Senin, 16 November 2009

Saya dan SIM

Pernahkah Anda melanggar peraturan ? Bagaimana rasanya jika melanggar aturan ? Tentu saja rasanya tak enak, hati menjadi tak tenang *ups...tapi bagi orang-orang yang memiliki kelainan jiwa, perasaan ini tentu saja tak ada dalam benak mereka*

Berbulan-bulan di Merauke, saya juga merasa hidup tidak tenang. Penyebabnya padahal simple saja, yaitu saya tak punya SIM. Mungkin banyak orang akan mentertawakan saya karena tidak punya SIM sampai membuat hidup saya gundah gulana. Didikan dari kecil akan kedisiplinan membuat saya sering merasa bersalah dan tidak tenang jika melanggar peraturan, mungkin inilah yang disebut dengan conditioning-terbiasa karena dikondisikan. Sebenarnya saya sudah memiliki SIM, tapi sudah habis masa berlakunya tahun 2006 dan karena terlambat diperpanjang, maka saya harus buat baru. Beberapa waktu yang lalu, saya coba buat di Jember, tapi apa daya...disana saya tak lolos ujian praktek. *jago di jalanan ternyata belum tentu berhasil mengatasi rintangan di tempat ujian praktek*. Akhirnya, dengan koneksi yang bisa mengusahakan pembuatan SIM dengan 'jalur cepat', saya memilih membuat SIM di Merauke, walaupun harus merogeh kantong dalam-dalam. Hmm...untuk mematuhi peraturan, saya 'terpaksa' melanggar aturan. Dan, itu adalah praktik yang lumrah di muka bumi Indonesia tercinta ini. Tapi untunglah...beberapa kota sekarang sudah menerapkan aturan yang ketat tentang pembuatan SIM ini sehingga praktek-praktek percaloan atau 'jalur cepat' tak lagi bisa digunakan. Semoga saja aturan yang ketat tentang pembuatan SIM ini akan dapat mengurangi angka kecelakaan di jalan raya karena SIM benar-benar diperuntukkan bagi orang-orang yang memang ahli mengemudikan kendaraan bermotor.

Tidak patuh aturan selain membuat hidup tidak tenang, juga ternyata membawa dampak kerugian ekonomi bagi yang berusaha mengabaikan aturan. Hal ini saya alami sendiri. Akibat tidak memiliki SIM, saya harus memilih jalan memutar untuk menghindari tempat-tempat yang sering terkena razia dan, bensin-pun jadi cepat habis. Dan jika terkena razia, maka harus mengeluarkan uang lebih banyak. UU Lalu lintas yang baru membuat aturan denda Rp. 1.000.000 bagi pengendara yang terbukti tidak memiliki SIM. Hii...ngeri!

Jadi, sudahkah Anda memiliki SIM ?

Kamis, 12 November 2009

Buntu

Pernahkah Anda merasa tidak tahu harus melakukan apa ? Berada pada satu titik dimana Anda tidak tahu harus maju atau mundur. Apa yang Anda lakukan jika menghadapi situasi seperti ini ?

Kamis, 05 November 2009

CEMBURU

Cemburu...saya yakin semua pernah merasakannya dan mungkin pernah melakukan tindakan konyol karena terbakar rasa cemburu. Dan, tepat ketika saya menulis posting ini, seorang teman wanita melakukan tindakan konyol atas nama cemburu. Saya yang lebih dahulu mengenal kekasihnya merasa sah-sah saja dan tidak memiliki tendensi apa-apa ketika memanggil kekasihnya dengan sebutan sayang karena itu memang biasa saya lakukan terhadapnya. Rupanya panggilan akrab saya itu disalah artikan oleh teman saya. Bisa ditebak kan kelanjutannya ? Saya akhirnya harus sibuk menjelaskan bahwa saya tak memiliki maksud apa-apa *sempat terlintas pikiran jahat untuk membumbui agar dia semakin panas. xixixixixi...* Come on, girls...! Tak sadarkah dirimu bahwa jika kamu bersikap begitu, maka kamu akan membuat lelakimu tak bebas dan akhirnya hanya menjadi seonggok manusia yang tak bisa diharapkan karena terlalu kau lindungi ?

Rasa cemburu rupanya tak hanya berkaitan dengan masalah asmara saja, tapi juga dalam hal pekerjaan. Beberapa hari ini, saya menerima keluhan dari karyawan. Mereka mengeluh tentang apa yang mereka terima mengapa tidak sama dengan karyawan yang lain atau mengapa diperlakukan beda dari karyawan yang lain. Di dalam dunia kerja, rasa cemburu ini mungkin muncul karena karyawan merasa diperlakukan tidak adil *jika sudah banyak yang mengeluh, maka perusahaan bisa dituding tidak berlaku adil. tapi, kalau cuma 1 atau 2 orang, mungkin mereka hanya sirik saja* Tapi tak jarang, rasa cemburu ini muncul karena ingin memiliki apa yang dimiliki oleh orang lain, ingin meraih apa yang diraih oleh orang lain tanpa mau berbuat atau bekerja sama kerasnya dengan orang lain. Akhirnya jegal menjegal, saling mengkritik dan menjatuhkan nama baik menjadi akibat nyata dari rasa cemburu. Kadang-kadang rasa cemburu juga tidak memiliki dasar yang jelas, seperti keluhan seorang teman tadi pagi...
Fs : "Eh, si X itu sekarang statusnya apa?"
Me:"Karyawan"
Fs : "Oooo...kalau begitu, berarti bisa menegur-negur dengan lebih leluasa"
Me :"Maksudnya?"
FS :"Lha...dia sering pulang cepet. Aku kan iri. Yang lain gak bisa pulang cepet, giliran dia bisa kabur seenaknya."
Me : "Halah"
Bukankah itu bukanlah hal yang seharusnya dicemburui ? Pulang cepat atau tidak itu kan hak karyawan dan tergantung pada keahlian mereka sendiri dalam melakukan manajemen waktu. Hmm...rasa cemburu sepertinya sama persis karakternya dengan rasa cinta...tak memiliki logika!

Apakah anda juga dikuasai rasa cemburu hari ini ?

Selasa, 03 November 2009

PARANOID

Bumi Indonesia tengah bergolak menyesuaikan dirinya ke dalam bentuk yang pas. Pergolakan itu-pun dirasakan sebagai gempa dan meluluhlantakkan segala sesuatu yang ada di atas permukaan. Terakhir, gempa dahsyat membuat Padang menjadi porak poranda. Dan tak lama kemudian, gempa-gempa kecil-pun terasa di beberapa tempat di seluruh Indonesia, hanya Kalimantan saja yang tidak tersentuh *sepertinya tinggal di Kalimantan cukup menyenangkan*. Bencana sekecil apapun dengan dampak yang sekecil apapun pasti akan membuat orang yang mengalaminya merasakan trauma. Adik sepupu saya yang tinggal di Jogja pada saat gempa terjadi pada tahun 2004 selama beberapa saat selalu shock setiap kali mendengar suara ribut. Keluarga di Jogja juga tak pernah mengunci pintu rumahnya selama beberapa waktu karena takut tak bisa melarikan diri jika gempa terjadi. Ruang tamu-pun menjadi pilihan yang paling praktis untuk tidur karena letaknya yang dekat dengan pintu keluar.

Saya bersyukur pada Sang Pencipta Alam Semesta karena tak pernah berada di tempat yang dilanda bencana *matur nuwun Gusti Allah* sehingga saya tak mengalami trauma. Namun, pemberitaan media massa yang gencar dan bertubi-tubi menayangkan berbagai bencana tak urung membuat nyali saya-pun ciut. Manusia memang hanyalah setitik noktah di alam semesta ini sehingga wajar jika rasa takut melekat padanya. Memang saya tak mengalami trauma, karena saya tak pernah mengalami kejadian yang traumatis, tapi saya menjadi paranoid. Saya sering merasakan ketakutan yang tak berdasar sehingga seringkali merasa khawatir dan was-was yang berlebihan. Panca indra saya-pun dirangsang bekerja lebih keras untuk merasakan hal-hal yang saya kuatirkan. Beberapa kebiasaan-pun terpaksa dirubah atas dasar rasa takut. Jika orang-orang ahli agama atau religius mencerna apa yang saya rasakan ini maka tak pelak mereka pasti akan melabel saya kurang pasrah dan tidak percaya akan kehendak Tuhan. Mungkin saja...tapi yang jelas, perasaan ketakutan dan kecemasan tak dapat dikontrol kapan datangnya...hanya insting saja bahwa semua tidak baik-baik saja dan segala kemungkinan dapat terjadi dalam hidup saya, termasuk tertimpa bencana.

Apakah anda merasakan hal yang sama dengan saya ?