi sudah cukup sering. *mungkin juga dialami oleh lajang-lajang yang lain* Saya hanya menjawabnya dengan tertawa ringan, karena saya tidak pernah bisa memberikan jawaban yang jitu.
Saya belum memiliki kesiapan psikologis untuk mengakhiri kesendirian saya, kelajangan saya. Saya masih menikmati kesendirian saya dan entah sejak kapan pikiran ini muncul...saya takut menjalani komitmen, saya takut menikah, saya takut terikat dan hidup diatur oleh orang lain, takut tak lagi bebas menjalani mimpi saya. Tapi, pikiran-pikiran itu tak mungkin saya sampaikan pada ibu saya kan ? Sampai detik ini, saat saya menulis blog ini, saya masih menemukan lebih banyak keunggulan menjadi single dibandingkan double.
Apa saja keuntungannya ? Tunggu tulisan berikutnya....

Minggu, 09 Agustus 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (7)

Tantangan bagi seorang rekruter adalah mencari tenaga kerja yang dibutuhkan dengan waktu yang cepat dan kandidat yang ada memenuhi semua kriteria yang disyaratkan untuk jabatan tersebut. Dan meskipun kelihatan mudah, namun pekerjaan ini sungguhlah berat. Bagaimana tidak ? Karena waktu untuk menentukan apakah seorang kandidat ini bagus atau tidak sangatlah sempit. Ada beberapa macam metode yang dapat digunakan untuk menilai seorang kandidat, yaitu tes tertulis, wawancara dan terakhir, tes kesehatan. Sudah waktunya sempit, hasil yang didapat dari metode-metode tadi juga belum sepenuhnya menjamin bahwa kandidat yang diperoleh akan memiliki kualitas yang bagus. Metode yang paling sulit dijadikan kriteria untuk memilah kandidat yang terbaik dari sekian banyak pelamar adalah wawancara, karena penilaian yang dilakukan oleh interviewer terkadang subjektif. *salut untuk para rekruter yang memiliki insting tajam terhadap kandidat*

Nah, ternyata bukan hal yang mudah kan untuk mendapatkan seorang kandidat yang sesuai dengan keinginan ? Di tempat kerja saya sekarang, metode yang digunakan untuk menseleksi kandidat hanya ada dua, yaitu wawancara dan tes kesehatan karena tes tertulis sulit untuk dilakukan, maklum saja yang saya test biasanya sulit untuk membaca dan menulis. Jadi, kandidat yang terpilih-pun kualitasnya masih diragukan karena biasanya mereka manis di muka, tapi berontak di belakang. Tapi, rupanya kesulitan untuk mencari kandidat ini tak dipahami oleh sebagian user di tempat saya bekerja. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, tapi hampir semuanya mengira kandidat kandidat yang mereka inginkan itu bisa siap kapan saja jika dibutuhkan. Hei...mereka bukan barang! Dan, memilih orang yang tepat tak semudah memilih barang. Barang jika tak cocok bisa dikembalikan atau ditukar, kalau orang ? *bisa-bisa ditimpuk dan dipukuli deh!* Belum lagi di Merauke, kesulitannya menjadi dobel karena hal-hal kecil, salah satunya bisa dibaca di sini. User tak pernah paham kesulitan-kesulitan ini sehingga seringkali baru hari ini mereka mengajukan permohonan, esok hari sudah ditagih. *please deh!*

Ada lagi user yang aneh dalam merekrut orang. Si bapak user ini selalu mencari sendiri orang-orang yang ingin dijadikan anak buahnya. Jika sudah ketemu, ia akan membawa surat permohonan penambahan karyawan plus sekalian orang yang akan direkrut. Memudahkan kerja saya sih sebenarnya sebagai rekruter, tapi...menyalahi prosedur dan ternyata kandidat yang dibawa tak bagus alias tak memenuhi persyaratan. Yang buat kesal adalah kandidat yang dibawa ternyata masih ada hubungan keluarga, padahal dalam perusahaan terdapat aturan bahwa satu bersaudara tak boleh bekerja dalam departemen yang sama. *ternyata di perusahaan swasta, Nepotisme berkembang dengan subur*
Kemudian, ada lagi yang keukeuh sumekeh bahwa kami harus memproses kandidat yang direkomendasikannya, padahal jelas-jelas kandidat yang dibawa tidak memenuhi syarat. Selidik punya selidik, ternyata si bapak sudah terlanjur berjanji pada rekanannya untuk merekrut kandidat tersebut. Dan yang paling menjengkelkan adalah ketika kata-kata seperti ini keluar, "HRD boleh cari pembandingnya, tapi saya akan tetap pakai yang ini!" *?@!$%&*#@!*

Dan, tak ada lagi yang lebih menjengkelkan selain pengalaman saya yang berikut ini :
Suatu hari saya mewawancara seorang kandidat sopir. Hasilnya tidak bagus dan saya tolak. Rupanya sang kandidat ini pantang menyerah, dia berusaha terus untuk bisa masuk. Tapi, saya tetap keukeuh karena kandidat ini saya nilai bermasalah di attitude. Akhirnya, dengan usaha yang pantang menyerah dia berhasil masuk ke site tapi melalui kontraktor perusahaan. Selama kerja di site, dia terus melobby para user agar bisa masuk ke perusahaan saya dan yup...usahanya berhasil. Seorang user membuat surat rekomendasi agar saya merekrutnya dan meskipun saya sudah jelaskan berbagai alasan tentang kenapa tidak meloloskannya dalam proses seleksi yang lalu, sang user tetap bersikukuh ingin mengambilnya. Geram rasanya karena ini berarti saya menjilat ludah sendiri! Dan, yang menyakitkan adalah pandangan kandidat tersebut setiap kali berpapasan dengan saya, seakan-akan dia bilang...tuh kan saya yang menang! *saya rupanya suka sensitif berlebihan* Belakangan, kecurigaan saya tentang attitude-nya terbukti-ia sering mangkir dari tugasnya dan seenaknya sendiri sehingga terancam kontraknya tidak akan dilanjutkan. Kalau sudah begini, ingin saya teriak ke muka user yang dulu bertahan ingin merekrutnya..."Apa saya bilang dulu? Dia not recommended!" Sayangnya, user yang dulu itu sudah berganti posisi dan ditempatkan di site lain. Hiks!




Sabtu, 08 Agustus 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (6)

Saya tidak tahu apakah yang saya alami ini hanya terjadi di kota-kota kecil, seperti Merauke ini ataukah juga terjadi di kota-kota besar, macam Jakarta, tapi yang jelas kejadian ini baru saya alami ketika bekerja di Merauke. Ada seorang karyawan yang sangat gigih memasukkan anggota keluarganya ke perusahaan dengan berbagai macam posisi. Mulai dari perawat, sopir hingga mekanik. Hmmm...oke, itu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan lain. Tapi, yang buat unik adalah yang memasukkan lamaran hingga memfollow up lamaran adalah istri karyawan yang usianya sudah relatif tua. Sementara anak dan menantunya yang melamar kerja, tak pernah sama sekali nongol di kantor untuk mem-follow up lamarannya. Bahkan pernah suatu kali, saya memanggil si menantu untuk wawancara di kantor...eh...yang datang malahan si ibu mertua a.k.a istri karyawan. Saya tentu saja terkejut dan ketika saya tanya kenapa ibu datang kesini, dia jawab, "Tadi ada panggilan untuk si X tapi kurang jelas, bu. Saya mau tanya kapan dia dipanggil?" Ya ampun! Kenapa tidak si menantu yang datang untuk konfirmasi? Kenapa juga harus ibu mertuanya yang sudah renta yang harus datang tergopoh-gopoh ke kantor untuk bertanya? Apakah sang menantu tidak punya keberanian ? Fiuh...saya rasa karyawan saya dan istrinya telah salah mengambil menantu!
Kemudian, ketika hari wawancara tiba...lagi-lagi si ibu mertua yang datang menemui saya, "Ibu, hari ini tho wawancaranya? Itu si X sudah datang!" Please deh...umur sudah 35 tahun, badan seperti preman, tapi datang wawancara saja diantar oleh mertuanya, padahal rumahnya di belakang kantor. *tuing...ingin rasanya mengospek si menantu agar punya semangat juang*

Masih cerita yang sama tentang si X, si menantu kurang ajar itu. Ketika si X menerima gaji untuk pertama kalinya, dia datang kepada saya untuk bertanya apakah gajinya bisa diambil oleh keluarganya. Tentu saja saya bilang tidak bisa, dan meminta dia untuk membuat rekening di bank rekanan kami. Ternyata, dia punya rekening dan meminta ijin untuk mengambilnya. Tak selang berapa lama, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri saya dan mengaku istri si X. Ya ampun...memang parah benar si X ini...selalu sembunyi di balik wanita-wanita perkasa yang membuat hidupnya nyaman. Saya-pun akhirnya menceramahi istrinya bahwa harusnya yang datang menghadap saya itu suaminya sebagai karyawan, bukan keluarganya. *tentu saja dengan gaya ketus khas saya. hehehehe...* Dan, anda tahu...yang diberikan ke saya bukan rekening atas nama sang karyawan alias sang menantu kurang ajar alias si X, tapi rekening istrinya. OMG!

Anak karyawan tidak lebih baik dari si menantu. Yang menyerahkan lamaran ke kantor adalah ibunya dan ibunya pula yang setia menyatroni kantor nyaris tiap hari untuk menanyakan perkembangan lamaran anaknya. Duh...ibu, harusnya anda duduk manis saja di rumah...biarkan para lelaki Anda yang bekerja keras membanting tulang, karena itulah gunanya Anda memiliki anak laki-laki! Saya-pun jadi bertanya-tanya dan menduga bahwa ada yang salah pada cara membesarkan anak di keluarga karyawan itu karena tidak saja anak dan menantu yang membuat si ibu harus bolak-balik ke kantor, tapi juga sang suami. Istri karyawan ini sering bolak balik ke kantor untuk mengurus keperluan kerja suaminya, mulai dari mengurus kredit motor sampai mengurus kartu jamsostek. Hmmm...tak terbayangkan jika keluarga itu nanti kehilangan si ibu! *mudah-mudahan si ibu diberikan kesehatan dan umur panjang*
Tapi, ada hikmahnya juga si buat saya karena sering berhubungan dengan si ibu. Saya diberi souvenir berupa gantungan kunci dan miniatur rumah semut. Yipie!



Sabtu, 01 Agustus 2009

Aku Suka Mencuci

Pekerjaan rumah tangga apa yang paling melelahkan bagi Anda ? Kalau saya, pasti akan menjawab mencuci baju dan seterika. Dua pekerjaan tersebut benar-benar membuat energi terkuras *apalagi badan saya kecil, jadi kurang bertenaga*. Belum lagi waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan pekerjaan itu, terutama mencuci. Proses merendam baju saja membutuhkan waktu minimal 30 menit, meskipun dalam kenyataannya saya selalu merendam baju-baju saya minimal 2 jam *kelihatan malasnya ya?*. Setelah merendam, harus menguceknya. Mengucek adalah proses yang paling melelahkan dalam mencuci, apalagi kalau pakaiannya besar dan berbahan berat, seperti celana jeans *meskipun berat nyucinya, but i can't live without jeans* dan jaket. Itu sebabnya untuk pakaian-pakaian itu, saya lebih suka memasukkannya ke laundry. Tapi sayangnya di Merauke, jasa laundry sulit sekali ditemukan, sehingga mau tak mau saya harus mencuci semua baju saya, apapun jenisnya. Dan berhubung mencuci adalah pekerjaan berat, saya memilih untuk mengirit penggunaan baju *ah...bilang saja malas, deb!* Satu celana jeans bisa saya pakai selama 1 minggu dan untuk jaket lebih parah lagi, 1 bulan sekali baru dicuci. Selain mengirit penggunaan baju, cara lain yang saya gunakan untuk menghindari aktivitas mencuci adalah saya mencuci seminggu sekali atau setelah pakaian kotor menumpuk dan tak punya baju ganti lagi. Alhasil, pekerjaan mencuci jadi semakin berat dan melelahkan karena jumlah yang dicuci banyak dan pakaianpun jadi kusam karena tidak terawat dengan baik dan benar. Tak jarang pula, pakaian-pun setelah dicuci menjadi berbau apek karena terlalu lama direndam *akibat nyata dari menunda pekerjaan*. Dan, proses berikutnya setelah mengucek adalah membilas. Meskipun pekerjaan membilas ini lebih ringan daripada mengucek, tapi tak urung juga membuat keringat meleleh karena pekerjaan ini dilakukan minimal 3 kali untuk mendapatkan cucian yang benar-benar bersih. Untuk yang menyukai bau harum pada pakaiannya, proses mencuci masih ditambah dengan merendamnya dalam larutan pewangi selama kurang lebih 10 menit. Tapi, proses ini optional-bisa dilakukan bisa tidak. Nah, proses terakhir dari mencuci adalah menjemur pakaian. Ini adalah proses yang paling menyenangkan dari mencuci karena merupakan tahap akhir dan tidak membutuhkan energi yang besar untuk melakukannya. Tapi, kadang-kadang cuaca yang tidak menentu bisa membuat proses ini jadi menyebalkan. Bayangkan saja...ketika menjemur, matahari bersinar dengan teriknya tapi selang satu jam kemudian, matahari tiba-tiba menghilang ditelan awan mendung dan hujan rintik-rintik datang. Kalau sudah begini, pasti kita akan lari tergopoh-gopoh untuk menyelamatkan jemuran agar tidak basah lagi. Eh, setelah selesai menyelamatkan semua jemuran, matahari tiba-tiba muncul lagi dengan malu-malu dan hujan tak jadi datang. Arrrgggghhhhh! Mencuci memang pekerjaan rumah tangga paling berat. Salut untuk para buruh cuci di seluruh dunia yang dengan tekun dan setia menjalani profesi tersebut!

Tapi, kini saya mulai menyukai pekerjaan mencuci. Apa sebabnya ? Karena berkat inovasi cerdas salah satu pabrik cairan pengharum dan pelembut pakaian, pekerjaan mencuci tak lagi berat. Kita bisa menghemat tenaga, waktu dan juga air sekaligus. Benar-benar sebuah penemuan yang paling inovatif abad ini *lebay mode on* Produk ini membuat terobosan di proses membilas, yaitu yang biasanya kita harus membilas 2-3 kali untuk menghasilkan pakaian yang bersih dari busa sabun maka dengan produk tersebut kita cukup membilas 1 kali saja plus mendapatkan bau harum. Waktu mencuci-pun menjadi lebih singkat dan kita tidak perlu mengeluarkan bergalon-galon keringat serta air lagi untuk mencuci. Sangat praktis! Sayapun tak ragu merekomendasikan produk ini pada orang-orang yang saya kenal dan ternyata mereka semua sangat menyukainya. Mencuci tak lagi menjadi pekerjaan yang berat dan melelahkan! Ups...ini tentu saja berlaku bagi orang-orang yang tak memiliki mesin cuci ya! Hmmm....jadi berangan-angan ingin punya mesin cuci *eits, kan hidup sendiri ya, baju yang dicuci juga punya sendiri, ngapain harus pakai mesin cuci? pemborosan!*
O ya, produk ini tidak saja berhasil menghemat tenaga dan waktu tapi juga berhasil menyelamatkan lingkungan. Dengan proses mencuci yang biasa, kita harus menghabiskan air 4 ember besar karena ada 3 kali proses bilas. Tapi produk ini membuat kita hanya menghabiskan 2 ember besar saja-sebuah langkah penghematan air yang nyata bukan ?
Jadi, mari beramai-ramai menggunakan produk canggih tersebut demi lingkungan dan hidup yang lebih berkualitas karena kita jadi lebih punya banyak waktu dan tenaga untuk mengerjakan aktivitas lain yang berguna!

Rabu, 29 Juli 2009

I'm back and I'm shock

Saya kembali di jagad maya setelah hibernasi sebulan lamanya karena kesibukan kerja dan cuti. Kembali ke Jawa ternyata tidak otomatis membuat saya dapat mencicipi kemudahan akses internet, maklum saya tak lagi memiliki moda transportasi yang memadai untuk pergi ke tempat-tempat yang menyediakan akses internet gratis, bahkan warnet sekalipun. Alhasil, blog saya-pun kering!

Kembali ke Merauke, saya cukup shock. Cuti terlalu lama ternyata tidak baik, terutama bagi orang-orang yang memiliki kemampuan adaptasi yang jelek. Banyak sekali perubahan yang terjadi di lingkungan kerja dan cukup membuat saya terperangah karena perubahan-perubahan tersebut sedikit banyak bersinggungan dengan wilayah 'nyaman' saya. Tapi nasi telah menjadi bubur *apa hubungannya ya?* , jadi mau tak mau saya harus terima semua perubahan yang ada dan harus bisa menyesuaikan diri dengan keadaan.

Beberapa hari yang lalu, tak lama setelah tiba di Merauke, saya disapa oleh seorang teman lama. Ia mengabarkan pernikahan seorang teman kuliah di Jogja yang katanya akan diselenggarakan di Jember, kota kelahiran saya. Sayang sekali...beritanya baru saya dengar ketika saya sudah kembali ke Merauke sehingga saya tak dapat hadir di hari bahagianya. Yang membuat saya shock adalah proses teman saya itu mendapatkan belahan jiwa yang akan mendampinginya hingga ajal menjelang. Saya iseng bertanya karena terdorong rasa ingin tahu yang sangat bahwa calon istrinya berasal dari kota yang sama dengan saya dan kebetulan juga, kami satu SMA, meskipun berbeda angkatan *what a small world*. Mereka rupanya berkenalan melalui chatting. Yup...chatting-ngobrol online! Ini kedua kalinya saya mengetahui orang yang dekat dengan saya menemukan jodohnya melalui chatting. Yah...rupanya kemajuan teknologi informasi-pun sanggup mempertemukan dua hati *ups...iklan!* Dan, bagian yang lebih mengejutkan adalah frekuensi pertemuan mereka. Mereka hanya bertemu 4 kali saja, sebelum akhirnya memutuskan untuk menikah. Kok bisa ya ? Saya tak habis pikir! Lha wong saya yang frekuensi bertemunya dengan mantan-mantan pacar saya saja cukup sering tidak ada yang berakhir bahagia, kok ini cuma bertemu 4 kali plus chatting bisa mantap untuk menikah-mengakhiri kisahnya dengan happy ending. Entahlah...mungkin inilah yang namanya jodoh!

Kamis, 18 Juni 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (5)

Beberapa hari yang lalu saya mengalami suatu kejadian yang tak mengenakkan hati. Belum juga jarum jam menunjukkan pk. 10.00 WIT, di tengah-tengah hiruk pikuk karyawan yang akan berangkat ke site, saya didatangi kembali oleh seorang pelamar yang selama berbulan-bulan setia menyatroni kantor saya dan sempat sebulan ini menghilang ke Tanah Merah. Jika biasanya ia hanya setia duduk berjam-jam di ruang tamu menunggu lamarannya diproses, kali ini dia datang langsung masuk ke kantor saya dan marah-marah. Rupanya ia sudah kehilangan kesabaran meskipun saya bilang bahwa saya telah memanggilnya untuk diseleksi, tapi saat saya panggil dia sedang berada di Tanah Merah. Dan, dia tetap ngotot menuduh saya tidak memprosesnya. Duh!

Dia memaki-maki saya sambil mengeluarkan kata-kata binatang dan kata-kata jorok lainnya yang sungguh sangat menyakitkan hati. Dia masih menambahi juga dengan ancaman bahwa dia akan mencelakakan saya di jalan dan juga merekam seluruh pembicaraan saat itu. Terakhir, dia membanting map lamarannya di depan muka saya. Bohong jika saya baik-baik saja menghadapi pelamar ini karena meskipun saya memasang muka dingin dan menatap matanya terus, hati saya berdegup kencang. Saya takut jika ia bertindak nekat dan membahayakan nyawa saya, apalagi saat itu saya hanya berdua saja dengan pelamar itu di ruangan. 15 menit berlalu dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda amarahnya. Polisi yang menjaga kantor akhirnya masuk karena mendengar suara ribut-ribut di ruangan saya, tapi sang pelamar baru bisa tenang setelah marah-marah selama 30 menit.

Ketika dia sudah agak tenang, saya ganti menggertak dia *sifat tak mau mengalah saya muncul dalam keadaan tertekan* Saya berikan dia sebuah kesempatan untuk menjadi sopir dump truck di site, tapi saya bilang bahwa penilaian saya terhadap dia sudah berkurang dengan sikapnya tersebut. Pelamar yang tadinya memaki-maki saya akhirnya sibuk memberikan penjelasan atas sikapnya dan meminta maaf. Hehehehehe...dalam hati saya bangga juga pada diri sendiri karena berhasil menghadapi situasi 'genting' dengan tenang, padahal saya biasanya adalah pribadi yang mudah tersulut emosinya.

Esok lusanya, dia siap naik ke site. Dan ketika saya memberikan surat pengantar untuknya, ia memberikan sebongkah emas putih seukuran kelereng untuk saya. Saya terhenyak tapi tak perlu berpikir lama untuk menolak pemberiannya. *lamaran kerja saja dia minta kembali apalagi emas* Saya ingin menunjukkan pada pelamar tersebut, bahwa saya bekerja mengikuti aturan dan tak mau menerima imbalan atas pekerjaan yang memang sudah seharusnya saya lakukan. Mudah-mudahan saja si bapak pelamar itu benar-benar memegang janjinya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membuat keributan.


Jumat, 05 Juni 2009

Virus itu bernama Facebook

Saat ini siapa yang tidak mengetahui Facebook ? Dijamin semua orang yang melek akan dunia informasi pasti mengenal situs jejaring sosial yang satu ini. Facebook membuat beberapa orang menjadi addicted dengan sedikit-sedikit update status, upload foto terbaru dan memberikan komentar untuk status orang lain, serta mengikuti aneka ragam kuis dari yang bermutu sampai yang tidak bermutu. Facebook juga membuka jalinan pertemanan yang mungkin sudah terlupakan sekian tahun, bahkan tak jarang ada beberapa orang yang akhirnya berubah dari tak begitu kenal menjadi akrab melalui Facebook. Facebook-pun tak luput dari hiruk pikuk panggung politik. Facebook dijadikan ajang kampanye untuk mempromosikan calon-calon pemimpin negara. Facebook juga bisa dijadikan ajang mencari dukungan untuk sebuah problematika tertentu. Bahkan saya berani bertaruh bahwa penjualan BlackBerry meningkat pesat, salah satu faktor penyebabnya adalah karena orang tak ingin terputus sedetik-pun koneksinya dengan Facebook. *adakah yang berminat melakukan survei perilaku konsumen untuk hal ini?*

Karena Facebook sudah semakin mendominasi kehidupan maka beberapa perusahaan mulai khawatir Facebook ini akan membuat pegawainya menjadi tak produktif karena asyik berkutat dengan Facebook. Oleh karena itu, banyak perusahaan yang akhirnya memblokir Facebook di jam-jam kerja, termasuk perusahaan saya. *hmmm...seharusnya perusahaan melakukan survei terlebih dahulu sebelum memutuskan secara sepihak seperti ini* Dan yang khawatir berlebihan tak hanya perusahaan, tapi juga para ulama, sampai-sampai mereka membuat fatwa haram untuk facebook, entah apa dasar pertimbangannya. Facebook memang fenomenal karena mampu menyedot perhatian sekian juta orang sebagai pengguna aktif. Hal ini mungkin terjadi karena cara menggunakannya yang mudah dan mampu memberikan informasi terkini tentang orang-orang terdekat. Saya sendiri baru mengenal facebook beberapa waktu yang lalu dan sudah jatuh cinta pada jejaring maya ini karena bisa bertemu dengan teman-teman lama yang sekian tahun terlupakan. Namun, aktif berfesbuk ria ternyata membutuhkan iman yang kuat *tak salah juga rupanya para ulama berkonsentrasi membahas facebook karena berurusan dengan iman* karena jika tak kuat iman maka akan memberikan dampak buruk, seperti tak produktif bekerja, jealous pada kehidupan orang lain, membohongi publik, dan perselingkuhan. Tak dapat dipungkiri, selain sebagai ajang bertukar informasi, dukungan dan menjalin silaturahmi, secara tak disadari facebook menjadi ajang aktualisasi diri. Semua orang sibuk memoles dirinya agar sedap dipandang di Facebook. Siapa yang ingin tampil buruk rupa di depan teman-teman lama ? Agar tak memalukan, maka berbagai cara-pun dilakukan untuk menunjukkan eksistensi diri, mulai dari update status yang 'wah', rajin upload foto-foto yang diambil di tempat-tempat yang mengundang decak kagum, rajin berkomentar, hingga mengikuti group-group yang menunjukkan eksistensi diri. Facebook-pun tak lagi menjadi fenomena tapi sudah menjadi virus yang memberikan efek berbeda bagi penderitanya.

Sudahkah anda update status hari ini ?

Kamis, 04 Juni 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (4)

Suatu hari ketika interview berlangsung....

Interviewer : Kalau bapak lolos skill test, maka bapak akan diangkat jadi karyawan. Kalau bapak jadi karyawan maka yang akan bapak terima adalah Gaji Pokok .... dan premi .... . Selain itu, bapak akan dapat asuransi .... dan fasilitas ....
Jelas, pak ? Ada yang ingin ditanyakan ?
Interviewee : Jelas, bu
Interviewer : Ok, kalau begitu bapak kapan bisa mulai skill test ? Kamis ini bisa, pak?
Interviewee : Bisa, bu
Interviewer : Baik, kalau begitu kita ketemu lagi hari Kamis. Secara keseluruhan, ada yang ingin ditanyakan, pak ?
Interviewee : Hmm...ada, bu. Kalau jadi karyawan, nanti Gaji Pokoknya berapa ya ?
Interviewer : Aaaaaaarrrrgggghhhh....@$%#&*^%&!!!!!!


Interviewer : Bawa KTP, pak ?
Interviewee : Tidak, bu
Interviewer : Ok deh. Nama bapak siapa ?
Interviewee : XXXXXXX
Interviewer : Tanggal lahir bapak ?
Interviewee : Aduh...saya lupa, bu...
Interviewer : ?????????????


Interviewer : Pendidikan terakhir bapak apa ?
Interviewee : STM, bu
Interviewer : Kok tidak ada foto copy ijazahnya, pak ?
Interviewee : Oooo...itu, saya tidak lulus STM
Interviewer : Lho ?
Interviewee : Saya ikut ujian paket C, bu
Interviewer : Oooo...terus ijazah Paket C-nya mana, pak ?
Interviewee : Belum diambil, bu
Interviewer : Belum diambil ? Memangnya bapak kapan ikut Paket C-nya ?
Interviewee : Saya kurang tahu, bu. Itu istri saya yang urus.
Interviewer : Lho...istri bapak yang urus ? Tapi kan yang ikut ujian bapak tho...
Interviewee : Istri saya, bu yang ikut ujian...
Interviewer : O...kalau gitu yang ikut paket C itu istri bapak, bukan bapak
Interviewee : Iya saya, bu yang ikut paket C
Interviewer : ...... (No comment sambil menghela nafas panjang)


Interviewer : Bapak melamar untuk posisi apa ?
Interviewee : Direktur, bu
Interviewer : Direktur??? Waduh...kami sudah punya direktur, pak
Interviewee : Kalau gitu wakil direktur, bu
Interviewer : ?????????????!!!!!!!!! (bengong)


Interviewer : Keahlian bapak apa ?
Interviewee : Saya bisa mengoperasikan alat berat, bu
Interviewer : Alat beratnya apa saja ?
Interviewee : Dozer, Tractor, Truck
Interviewer : Ok. Tapi, saat ini kami belum ada lowongan untuk dozer, tractor ataupun truck, pak
Interviewee : Tolonglah, bu...saya hanya ingin bekerja
Interviewer : Iya, pak. Saya tahu. Tapi, kami tidak ada lowongan yang sesuai untuk bapak
Interviewee : Bu, saya ini juga kalau diminta jadi pilot pesawat, saya juga bisa bawa pesawat (marah-marah)
Interviewer : ..... *so what gitu lho!*










Selasa, 26 Mei 2009

Nonton Road Race

Akhirnya...setelah beberapa hari saya ribut di Facebook mencari dukungan untuk nonton road race, saya berkesempatan nonton juga di hari Minggu, 24 Mei 2009 nan panas. Berbekal topi dan kamera, saya dengan semangat 45 meluncur menuju Jl. Raya Mandala yang telah diubah menjadi sirkuit dadakan, padahal saat itu suhu badan saya sedikit tinggi karena terserang flu. Saya tiba di arena balap pk. 14.00 dan jalanan sudah padat dengan penonton yang tampak antusias melihat event yang diselenggarakan setahun sekali di Merauke ini. Jalanan di Merauke sebenarnya jauh dari layak untuk dijadikan sebagai arena adu kecepatan karena jalannya tak mulus dan bergelombang tapi rupanya itu jadi tantangan tersendiri bagi pembalap.

Saya melewatkan satu seri balapan ketika menemukan tempat yang nyaman untuk menonton. Sebenarnya saya mengincar lokasi menonton di tikungan tapi karena datang terlambat, tikungan-pun sudah habis dilibas oleh penonton yang haus hiburan. Saya-pun cukup berpuas diri menonton di trek lurus. Saya sebelumnya tak tertarik pada even-even yang melibatkan banyak orang seperti itu, tapi road race yang cuma diadakan 1 tahun sekali ini merupakan hiburan tersendiri bagi saya, seperti halnya menonton karnaval kemerdekaan karena tak banyak hiburan yang bisa dinikmati di kota paling timur Indonesia ini. Jadi, motivasi saya menonton road race bukan karena saya hobby olahraga otomotif tapi karena saya tak punya pilihan hiburan lain.

Menonton road race sama seperti menonton karnaval, tak ada pembatas antara peserta balapan dan penonton. Ngeri juga menyaksikan banyak anak-anak kecil tanpa pengawasan dari orang tua atau orang dewasa yang ikut menonton road race. Mereka belum mengenal bahaya sehingga sering kali mereka terlalu ke tengah jalan ketika balapan berlangsung. Untung saja, polisi tanpa kenal lelah selalu menghalau penonton-penonton yang nakal melongok bahaya. Balapan usai menjelang sore hari. Di tengah-tengah pembalap melakukan victory lap, penonton sudah semburat bubar jalan sehingga tak ayal pembalap yang masih berkendara dengan kecepatan cukup tinggi harus mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan penonton. Sungguh tontonan yang menarik sekaligus sarat dengan bahaya!

Road race-pun usai-pemenang lomba berdiri dengan gagah di atas tribun kemenangan dan penonton puas karena telah diberikan suguhan atraktif dan mendebarkan jantung. Tapi, road race masih menyisakan pekerjaan bagi pekerja jalanan, yaitu sampah. Kesadaran yang rendah akan kebersihan lingkungan *tak ada satupun tempat sampah di jalan-jalan merauke* membuat arena balap yang notabene adalah jalan raya menjadi tempat sampah raksasa. Botol-botol minuman dan pembungkus makanan-pun menghiasi jalanan hingga hari senin menjelang.

Foto-foto road race dapat dilihat di blog saya yang ini.


Sabtu, 23 Mei 2009

Dingin

Langit bertaburkan bintang...kerlap kerlip di angkasa yang hitam pekat. Tak ada rembulan hiasi malam ini. Dimanakah engkau wahai dewi keelokan ? Di belahan bumi manakah gerangan dirimu menampakkan diri ? Mengapa kau tak muncul di saat aku ingin menggantungkan mimpiku ?

Malam ini, rasa dingin menelikung ragaku. Aku hanya bisa menggigil tak berdaya di bawah selimut tipisku seraya menggenggam erat mimpiku. Aku sungguh tak ingin kehilangan mimpiku, bulan. Bulan, kembalilah padaku...berikan aku kehangatan dengan sinar redupmu dan rengkuhlah mimpiku hingga fajar menjelang...

Dingin...hanya dingin yang kurasakan ketika engkau pergi...!

Senin, 18 Mei 2009

Episode Patah Hati

Apakah begitu sulitnya bagi dirimu untuk mengabarkan kabar bahagia itu padaku ?

Apakah begitu sulitnya bagi dirimu untuk memberitahuku bahwa kau tak lagi sendiri ?

Mengapa kau masih saja melayangkan sejuta kata-kata mesra di saat kau akan melepaskan status lajangmu ?

Mengapa kau biarkan aku bermimpi bahwa aku masih punya kesempatan untuk menjalin asmara yang sempat renggang ?

Sejuta kata tanya berkecamuk di dalam otakku dan kau tetap diam membisu, tak memberikan sepatah kata-pun sebagai penjelasan.

Jumat, 15 Mei 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (3)

Untuk tulisan kali ini, saya akan menulis sebuah kisah yang tidak dapat dikategorikan dalam kisah suka maupun duka karena mencakup dua-duanya. Anda pernah merasa mual dan ingin muntah gara-gara menginterview kandidat ? Saya pernah! Bahkan hal ini saya alami berkali-kali.

Bekerja di suatu daerah yang belum tersentuh oleh canggihnya metode pengelolaan SDM, dimana HRD masih dianggap sama dengan Personalia, membuat saya harus melakukan banyak penyesuaian. Untuk merekrut tenaga kerja, utamanya lulusan STM, perusahaan saya bekerja sama dengan BLK setempat. Maksud hati ingin mempermudah rekrutmen, malahan membuat saya lelah tiada duanya. Ini karena pihak BLK belum sepenuhnya paham bagaimana caranya memfasilitasi kebutuhan perusahaan. Bayangkan saja, ketika saya minta kandidat lulusan dari BLK, saya diberi nyaris 30 lamaran yang harus saya proses pada hari interview. Di satu sisi, hal tersebut adalah keuntungan karena saya jadi punya banyak pilihan, tapi di lain sisi mulut saya jadi pegel euy dan banyak membuang waktu karena menginterview kandidat-kandidat yang sebenarnya tak masuk kualifikasi sama sekali. Bayangkan saja...mulut saya harus digunakan untuk mewawancarai 30 orang pada hari yang sama dengan rata-rata waktu interview 10 menit. Saya interview dari pk. 09.00-14.00 non stop. Benar benar melelahkan dan membuat kerongkongan kering. Sebenarnya saya bisa saja umumkan hari itu juga, bagi yang tidak memenuhi kualifikasi-misal pendidikan kurang, umur berlebih-untuk tidak ikut interview, tapi saya takut mengecewakan mereka dan berakhir dengan kejadian anarkis alias saya didemo oleh mereka. *akhir-akhir ini saya memang cari aman. hehehe* Jadi, mau tak mau saya interview semua kandidat yang datang hari itu. Fiuh! Rasa haus dan lapar yang menyerang karena interview 5 jam non stop membuat saya sering kehilangan konsentrasi di peserta-peserta akhir.

Selain mulut pegel dan perut keroncongan, ada satu hal lagi yang membuat saya nyaris pingsan dan mual ketika interview, yaitu bau badan. Yup....BAU BADAN! Entah apa yang dimakan oleh para kandidat ini, dari radius 100 m, ketika mereka memasuki ruang interview, saya langsung lemas mencium bau badan mereka. Campuran antara bau bawang, amis, dan bau kecut sekaligus. Teman-teman sering menjuluki kandidat-kandidat saya dengan sebutan 'manusia berketek empat'. Duh...kenapa si mereka sebelum interview tidak pakai deodoran ? Hmm...jangankan pakai deodoran, datang ke tempat interview saja mereka menggunakan pakaian seadanya, bahkan ada yang bercelana pendek dan bersandal jepit. Kalau sudah begini, saya jadi rindu merekrut di kota-kota besar dimana kandidat-kandidatnya selalu berpakaian rapi, dan berbau harum.

Tapi, inilah konsekuensi bekerja di daerah yang jauh dari ibu kota dimana penampilan adalah harga mutlak. Disini, Anda tak perlu berpenampilan rapi dan berbau harum untuk bisa bekerja karena yang terpenting adalah memiliki kemampuan yang bisa dijual dan semangat untuk bekerja keras. *cover doesn't need at all*



Kamis, 14 Mei 2009

Mengenang PALAPSI

Pagi tadi saya membaca sebuah note yang sangat bagus dari seorang teman di FB. Tulisan tersebut berkisah tentang Epilog 34 tahun PALAPSI. Membaca tulisan tersebut membuat saya terkenang pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu ketika masih aktif di PALAPSI. Apa sih PALAPSI itu sehingga membuat teman saya bisa membuat tulisan yang sangat dalam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan itu ?

PALAPSI adalah sebuah organisasi mahasiswa Psikologi UGM yang mengkhususkan dirinya pada kegiatan kepecintaalaman. Didirikan pada tanggal 28 Juni 1975, PALAPSI (PLP) telah mengukir banyak prestasi dan menjadi organisasi pecinta alam yang diperhitungkan dan disegani karena prestasinya tersebut. PLP memiliki 5 divisi operasional, yaitu air, gunung, tebing, gua dan pengabdian masyarakat, dimana Air menjadi fokus selama beberapa generasi hingga saat ini. Mengapa air ? Karena PLP memiliki ambisi yang cukup besar di bidang ini dan PLP telah membuktikan kepiawaiannya di Air melalui beberapa prestasi membanggakan, seperti first descent Progo hingga menaklukkan jeram-jeram sungai di Thailand baru-baru ini. Menurut saya, PLP adalah organisasi yang kaya akan pembelajaran dimana setiap tahunnya berhasil mencetak kader-kader penerus dengan mimpi yang semakin tinggi. Dan, saya yang pernah bergelut di dalamnya selama kurang lebih 3 tahun merasa bangga telah menjadi bagian dari PLP.

Saya mengawali 'hidup' di PLP pada tahun 1999. Awal mula ketertarikan adalah ajakan dari seorang kakak kelas yang saat itu mempesona saya karena ia memiliki cinta yang besar pada PLP. *m think, i love u at that time* Kegiatan pertama yang dia tawarkan adalah dayung kering, sebuah latihan dasar yang harus dijalani ketika akan berkegiatan di air. Wah...capeknya bukan main, otot-otot-pun langsung tegang, terutama otot tangan. Tapi, cara kakak kelas itu dan senior-senior lain dalam memotivasi membuat rasa capek itu dengan segera terlupakan. Yel-yel NEVER GIVE UP yang selalu didengungkan setiap kali akan berkegiatan mampu menghipnotis saya untuk memacu diri hingga ambang batas kemampuan. Saya-pun jatuh cinta pada PLP! Kegiatan demi kegiatan saya jalani dengan senang hati, terutama kegiatan camping. *ooh...aku rindu camping, bau rumput basah dan dinginnya udara malam*
Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama-hanya 6 bulan saja bulan madu saya dengan PLP. Ibarat pernikahan, setelah masa bulan madu habis, maka mata kita akan terbuka tentang siapa sesungguhnya pasangan kita. Begitu pula hubungan saya dengan PLP, masa bulan madu saya berakhir ketika saya menjadi salah satu pengurus. Derai air mata lebih banyak menghiasi hari-hari saya dibanding dengan tawa, apalagi saat itu kami benar-benar dipush untuk mendapatkan dana segar guna membiayai ekspedisi luar negeri pertama PLP ke Serawak, Malaysia. Saya-pun jatuh bangun mengikuti gerakan PLP. Menangis, bertengkar, merasa diacuhkan adalah makanan sehari-hari. Tapi, tanpa saya sadari pengalaman itu membuat saya memunculkan diri saya yang sebenarnya, potensi saya benar-benar tergali dan akhirnya membentuk saya menjadi pribadi yang 'utuh'. Saya yang dulunya selalu minder berubah menjadi percaya diri, tertutup menjadi terbuka, komunikasi tidak lancar menjadi pandai berbicara, dan saat itu pula saya menyadari bahwa saya adalah orang yang keras hati. *saya baru ngeh kalau saya keras kepala dari feed back teman-teman PLP*

PLP benar-benar merasuki diri saya. Setelah lulus dari masa kepengurusan 2000-2001, saya ditunjuk untuk jadi pengurus kembali, tapi dengan posisi yang berbeda dan masa kepengurusan yang lebih panjang, yaitu menjadi Kadiv Litbang dan masa kepengurusan 1,5 tahun. Masa ini saya jalani dengan lebih matang dan saya-pun membidani beberapa event besar. Sebuah pengalaman yang sungguh tak kan terlupakan karena pada masa itulah saya mengenal outbound training dan saya berhasil mendapatkan pekerjaan di kemudian hari karena pengetahuan saya akan bidang tersebut. Jatuh bangun masih saya alami, tapi rasanya energi tak pernah habis untuk PLP. Pagi kuliah, sore hingga dini hari untuk PLP. Saya-pun kerap dimarahi orang tua karena pulang terlalu larut dan melakukan kegiatan-kegiatan beresiko tinggi serta menguras uang tabungan saya. Tapi, semua itu terbayar dengan pengalaman-pengalaman yang masih berguna intisarinya bagi saya hingga saat ini. Menyenangkan sekali rasanya mengenang saat-saat itu. Tapi, hidup di PLP tak kan memberikan arti sedalam ini bagi saya jika tanpa teman-teman berkegiatan. Teman-teman PLP sekarang ini tak ubahnya bagai saudara karena dengan merekalah saya menghabiskan waktu nyaris 24 jam tiap harinya selama kuliah. Merekalah yang menempa saya menjadi sosok seperti saat ini. *i love u all, guys!*

Terima kasih PALAPSI karena telah membentuk saya menjadi pribadi yang tahan banting dan pantang menyerah!
Selamat ulang tahun yang ke - 34...semoga semakin jaya...!!!!!!

Jumat, 08 Mei 2009

Tersandung Asmara

Beberapa hari ini publik dikejutkan oleh berita menghebohkan, yaitu terlibatnya seorang pejabat negara dalam sebuah kasus pembunuhan petinggi BUMN. Urusan menghilangkan nyawa seseorang selalu menjadi pusat perhatian, apalagi jika dilakukan oleh public figure, macam Antasari Azhar, ketua KPK. Kasus pembunuhan petinggi BUMN, Nasarudin, cukup menghebohkan masyarakat pada bulan April 2009 karena metode pembunuhan yang cukup berani, yaitu menembak korban di jalan umum. Pembunuhnya pasti terlatih sekali, pikir orang saat itu. Tapi ternyata, mereka kalah lihai dari polisi, karena hanya dalam tempo sebulan mereka semua dibekuk. Bukan hanya pelaku penembakannya yang tertangkap, tapi juga otak pembunuhannya sekaligus, yaitu Antasari Azhar (AA). Publik kembali tercengang karena AA selama ini dikenal sebagai pejabat yang bersih dan memimpin sebuah lembaga yang saat ini ditakuti oleh banyak pihak yang suka 'menyelewengkan uang negara'. Bagaimana bisa seorang yang dikenal bersih dan tegas terlibat dalam tindak kriminal yang kotor ?

Beberapa spekulasi-pun merebak di masyarakat tentang kasus pembunuhan ini, tapi kebanyakan menyangsikan AA terlibat dalam pembunuhan tersebut. Saya yang seorang penggemar cerita kriminal juga tak habis pikir dengan betapa mudahnya AA terseret dalam tindak kriminal, apalagi setelah mengetahui tokoh-tokoh di balik kasus pembunuhan tersebut. Auw...apakah ini sebuah konspirasi besar untuk menjatuhkan seseorang yang menebar teror bagi orang-orang berperut buncit karena makan uang haram? Saya mendadak merasa geli membaca artikel di Kompas.com tentang kronologi pengungkapan pembunuhan Nasrudin. Menurut saya, tidak keren sekali-terlalu dramatis dan simple seperti cerita-cerita sinetron Indonesia *keseringan nonton CSI, maka otak kriminal saya jadi mbulet* Masa' kalau memang AA otak pembunuhan tersebut, didukung pula oleh tokoh-tokoh terkenal, macam SHW dan WW, bisa dengan mudah terungkap. Hmmm...atau mungkin mereka memang bukan orang-orang yang ahli melakukan pembunuhan ya makanya mudah tertangkap begitu ? Atau uang yang mereka berikan untuk sang pembunuh bayaran kurang ya sehingga orang suruhan itu mudah buka mulut dan teledor ? Apapun itu, rasanya tetap aneh orang sekaliber AA membunuh hanya karena urusan asmara. Apa tidak ada motif yang lebih keren untuk membunuh seseorang ? Apakah caddy tersebut memang sedemikian mempesonanya sehingga harus diperjuangkan dengan darah dan nyawa ?

Saya tidak sabar menunggu kelanjutan kisah kriminal seru ini berakhir karena melihat kisah ini seperti melihat sinetron televisi, banyak adegan yang tidak terduga tapi kurang alami alias terlalu nyata lakon sandiwaranya. Yah...tapi siapa tahu juga AA memang terlibat dan akhirnya terjungkal karirnya karena seorang wanita.

Selasa, 05 Mei 2009

SOTA-Sebuah perbatasan Republik Indonesia & Papua New Guinea




Perbatasan RI - PNG di Merauke terletak di distrik Sota. Tugu perbatasan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 2 jam dari kota Merauke. Tugu perbatasan belum dikelola secara maksimal, sehingga kurang memberikan kepuasan kepada pengunjungnya. Tapi, tak ada salahnya jika ingin berkunjung ke batas akhir negara tercinta Indonesia ini! Enjoy the picture!

Pola Wisata di Merauke

Beberapa hari disibukkan oleh pekerjaan yang seolah-olah tak ada hentinya *pura-pura sibuk mode on*, akhirnya saya berkesempatan refreshing juga. Hari Minggu kemarin, saya dan rekan-rekan satu departemen berwisata bersama memanfaatkan moment kunjungan seorang petinggi HR dari Jakarta. Tujuan wisata kali ini adalah Sota, yaitu daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Saya pernah berkunjung ke Sota beberapa bulan yang lalu, dan berniat tidak akan kesana lagi alias kapok, karena pengalaman yang didapat disana tidaklah sebanding dengan perjalanannya yang cukup lama, yaitu sekitar 1,5 jam dari kota Merauke. Perbatasan RI-PNG di Merauke yang terletak di distrik Sota sangatlah sepi dan tidak menarik karena tak ada atraksi, fasilitas wisata ataupun pemandangan yang indah-sangat jauh berbeda dengan perbatasan RI-PNG yang terletak di Jayapura. Sepanjang perjalanan menuju perbatasan juga cukup monoton, yaitu hamparan pepohonan eukaliptus dan rawa, sehingga membuat saya sering tertidur dalam perjalanan. Hoam...! Namun karena objek hiburan di Merauke sangatlah terbatas, objek yang kurang menarik macam Sota-pun laris manis dikunjungi oleh wisawatawan lokal. Sesampainya saya disana, sudah ada beberapa rombongan yang duduk-duduk berpiknik di taman yang dikelola oleh para tentara perbatasan. O ya, jika Anda berminat datang kesana jangan lupa melapor ke pos tentara yang terletak tak jauh dari tugu perbatasan. Cukup meninggalkan KTP saja!
Foto-foto perbatasan RI-PNG di Sota dapat dilihat disini.

Jika kita menuju Sota, maka kita akan melewati kawasan Taman Nasional Wasur. TN Wasur adalah daerah konservasi yang melindungi berbagai species khas Merauke, baik hewan maupun tumbuhan. Disini akan dijumpai banyak kangguru, anggrek, dan tak ketinggalan adalah rumah semut-sebuah fenomena alam yang hanya bisa dijumpai di Merauke dan Afrika Selatan. Saya belum pernah berkunjung secara khusus ke TN Wasur ini karena dulu saat saya berkunjung ke Sota, tidak ada seorang-pun yang berjaga di posnya. Kemarin, kami sungguh beruntung karena TN Wasur sedang 'hidup', jadi ada penjaga yang siaga di pos. Dengan Rp. 2.000, kami diijinkan masuk ke dalam pusat informasi TN Wasur yang berbentuk seperti rumah semut, sebuah hasil seni arsitektur yang indah. Tapi, ternyata pusat informasinya hanya berisi poster-poster berisi himbauan menyelamatkan hutan, penjelasan tentang flora fauna di Merauke, pakaian adat dan silsilah suku-suku besar di Merauke. Tak ada diorama ataupun film yang dapat membuat pengunjung takjub. Sungguh sangat disayangkan...dengan potensi alam yang cukup kaya, TN Wasur sebenarnya bisa membuat suguhan-suguhan atraktif untuk menarik minat pengunjung guna menambah income sekaligus mengenalkan cara-cara menyelamatkan lingkungan. Namun mulai minggu kemarin, TN Wasur sudah berbenah diri dengan membuka wahana outbound sebagai sarana rekreasi warga sekitar Merauke. Bekerja sama dengan Tim SAR, wahana outbound dibuka dengan biaya masuk Rp. 20.000/orang-mudah mudahan minggu depan saya berkesempatan mengunjunginya.
Foto-foto TN Wasur saya tampilkan di blog saya yang lain.

Biasanya orang-orang ke Wasur untuk berenang di kolam pemandian yang tak jauh dari pusat informasi. Lokasi pemandian sebenarnya seperti danau di tengah rawa-rawa yang kemudian oleh pengelola TN Wasur dibangun beberapa gazebo di atasnya sehingga nyaman untuk dijadikan tempat berwisata bagi keluarga. Tapi, hati-hati jika berenang disana karena beberapa waktu yang lalu katanya pernah ada yang terbelit akar pepohonan hingga akhirnya tenggelam dan tak bisa diselamatkan. Setelah puas berendam di kolam pemandian, biasanya warga Merauke akan menyerbu pantai Lampu Satu yang terletak di kota Merauke untuk menyaksikan balapan liar di pantai. Pantai sepanjang kurang lebih 2 km akan dijadikan ajang memacu kecepatan dan memompa adrenalin oleh pemuda-pemuda Merauke setiap hari Minggu atau hari libur karena mereka tak memiliki area yang layak untuk menyalurkan hobby. Sebuah pola wisata yang sangat monoton karena Merauke minim objek wisata dan public area yang nyaman.


Terhibur oleh balapan motor liar di pantai Lampu Satu

Foto diambil dari dokumentasi pribadi

Rabu, 29 April 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (2)

Menjadi seorang rekruter sebenarnya bukanlah pekerjaan impian saya, tapi karena proses pembelajaran dan pengaruh lingkungan ketika saya kuliah, maka akhirnya saya-pun terjerumus ke dalam dunia rekrutmen. Dan, pekerjaan profesional pertama saya adalah sebagai Recruitment Staff. Mungkin karena saya memiliki jiwa adventurir, saya mudah bosan pada pekerjaan rekrutmen yang memang cukup monoton jika dibandingkan dengan area lain dalam bidang Human Resource. Dan sebagai akibatnya, saya sering melirik-lirik area HR yang lain, seperti training dan pengembangan organisasi. Namun, pandangan saya akan pekerjaan rekrutmen yang monoton berubah ketika saya bekerja di Merauke. Rekrutmen tidak saja sekedar pekerjaan mempublikasikan lowongan dan kemudian menseleksi, tapi juga sebuah pekerjaan memberdayakan masyarakat. Dan, alih-alih rekrutmen sebagai pekerjaan yang monoton, rekrutmen-pun jadi pekerjaan yang penuh dengan resiko.

Bekerja sebagai seorang rekruter di Merauke harus memiliki teknik mengelola emosi yang baik karena berhadapan dengan pelamar kerja dan calon karyawan membutuhkan kesabaran yang ekstra mengingat rata-rata SDM di Merauke jarang yang bekerja di sektor formal sehingga banyak dari pelamar yang tidak memahami prosedur rekrutmen dan seleksi. Selain itu, bekerja sebagai rekruter di Merauke juga harus siap diserang dengan isu rasialis. Seperti daerah-daerah Indonesia Timur lainnya, Merauke adalah daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Alam yang cukup besar, namun tidak semuanya dapat dinikmati oleh penduduk asli, seperti halnya kasus Freeport karena ketika sebuah perusahaan besar masuk, maka SDM lokal banyak dikalahkan oleh SDM pendatang.

Bulan pertama saya bekerja di Merauke, saya didemo oleh belasan pelamar kerja. Mereka menuntut saya untuk mempekerjakan orang asli. Muka saya ditunjuk-tunjuk. Duh...mau copot rasanya jantung ini!

Ibu ini pilih-pilih orang yang masuk. Yang diterima selalu yang berambut lurus, kulit putih. Kalau begitu...ganti saja nama perusahaan ini jadi M**** Jawa.


Saya terkejut mendengar tuntutan mereka karena tak pernah terlintas sedikit-pun bahwa perusahaan kami akan menerapkan diskriminasi ras seperti yang mereka tuduhkan, bahkan dari awal kami sudah diwanti-wanti oleh BOD untuk memprioritaskan tenaga lokal karena tidak ingin menjadi Freeport kedua. Tapi, rupanya bekerja di daerah Indonesia Timur memang tak semudah di Indonesia Barat, terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat lokal. Saya sudah beratus-ratus kali menyampaikan pada mereka bahwa kami tidak melakukan diskriminasi, dan kami melakukan rekrutmen berdasarkan keahlian, tapi apa yang saya sampaikan rupanya hanya dipahami dalam waktu singkat saja. Beberapa minggu kemudian bisa dipastikan mereka akan menyatroni kantor lagi untuk menuntut pekerjaan. Posisi saya jadi terjepit karena mereka yang menuntut pekerjaan rata-rata tidak memiliki pengalaman atau jika ada, memiliki attitude yang kurang baik dan banyak yang tidak memenuhi syarat pekerjaan, seperti tingkat pendidikan dan usia. Sampai dengan saat ini, saya masih belum menemukan cara yang efektif untuk memberikan pemahaman pada mereka bahwa perusahaan merekrut berdasarkan kompetensi dan ada prosedur-prosedur yang harus ditaati dalam penyelenggaraan rekrutmen.

Adakah yang bisa memberikan saran untuk saya ?


Jumat, 24 April 2009

Apa yang bisa kita lakukan untuk bumi : Sebuah Refleksi Hari Bumi

Hari Bumi yang diperingati setiap tanggal 22 April, tahun ini jatuh pada hari Rabu. Mengapa Bumi diberi hari khusus ? Karena Bumi adalah tempat kita bernaung, tempat kita diberi kehidupan oleh Tuhan sebagai manusia sehingga sudah selayaknya dan sepantasnya jika Bumi kita hargai. Lantas mengapa saya baru menulis tentang Bumi di hari Jumat, sementara banyak orang sudah mencapai klimaks membicarakan tentang Bumi di hari Rabu ? Ya hanya satu jawabannya...karena saya ingin membuka wacana baru bahwa Bumi ada untuk kita setiap hari, dari kita menghirup nafas sampai kita menghembuskan nafas terakhir, sehingga bicara tentang Bumi dan membalas budi baik sang Bumi tidak terbatas pada jam, hari, bulan dan tahun khusus, tapi harus kita lakukan setiap hari.

Tapi bicara saja tak cukup jika menyangkut tentang Bumi karena Bumi tidak lagi memerlukan kata-kata, tapi tindakan karena Bumi sudah semakin lelah menampung semua penghuninya selama jutaan tahun. Jadi, apa yang sudah Anda lakukan untuk Bumi ?
Saya sendiri sadar bahwa saya belum berbuat banyak untuk Bumi, apa yang saya lakukan bahkan banyak yang masih di angan-angan, tidak tercetus dalam kata-kata, apalagi dalam tindakan. Inilah beberapa hal yang sudah saya lakukan untuk Bumi :
1. mematikan kran air ketika sedang mencuci tangan, tidak membiarkan air terus mengalir ketika saya sedang mencuci tangan dengan sabun dan baru menghidupkannya kembali ketika akan membasuh tangan
2. mematikan lampu ruangan kantor ketika jam istirahat
3. mematikan lampu kamar jika tidur
4. mencopot charger dari colokan ketika sudah tidak dipakai
5. mematikan seluruh aliran listrik jika bepergian (tidak membiarkannya dalam keadaan stand by)
6. lebih suka berjalan kaki daripada naik ojek jika jaraknya masih masuk akal untuk ditempuh dengan kaki
7. lebih suka makan di tempat daripada membungkus
8. sebisa mungkin menghabiskan makanan, tidak menyisakan makanan
9. menggunakan kertas bekas
10. berusaha membawa kantong belanjaan sendiri untuk menghindari penggunaan plastik

Ternyata, saya baru melakukan 10 hal saja untuk Bumi padahal Bumi sudah melakukan banyak hal untuk saya sepanjang saya menghirup nafas kehidupan. Semoga saja Anda melakukan lebih banyak tindakan baik untuk Bumi, dibandingkan dengan saya.

Avignam jagad samagram!



Rabu, 22 April 2009

Perempuan : Sebuah Refleksi Hari Kartini

Perempuan, dimanapun mereka berada, akan selalu menarik perhatian karena perempuan adalah ciptaan Tuhan yang penuh misteri-lembut sekaligus tegar, ringkih sekaligus kuat-dan penuh pesona. Oleh karena itu, perempuan kerap kali menjadi objek yang diperebutkan oleh berbagai pihak karena pesonanya itu, terutama oleh lawan jenisnya.

Perempuan memang tak pernah habisnya sebagai bahan tulisan ataupun bahan diskusi karena perempuan adalah makhluk Tuhan yang mampu melakukan berbagai macam peran di balik tubuhnya yang gemulai dan terkesan lemah itu. Bahkan, perempuan memiliki berbagai macam hari yang diperingati khusus, seperti hari Ibu dan hari Kartini. Tapi, di tengah-tengah segala keistimewaan dan keelokannya itu, perempuan masih seringkali dipandang dengan sebelah mata, bahkan kadang mendapatkan perlakuan yang tak manusiawi, seperti kasus yang baru saja dialami oleh artis cantik Indonesia di negeri seberang. Ia adalah seorang perempuan yang dianugerahi kecantikan mempesona, namun sayangnya ia mendapatkan perlakuan yang tidak sepantasnya dari laki-laki yang telah menjadi suaminya. Ia mengalami kekerasan di dalam istana megah yang diberikan kepadanya. Ternyata, kekerasan pada perempuan tak memandang status sosial ekonomi dan derajat pesona-nya. Apa yang menyebabkan perempuan kerap menjadi objek penderita ? Menurut saya, karena perempuan tak memiliki posisi tawar yang tinggi dalam kehidupan masyarakat, apalagi dalam masyarakat Indonesia, dimana laki-laki masih memegang peranan sebagai 'nahkoda rumah tangga'. Selain itu, perempuan juga memiliki harta yang sangat berharga yang selalu melekat pada dirinya dan dibawa kemanapun mereka pergi, hingga mereka mati, yaitu 'kehormatan' *bisa dibaca sebagai keperawanan*. Dan karena sifat dasar manusia adalah rakus, maka harta berharga milik perempuan-pun tak luput dari incaran untuk dikuasai, dimiliki secara paksa, sehingga kemudian muncullah kasus-kasus penganiyaan terhadap perempuan demi memperebutkan harta tersebut. Perempuan-pun kerap menjadi sasaran pelecehan karena perempuan sering sekali dipandang dari satu sudut pandang saja, yaitu dari segi fisik. Perempuan acap kali dipandang sebagai makhluk yang tak memiliki otak sehingga tak mampu menghasilkan karya hebat dan akibatnya, perempuan-pun mendapatkan perlakuan yang tak senonoh. Sungguh ironis hidup seorang perempuan. Dianugerahi Tuhan dengan berbagai macam pesona agar dapat hidup bahagia, tapi juga kerap kali menanggung derita karena pesona itu.

Tapi, perempuan tak selamanya diam. Perempuan adalah makhluk yang dianugerahi Tuhan berlapis-lapis ketegaran sehingga mereka tak pernah menyerah dengan segala perlakuan lingkungan yang memandangnya rendah. Oleh karena itu, kita seringkali mendengar kisah-kisah tentang perempuan yang berhasil dalam bidangnya, bahkan melebihi prestasi laki-laki. Bahkan Indonesia pernah mencatat dalam sejarahnya pernah memiliki seorang presiden perempuan, yaitu Megawati Soekarno Putri. Hal ini membuktikan bahwa perempuan kini tak lagi bisa dipandang remeh dan rendah. Perempuan dengan segala pesonanya layak untuk mendapatkan tempat yang sejajar dengan laki-laki di dunia ini.
Perempuan diciptakan oleh Tuhan dari tulang rusuk laki-laki sehingga ia dapat berjalan bersisihan dengan laki-laki dalam menjalani hidup ini, bukan di atas laki-laki apalagi diinjak oleh laki-laki.

Hidup Perempuan! Selamat Hari Kartini untuk seluruh kaum Perempuan di Indonesia! Anda adalah orang-orang hebat!

Jumat, 17 April 2009

Rumahku Istanaku

Semalam, saya melihat program yang cukup bagus di RCTI, yaitu program Bedah Rumah. Program ini ditayangkan setiap hari Kamis dan Jumat, pk. 18.15 WIT. Program ini bertujuan untuk menyentuh rasa kemanusiaan para pemirsanya, karena dalam program ini akan disajikan sebuah potret kehidupan dari orang-orang yang terpinggirkan dimana mereka adalah orang-orang yang sangat miskin namun berhati emas *tekun, ulet, tak pantang menyerah, sederhana*, yang tak mampu membangun rumah yang layak. Untuk menarik perhatian, program ini mengikutsertakan artis yang diminta untuk menyelami kehidupan para 'target bedah rumah'. Setelah sehari semalam tinggal bersama mereka, sang bintang tamu akan memberikan hadiah berupa tulisan, yaitu "Selamat! Rumah Anda akan kami bedah" dan sim salabim...dalam waktu yang singkat, hanya beberapa jam saja, rumah yang tadinya tak layak huni menjadi tak sekedar layak huni, tapi juga tampak elegan dengan desain eksterior dan interior yang sangat apik. Sebuah program yang bagus kan ?

Yang membuat saya penasaran adalah...apakah rumah yang telah dibedah itu akan awet mengingat dibangun hanya dalam waktu singkat ? Kemudian, apakah nantinya sang empunya rumah akan sanggup membiayai perawatan rumah dan segala perlengkapannya ? Saya sering memperhatikan, sebelum dibedah mereka tidak memiliki pesawat TV ataupun lemari es, tapi setelah dibedah mereka jadi punya segala macam peralatan elektronik dengan spesifikasi produk yang cukup mewah. Darimana mereka akan membayar tagihan listriknya ya? Dan, saya jadi khawatir bahwa nantinya mereka tidak dapat menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai), yang sempat diributkan oleh partai-partai politik saat kampanye pemilu kemarin, karena dengan tampilan rumah yang bagus mereka akan dicap sebagai kalangan berpunya. Duh...semoga saja hal-hal yang saya kuatirkan di atas sudah dipikirkan oleh penggagas program briliyian ini!

Sayangnya, program ini hanya diadakan di sekitar kota Jakarta saja, tidak menyentuh propinsi lain *atau saya yang tidak tahu ya?* Padahal, jika kita melihat daerah lain, misalnya Merauke *contoh yang sangat gampang karena saya tinggal disini*, ada banyak rumah yang lebih tidak layak huni dibandingkan dengan rumah-rumah yang masuk program bedah rumah. Rata-rata rumah di kabupaten Merauke didirikan atas bantuan pemerintah, terutama rumah untuk masyarakat lokal dan masyarakat transmigran. Memang ada banyak rumah bantuan yang akhirnya berkembang menjadi rumah yang nyaman untuk jadi tempat tinggal, tapi masih banyak juga rumah yang semakin bobrok hingga kondisinya mengkhawatirkan. Rumah-rumah ini terbuat dari papan kayu dengan ukuran sekitar 4x5m dengan kamar mandi dan WC yang terpisah jauh dari rumah. Listrik-pun seringkali tak mereka miliki. Apakah ini bisa disebut layak huni ? Seringkali ketika melewati rumah-rumah tersebut saya tidak percaya bahwa saya masih ada di Indonesia, karena saya terbiasa melihat rumah tembok dengan desain arsitektur yang canggih dan dilengkapi dengan 'isi rumah' yang cukup komplit. *saya harus mengucap syukur berkali-kali setiap kali melihat rumah papan itu*
Duh...kenapa ya program Bedah Rumah tidak diadakan di Merauke juga ?

Foto diambil di Muara Bian.
Rumah di atas masih termasuk dalam kategori rumah papan yang cukup besar dan layak di Merauke


Kamis, 16 April 2009

Fotografer Gadungan

Kemarin saya menemukan satu forum di internet yang menarik untuk diikuti, yaitu Klinik Fotografi Kompas. Forum ini berisi orang-orang yang mencintai dunia fotografi dan mempublikasikan karya-karyanya secara terbuka. Saya tertarik untuk mengikuti forum ini karena saya baru mencoba terjun dalam aktivitas baru, yaitu fotografi. Saya sebenarnya tertarik dengan dunia fotografi sudah lama, tapi baru benar-benar tertarik ketika mengikuti sebuah even yang diselenggarakan oleh Indo Backpacker, yaitu Jakarta Journey II. Waktu itu, saya tidak bawa kamera sama sekali karena memang tidak punya, dan saya sangat iri pada teman-teman yang tampak asyik jeprat jepret di sana sini. Dan, lebih mupeng lagi ketika mereka memamerkan hasil fotonya. Duh...saya juga mau! Dan akhirnya, setelah menabung cukup lama, saya akhirnya punya kamera juga. Kamera pertama saya adalah Canon EOS 1000D yang saya beli secara online *nekat mode on* karena saya tidak sabar untuk segera punya kamera. Jepretan pertama saya adalah kamar saya sendiri. Hehehe...

Tapi, menjadi fotografer yang apik ternyata tak cukup hanya bermodalkan kamera bagus saja. Hal ini saya buktikan sendiri. Latihan yang rutin dan rajin bertanya pada yang sudah ahli adalah salah satu kunci sukses untuk dapat menghasilkan foto yang bagus. Dan, kunci sukses lainnya adalah keberanian atau percaya diri. Yup...menjadi fotografer ternyata juga butuh keberanian dan rasa percaya diri, terutama jika Anda tertarik pada tema kehidupan sehari-hari. Saya yang tertarik pada pemandangan / landscape dan kegiatan manusia sangat bermasalah dengan keberanian dan kepercayaan diri. Mengabadikan sebuah moment dengan tema kegiatan manusia sangatlah tidak mudah, apalagi jika kita ingin menangkap peristiwa-peristiwa natural. Beberapa waktu yang lalu, saya mencoba memotret kehidupan masyarakat di tepi pantai dan juga ekspresi wajah teman-teman yang sedang menunggu jemputan kendaraan, tapi saya gagal. Saya gagal mengabadikan pose-pose natural karena setiap kali saya membidikkan kamera, teman-teman langsung berpose. Dan, ketika saya ingin mengabadikan foto masyarakat asli yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari, saya merasa takut kalau mereka menangkap basah saya yang sedang memotret dan akhirnya berprasangka buruk. Akhirnya, saya tidak memotret yang saya inginkan. Pikiran-pikiran seperti itulah yang akhirnya menghambat saya menghasilkan karya-karya apik. Selain perasaan takut, saya juga sering minder memotret moment atau sesuatu yang saya inginkan karena setiap kali saya mengeluarkan kamera, saya langsung ditatap beberapa pasang mata di sekeliling saya *atau hanya perasaan saya saja ya?* karena kamera saya yang cukup menonjol secara ukuran dan bentuk fisiknya. Saya kurang PD, takut dianggap norak dan aneh. Hehehehe...apa ini sindrom pemula ya?

Selain takut dan kurang PD, saya juga banyak berpikir ketika akan mengambil foto sehingga saya sering lambat memutuskan untuk memotret atau tidak. Alhasil...saya sering kehilangan moment bagus. Hmm...tampaknya masih butuh waktu yang lama bagi saya untuk tak sekedar menjadi 'fotografer gadungan'. Tapi, saya mulai mengikis rasa tidak PD dan ketakutan yang 'nggak mutu' ini dengan mencoba mem-publikasikan foto saya di KFK. Berikan feed back Anda sebagai pemicu kreativitas saya di dunia fotografi!

Selasa, 14 April 2009

Air Hidup

Beberapa hari ini, saya tertarik mengamati sekumpulan laki-laki yang menimba air dari sumur di pinggir jalan. Sebenarnya ketertarikan saya akan aktivitas mereka sudah sejak dulu, tapi baru terjawab ketika hari libur kemarin di rumah salah seorang teman. Mereka menggunakan jasa para lelaki perkasa ini untuk mensuplai air yang digunakan untuk menyambung hidup sehari-hari, seperti memasak, mandi, dan lain-lain. Dan, harga yang harus dibayar untuk 13 jerigen air ini tergantung dari jarak tempuh sang lelaki perkasa dari sumber air ke rumah-rumah pelanggannya. Teman saya, yang rumahnya berjarak sekitar 4 km dari sumber air harus merogoh kantongnya agak dalam untuk mengeluarkan uang Rp. 40.000. Harga yang sangat mahal untuk air, tapi apa daya...yang dibeli bukan saja air tapi juga tenaga para lelaki perkasa yang menyusuri jalanan aspal panas dengan kaki telanjang.

Air memang sumber kehidupan, tapi saya baru benar-benar menyadarinya ketika berada di Merauke. Topografi Merauke yang berupa dataran rendah dan nyaris dipenuhi oleh rawa menyebabkan Merauke mengalami kesulitan untuk menyediakan air bersih bagi penghuninya. Di beberapa tempat, air tidaklah sulit didapat, tapi ternyata tak layak untuk dikonsumsi karena airnya asin. Ini terjadi di daerah-daerah pinggiran pantai, seperti rumah teman saya. Di tempat-tempat yang bukan pinggiran pantai dan punya sumber air yang baik-pun, tak menjamin airnya layak untuk dikonsumsi, sehingga jasa penyediaan air minum galon-pun laris manis. Di musim hujan, para lelaki perkasa akan sejenak beristirahat karena para pelanggannya memilih untuk menampung air hujan yang tercurah dari langit dalam bak-bak penampungan sehingga mereka bisa berhemat.

Air memang sumber kehidupan. Di Merauke, saya baru menyadari arti penting air dan lebih menghargai jasa orang-orang perkasa yang telah berjalan ribuan kilometer untuk mensuplai air. Sungguh suatu profesi yang mulia dan tak akan pernah lekang oleh waktu, kecuali Indonesia sudah memiliki teknologi canggih untuk menyediakan air bersih dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakatnya.