Beberapa hari ini publik dikejutkan oleh berita menghebohkan, yaitu terlibatnya seorang pejabat negara dalam sebuah kasus pembunuhan petinggi BUMN. Urusan menghilangkan nyawa seseorang selalu menjadi pusat perhatian, apalagi jika dilakukan oleh public figure, macam Antasari Azhar, ketua KPK. Kasus pembunuhan petinggi BUMN, Nasarudin, cukup menghebohkan masyarakat pada bulan April 2009 karena metode pembunuhan yang cukup berani, yaitu menembak korban di jalan umum. Pembunuhnya pasti terlatih sekali, pikir orang saat itu. Tapi ternyata, mereka kalah lihai dari polisi, karena hanya dalam tempo sebulan mereka semua dibekuk. Bukan hanya pelaku penembakannya yang tertangkap, tapi juga otak pembunuhannya sekaligus, yaitu Antasari Azhar (AA). Publik kembali tercengang karena AA selama ini dikenal sebagai pejabat yang bersih dan memimpin sebuah lembaga yang saat ini ditakuti oleh banyak pihak yang suka 'menyelewengkan uang negara'. Bagaimana bisa seorang yang dikenal bersih dan tegas terlibat dalam tindak kriminal yang kotor ?
Beberapa spekulasi-pun merebak di masyarakat tentang kasus pembunuhan ini, tapi kebanyakan menyangsikan AA terlibat dalam pembunuhan tersebut. Saya yang seorang penggemar cerita kriminal juga tak habis pikir dengan betapa mudahnya AA terseret dalam tindak kriminal, apalagi setelah mengetahui tokoh-tokoh di balik kasus pembunuhan tersebut. Auw...apakah ini sebuah konspirasi besar untuk menjatuhkan seseorang yang menebar teror bagi orang-orang berperut buncit karena makan uang haram? Saya mendadak merasa geli membaca artikel di Kompas.com tentang kronologi pengungkapan pembunuhan Nasrudin. Menurut saya, tidak keren sekali-terlalu dramatis dan simple seperti cerita-cerita sinetron Indonesia *keseringan nonton CSI, maka otak kriminal saya jadi mbulet* Masa' kalau memang AA otak pembunuhan tersebut, didukung pula oleh tokoh-tokoh terkenal, macam SHW dan WW, bisa dengan mudah terungkap. Hmmm...atau mungkin mereka memang bukan orang-orang yang ahli melakukan pembunuhan ya makanya mudah tertangkap begitu ? Atau uang yang mereka berikan untuk sang pembunuh bayaran kurang ya sehingga orang suruhan itu mudah buka mulut dan teledor ? Apapun itu, rasanya tetap aneh orang sekaliber AA membunuh hanya karena urusan asmara. Apa tidak ada motif yang lebih keren untuk membunuh seseorang ? Apakah caddy tersebut memang sedemikian mempesonanya sehingga harus diperjuangkan dengan darah dan nyawa ?
Saya tidak sabar menunggu kelanjutan kisah kriminal seru ini berakhir karena melihat kisah ini seperti melihat sinetron televisi, banyak adegan yang tidak terduga tapi kurang alami alias terlalu nyata lakon sandiwaranya. Yah...tapi siapa tahu juga AA memang terlibat dan akhirnya terjungkal karirnya karena seorang wanita.
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Mei 2009
Sabtu, 11 April 2009
Pemilu....oh....Pemilu
Pemilu akhirnya datang lagi setelah 5 tahun berlalu sejak tahun 2004. Pemilu kali ini saya cukup bersemangat untuk berpartisipasi karena alasan-alasan eksternal, yaitu ini pemilu pertama saya di daerah Indonesia Timur jadi saya ingin ikut merasakan situasinya, dan kedua...saya ingin mencoba menggunakan kamera baru saya untuk memotret momen-momen khusus. Hehehehe...alasan yang aneh ya ? Saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan siapa yang menang karena menurut saya, siapapun pemenangnya tidak terlalu signifikan merubah kehidupan saya.
Jam 10 saya datang ke kantor karena ada janji dengan teman-teman yang tergabung dalam 1 TPS untuk mencontreng bersama. Menurut informasi yang kami peroleh dari OB di kantor, kami terdaftar di TPS 21, yaitu TPS yang terletak di sasana tinju, belakang kantor. Kami-pun bergegas kesana karena menurut informasi, kami harus mendaftar dulu kemudian menunggu untuk dapat panggilan dan saat ini, situasinya sedang antri. Sampai disana, kami memang melihat ada banyak orang tengah antri dan kami sempat bingung tentang tata cara pendaftaran dan pemilihan karena tidak ada keterangan apapun yang ditempel di TPS. Akhirnya, kami iseng melihat DPT yang dipasang di pintu masuk dan...nama kami tidak ada. Weks! Takut bahwa kami kurang teliti melihat DPT karena nama tidak tersusun sesuai abjad, kami menelusuri lagi satu demi satu nama dari berlembar lembar DPT TPS 21 dan nama kami-pun tetap tak ada. Wah...bagaimana ini? Salah seorang petugas TPS menyarankan kami untuk melihat DPT di kantor kelurahan karena disana datanya lengkap. Hmm...untung saja kantor kelurahan letaknya dekat, jadi kami-pun rela menuju ke sana untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik.
Sesampainya di kantor kelurahan, kami tidak sendiri. Ada banyak orang yang sibuk mencari nama masing-masing di dalam DPT yang ditempel di papan pengumuman kantor kelurahan. Masih tidak percaya nama kami tidak ada di TPS 21, sekali lagi saya mencari nama kami dalam DPT TPS 21 dan daftar itu tetap sama, tidak ada yang berubah-nama kami tetap tidak ada. Fiuh! Akhirnya, saya melirik DPT di sebelah, yaitu di TPS 22. Lembar demi lembar saya susuri hingga ke halaman terakhir dan...nama saya tertera dengan indahnya di urutan 295. Duh senangnya... Saya bisa ikut pemilu di TPS 22! Yang saya heran, kami beralamat di satu rumah tapi berbeda TPS. OB dan istrinya terdaftar di TPS 21, sementara saya dan 4 teman yang lain terdaftar di TPS 22. Ada yang tahu bagaimana cara penyusunan DPT?

Dari kantor kelurahan, kami langsung meluncur ke TPS 22 yang berlokasi di kantor DISPENDA, Merauke, 300 m dari kantor. Sampai disana, TPS sepi, hanya ada para saksi saja. Saya kurang tahu pasti apakah kami yang datang terlambat atau TPS ini memang sepi peminat karena menurut kabar burung, Pemilu kali ini jumlah golput meningkat pesat. Kami langsung mendaftar di petugas pendaftaran dengan menunjukkan KTP masing-masing. Setelah itu, langsung menuju petugas yang memberikan kartu suara. Kami dapat 4 macam kertas suara, entah untuk apa saja, yang jelas warnanya kuning, merah, biru dan hijau. Kami dapat pesan sponsor dari petugas tersebut, "Nanti kalau kertas suaranya robek, kasih kembali ya!"
Setelah mendapat kertas suara, kami langsung menuju bilik pemungutan suara. Yang pertama saya buka ternyata kertas suara untuk perwakilan daerah dan saya bingung karena tidak mengenal sama sekali caleg-caleg yang wajahnya terpampang di kertas suara itu. Beberapa memang pernah saya lihat di poster-poster sepanjang jalan tapi saya tidak yakin dengan reputasinya, jadi saya melewatkan kertas suara perwakilan daerah tersebut dan berniat untuk golput. Kertas berikutnya yang saya buka adalah kertas suara yang memuat nama partai dan calegnya, tapi saya tidak memperhatikan untuk pemilihan mana. Karena saya hanya memilih partai, saya tidak begitu peduli pada caleg-calegnya. Selesai mencontreng, saya kesulitan untuk melipat kertas suaranya! Butuh waktu 1,5 menit untuk menemukan pola lipatan yang benar. Hehehe...lambat banget ya? Tapi, itu hanya berlaku untuk kertas suara pertama saja. Kertas suara kedua dan ketiga saya sudah paham pola lipatan dan letak partai pilihan saya, jadi tidak perlu membuka kertas suaranya lebar-lebar, jadi waktu yang dibutuhkan untuk mencontreng tidak lama. Tapi kerugiannya adalah saya jadi tidak tahu kalau ada cacat di kertas suara itu. Biarlah...! Setelah 3 kertas suara selesai, saya teringat pada iklan yang dibintangi Maudy Kusnaidi, yaitu "PILIH CALEG PEREMPUAN!". Akhirnya, saya buka kembali kertas suara untuk perwakilan daerah dan saya contreng caleg perempuan yang paling 'lokal'. Hehehe...kemakan iklan banget ya? Hidup Perempuan!
Contreng mencontreng-pun selesai, saya kemudian memasukkan semua kartu ke dalam kotaknya masing-masing. Dan, mencelupkan jari di tutup botol tinta pemilu sebagai tanda sudah menggunakan hak pilih. Lup...kelingking saya-pun jadi biru! Sayangnya, petugas di TPS 22 ini kurang sigap dalam menunaikan tugasnya. Saya hampir kelupaan mencelupkan jari, bahkan teman saya sudah pergi dari TPS, baru ingat belum mencelupkan jari dan tak satupun petugas TPS yang mengingatkan padahal botol tinta dijaga oleh petugas tersendiri. Hmm...semoga saja itu adalah kejadian yang tidak disengaja! Selesai memilih, kami-pun pulang ke rumah masing-masing. Hingga saat ini, saya tidak tahu siapa yang tampil jadi pemenang di TPS 22. Epen kah? :)
Jam 10 saya datang ke kantor karena ada janji dengan teman-teman yang tergabung dalam 1 TPS untuk mencontreng bersama. Menurut informasi yang kami peroleh dari OB di kantor, kami terdaftar di TPS 21, yaitu TPS yang terletak di sasana tinju, belakang kantor. Kami-pun bergegas kesana karena menurut informasi, kami harus mendaftar dulu kemudian menunggu untuk dapat panggilan dan saat ini, situasinya sedang antri. Sampai disana, kami memang melihat ada banyak orang tengah antri dan kami sempat bingung tentang tata cara pendaftaran dan pemilihan karena tidak ada keterangan apapun yang ditempel di TPS. Akhirnya, kami iseng melihat DPT yang dipasang di pintu masuk dan...nama kami tidak ada. Weks! Takut bahwa kami kurang teliti melihat DPT karena nama tidak tersusun sesuai abjad, kami menelusuri lagi satu demi satu nama dari berlembar lembar DPT TPS 21 dan nama kami-pun tetap tak ada. Wah...bagaimana ini? Salah seorang petugas TPS menyarankan kami untuk melihat DPT di kantor kelurahan karena disana datanya lengkap. Hmm...untung saja kantor kelurahan letaknya dekat, jadi kami-pun rela menuju ke sana untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik.
Sesampainya di kantor kelurahan, kami tidak sendiri. Ada banyak orang yang sibuk mencari nama masing-masing di dalam DPT yang ditempel di papan pengumuman kantor kelurahan. Masih tidak percaya nama kami tidak ada di TPS 21, sekali lagi saya mencari nama kami dalam DPT TPS 21 dan daftar itu tetap sama, tidak ada yang berubah-nama kami tetap tidak ada. Fiuh! Akhirnya, saya melirik DPT di sebelah, yaitu di TPS 22. Lembar demi lembar saya susuri hingga ke halaman terakhir dan...nama saya tertera dengan indahnya di urutan 295. Duh senangnya... Saya bisa ikut pemilu di TPS 22! Yang saya heran, kami beralamat di satu rumah tapi berbeda TPS. OB dan istrinya terdaftar di TPS 21, sementara saya dan 4 teman yang lain terdaftar di TPS 22. Ada yang tahu bagaimana cara penyusunan DPT?
Dari kantor kelurahan, kami langsung meluncur ke TPS 22 yang berlokasi di kantor DISPENDA, Merauke, 300 m dari kantor. Sampai disana, TPS sepi, hanya ada para saksi saja. Saya kurang tahu pasti apakah kami yang datang terlambat atau TPS ini memang sepi peminat karena menurut kabar burung, Pemilu kali ini jumlah golput meningkat pesat. Kami langsung mendaftar di petugas pendaftaran dengan menunjukkan KTP masing-masing. Setelah itu, langsung menuju petugas yang memberikan kartu suara. Kami dapat 4 macam kertas suara, entah untuk apa saja, yang jelas warnanya kuning, merah, biru dan hijau. Kami dapat pesan sponsor dari petugas tersebut, "Nanti kalau kertas suaranya robek, kasih kembali ya!"
Setelah mendapat kertas suara, kami langsung menuju bilik pemungutan suara. Yang pertama saya buka ternyata kertas suara untuk perwakilan daerah dan saya bingung karena tidak mengenal sama sekali caleg-caleg yang wajahnya terpampang di kertas suara itu. Beberapa memang pernah saya lihat di poster-poster sepanjang jalan tapi saya tidak yakin dengan reputasinya, jadi saya melewatkan kertas suara perwakilan daerah tersebut dan berniat untuk golput. Kertas berikutnya yang saya buka adalah kertas suara yang memuat nama partai dan calegnya, tapi saya tidak memperhatikan untuk pemilihan mana. Karena saya hanya memilih partai, saya tidak begitu peduli pada caleg-calegnya. Selesai mencontreng, saya kesulitan untuk melipat kertas suaranya! Butuh waktu 1,5 menit untuk menemukan pola lipatan yang benar. Hehehe...lambat banget ya? Tapi, itu hanya berlaku untuk kertas suara pertama saja. Kertas suara kedua dan ketiga saya sudah paham pola lipatan dan letak partai pilihan saya, jadi tidak perlu membuka kertas suaranya lebar-lebar, jadi waktu yang dibutuhkan untuk mencontreng tidak lama. Tapi kerugiannya adalah saya jadi tidak tahu kalau ada cacat di kertas suara itu. Biarlah...! Setelah 3 kertas suara selesai, saya teringat pada iklan yang dibintangi Maudy Kusnaidi, yaitu "PILIH CALEG PEREMPUAN!". Akhirnya, saya buka kembali kertas suara untuk perwakilan daerah dan saya contreng caleg perempuan yang paling 'lokal'. Hehehe...kemakan iklan banget ya? Hidup Perempuan!
Contreng mencontreng-pun selesai, saya kemudian memasukkan semua kartu ke dalam kotaknya masing-masing. Dan, mencelupkan jari di tutup botol tinta pemilu sebagai tanda sudah menggunakan hak pilih. Lup...kelingking saya-pun jadi biru! Sayangnya, petugas di TPS 22 ini kurang sigap dalam menunaikan tugasnya. Saya hampir kelupaan mencelupkan jari, bahkan teman saya sudah pergi dari TPS, baru ingat belum mencelupkan jari dan tak satupun petugas TPS yang mengingatkan padahal botol tinta dijaga oleh petugas tersendiri. Hmm...semoga saja itu adalah kejadian yang tidak disengaja! Selesai memilih, kami-pun pulang ke rumah masing-masing. Hingga saat ini, saya tidak tahu siapa yang tampil jadi pemenang di TPS 22. Epen kah? :)
Rabu, 08 April 2009
Contreng Menyontreng
Hore...nama saya ada di dalam DPT!
Ternyata, saya masih tercatat sebagai warga negara yang memiliki hak pilih dan saya bertekad tidak akan mensia-siakan kesempatan 5 tahun sekali ini dengan datang ke TPS 21 yang terletak di sasana tinju. Saya juga bertekad untuk mengabadikannya dalam foto-foto menggunakan kamera baru saya. Hidup Indonesia!
Tunggu laporan saya dari TPS 21!
Ternyata, saya masih tercatat sebagai warga negara yang memiliki hak pilih dan saya bertekad tidak akan mensia-siakan kesempatan 5 tahun sekali ini dengan datang ke TPS 21 yang terletak di sasana tinju. Saya juga bertekad untuk mengabadikannya dalam foto-foto menggunakan kamera baru saya. Hidup Indonesia!
Tunggu laporan saya dari TPS 21!
Kamis, 02 April 2009
Janji Manis
Hari ini ada artikel menarik di Kompas, yaitu tentang janji partai politik. Bukan...saya tak hendak mengkritisi partai itu, tapi saya tertawa getir karena mereka sangat mudah sekali melontarkan kata-kata indah penyejuk hati atau yang lebih dikenal dengan nama janji. Dan, itu bukan hanya dilakukan oleh mereka tapi juga oleh puluhan partai lain. Memang sih tak ada salahnya mengumbar janji manis, apalagi di masa-masa kampanye seperti sekarang karena inilah moment yang tepat untuk melancarkan jurus-jurus menarik hati masyarakat. Tapi...mbok kalau buat janji itu yang realistis! Jika kami menang, maka infrastruktur akan dibangun! Saya jadi bertanya-tanya...beranikah mereka mengucapkan janji manis yang sama di daerah Merauke ? Sanggupkah mereka untuk membangun infrastruktur di Merauke jika mereka menang dengan kondisi infrastruktur Merauke yang seperti sekarang ?

Saya kok sedikit pesimis bahwa mereka mampu melakukannya. Eits! Saya pesimis bukan tanpa dasar lho! Foto di atas adalah foto jalan menuju Jagebob, suatu distrik atau kecamatan di kabupaten Merauke. Jagebob sendiri sudah ada sejak pertengahan tahun 1980-an ketika program transmigrasi masih marak dan ini adalah jalan menuju kampung para transmigran. Coba Anda hitung sudah berapa kali pemilu sejak tahun 1980 ? Dan, siapakah yang keluar sebagai pemenang ? Berhasilkah mereka membangun infrastruktur di Merauke ????
Satu hal lagi yang membuat saya tertawa getir ketika membaca artikel di Kompas tadi :
Tapi, kita tidak boleh patah arang hanya karena janji yang rasanya terlalu manis dan sekaligus kurang realistis. Bangsa ini maju bukan karena partai ini berhasil membuat itu atau partai itu sukses membangun ini. Bangsa ini maju karena kita-masyarakatnya!
Maukah Anda berpartisipasi membangun bangsa ini ?
Saya kok sedikit pesimis bahwa mereka mampu melakukannya. Eits! Saya pesimis bukan tanpa dasar lho! Foto di atas adalah foto jalan menuju Jagebob, suatu distrik atau kecamatan di kabupaten Merauke. Jagebob sendiri sudah ada sejak pertengahan tahun 1980-an ketika program transmigrasi masih marak dan ini adalah jalan menuju kampung para transmigran. Coba Anda hitung sudah berapa kali pemilu sejak tahun 1980 ? Dan, siapakah yang keluar sebagai pemenang ? Berhasilkah mereka membangun infrastruktur di Merauke ????
Satu hal lagi yang membuat saya tertawa getir ketika membaca artikel di Kompas tadi :
" Jika ...... menang, perbaikan infrastruktur di Sulteng akan segera dilaksanakan "Mengapa komitmen untuk membangun bangsa, harus menggunakan syarat ? Kesannya kok tidak ikhlas. Jika partai lain yang menang, apakah lantas mereka tidak mau ikut berpartisipasi membangun bangsa ? Sepertinya Anda semua sudah tahu jawabannya !
Tapi, kita tidak boleh patah arang hanya karena janji yang rasanya terlalu manis dan sekaligus kurang realistis. Bangsa ini maju bukan karena partai ini berhasil membuat itu atau partai itu sukses membangun ini. Bangsa ini maju karena kita-masyarakatnya!
Maukah Anda berpartisipasi membangun bangsa ini ?
Langganan:
Postingan (Atom)
