Selasa, 09 November 2010

Sebentuk Cinta dari Merapi

Gunung Merapi akhirnya meletus juga, memuntahkan sebagian isi perutnya ke muka bumi pada tanggal 4 dan 5 November 2010 yang lalu. Sebuah peristiwa yang meluluh lantakkan hati banyak orang karena letusannya membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal, harta benda dan bahkan nyawanya. Mbah Marijan, sang tokoh fenomenal penjaga Merapi-pun ikut menjadi korbannya-konon beliau meninggal dalam posisi sembahyang bersujud...sebuah posisi yang mulia ketika maut datang menjemput. Semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan...Selamat Jalan, Mbah !


Bercerita tentang Gunung Merapi dan kehidupan di sekitarnya memang tak akan pernah ada habisnya. Bagi saya, Gunung Merapi tak lagi sekedar gunung tapi sebuah oase untuk menimba kebijaksanaan hidup. Keramahan dan ketulusan penduduk di lereng gunung Merapi selalu membekas dalam benak saya setiap kali saya menjejakkan kaki di sana, entah di belahan Jogja maupun Boyolali *saya belum pernah mengunjungi Merapi dari Klaten
Tahun 2003, setelah kembali dari lokasi KKN di Wonogiri, saya harus menyusul tim litbang Palapsi di daerah Selo, Boyolali yang sedang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat disana. Sebelumnya di tahun 2001, saya yang seperti dituntun oleh alam semesta, menunjuk daerah Selo sebagai daerah untuk melakukan pengabdian masyarakat sebagai salah satu syarat pendidikan lanjutan di Palapsi. Saya memilihnya secara acak, tanpa didasari oleh studi pendahuluan yang mendalam. Sebuah keputusan yang tak pernah saya sesali. Penerimaan penduduk Selo terhadap kami yang notabene adalah sekelompok mahasiswa urakan dan hanya mengejar kesenangan sendiri sungguh di luar dugaan. Pak Carik Selo yang rumahnya kami jadikan base camp tak berkeberatan rumahnya menjadi hiruk pikuk karena kedatangan saya dan rombongan yang berjumlah 10 orang dan tinggal disana selama 3 hari. Anak-anaknya bahkan lengket dengan kami dalam jangka waktu yang singkat. Sajian makanan khas desa Selo-pun tak henti-hentinya diberikan kepada kami. Sungguh sebuah kebaikan yang tulus kepada kami yang bahkan tak tahu harus memberikan apa sebagai imbalan kebaikan hati mereka. Sepanjang jalan ketika kami berkegiatan, penduduk menyapa kami dengan keramahan yang luar biasa, bahkan beberapa muda-mudi desa-pun akhirnya menjadi teman bermain kami. *Thanks to Nungki yang memiliki kemampuan building rapport luar biasa dengan masyarakat


Kembali ke tahun 2003. Desa Selo kembali menjadi tujuan latihan mengembangkan skill mengabdi pada masyarakat oleh tim Litbang tahun itu. Saya tidak ingat pasti apa tujuan akhir dari kegiatan tersebut, tapi yang jelas salah satu aktivitasnya adalah mengajar di sekolah desa. Kepolosan anak-anak desa Selo membuat kami tak percaya bahwa kami masih ada di belahan bumi Indonesia, bahkan di Jawa. Berbeda sekali kondisinya dengan kami yang dapat mengenyam pendidikan dengan fasilitas lengkap padahal jaraknya tak sampai ribuan kilometer dari tempat tinggal kami dan relatif mudah dijangkau. Yang tertangkap mata saat itu adalah baju seragam dengan emblem bermacam-macam sekolah. Rupanya mereka tak mampu membeli baju seragam sehingga baju yang mereka pakai adalah baju bekas dari sumbangan sekolah-sekolah lain. Meskipun begitu...semangat mereka untuk sekolah luar biasa. Jam 7 kurang, mereka sudah berada di sekolah padahal guru yang mengajar sering kali datang terlambat karena rumahnya jauh di kota. Satu kebiasaan mereka yang membuat saya merasa geli dan lucu adalah mereka berebutan mencium tangan kami dari dahi ke pipi kiri dan kanan dan terakhir ke mulut. Hal itu tak cukup dilakukan sekali, kadang-kadang sampai tiga kali dalam satu kesempatan dan satu anak bisa melakukannya lagi selang beberapa waktu kemudian. Ketika saya tanya...bukannya tadi sudah cium tangan ya? Mereka hanya tersenyum simpul malu-malu. 


Meski semua serba terbatas-duduk berhimpitan di bangku sekolah karena ruang kelas yang tak memadai- namun tampak bahwa mereka adalah murid yang pandai. Semua soal yang kami berikan, dapat mereka selesaikan dengan tingkat kesalahan yang sewajarnya. Dan mereka sangat antusias sekali belajar-sebuah pemandangan yang mengharukan dan menampar wajah kami. Fasilitas sekolah yang lengkap  membuai kami  sehingga sering kali malas untuk belajar dan malah asyik bermain. Suatu ironi jika dibandingkan dengan anak-anak di desa Selo. Mereka sangat tertarik pada pelajaran bahasa Inggris dan juga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Senang rasanya dapat membantu mereka belajar meski hanya beberapa hari saja. Suatu hari, kami belajar tentang pembagian zona waktu di Indonesia. Saya melontarkan pertanyaan...Jika di Jambi jam 8, maka di Boyolali jam berapa ? Dan, mereka dengan kompak menjawab jam 9. Nah lho? Pertanyaan saya kemudian adalah...Tahu tidak dimana boyolali itu ? Dan tebak...semuanya menggelengkan kepala. Eng i eng...mereka tak tahu bahwa tempat mereka hidup saat ini masuk dalam sebuah wilayah yang bernama Boyolali! Mungkin mereka bukannya tidak tahu, tapi mereka mendadak lupa karena merasa takut dengan ibu gurunya yang cantik tapi galak. Hehehe...


Hari terakhir mengajar adalah hari yang tak akan pernah kami lupakan. Sepanjang pagi, murid-murid bertindak misterius. Mereka sengaja tak ingin mendekati kami dan sembunyi-sembunyi curi-curi pandang malu-malu. Rupanya mereka menyembunyikan sesuatu yang akan membuat kami meneteskan air mata haru setibanya di Jogja. Semua murid membuat surat perpisahan untuk kami dan kami dilarang membukanya sampai nanti ketika tiba di Jogja. Ada yang menangis, ada yang tertawa senang dan ada yang memuja kami ketika saat perpisahan tiba. Yang mengagetkan nama saya dan beberapa teman ditorehkan di jalan...Sungguh mengharukan dan cara yang indah mengekspresikan rasa syukur dan senang atas kehadiran kami. 


Tiga jam perjalanan kembali ke Jogja cukup melelahkan, namun kami memiliki semangat baru karena teman-teman kecil kami di SD menularkan semangat dan gairah hidup yang luar biasa. Sesampainya di kampus, kami buka lembar demi lembar surat yang ditujukan untuk kami. Kami tercengang bukan main ketika membuka surat-surat itu. Ada yang berterima kasih, ada yang memuji kami karena cantik, ada yang menyatakan cinta dan ada yang mengkritik. Sebuah luapan perasaan yang tak kami duga akan diungkapkan oleh anak-anak SD. Di surat-surat itu, ada juga kami temukan lembaran uang seribuan cukup banyak. Kami tak tahu apa maksud mereka memberi uang pada kami...apakah sebagai rasa ungkapan terima kasih atau sebagai ungkapan keprihatinan karena kami tak pernah 'jajan' selama berada di sekolah dan hanya bisa memandang murid-murid SD itu membeli berbagai macam penganan dengan air liur menetes. Di tengah kekurangan mereka, mereka masih dapat memberikan jatah uang jajan mereka kepada kami yang notabene lebih berkecukupan daripada mereka. Sungguh sebuah misteri sampai dengan saat ini. Selain uang, ada juga yang memberikan buku tulis kepada kami. Kami tahu betapa bermaknanya buku tulis itu bagi mereka karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, sering kali mereka terpaksa menggunakan lagi buku yang sudah dipakai untuk kelas berikutnya. Cukup dengan menghapus tulisan pensil dari kelas sebelumnya...foila...buku dapat digunakan lagi ketika naik kelas. Dan mereka memberikan benda berharganya untuk kami yang sudah jarang menggunakan buku tulis untuk belajar. Sungguh sebuah tindakan yang tak dapat kami mengerti namun membuat kami sekali lagi tertampar. Di tengah kekurangan, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk tamu yang hanya singgah beberapa hari saja. Apakah kita bisa melakukan hal itu pada orang lain, pada orang asing yang sama sekali tak kita kenal ? O ya...salah seorang teman wanita malah mendapatkan hadiah mangkuk cantik! Saya tak bisa berpikir lagi tentang alasan di balik pemberian mangkuk itu...tak terjangkau oleh akal sehat saya. 


Ketulusan, keramahan, kebaikan, kedermawanan, dan hidup yang bersahaja adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang saya temui di lereng gunung Merapi. Ada sebuah cinta yang tulus dari masyarakat di lereng Merapi untuk kami...cinta yang akan kami kenang setiap kali melihat gunung Merapi. Semoga cinta itu tak pudar karena letusan Merapi.


*Thanks to pak carik sekeluarga yang bersedia menampung kami, dan pada Sukini-pemudi desa Selo yang tak pernah melupakan kami dan sambutannya yang hangat setiap kali kami datang. Terima kasih Merapi...atas cintamu yang tulus kepada kami...*

Minggu, 31 Oktober 2010

Sejumput kenangan untuk Merapi

Indonesia berduka. Dalam rentang waktu yang singkat, bencana datang bertubi-tubi mendera wajah indah Indonesia. Diawali dengan banjir Jakarta, kemudian disusul dengan tsunami Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi. Ada apa dengan Indonesia ? Tuhan memang pasti punya rencana yang indah dibalik semua peristiwa alam ini.

Tanpa ingin mengecilkan arti bencana di daerah lain, meletusnya Gunung Merapi menorehkan kesedihan tersendiri dalam lubuk hati saya. Saya dan seperti jutaan orang lain yang pernah tinggal di sekitar gunung Merapi, seperti Jogjakarta, Boyolali, dan Klaten pasti merasakan bencana ini sebagai kesedihan mendalam karena gunung Merapi telah memberikan kenangan tersendiri bagi masing-masing orang yang pernah tinggal di sekitar kakinya yang kokoh menopang tubuh yang sudah renta namun masih tetap aktif menggodok material bumi di perutnya. 

Saya pernah melakukan pendakian ke Gunung Merapi pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Setiap pengalaman pendakian memberikan pengalaman tersendiri yang tak akan pernah saya lupakan. Pengalaman pertama pendakian Merapi saya adalah ketika ada even Pendakian Massal bersama PALAPSI. Saat itu, saya hanya sampai Pasar Bubrah saja. Tak kuat dan tak mau mendaki sampai puncaknya. Mendaki gunung bukanlah favorit saya. Pengalaman kedua bersama Merapi adalah ketika saya mengikuti even Pendakian Kartini dimana semua pendakinya adalah wanita, dilakukan pada hari Kartini tahun 2002. Persiapan yang kurang matang membuat kami hanya sampai di Pos 2 saja. Saya dan seorang sahabat terpisah dari rombongan yang lain karena kaki saya yang manja tak kuat mendaki dan kami terjebak dalam badai gunung. Tidur berhimpitan dalam tenda hingga esok menjelang dan gagallah pendakian ke puncak Merapi untuk kedua kalinya. Pendakian ketiga adalah yang paling berkesan dalam hidup saya karena akhirnya setelah 2 kali pendakian gagal, saya akhirnya bisa juga mencium bendera Palapsi di puncak Merapi. Saat itu kami hanya mendaki berdelapan saja. Rasanya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika mampu berdiri di atas puncak Merapi sampai-sampai lupa bahwa harus melakukan perjalanan turun. Meskipun mendaki gunung sulit, tapi saya tak pernah menjumpai cerita yang menyeramkan tentang Merapi, seperti laiknya gunung-gunung lain. Merapi selalu ramah pada setiap pendatang yang ingin merasakan tubuhnya, menikmati keindahan sang Pencipta. 

Selain pendakian, saya sudah tak terhitung lagi berapa kali melakukan kegiatan-kegiatan bersenang-senang di lerengnya yang selalu sejuk dan menawarkan kedamaian, apalagi jika pagi menjelang. Kegiatan trekking, baik dalam rangka pendidikan maupun hanya sekedar iseng bersenang-senang nyaris saya lakukan 3-4 kali dalam setahun. Untuk kegiatan trekking, biasanya saya lakukan di daerah Kali Adem dan Bebeng. Titik yang selalu dikunjungi setiap tahun adalah titik 1330. Titik dimana hymne PALAPSI selalu berkumandang dan bendera dibentangkan untuk para pendatang baru PALAPSI. Tersesat, dikejar monyet hutan, dan kaki kram karena harus berhati-hati ketika menuruni lerengnya yang curam adalah pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah hilang begitu mengingat Merapi. Merapi dari berbagai sisi selalu menawarkan pesonanya yang mampu membius setiap pengunjung. Ketenangan, kesejukan dan kedamaian adalah sebuah oase yang ditawarkan Merapi dan akan ditebus dengan harga berapapun oleh orang-orang yang sudah terpikat oleh pesonanya. Ketika memasuki lereng Merapi, segala penat dan lelah seperti luruh karena oksigen tak henti-hentinya membanjiri paru-paru. Mendengarkan suara celoteh burung, gemericik air dan merasakan sejuknya embun telah mengisi energi tubuh menjadi full. Sebuah baterai alami untuk tubuh yang lelah dan penat karena tuntutan hidup sehari-hari. 


Terima kasih Merapi...semoga batukmu kali ini cepat sembuh dan kembali menjadi tempat yang menimbulkan berbagai romansa dalam benak setiap orang yang menjadi pemujamu. I'm gonna miss u, Merapi!


-to be continued-

Minggu, 10 Oktober 2010

Mimpi yang tak terwujud

Dulu dan sampai sekarang saya punya mimpi yang terdalam, yaitu berjalan-jalan keliling dunia menyelami kearifan lokal. Namun seiring berjalannya waktu dan pertambahan usia, mimpi itu sepertinya harus saya lupakan. Saya masih ingat alasan saya menerima pekerjaan di negeri antah berantah seperti sekarang, jauh dari kampung halaman saya. Tujuannya cuma satu, yaitu punya uang banyak dan cuti terjadwal sehingga mimpi saya untuk jalan-jalan-pun akan terwujud. Namun pelaksanaan tak pernah seindah rencana. Waktu cuti yang terus mengalami revisi karena menyesuaikan dengan kondisi perusahaan membuat saya tak bisa merencanakan perjalanan dengan baik. Ditambah lagi tuntutan keluarga yang ingin bertemu dengan anaknya yang jarang pulang membuat saya tak bisa dengan bebas menggunakan waktu cuti saya sepenuhnya untuk jalan-jalan seperti impian saya semula. Dan kemudian, muncullah seseorang yang akan menjadi pasangan hidup saya. Hobby yang berbeda dan target hidup ke depan untuk segera menikah membuat mimpi saya-pun semakin menjauh dari kehidupan saya...semakin kabur...menghilang dan akhirnya hanya menjadi tiada. Sungguh tragis memang nasib mimpi saya. 

Untuk tetap mengingatkan saya bahwa saya punya mimpi menjadi traveller atau petualang, maka saya mengikuti milis backpacker. Dan saya semakin merana setiap kali membaca diskusi-diskusi di milis yang banyak mengulas tentang bagaimana cara melakukan perjalanan dengan murah ke berbagai belahan dunia. Saya iri berat pada penggiat milis tersebut bagaimana mereka punya segala sumber daya untuk jalan-jalan ke seluruh belahan dunia dengan berbagai tujuan. Mengapa saya tak bisa seperti mereka ? Pertanyaan itu terus menari-nari dalam benak saya dan membuat saya down karena rasanya mustahil bagi saya untuk mewujudkan mimpi tersebut apalagi dengan kondisi saya sekarang. 
Mungkin sebenarnya saya pernah punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi tersebut, tapi saya melewatkannya begitu saja. Saya seringkali takut untuk keluar dari zona nyaman saya demi mewujudkan mimpi saya. Saya yang terbiasa hidup penuh dengan perencanaan dan penuh pertimbangan terhadap perasaan orang lain tentu saja tak bisa meninggalkan segalanya demi sebuah perjalanan yang hanya bisa saya rasakan sendiri kenikmatannya. Saya bukanlah pengambil resiko, tak seperti Agustinus Wibowo. Dia berasal dari keluarga mapan dan hidupnya lurus-lurus saja hingga ia belajar di China dan melakukan perjalanan pertamanya ke Mongolia. Dari situlah ia kemudian memutuskan untuk menjadi traveller atau backpacker...meninggalkan segalanya demi keindahan dunia yang tak dapat dilihat oleh semua orang. Menghadapi bahaya dan kesengsaraan demi menyelami intisari kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Sungguh...saya tak seberani dia! Sakit dan sedih rasanya jika membaca perjalanan hidupnya. Saya sedih karena saya tak seberani dia yang dilahirkan di tahun yang sama dengan saya dan di daerah yang sama. Logikanya...dengan kapasitas yang sama dan kesempatan yang sama, harusnya saya bisa seperti dia tapi nyatanya saya tak pernah berani melepaskan genggaman saya pada sesuatu yang sudah pasti untuk melakukan ketidakpastian. Dan, mungkin inilah yang membuat mimpi saya tak akan pernah terwujud. Karena saya tak pernah punya keberanian itu, sekarang saya harus menanggung akibatnya dan belajar untuk merelakan mimpi saya pergi, dibawa angin entah kemana...! 
 

Minggu, 03 Oktober 2010

Privasi

Jamak terjadi ketika seseorang menjalin hubungan dengan lawan jenis terjadi perubahan-perubahan mendasar dalam kehidupan masing-masing personalnya. Perubahan-perubahan tersebut umumnya lahir dari sebuah kompromi, tapi ada kalanya juga karena pemaksaan dari salah satu pihak kepada pihak yang lain. Perubahan tersebut biasanya terkait dengan kebiasaan, mulai dari kebiasaan-kebiasaan yang berkaitan dengan kebutuhan mendasar, seperti jadwal makan, mandi hingga kebutuhan tersier, seperti belanja, aktualisasi diri di dunia maya, dll. Jika tadinya jadwal makan jam 7 maka ketika berpasangan mungkin saja jadwal makan bisa jam 8 karena harus makan bersama-sama. Jika tadinya bebas berbelanja kapan saja dan belanja apa saja, maka ketika berpasangan mungkin saja untuk membeli sesuatu harus minta ijin pada pasangannya. Dan, perubahan paling besar yang terjadi ketika berpasangan menurut saya adalah kompromi terhadap besaran personal space atau biasa disebut dengan privasi.

Ketika berpasangan, privasi masing-masing personal pasti akan berkurang karena tuntutan dari pasangan untuk mengetahui lebih jauh tentang kehidupan pasangannya. Dan besar kecilnya privasi yang harus di korbankan untuk menjadi 'milik berdua' berkorelasi dengan tingkat kepercayaan. Semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap pasangan, maka semakin sedikit privasi yang akan dikorbankan untuk dibuka. Tapi jika tingkat kepercayaan rendah, maka harus siap-siap membuka hampir semua privasi kepada pasangan. 
Jika pasangan terlalu posesif, maka ruang privasi akan semakin sempit lagi. HP tidak boleh disimpan sendiri, semua sms dan telpon yang masuk pasti akan melalui screening dari pasangan, semua password dan PIN tidak berlaku lagi. Hilanglah personal space yang kadang-kadang merupakan persinggahan terakhir dari seseorang agar tetap dapat mempertahankan kewarasannya di tengah dunia yang semakin gila. Dan sebenarnya keterbukaan semacam itu tak menjamin kebahagiaan hidup berpasangan. SMS, telpon ataupun email yang isinya biasa atau salah kirim bisa memicu pertengkaran hebat dan jika sudah begitu, maka hidup masing-masing akan tidak tenang lagi. Semuanya saling waspada dan tak bisa bebas berekspresi karena takut menyinggung pasangannya.

Jadi apa yang harus dilakukan ? Mulailah percaya pada pasangan Anda bahwa dia memang mencintai Anda. Berikanlah ruang untuk pasangan Anda bernapas dalam ruangannya sendiri, berikanlah kebebasan padanya untuk tetap memiliki dunianya sendiri agar dia dapat mencintai Anda dengan lebih optimal. Jika pasangan Anda senantiasa takut dan tak punya kebebasan bagaimana bisa Anda harapkan untuk mencintai Anda dengan optimal ? Pasangan Anda adalah ibarat pasir...semakin kuat digenggam, maka pasir akan lepas dari genggaman Anda.

Jumat, 01 Oktober 2010

Open your mind, Sir !

Bekerja di perusahaan yang sekarang sangatlah jauh berbeda iklimnya dengan perusahaan saya sebelumnya. Di perusahaan saya sebelumnya, yaitu perusahaan media terkemuka di Indonesia, iklim intelektualitas sangatlah terasa. Di setiap sudut ruangan selalu berhembus aroma diskusi dan begitu banyak kosakata yang terhambur dari para pekerjanya. Sementara di perusahaan yang sekarang, jangankan diskusi, kosakata yang dipakai-pun sangatlah terbatas pada pekerjaan sehari-hari dan bahasa pergaulan sehari-hari, tak bertambah pengetahuan. Kerinduan akan suasana diskusi-pun tak pelak hadir dalam hati saya setiap waktu. Dulu, saya bisa betah ngobrol panjang lebar dengan supervisor serta manager saya hingga tak terasa waktu berjam-jam terlewati begitu saja. Obrolan bisa mulai dari tentang konsep HRD, psikologi manusia, hingga bergosip tentang para pekerja di kantor. Salah satu keuntungan menjadi HRD adalah bisa membicarakan karyawan lain dengan bebas tanpa merasa bersalah, sedangkan jika departemen lain membicarakan kinerja karyawan lain di luar departemennya bisa dianggap bergosip. He he he... Eniwei, saya betul-betul rindu akan suasana sharing ide seperti dulu. Pengetahuan saya berkembang, sel-sel otak saya-pun dirangsang terus untuk selalu berpikir sehingga otak saya hidup...terasa berdenyut bergairah. Setiap orang punya idenya masing-masing dan bisa menyanggah serta mengkritik ide yang lain dengan bertanggung jawab. Saya paling sering kalah argumen dengan manager saya, dia memang pintar luar biasa. Dia punya berbagai macam sudut pandang sehingga sulit dikalahkan argumennya, tapi dia sedikit kewalahan jika harus berdebat dengan supervisor saya yang 'kutu buku'. Kata-kata indah dan cuplikan-cuplikan teori dari buku-buku tebal dan tokoh-tokoh terkenal-pun meluncur dengan indah dari mulut mereka berdua. It's amazing to hear that...! Perdebatan mereka ibarat dua ksatria yang tengah berperang namun senjatanya bukan pedang, melainkan kata-kata. Kalau sudah begitu, saya yang mengaku gemar membaca selalu tak pernah bisa mengutip atau bahkan mengingat dengan baik siapa membuahkan teori apa atau teori apa dibuat oleh siapa. Jika dibandingkan dengan mereka berdua, saya memang bagaikan bayi baru lahir. Alhasil dengan iklim yang seperti itu, berbagai ide dan konsep-pun lahir dengan mulus dan tak pernah mati. 

Namun keadaan ini berbeda 180 derajat dengan perusahaan saya sekarang. Boss saya adalah tipe pragmatis yang lebih suka menjadi tipe pelaksana daripada konseptor sehingga hanya membuka ruang yang sangat sedikit untuk diskusi panjang lebar. Jangankan ngobrol panjang lebar tentang sesuatu hal, diskusi melalui dunia maya-pun tak terfasilitasi. Alhasil, pengetahuan saya mandeg, saya tumbuh bak katak dalam tempurung. Saya tak tahu apa yang saya lakukan ini memang sudah benar atau masih salah karena saya tak pernah diberikan feed back ataupun kritik yang membangun dan juga tak ada kesempatan untuk membandingkan dengan katak-katak di luar tempurung. Saya seringkali jengkel bukan main kalau ingin mengawali diskusi dengan departemen lain atau sesama rekan kerja dalam tim langsung di-cut oleh atasan saya itu. Menurutnya, diskusi tak ada gunanya. Fiuh! Sungkan untuk mengakui bahwa diri sendiri tak mampu, diri sendiri tak tahu sehingga harus bertanya pada pihak lain, yang mungkin menyebabkan boss saya tak mau membuka ruang diskusi. Yang lebih menjengkelkan adalah boss saya seringkali menolak ide-ide besar untuk perubahan ke arah yang lebih baik jika dirasa itu merepotkan dan kadang kala resistensinya itu adalah sikap yang tak pantas ditunjukkan oleh seorang leader dari departemen yang dituntut untuk selalu dinamis seperti HRD. 

Saya selalu tertantang untuk melakukan segala sesuatu, termasuk bekerja di daerah remote area seperti sekarang. Tapi apa jadinya jika akhirnya sel otak saya mati karena tak pernah mendapatkan stimulus ? Akankah otak saya mati sia-sia di tengah hutan belantara ini ?
Dibutuhkan segera : TEMAN DISKUSI !!!!!

Kamis, 23 September 2010

Bebas berekspresi butuh kompromi ?

Semalam, tanpa sengaja pacar saya membaca draft novel yang belum selesai saya buat. Dan di luar dugaan saya, dia cukup tersinggung dan marah membaca draft novel tersebut. Wajar sih jika dia marah karena novel tersebut bercerita tentang seputar kisah kehidupan saya sendiri di tanah rantau, dan menitik beratkan pada masalah asmara. Yang menjadi masalah adalah saya baru menyelesaikan novel saya sampai pada bab 3 yang tentu saja belum ada cerita tentang dirinya, tapi masih pada pertemuan dengan pacar lama. Rasa cemburu karena dirinya tak disebut atau mungkin lebih tepatnya adalah merasa dipermainkan karena saya masih mengingat dengan cukup baik kisah asmara lama saya membuatnya cepat naik darah dan tidak menyadari bahwa yang dibacanya adalah masih draft novel dan baru sampai pada bab 3/awal, memang belum sampai pada kisah tentang dirinya. Dan sebenarnya cerita itu bukan tentang murni asmara, tapi perjuangan seorang wanita mandiri yang terjebak dalam kisah asmara yang membelenggu kebebasannya karena pasangan yang terlalu over protektif. Bagaimana dia berkompromi dengan pasangannya yang beda budaya agar hubungan tetap berlangsung dan bagaimana dia harus mengesampingkan perasaannya sendiri untuk membuat pasangannya bahagia. Tema yang menurut saya sangat feminis.

Yah tapi apa boleh buat...saya sepertinya harus merubah tema novelnya agar tidak menambah masalah. Baru saya sadari bahwa menulis-pun ternyata harus mempertimbangkan perasaan orang lain juga karena siapa tahu kisah yang kita tulis memiliki kemiripan dengan kisah orang lain. Jadi menulis tak boleh egois dan harus berpandangan luas agar tulisan dapat diterima oleh semua orang tanpa konflik emosi yang tak perlu, seperti tersinggung atau marah, kecuali memang ingin membuat tulisan dengan tujuan memprovokasi. Mungkin itu sebabnya di setiap film atau sinetron selalu ada kata penutup demikian :
'semua nama, tokoh dan kisah di dalam film ini adalah fiktif semata, jika terdapat kesamaan dengan nama, tokoh dan kisah maka itu hanyalah kebetulan saja'
Rupanya kalimat yang terkesan basa basi itu sebenarnya adalah untuk menegaskan bahwa cerita dibuat murni karena keliaran imajinasi pembuat ceritanya saja dan tidak dimaksudkan untuk menyinggung pihak-pihak tertentu. Kebebasan berekspresi melalui tulisan-pun ternyata membutuhkan sebuah kompromi. 

Apakah tulisan Anda hari ini sudah mempertimbangkan aspek perasaan pembaca Anda yang beragam ?

Rabu, 22 September 2010

Reuni

gambar diambil dari sini
Menjelang libur hari raya yang biasanya lumayan panjang, seperti Lebaran dan Natalan, biasanya saya mendapatkan banyak email atau sms atau telpon yang isinya mengajak dan membahas tentang reuni. Lebaran tahun ini, saya mendapat undangan untuk reuni dari 2 komunitas. Dua-duanya dari komunitas ketika saya kuliah, yang satu dari teman-teman satu angkatan dan yang satunya lagi dari teman-teman organisasi pecinta alam. Itu adalah yang formal. Yang informal alias ajakan ketemuan kecil-kecilan juga ada. Tahun ini, teman-teman SMA tidak mengadakan reuni besar seperti tahun lalu, tapi bentuknya hanya silaturahmi kecil saja. 
Lama rasanya saya tidak mengikuti even yang bernama reuni sejak saya bekerja jauh di pedalaman Papua. Even reuni yang masih sering saya ikuti dan rasanya menjadi kewajiban adalah acara camping Palapsi ketika hari ulang tahunnya bulan Juni. Dan, kini Palapsi akan mengadakan camping lagi dalam rangka silaturahmi lebaran. Melihat dari pembahasan-pembahasan di email, camping kali ini lebih ramai dan seru dibandingkan camping HUT dan ini betul-betul membuat saya iri. Saya ingin datang ke acara reuni yang ramai seperti itu. 

Reuni...kata itu bagi beberapa orang merupakan obat dahaga akan kerinduan terhadap teman-teman lama, kerinduan untuk berbagi cerita dan pengalaman setelah berpisah sekian tahun. Namun tak jarang reuni juga merupakan momok bagi sebagian yang lain karena rasa-rasa aneh yang kerap menjalari orang-orang yang 'dianggap kurang sukses' oleh komunitasnya. Rasa minder, tidak percaya diri karena berbeda profesi dengan komunitas yang mengundang reuni atau merasa tidak sesukses teman-teman dalam komunitas tersebut. Reuni juga menjadi momok bagi orang-orang yang banyak memiliki 'dosa' ketika dulu aktif dalam komunitas tersebut. Meskipun kejadiannya sudah lama berselang, namun ajang reuni kerap kali membuka luka-luka lama dan ketika kejadian-kejadian memalukan tersebut diungkap kembali dalam reuni *dan itu memang selalu terjadi dalam reuni*, banyak yang tak siap untuk menerima kenyataan bahwa dirinya adalah sang pembuat dosa. Rasa bersalah yang besar membuat ajang reuni bagai duri dalam daging.

Reuni seharusnya menjadi ajang untuk membuka kembali tali silaturahmi yang terputus setelah bertahun-tahun tak bertemu. Tali silaturahmi dapat tersambung kembali dengan cara mengenang kembali apa yang pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu dan juga mencari jalan untuk kembali 'connect' di masa yang akan datang melalui hubungan-hubungan baru. Namun sering kali reuni tak menemukan maknanya ketika dibuat terlalu gemerlap dan akhirnya menjadi ajang pamer para anggotanya atas pencapaian yang diperolehnya sejak berpisah dari komunitas. Banyak yang melakukan 'make over' atas dirinya sendiri agar tampak 'lebih' dibandingkan teman-teman lamanya dan tidak menanggung malu. Jika sudah begini, maka reuni-pun kehilangan esensinya. Oleh karena itu, banyak yang kemudian malas untuk datang reuni ketika menyadari bahwa reuni tersebut akan berakhir membosankan dan hanya menjadi ajang pamer kesuksesan dan kekayaan. 


Reuni seperti apakah yang Anda ikuti tahun ini ?

Jumat, 10 September 2010

Semangat Lebaran

Tahun ini merupakan tahun pertama saya merayakan Lebaran di site setelah dua tahun lebaran di kota Merauke. Sungguh teramat sepi...! Di kota Merauke saja suasana terasa sepi, beda dengan di Jawa, apalagi di site. Pagi-pagi, teman-teman yang merayakan lebaran yang jumlahnya-pun tak seberapa berbondong-bondong *terlalu hiperbolis sebenarnya menggunakan kata berbondong-bondong mengingat jumlahnya tak sampai 30 orang* ke mesjid untuk menunaikan sholat Ied. Sementara saya bisa ditebak...bangun kesiangan! Jam setengah sembilan saya baru bangun. He he he... bangun siang adalah hal yang tak bisa saya lakukan kalau lebaran di Jawa, apalagi di tempat simbah. Berani bangun lewat jam 6 saja, pasti sudah kena omelan karena anak cucu yang tidak ikut sholat Ied harus menyiapkan berbagai hidangan untuk tamu-tamu simbah yang banyak sekali jumlahnya plus membersihkan rumah agar tampak kinclong sedikit. *sebuah ritual yang sebenarnya melelahkan tapi selalu dirindukan jika tak dilakukan* Saya sudah 3 tahun tidak berlebaran di rumah simbah dan tidak menginjakkan kaki di Jawa-sudah seperti bang Thoyib. Buat saya yang masih single *mudah-mudahan tahun depan sudah double:p* dan memang sebenarnya tidak merayakan lebaran mungkin tak terasa menyakitkan, tapi buat teman-teman yang pada umumnya bapak-bapak yang sudah menikah, lebaran di site pasti terasa mengharu biru. Biasanya bertemu dengan istri, anak, orang tua, mertua dan kerabat sekarang hanya bisa lebaran sendiri ditemani oleh teman-teman lain yang sama merananya. 

Setelah bangun tidur, saya bergegas mandi untuk kemudian akan melakukan anjang sana ke rumah-rumah teman-teman yang lebaran. Hanya 3 rumah saja yang bisa dikunjungi karena yang lain setelah sholat ied, sudah kembali bekerja biasa. Beginilah jika hidup di dunia kapitalis industri-tak ada nafas untuk sekedar duduk dan bercengkrama dengan teman dan kerabat berbagi rasa. Sungguh terasa menyesakkan dada menemui mereka. Meskipun tak diungkapkan dengan kata-kata, namun sorot mata mereka jelas sekali menyiratkan kerinduan yang dalam kepada suasana lebaran di kampung. Biasanya jika anjang sana atau silaturahmi, kita akan kenyang dengan berbagai hidangan, maka di site sangat berbeda. Ada snack kecil saja sudah sangat lumayan. Untungnya teman-teman dapur membuat ketupat sehingga lebaran-pun tetap tak kehilangan ciri khasnya. *terima kasih untuk teman-teman dapur yang begadang sampai jam 2 pagi untuk membuat ketupat. salute!* Semoga pengorbanan teman-teman yang tak bisa lebaran di kampung halaman mendapatkan balasan yang setimpal. Keluarga mereka tetap diberikan kebahagiaan meskipun sang kepala keluarga tak ada di tempat dan semoga tahun depan mereka bisa pulang kampung untuk merayakan meriahnya lebaran di kampung. 

Selamat Lebaran, teman...Mohon Maaf Lahir dan Bathin!

Jumat, 27 Agustus 2010

Jiwa Ksatria

Seorang rekan kerja yang tak perlu disebutkan namanya terkenal karena kehebohannya. Hobbynya adalah membuat dunia persilatan geger, entah karena celotehannya yang bak air mengalir-tak bisa berhenti ataupun karena tingkah lakunya yang kadang-kadang dinilai ganjil oleh orang awam. Ia adalah seorang individu yang sangat...sangat percaya diri, jadi dia tak pernah ambil pusing bahwa tingkah lakunya tersebut membuat orang merasa tidak nyaman atau terkadang membuat orang pusing kepala. Dan, karena rasa percaya diri yang sangat tinggi tersebut, ia tak pernah mau disalahkan. Ia selalu punya sejuta alasan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan jika sudah melakukan pembelaan diri, maka pengacara kelas wahid-pun akan kalah dalam adu argumentasi. Satu kata dari lawan bicara, sudah dibalasnya dengan rentetan kata bak peluru yang ditembakkan dari senapan otomatis. Pekak telinga ketika mendengarnya!

Di luar perilakunya yang aneh dan sering menyebalkan, sebenarnya ia adalah individu yang sangat perhatian pada orang lain dan ringan tangan. Namun, sayangnya terkadang kebaikannya tersebut terlalu berlebihan sehingga membuat orang lain risih dan akhirnya memilih untuk menjauh atau terkadang ada juga yang memanfaatkan kebaikan hatinya untuk kepentingan sendiri karena kebetulan rekan kerja saya memiliki posisi yang strategis di perusahaan. Nah...belum lama ini, dia membuat heboh lagi, yaitu ia dikritik oleh rekan kerja dari departemen lain karena hasil kerjanya tidak memuaskan. Dan sudah bisa ditebak akhir ceritanya, dia mengomel dan sibuk melakukan pembelaan diri. Ok-lah kalau pembelaan diri itu dilakukan dengan cara-cara yang elegan seperti menunjukkan bukti dan dengan tata bahasa yang sopan serta etika, tapi rekan kerja saya memilih melakukan pembelaan dengan cara-cara yang menurut saya malah menunjukkan ketidakmampuannya alias menunjukkan pepesan kosong. Malam-malam dia membangunkan atasan tertinggi hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak pantas dikomplain dan di setiap ruangan yang dia masuki, ia akan dengan sukarela mengoceh tentang orang-orang yang pernah komplain tentang kinerjanya dengan nada suara tinggi dan mengalir bak air bah. Akhirnya, orang memang tidak ada yang komplain, bukan karena takut, tapi mereka sudah pada titik jenuh dan malas berurusan dengan sang penembak kata-kata. Akibatnya, departemen yang dipimpin oleh rekan kerja saya itu tak pernah mengalami kemajuan sejak pertama kali dibentuk 2,5 tahun yang lalu. Tak ada inovasi...mati! Orang dipaksa untuk menerima standar pelayanan yang jelek dari departemen tersebut. 


Mungkin saja departemen rekan kerja saya itu akan jadi departemen yang paling bagus dan paling banyak mendapat pujian mengingat fungsinya terhadap kenyamanan dan kelangsungan hajat hidup orang banyak jika saja rekan kerja saya itu mau sedikit mendengar komplain dan dengan segala rasa rendah hati menerima kritikan. Mengapa mesti membela diri dan menutup mata serta telinga jika itu untuk kebaikan ? Mungkin akar penyebab dari tak mau menerima kritik tersebut adalah tiadanya jiwa ksatria untuk mengakui kesalahan, selalu menganggap diri sendiri adalah yang benar atau sudah melakukan tindakan yang benar dan yang lain salah. Padahal bagi saya, semakin ngotot seseorang membela dirinya maka ia sebenarnya semakin kencang juga menyuarakan ketidakmampuannya untuk menampilkan kinerja terbaik. Itu sebabnya dia perlu membela diri, karena dia tak bisa memenuhi tuntutan yang lebih tinggi atau takut keluar dari zona nyaman yang sudah bertahun-tahun dibangunnya. 
Afraid to get out from the box makes us think that our world never change and makes us easy to satisfied with everything and never accept other opinion! 
Do you agree with me ?



Jumat, 20 Agustus 2010

Komitmen = hilang kebebasan ?

Seringkali orang bertanya mengapa saya masih betah sendiri di usia yang sudah layak disebut 'tak muda lagi', apalagi yang saya cari-demikian orang sering bertanya pada saya. Saya bukanlah perempuan yang tak laku-ada beberapa pria yang mendekati saya, bahkan berniat serius, dan saya adalah perempuan yang menurut ukuran sosial ekonomi cukup mapan karena punya penghasilan yang lumayan dan punya pekerjaan tetap dengan jabatan yang cukup tinggi, jadi apa lagi yang saya cari ? Saya tak mencari apa-apa, cuma entah mengapa kehidupan pernikahan terasa berat ketika dibayangkan apalagi dijalani. Saya takut menikah! Berpacaran it's ok, tapi menikah ? Saya perlu berpikir seribu kali untuk mengatakan 'Yes, I do' di depan altar gereja. 

Mengapa hal ini terjadi ? Mungkin jawabannya terletak pada cara hidup saya. Sejak kecil, hidup saya selalu ditentukan oleh orang lain. Dari menentukan sekolah dimana hingga baju seperti apa yang harus saya pakai. Waktu kecil, saya adalah pribadi yang kurang mandiri-saya ingat dulu selalu membontot/mengikuti kemanapun kakak saya pergi. Dia melakukan apa, saya-pun ikut. Akibatnya, saya jadi tak punya pendirian sendiri, tergantung pada kakak dan orang tua. Takut menyuarakan pendapat sendiri karena takut dimarahi. Saya jadi terkungkung dalam sangkar-tak berani untuk mengambil keputusan atau bertindak karena takut salah atau tak sesuai dengan harapan orang-orang di sekitar saya. 
Namun, hal itu berubah ketika saya pergi meninggalkan rumah untuk kuliah. Tuntutan untuk hidup mandiri-pun jelas di depan mata. Saya harus punya sikap sendiri dan berani mengambil keputusan sendiri. Keragu-raguan harus saya hapus dari benak saya karena saya harus berdiri di atas kaki saya sendiri. Dan, ternyata mandiri itu rasanya sangat menyenangkan. Saya sangat menikmati menjadi mandiri, hidup bebas tapi tetap bertanggung jawab. Namun, rupanya euforia kemandirian itu membuat petaka dalam hidup percintaan saya. Kesenangan untuk hidup bebas tak terikat menjadi hambatan ketika saya memiliki pasangan. Hidup berpasangan selalu membutuhkan sesuatu untuk mengikat yang lazim disebut dengan komitmen. Komitmen biasanya membutuhkan pengorbanan dan biasanya akan sedikit merenggut kebebasan masing-masing orang yang telah bersumpah setia dalam ikatan tersebut. Dan, saya takut untuk berkomitmen karena itu artinya saya harus kehilangan kesenangan saya untuk hidup bebas. 


Berkali-kali saya gagal menjalin akhir cinta yang manis dengan pasangan saya karena masalah kebebasan ini. Apa yang menurut saya sah dan wajar, ternyata buat pasangan sudah dianggap sebagai pelanggaran komitmen. Umumnya masalah yang sering terjadi adalah keinginan saya untuk tetap bebas berekspresi tidak sepenuhnya didukung oleh pasangan. Saya dituntut untuk lebih banyak membatasi diri ketika sudah berdua alias berpasangan. Ngobrol seru dengan pria lain dianggap sebagai pengkhianatan, jalan-jalan sendiri tidak boleh karena dianggap tidak pantas, bekerja sampai larut tak diijinkan karena harus punya waktu lebih banyak untuk pasangan. Dan, setiap kali memikirkan kesenangan-kesenangan yang akan terenggut itu, saya langsung bersikap antipati terhadap komitmen. Saya ketakutan akan kembali ke masa kecil saya dimana saya tak berani bersikap karena takut dimarahi atau takut tak sesuai dengan harapan orang-orang yang saya cintai. Saya tak mau melepaskan kesenangan yang sudah terlanjur saya nikmati. Saya takut kembali terkungkung dalam sangkar dan tak bisa menikmati indahnya dunia. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang sudah menikah, sangat mendambakan 'me-time', suatu waktu dimana mereka bisa fokus untuk melakukan hobbynya sendiri. Dan, menurut saya itu adalah hal yang sangat sulit didapatkan dalam hidup pernikahan.


Namun, cepat atau lambat saya harus segera membuat keputusan...mengikatkan diri dengan seseorang dan tak lagi bebas ATAU memilih untuk bebas dan terlambat untuk menikah. Terus terang, sampai detik ini ketika hati saya telah memilih seseorang, perasaan saya belum solid. Ketakutan-ketakutan akan konsekuensi yang harus dijalani ketika membuat komitmen sehidup semati tak bisa dihapuskan begitu saja dari benak dan keinginan-keinginan untuk hidup bebas sendiri tak bisa begitu saja lenyap dari lubuk hati yang paling dalam. 
Haruskah saya tinggalkan semua hobby saya, seperti backpacking atau berkegiatan di alam bebas atau membaca di dalam kesendirian ? Hiks...Sedih rasanya membayangkan kehilangan semua itu...! Saya memang perlu banyak belajar untuk menjalani hidup ini...menyeimbangkan semua hal agar tak merasa tersiksa dan ikhlas ketika menjalani setiap episode kehidupan.

Jumat, 18 Juni 2010

Responsibility

Hari ini perusahaan tempat saya bekerja mengeluarkan 2 internal memo yang berkaitan dengan kedisiplinan karyawan. Mengapa sampai perlu mengeluarkan 2 memo sekaligus dalam waktu bersamaan ? Jawabannya menurut saya cukup singkat, yaitu agar karyawan berani mempertanggungjawabkan tindakan/perilaku-perilakunya yang menyimpang dari peraturan perusahaan. *memang sih...banyak orang bilang peraturan dibuat untuk dilanggar, tapi apa salahnya mencoba untuk sedikit patuh* Dan, rupanya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dibutuhkan sebuah hukuman yang cukup ekstrem, tak cukup lagi dengan sebuah teguran atau sindiran halus. Sistem reward & punishment terbukti efektif untuk membentuk perilaku, meski awalnya akan menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman.

Perusahaan saya menghadapi permasalahan yang cukup pelik tentang masalah kedisiplinan dan produktivitas karyawan. Sebagian besar karyawan belum berpengalaman bekerja di sebuah perusahaan sehingga masih belum familiar dengan peraturan-peraturan perusahaan. Akibat yang nyata terjadi adalah mereka cenderung bertindak sesuka hati, tidak memikirkan bahwa tindakan yang mereka lakukan akan berakibat cukup signifikan terhadap perusahaan. Contohnya adalah ijin meninggalkan pekerjaan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan, seperti istri sakit, anak sakit, keluarga meninggal, kerabat menikah, dll. Dan, jika dihitung total per bulan, maka angka kehadiran mereka rata-rata hanya 21 hari, jauh dari aturan standart menurut Undang-undang, yaitu 25 hari kerja dalam sebulan. Gawatnya adalah mereka merasa tindakan ini sah-sah saja dilakukan dan tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan kadang memprotes perusahaan yang katanya tidak mengerti akan kesejahteraan karyawan. Fiuh!

Menurut saya, sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika setiap orang memiliki sedikit saja rasa tanggung jawab. Tanggung jawab disini berarti berani menanggung konsekuensi atas tindakan yang diambil dan melakukan kewajiban dengan bersungguh-sungguh, baru kemudian menuntut hak yang sepadan dengan hasil yang dicapai. Beberapa orang mungkin punya beberapa tanggung jawab sekaligus dalam hidupnya sesuai dengan perannya dalam lingkungan, yaitu tanggung jawab sebagai pekerja, tanggung jawab sebagai orang tua, tanggung jawab sebagai suami/istri atau tanggung jawab sebagai anggota komunitas, dll. Masalahnya adalah pemenuhan tanggung jawab dari masing-masing peran di atas kadang tidak seimbang dan yang paling sering dikorbankan adalah tanggung jawab sebagai pekerja. Tidak masalah jika seseorang menyadari bahwa jika dia tidak melakukan kewajibannya maka berarti dia tidak boleh menuntut haknya. Nah....yang sering terjadi di perusahaan saya adalah karyawan menuntut haknya padahal jelas-jelas mereka tidak menunaikan kewajibannya dan jika sudah begini, biasanya mereka alih-alih merasa bersalah, mereka malah sering mengintimidasi perusahaan dengan segala macam cara sehingga seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah benar. *akhirnya jadi sulit membedakan...yang tidak bertanggung jawab ini sebenarnya siapa...karyawan atau perusahaan. piss* Apakah wajar seorang karyawan tidak masuk tanpa ijin selama nyaris sebulan, kemudian tiba-tiba datang dan melapor bahwa dia tidak masuk karena mengurus keluarganya yang sakit dan sekarang menuntut untuk dipekerjakan kembali ? Atau apakah wajar di saat jam kerja normal, bekerja secara santai, kemudian ketika memasuki jam-jam akhir kerja sengaja pura-pura sibuk agar dapat lembur ? Dan, apakah wajar telah menghilangkan barang inventaris perusahaan dan ketika diminta untuk menggantinya malah berdalih macam-macam yang buntutnya adalah tidak mau mengganti ? Saya jadi bingung...apakah urat malu saat ini mudah putus sehingga mengabaikan tanggung jawab sudah menjadi hal yang biasa dan bahkan dianggap sebagai 'pembenaran' demi kesenangan diri semata ?

Apakah Anda termasuk orang yang bertanggung jawab ?

Minggu, 13 Juni 2010

Never Give Up

Never Give Up! Dengan hanya 3 kata, maka semangat saya bisa bangkit lagi. Entah mengandung magic apa kata-kata itu, tapi setiap kali saya merasa patah semangat, tak ada harapan atau sedang tertekan, dan hanya dengan menuliskan dan mengucapkan kata-kata itu, maka ajaib...semangat saya jadi tumbuh dengan pesat.

Never Give Up!
Never Give Up!
Never Give Up!
Never Give Up!
Never Give Up!

Saya hanya butuh kata itu sekarang...tidak yang lain!



 

Senin, 07 Juni 2010

Laptop oh laptop

Cobaan memang selalu datang di saat yang tidak tepat. Baru saja punya banyak inspirasi dan semangat untuk mengerjakan sesuatu, eh...laptop yang giliran tidak bisa diajak kompromi. Dari pagi sampai sore, laptop error terus menerus. Setiap kali buka aplikasi excell dan word, selalu saja ngadat dan lamanya minta ampun. Apakah itu artinya laptop yang telah setia menemani selama 2 tahun ini harus di lem biru (lempar beli baru) ? Hua...tak rela rasanya harus melepasnya karena ini adalah laptop pertama yang saya beli dengan uang sendiri. Tak tahu apa yang salah dengannya karena dalam jangka waktu 3 bulan, laptop sudah masuk bengkel departemen IT 2 kali-bukan sebuah rekor yang membanggakan. Oh...laptop...cepatlah sembuh....i need you, my cute black! Tanpamu....aku tanpa daya di tengah hutan rimba belantara ini...

Sabtu, 05 Juni 2010

Damon River


Tak perlu banyak kata untuk melukiskan kegembiraan kami ketika berenang bersama di Kali Damon *meskipun saya tak bisa berenang*. Kali damon adalah sebuah sungai kecil yang terletak di tengah-tengah lokasi site perusahaan. Airnya jernih meskipun dari atas tampak hitam karena dasarnya adalah lumpur dan sumber airnya saya duga dari air rawa yang hampir mendominasi semua area hutan di lokasi site. Tertawa, bermain air, bercanda dan berpose norak akan jadi hiburan baru bagi kami setiap kali libur tiba. I really like it and i love u, guys. Thanks for being my friend and my family in the middle of the jungle! 

 

my boss is my enemy

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman membawa kabar berita yang cukup menggetarkan seluruh isi dunia persilatan di site perusahaan. Dia akan RESIGN! Resign alias mengundurkan diri dari pekerjaan sebenarnya merupakan hal yang jamak terjadi, namun yang membuat saya tak habis pikir adalah alasan teman saya di balik pengunduran dirinya tersebut. Sebagai orang yang cukup dipandang karena keahlian dan kedewasaannya dalam bersikap, alasannya untuk resign terdengar cukup konyol. Ia mundur karena tidak cocok dengan bossnya. Hmm... semua orang tahu bahwa nyaris semua orang yang memiliki label 'boss' memang memiliki sikap menyebalkan jika dipandang dari sudut pandang bawahan. Mulai dari gayanya memerintah, gayanya membuat keputusan, dan sejuta alasan lain yang membuat boss ada di dalam urutan pertama orang yang akan ditimpuk beramai-ramai jika ada kesempatan. *yang menyangkal pendapat ini pasti sedang di bawah ancaman bossnya. hehehe...

Boss bagaimanapun keadaannya, mau tak mau harus diakui bahwa dialah yang memilih bawahan dan bukan bawahan yang memilih bossnya. Jadi, baik dan buruknya tingkah laku boss memang harus diterima dengan lapang dada oleh bawahan. Memang sih...tidak semua bisa diterima, tapi jika tidak parah-parah sekali kenapa harus berontak apalagi jika hanya karena boss yang bertingkah laku NATO (No Action Talk Only) seperti yang dialami oleh teman saya? Ada saatnya batas kesabaran habis, namun ada saatnya pula bawahan harus menerima dengan pikiran terbuka alias menyesuaikan diri dengan boss demi kemajuan karirnya sendiri. Buat saya, karir professional saya tidak akan saya biarkan hancur gara-gara ketidakcocokan dengan boss. Boss yang 'sulit' seharusnya menjadi tantangan tersendiri bagi bawahan untuk dapat menaklukkannya. Teman saya ini sebelum mengundurkan diri, terlebih dahulu melakukan serangkaian aksi protes yang menurut saya kurang dewasa dan mencoreng perjalanan karirnya sendiri, yaitu membangkang perintah atasannya dan mangkir dari tugas-sebuah tindakan yang bisa dibilang tidak profesional. Membangkang dan mangkir adalah suatu tindakan yang kurang dewasa, karena bisa dibilang membangkang serta mangkir adalah tindakan yang biasa dilakukan oleh anak kecil jika sedang ngambek karena keinginannya tidak dipenuhi. Jika sudah begini, maka titik temu antara boss dan bawahan tidak akan pernah didapatkan dan biasanya yang terjadi adalah keadaan bertambah parah. 

Saya ingat, dulu waktu masih berkegiatan di organisasi pecinta alam, saya juga pernah mengalami hal yang sama. Saya jengkel sekali dengan seorang teman yang kebetulan diberi wewenang sebagai Ketua Organisasi dengan gaya kepemimpinannya yang otoriter militer. Saya tak pernah menemukan kesepakatan dengan dia karena kebetulan gaya komunikasi dan pemecahan masalah kami yang berbeda. Dan karena tidak tahan, saya mengambil keputusan untuk keluar dari organisasi *melakukan tindakan konyol tercela dengan mutung sebagai aksi protes* , dan pada akhirnya, ini adalah tindakan yang sangat saya sesali sampai sekarang. Saya kalah sebelum berperang ketika mengajukan pengunduran diri tersebut, padahal sebenarnya masih ada cara-cara lain yang bisa saya lakukan untuk memenangkan 'pertempuran' dengan sang boss militer itu. Yang lebih parahnya, saya tak sadar bahwa tindakan saya itu menjadi preseden yang buruk bagi anggota yang lain. Ada beberapa orang yang mencontoh tindakan saya itu dan bertambah dalamlah rasa penyesalan saya. Beberapa bulan saya mengucilkan diri, tak berani datang ke sekretariat organisasi ataupun mengangkat muka pada teman-teman karena sangat malu telah begitu mudahnya menyerah pada boss yang 'gila' hanya gara-gara berbeda gaya/prinsip. 
Kembali pada perusahaan saya, dalam 1 minggu, 2 orang minggat alias melarikan diri tanpa pamit karena alasan yang sama, yaitu tidak cocok dengan boss. Duh...rupanya my boss is my enemy tidak dijadikan sebagai tantangan tapi malah dijadikan sebagai hambatan sehingga kabur-pun menjadi trend akhir-akhir ini. 


Tapi, ini juga tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran atas tingkah laku boss. Bagaimanapun juga hubungan antara boss dan bawahan adalah hubungan simbiosis mutualisme dimana mereka saling terkait dan membutuhkan serta tak dapat sempurna tanpa kehadiran yang lain. Jadi, buat Anda yang menjadi boss... sebaiknya rajin-rajin mencari tahu apa yang diinginkan oleh seorang bawahan dari seorang boss dan juga memandang sama tinggi terhadap bawahan karena tak selalu bawahan itu lebih 'bodoh' dari boss. Dan yang lebih penting adalah memanusiakan bawahan karena mereka bukanlah benda mati yang bisa diperlakukan semena-mena sesuai dengan keinginan kita sendiri-toh ketika bawahan tak ada, yang repot boss juga!


Jadi...boss Anda termasuk dalam list musuh Anda bukan ?

Senin, 24 Mei 2010

Romantika Telepon

Sejak saya dipindahkan ke site, ada satu hal yang saya rasakan hilang, yaitu privasi di ruang kerja. Privasi bagi saya sangat penting karena saya banyak mengerjakan data-data rahasia yang tidak boleh dibagi dengan sembarangan orang, seperti data gaji, data sanksi dan data-data lainnya yang menyangkut hajat hidup orang banyak. *selain kerjaan, saya sering memanfaatkan posisi strategis saya untuk update blog dan browsing. hehehehe...* Nah...sejak saya dipindah ke site, privasi saya-pun hilang karena letak meja kerja yang kurang mendukung. Memang letaknya masih di pojok, tapi ada assesoris tambahan yang membuat saya kehilangan privasi dengan sempurna, yaitu dua buah pesawat telepon. Yup...telepon! Dan, jumlahnya ada dua, saudara-saudara...*gregetan*, satu telepon ekstension (internal) dan satu telepon direct line (eksternal).

Berhubung di site tak ada sinyal, maka komunikasi hanya bisa dilakukan melalui telepon dan internet yang disediakan oleh kantor. Dan, gawatnya di seluruh site yang luasnya berhektar-hektar ini hanya ada 4 pesawat telepon ekstension, 2 pesawat telepon direct line dan 1 pesawat telepon direct line yang merangkap mesin fax. Alhasil karena saya yang paling dekat dengan pesawat telepon, maka saya-pun punya pekerjaan tambahan, yaitu menjadi resepsionis telepon. Dan hal ini sangat menyita waktu kerja saya. Meskipun banyak dukanya, namun 'pekerjaan sampingan' ini kadang-kadang bisa juga menjadi hiburan buat saya. 

Saya paling sebal jika harus mengangkat telepon direct line, karena pasti telepon itu dari keluarga karyawan. Jika semua keluarga karyawan memiliki pengertian yang tinggi bahwa yang mengangkat telepon itu bukanlah resepsionis yang kerjanya hanya menerima telepon dan menyampaikan pesan, serta paham bahwa area kerja di site sangatlah luas sehingga sulit untuk memanggil karyawan secara tepat waktu sih saya senang-senang saja. Namun, kadang-kadang keluarga karyawan banyak juga yang rese-nya minta ampun-mereka tidak paham kalau area kerja di site itu luas dan kami hanya punya HT untuk memanggil karyawan yang bersangkutan sehingga belum ada 5 menit yang lalu mereka telepon, mereka sudah telepon lagi, masih untung jika mereka tidak emosi dan marah pada saya, nah ini kadang ada yang sungguh keterlaluan...marah-marah dan tidak tahu sopan santun. Kalau sudah begitu, saya akan dengan sengaja tidak angkat telepon saking jengkelnya. *maaf bagi bapak-bapak yang keluarganya menelepon ke site dan sulit tersambungnya...maaf, pak...saya siap ditimpukin deh!* Yang buat jengkel lagi adalah jika sang penelepon tidak sadar bahwa dia sedang telepon di ruangan yang berukuran 5x2 m sehingga mereka sering teriak kencang-kencang ketika menelepon. Kalau sudah begini, konsentrasi kerja-pun otomatis akan hilang karena bising sekali. Bayangkan saja, orang menelepon di jarak 50 cm dari Anda dan mereka teriak-teriak kencang. *untungnya sejauh ini tidak ada yang pakai hujan air liur kalau menelepon* Dukanya lagi adalah karena letak telepon yang persis ada di meja saya, maka orang yang menggunakan telepon sering harus duduk di dekat saya, dan jika sudah begitu, maka saya tak bisa lagi bekerja karena saya merasa sedang 'diintip'-layar laptop-pun terpaksa saya tutup. Benar-benar melelahkan!

Namun, seperti yang saya tulis tadi...tidak semuanya adalah pengalaman duka, ada juga pengalaman yang lucu atau sukanya. Pengalaman lucu adalah ketika mendengarkan dengan tidak sengaja pembicaraan di telepon karena ada-ada saja tingkah atau gaya bicara dari penelepon yang kadang-kadang lucu dan membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Dari mendengarkan tidak sengaja pembicaraan di telepon itu, saya jadi tahu episode kehidupan yang dijalani oleh karyawan dan keluarganya-ada yang harmonis, ada yang tengah berbunga-bunga, ada yang dicemburui, dan ada yang dilanda duka. Dan entah kenapa, jika karyawan selesai menerima telepon, ada yang suka bercerita apa yang tadi dibicarakannya di telepon tanpa diminta, sepertinya mereka merasa perlu menjelaskan apa yang telah terjadi kepada saya karena saya tak sengaja mendengarkan pembicaraan telepon mereka-mungkin karena mereka malu atau butuh teman untuk berbagi suka dan duka. Dan, sebagai rekan kerja yang baik, tentu saja saya harus meluangkan waktu saya lagi untuk mendengarkan mereka bercerita. Senang sih...karena itu artinya mereka percaya pada saya dan saya-pun dapat mengambil beberapa pelajaran dari kisah hidup mereka, meskipun itu artinya saya harus kehilangan waktu efektif untuk bekerja. 

Karena saya sering sekali menerima telepon, maka saya-pun lama lama hafal akan kebiasaan keluarga karyawan. Ada yang kalau telepon hanya mengabarkan kabar duka terus, ada yang sedikit-sedikit telepon minta pertimbangan ini dan itu, ada yang telepon untuk iseng dan ada yang kasmaran dan cemburuan sehingga merasa perlu untuk telepon setiap hari. Namun dalam waktu dekat, saya akan mengakhiri jabatan saya sebagai 'resepsionis gadungan' karena telepon akan diparalel ke kantor security sehingga saya tak perlu lagi mengangkat telepon yang setiap 10 menit sekali berdering. Finally!

Apakah hari ini orang-orang tercinta Anda sudah menghubungi Anda ?

Minggu, 23 Mei 2010

Blueboraus

Banyak orang yang bertanya pada saya apa arti 'blueboraus' yang saya gunakan sebagai alamat email dan juga sebagai alamat blog ini. Dan, untuk menjawab rasa penasaran, maka inilah arti blueboraus :

Blueboraus tidak memiliki arti khusus. Nama itu tercipta ketika saya sedang membuat email di yahoo dan semua nama yang saya pilih kebetulan sudah ada yang menggunakannya. Akhirnya saya berpikir keras dan muncullah ide menggunakan nama blueboraus. Blueboraus sendiri tercipta dari pikiran saya menggabungkan beberapa kata, yaitu blue+bora+us. Blue...artinya biru...saya sangat menyukai warna biru. Bora...adalah nama panggilan saya waktu kecil. us...menandakan species manusia. *ini adalah alasan yang paling ngawur saat itu* Alasan yang kekanak-kanakan ya ? Maklumlah, nama email itu saya buat ketika saya masih muda belia, belum genap 20 tahun. Tapi, saya tak menyesal menggunakan nama itu, karena akhirnya nama itu sekarang jadi unik dan menjadi melekat dengan diri saya. 

Apakah nama email anda juga memiliki sejarah ?
 

Senin, 17 Mei 2010

Genjreng.....Genjreng

Mengisi waktu luang di site tak banyak ragamnya karena kondisi lingkungan alam dan sosial yang tak memungkinkan. Namun, akhir-akhir ini ada satu aktivitas yang sungguh-sungguh menghibur dan dapat meredakan stress, yaitu bernyanyi bersama. Aktivitas menyanyi memang terbukti dapat meredakan ketegangan karena itulah maka tempat-tempat karaoke selalu ramai pengunjung dan mendengarkan musik sambil bersenandung lirih selalu dilakukan oleh karyawan sesibuk apapun mereka bekerja untuk menyeimbangkan jiwa yang lelah karena beban pekerjaan. 

Apa yang menarik dari aktivitas menyanyi bersama ? Menurut saya...sekali lagi, menurut saya...jika Anda ingin menambahkan, dipersilahkan :
1. Dalam aktivitas menyanyi bersama, suara  saya kita yang jelek tak terlalu terdengar karena bercampur dengan suara yang lain
2. Dalam aktivitas menyanyi bersama, kita dapat melakukan katarsis-pelampiasan emosi-karena kita bisa bebas mengeluarkan suara sekencang-kencangnya tanpa ditimpuk beramai-ramai oleh orang lain dan hatipun jadi terbebas...ringan.
3. Dalam aktivitas menyanyi bersama, kita dapat menambah pengetahuan akan bermacam-macam lagu. Semakin banyak orang, maka referensi lagu lagu yang dinyanyikan-pun menjadi semakin beragam. Pengalaman kemarin, kami menyanyikan lagu dari berbagai era dan genre. 
4. Silahkan tambahkan sendiri...

Sebenarnya menyanyi berjamaah seperti yang saya alami sekarang, bukanlah pengalaman baru bagi saya, bahkan pengalaman kemarin menimbulkan kenangan dan kerinduan tersendiri akan kebersamaan teman-teman di PALAPSI. Pengalaman kemarin membuat saya rindu akan suasana camping di pegunungan yang dingin sambil genjreng-genjreng menyanyikan lagu-lagu dari yang versi asli sampai versi rekaan, dari lagu yang romantis sampai saru, dari kondisi sadar sampai kondisi teler karena mabuk minuman keras  kelelahan bernyanyi. Aaaahhh...tak sabar rasanya menunggu momen itu tiba kembali di bulan Juni. O ya...dalam setiap even menyanyi bersama, pasti ada satu orang yang akan menjadi idola dan pusat dari kegiatan, yaitu gitaris karena tanpanya menyanyi bersama takkan indah. Di PALAPSI dulu, kami punya beberapa gitaris andalan yang memang TOP BGT dan kami benar-benar memuja mereka, bahkan seorang teman rela menyerahkan cintanya 50% demi sang gitaris asal dia tak melepaskan gitarnya. Kalau dia melepaskan gitarnya, maka ketampanannya akan hilang dan cinta teman saya-pun hilanglah. Dan, saya-pun baru menyadari bahwa teman saya benar... seorang rekan kerja di site mendadak menjadi tampan sekali ketika dia memainkan gitarnya dan saya rela menyerahkan jatah cinta makan saya padanya 50% demi mendengarkan dia memainkan gitar untuk mengiringi kami menyanyi. He's very cool when he played his guitar and i'm falling in love with his performance! Hehehehe... Jadi, semoga aktivitas genjreng-genjreng menyanyi bersama ini akan langgeng karena benar-benar efektif untuk meredakan stress!


PS : Ncoet, tenang saja...cintaku tak akan berpindah ke sang gitaris kok! *takut ditimpuk si Ncoet yang membaca tulisan ini*

Teknologi (tak) mengerti Anda

Try Again! Try Again! 
Itulah kata yang selalu keluar setiap kali saya mencoba untuk online melalui YM. Kata yang membuat emosi memuncak mendidih. Bagaimana tidak ? YM adalah satu-satunya komunikasi yang memungkinkan di lokasi site perusahaan tempat saya bekerja, karena tempat ini tak terjangkau oleh sinyal telepon selular. Ada sih telepon wartel, tapi biayanya tinggi sekali karena menggunakan teknologi satelit. Alhasil, kejengkelan-pun memuncak...di tengah hasrat kerinduan yang membutuhkan penyaluran untuk dilampiaskan pada orang-orang yang dicintai, YM seperti ingus-keluar masuk, on-off...benar benar teknologi yang tak mengerti Anda! Sebenarnya tak tepat juga menyalahkan YM, karena yang bermasalah adalah jaringan di site perusahaan. Bandwith yang terbatas dengan jumlah pengguna yang semakin banyak membuat koneksi menjadi super duper lambat, dan akibatnya tak bisa online lagi. Hiks!

Arrrrrggggghhhhh....
Arrrrrrrrrrrrgggggghhhhhhhh......
Ingin rasanya teriak sekencang-kencangnya melepaskan semua beban yang menghimpit di dada. Ketika semua tak terjadi sesuai dengan rencana dan suasana hati sedang buruk, semua menjadi tampak berkonspirasi menambah kesialan, termasuk teknologi. Dan...stress luar biasa-pun resmi menyerang tubuh dan jiwa. Kalau saja dapat membanting semua barang-barang untuk melampiaskan stress *dan nyaris saya lakukan*, dapat menyelesaikan persoalan, mungkin saya sudah akan melakukannya. Tapi, untunglah pikiran saya masih dikuasai sepenuhnya oleh kewarasan sehingga tindakan konyol itu belum tak kan saya lakukan. Dan, saya-pun tak bisa berdiam diri menghadapi kesialan yang disebabkan oleh teknologi, saya akhirnya memutuskan untuk segera meneror kantor pusat agar mereka segera meningkatkan bandwith...dan itu saya lakukan semata-mata demi kerinduan yang semakin memuncak untuk meredakan ketegangan/stress yang luar biasa...

Ncoet...aku kangen kamu dan semoga teknologi segera mengerti kita!

Selasa, 27 April 2010

Blank

Hari ini suasana hati tak seburuk hari kemarin, tapi pikiran tetap jalan di tempat. Entah sedang jalan-jalan kemana sang pikiran sehingga ketika saya cari tak berhasil saya temui. *mungkin juga karena saya mencarinya hanya dengan setengah hati dan akhirnya membiarkan dia pergi menjauh* Saya menjalani hari seperti robot-bangun pagi, mandi, datang ke kantor dengan otak yang kosong karena ditinggal pikiran pergi, menunggu bel makan siang, istirahat, ke kantor lagi masih dengan setengah nyawa, menunggu bel pulang, pulang, makan malam, dan beranjak ke peraduan. What a life! 

Saya mengalami masa-masa penuh ketidakpastian dan terjebak di dalam pusaran hidup yang membosankan. Hidup berubah jadi membosankan dan membuat otak saya beku-blank! Semalam, saya mencoba ngobrol dengan seorang teman yang dulu saya anggap lawan bicara yang seimbang dan bermutu dan saya terhenyak-saya bukan lawan yang seimbang lagi baginya! Kata-kata saya menjadi kurang bermutu dan dangkal sekali maknanya, saya tak sanggup menghasilkan pemikiran yang cerdas....huaa...kecerdasanku ikut pergi! Ah...episode hidup macam apakah yang sekarang ini saya jalani? Saya sungguh tak menikmatinya!

Senin, 26 April 2010

Frustasi

Suasana hati saya saat ini sedang sangat buruk sekali. Dan, jika sedang buruk begini, saya biasanya tak bisa sabar, amarah rasanya meledak-ledak. Saya tahu persis suasana hati buruk itu yang membuat adalah diri sendiri, tapi entah kenapa saya tak bisa berbuat banyak untuk mengontrolnya, alih-alih merubah suasana hati, saya malah semakin larut dalam suasana hati yang buruk. Akibatnya...semua berjalan tak semestinya dalam pandangan saya hari ini. Semuanya jadi berubah serba salah!


Yang lebih gawat adalah saya mulai membenci keadaan yang berlangsung di sekitar saya, seakan-akan semua keberuntungan lenyap dari hidup saya dan berubah jadi kesialan. Mulai dari teman kantor yang sangat saya andalkan akan pergi, kekasih hati yang uring-uringan tidak jelas karena saya tidak bisa penuhi janji, masalah-masalah di kantor yang semakin bervariasi dan politik kantor yang semakin terasa mencekik leher, serta teknologi informasi yang berubah menjadi lambat dan tidak bersahabat. Semuanya seperti berkonspirasi membuat hari saya jadi buruk tak karuan. Saya FRUSTASI!

Sabtu, 24 April 2010

Ingin menjadi seperti mereka

Seharian berkutat dengan data payroll ternyata membawa hikmah tersendiri. Kelelahan yang akut dan kebosanan yang memuncak membawa saya kembali pada kebiasaan lama, yaitu membaca blog-blog keren, salah satunya adalah Ndoro Kakung. Sang penulis adalah teman sekerja saya di media nasional terkemuka di Indonesia sebelum saya pindah ke Merauke. *saya sih tentu saja masih mengingat beliau dengan baik, entah apakah beliau masih mengingat saya ataukah tidak* Membaca tulisan-tulisannya bagaikan menemukan oase di tengah padang gurun. Energi langsung terisi penuh ketika selesai membaca postingan-postingannya yang bernas. Mungkin, dia memang dilahirkan sebagai penulis, tak seperti saya yang dilahirkan entah untuk menjadi apa, sehingga ia mampu memproduksi rentetan kata-kata yang indah dan entah bagaimana caranya selalu mampu membangkitkan sebuah rasa bagi para pembacanya, entah itu manis ataupun pahit, getir atau asam, bahkan kadang-kadang mampu membuat rasa nano-nano. 

Sebuah postingannya yang baru sempat saya baca hari ini salah satunya yang mampu menciptakan rasa nano-nano dalam benak saya setelah membacanya. Anda penasaran ? Silahkan langsung meluncur ke TKP! Membaca postingannya membuat rasa penasaran saya akan dunia tulis menulis langsung tergugah. Semangat untuk menulis yang sebelumnya padam dan nyaris terkubur menemukan jalannya kembali. Ide-ide kreatif-pun mendadak keluar dari dalam kepala. Membaca postingannya membuat saya merinding karena saya tersihir oleh semangatnya dalam menulis, tak pernah mati ide. Ya Tuhan...mengapa saya tak terlahir dengan bakat seperti itu ? Dikasih makan apakah mereka itu sehingga mereka begitu kreatif dan produktif dalam menulis ?

Sang Ndoro menjalin kerjasama dengan seorang perempuan pintar yang memiliki blog squeezing marshmallow membuat dua buah cerita bersambung/estafet yang sangat apik. Proyek itu dituangkan dalam dua buah blog, yaitu Perempuanku dan Lelakiku, dan hebatnya mereka mengerjakan itu dalam waktu 28 hari saja. *CMIIW* Sebuah karya yang patut diacungi jempol karena isinya benar-benar sangat romantis dan benar-benar membuat saya serasa menjadi pelakunya-mungkin karena saya pernah mengalami kisah yang sama dengan kisah imajinasi mereka berdua. Saya terpaku dan terhenyak...bagaimana mereka dapat mengisahkan kisah yang sebenarnya lazim dialami orang menjadi indah untuk diikuti melalui serangkaian kata-kata yang sarat makna. OMG...saya ngiri sekali! Adakah yang punya saran bagaimana agar bisa menjadi seperti mereka berdua? Keren, kreatif, pintar dan penuh imajinasi! Tuhan...saya ingin seperti mereka!
 

Jumat, 19 Maret 2010

Sang Pembosan

Apakah seorang pemimpi bisa mengalami rasa bosan ? Hmm... saya tak yakin jawabannya adalah iya, karena seorang pemimpi biasanya pandai membuat dirinya termotivasi dengan impian-impian dan mudah bangkit jika merasa terpuruk. Bagaimana menurut Anda ?
Saya yang pernah menyatakan diri sebagai seorang pemimpi terpaksa harus merenung kembali apakah saya ini benar-benar seorang pemimpi seperti tag line blog saya atau saya hanya berangan-angan dan berandai-andai sebagai pemimpi karena saya adalah orang yang mudah bosan dan jenuh dengan apa yang saya jalani.

Dengan prinsip easy come easy go, saya tumbuh jadi pribadi yang tak pernah betah mengerjakan sesuatu hal dalam jangka waktu lama. Perhatian saya mudah teralihkan oleh hal-hal baru. Bukan sesuatu hal yang baik, apalagi dalam kehidupan profesional. Sebagian besar alasan saya pindah-pindah kerja sampai dengan saat ini-pun sebenarnya adalah karena saya merasa jenuh dengan pekerjaan yang saya lakoni dan seringkali tak tahu harus berbuat apa, namun saya selalu bisa merangkai alasan klasik itu dengan alasan rasional yang memang kebetulan 'mampir' dalam episode kehidupan saya saat itu dan kemudian lari dari rasa bosan dengan berpindah pekerjaan. Alhasil...saya hanya berhasil bertahan tak lebih dari 1,5 tahun di tempat kerja yang sama. Dan yang sekarang ini saya jalani adalah sebuah rekor baru...2 tahun bekerja di tempat yang sama *yippie...congratz for my self!* Tapi itu bukan berarti jiwa pembosan saya telah mati, dia masih hidup dan sekarang saya mulai merasakan kebangkitannya dalam tubuh saya. Sang pembosan yang bersemayam dalam jiwa saya mulai menggeliat, berusaha keluar dan menguasai tubuh. Rasanya tak enak sekali ketika ia mulai mencakar-mencakar semua ruang dalam tubuh untuk mencari celah keluar. Kadang saya menang terhadapnya, tapi terkadang saya kalah telak melawannya seperti yang terjadi selama seminggu ini. Sang pembosan berhasil mendorong jari jemarinya keluar dari tubuh saya dalam bentuk kemalasan tiada tara, semangat kerja yang mendadak hilang dan otak yang buntu-tak sanggup berpikir apapun, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Dan gawatnya, serangan yang bertubi-tubi dari sang pembosan telah membuat daya juang saya melemah-saya yang seharusnya cepat bangkit dan menyatakan perang terhadapnya malah membiarkan saya terseret semakin jauh dalam permainannya, saya membiarkan diri saya terjebak dalam rasa bosan. Fiuh! Haruskah saya melawannya dengan lari lagi dari pekerjaan sekarang ? Atau mengerahkan seluruh tenaga untuk berjuang mencari jalan terang dan mencari senjata yang ampuh untuk membunuh sang pembosan dan membuangnya ke dasar jurang terdalam ? Tapi dimanakah saya dapatkan senjata itu ? Ada yang tahu ?

Sebenarnya, saya sudah memiliki senjata yang ampuh untuk melawan sang pembosan, namun entah kenapa senjata itu terasa berat sekali di tangan. Senjata itu berupa tugas baru untuk mengelola site yang letaknya di tengah hutan. Saya sebenarnya pernah melakukannya dulu sekali ketika saya mulai bergabung di perusahaan sekarang, namun entah kenapa tugas baru itu yang seharusnya bisa jadi jalan keluar dari sang pembosan malah membuat saya merasa gamang. Entah karena tantangannya yang terlalu besar yang tak sesuai dengan kompetensi saya atau karena saya tiba-tiba bisa melihat bahwa sang pembosan akan lebih mudah menguasai saya jika saya mengambil kesempatan itu dan saya akan semakin tak berdaya melawannya. Saya tak tahu pasti...tapi memang senjata itu rasanya berat sekali, bahkan hanya untuk sekedar diangkat, apalagi jika harus dihunuskan ke jantung sang pembosan. Arrrrrggghhhh...saya malas membayangkannya! *derita seorang pekerja yang tengah dilanda rasa bosan yang akut*

Kamis, 18 Maret 2010

Menulis dan Membaca

Ternyata menulis itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Entah sudah berapa kali saya buka blog ini dan hanya sampai pada halaman muka saja kemudian saya anggurkan dan akhirnya saya tutup kembali tanpa hasil tulisan apapun. Butuh konsentrasi dan tekad yang kuat untuk menulis, bahkan jika itupun hanya beberapa patah kata. *saya sudah lama tak update status FB karena tak tahu harus menulis apa dan pikiran buntu* Dulu ketika saya buat blog ini, saya optimis akan bisa menghasilkan tulisan minimal 1 setiap minggunya, tapi ternyata saya salah. Rasa optimis saya tidak realistis karena saya meniadakan faktor M (Malas) yang seringkali merenggut jiwa saya dan hasilnya, sudah 2 bulan ini saya tak menghasilkan satu tulisanpun yang bermutu. Kalau sudah begini, impian untuk jadi penulis rasanya terasa mustahil untuk diraih *mungkin juga saya terlalu PD bahwa saya bisa menulis*

Jangankan menulis, aktivitas membaca saya akhir-akhir ini juga terasa kurang-entah kenapa. Padahal saya tergolong cepat dalam membaca. 1 buku biasa saya lahap dalam 1-3 hari. Sekarang ? Nyaris tak pernah saya sentuh buku-buku baru yang saya borong ketika cuti, bahkan beberapa buku masih terbungkus dalam kepompong plastik. Saya tak tahu apa yang salah dengan diri saya saat ini, tapi jiwa saya benar-benar terasa kosong tanpa membaca dan menulis. Otak saya seperti kram, tak punya denyut di setiap simpul syarafnya. Dan gawatnya, saya tak punya daya untuk melawannya...saya seakan lumpuh, menyerah pada kondisi. Bahkan yang lebih parah, saya seakan membuat permakluman untuk kondisi saya ini, yaitu saya tengah sibuk luar biasa dengan pekerjaan dan kehidupan asmara saya tengah membutuhkan perhatian lebih, padahal kenyataannya tak begitu-pekerjaan saya biasa biasa saja, tak ada aktivitas tambahan yang berarti dan kehidupan asmara saya memang sudah begini adanya sejak dulu. Fiuh!

Tapi akhirnya sedikit demi sedikit, gairah itu mulai muncul lagi meskipun pijarnya tak sebesar dulu...masih berupa api kecil bak nyala api dari korek gas. Beberapa hari ini, saya sudah membaca kembali, meskipun itu adalah buku novel ringan dan saya sudah mulai menulis lagi meskipun hanya tulisan curhat colongan sampah seperti sekarang. Mudah-mudahan api ini terus membesar dan akhirnya benar-benar membakar saya seutuhnya....

*ditulis ketika tak tahu harus berbuat apa di tengah-tengah jam kerja, pernahkah Anda mengalaminya ?*

Sabtu, 16 Januari 2010

Back to the Reality

Akhirnya musim cuti-pun selesai juga. Setelah 3 minggu bersenang-senang di tempat kelahiran, akhirnya harus kembali juga pada kenyataan, membanting tulang demi sesuap nasi dan segenggam berlian *lebay mode on*.
Cuti kemarin benar-benar mengesankan bagi saya, karena pertama menghabiskan banyak uang untuk mondar-mandir dari satu kota ke kota yang lain; kedua-ketemu dengan banyak teman baru; ketiga-mendapatkan ilmu baru; dan keempat, mendapatkan pengalaman bertualang yang baru. Yang paling mengesankan tentu saja adalah akhirnya saya berhasil juga ke Sumatera, meskipun hanya sampai Lampung. Next destination ketika cuti adalah Bangka Belitung *jatuh tempo cuti masih 6 bulan lagi, tapi dah bermimpi. hehehe...*
Berjuta terima kasih untuk teman-teman yang telah membuat cuti saya begitu bermakna : Fika, Thomas, dan Ralf...teman-teman seperjalanan yang membuat mimpi tanah Sumatera terwujud.

.....to be continued ke cerita Lampung 'The Dancing Dolphin'.....