Jumat, 01 Mei 2015

Travelling series: Semarang (Day 1)

Akhirnya saya melakukan perjalanan lagi setelah 6 bulan yang lalu ke pantai Ora, Maluku. Perjalanan kali ini di seputaran Jawa saja, yaitu ke Semarang. Dan perjalanan ini bukan tanpa tujuan seperti biasanya, tapi dalam rangka menghadiri pernikahan seorang kawan. Mumpung long weekend dan sudah lama nggak travelling sendiri, maka saya-pun bela belain untuk datang ke Semarang.

Untuk perjalanan berangkat, saya memilih moda transportasi kereta api karena:
1. Murah
2. Sudah 2 tahun saya tidak naik kereta api jarak jauh
Pilihan kereta apinya adalah KA Ekonomi Kertajaya dengan harga tiket 90.000 dari Stasiun Pasar Senen ke Semarang Poncol. Saya pilih kereta ini karena hanya kereta ekonomi ini saja yang masih tersisa saat saya mencari tiket ke Semarang 1 bulan yang lalu. Kereta api saat ini jadi moda transportasi primadona karena nyaman dan murah sehingga tidak heran jika tiketnya cepat ludes dalam waktu singkat, apalagi jika long weekend.
Saya berangkat dari rumah kakak di Pekayon, Bekasi pk. 11.00 karena takut KRL banyak tertahan dan terlambat tiba di Stasiun Senen. Untungnya perjalanan KRL lancar dan hanya menunggu lama di Stasiun Jatinegara. Saya tiba di Stasiun Senen pk. 12.45, masih cukup waktu untuk makan siang dan mencari bekal perjalanan. Tapi rencana tinggallah rencana, Stasiun Pasar Senen seperti pasar... Penuh dan tidak ada bangku kosong lagi di tempat tempat makan. Tak terbayangkan nanti waktu mudik lebaran, bagaimana wajah stasiun Pasar Senen...pasti seperti pasar malam hari pertama, penuh sesak!
Saya membeli bekal di 7eleven yang antriannya di kasir seperti ular sawah panjangnya. Setelah cukup mengganjal perut, saya masuk ke kereta api tepat pk. 13.30. Dan sial... AC kereta api mati sehingga rasanya seperti di sauna dalam kontainer. Fiuh! Untung petugas KA cukup sigap untuk lakukan perbaikan dan foila... Suhu 18 derajat mendinginkan gerbong.
Salute untuk PT. KAI, kereta Kertajaya ini berangkat tepat waktu, tidak kurang atau lebih semenitpun. Let's enjoy the trip!
Dan belum 15 menit kereta berjalan, pujian untuk PT. KAI terpaksa saya tarik kembali. AC kembali mati dan panas tak tertahankan karena gerbong tak memiliki jendela sama sekali. Penumpangpun saling berebutan berdiri di bordes karena sudah tidak tahan lagi. Dan tak satupun petugas yang nampak. Hanya satu petugas yang muncul untuk menawarkan bantal tidur dan ketika dikomplain, hanya menyampaikan bahwa kereta memang panas. Lho?! Jawaban menjengkelkan...untung akhirnya disambung dengan ralat ucapannya bahwa teknisi sedang memperbaiki beberapa AC di gerbong belakang. Haiyah... Apa ya sebelum berangkat tidak diperiksa dulu tho...
Dan ternyata siksaan di dalam kereta api belum selesai. Teknisi berhasil memperbaiki AC, namun di tengah perjalanan dari Tegal ke Pekalongan, AC kembali mati dan disusul kemudian dengan lampu. Sudah panas, gelap gulita pula. Katanya gensetnya bermasalah. Oalah... Ini kalau di tambang, sudah stop dioperasikan. Namun sayangnya ini bukan tambang, tapi transportasi umum. Sampai di Stasiun Pekalongan, penumpang banyak yang keluar kereta mencari udara segar dan berharap kereta diperbaiki. Tapi apa daya, baru 5 menit menikmati udara segar, pengumuman kereta akan berangkat terdengar diiringi permintaan maaf bahwa genset akan diperbaiki sambil jalan. Penumpang langsung kompak melontarkan kekecewaan. Dari ungkapan kekecewaan, terselip cerita tak enak tentang calo kereta api. Saya kira dengan sistem yang sekarang sudah sangat baik dari PT. KAI, calo ikutan hilang, namun ternyata mereka masih ada. Seorang ibu bercerita bahwa Ia harus membayar tiket seharga Rp. 275.000,- dari Jakarta ke Surabaya untuk naik kereta ini yang mana harga aslinya adalah Rp. 90.000. Bahkan katanya, ada yang jual sampai harga Rp.500.000. Ironi... Di tengah pemerintah berusaha menyediakan transportasi umum yang terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat, tetap saja ada oknum yang berusaha untuk bermain main dengan aturan demi kepentingan diri sendiri.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh penumpang, selain pasrah dengan keadaan... Panas, gelap... Benar benar seperti tinggal di dalam kontainer peti kemas berjalan. Genset baru bisa diperbaiki menjelang masuk Weleri, itupun dengan kondisi hidup mati. Untung saya cuma sampai Semarang, tak terbayangkan yang harus melanjutkan perjalanan sampai Surabaya Turi.

Kereta tiba tepat waktu di Stasiun Semarang Tawang, yaitu tepat pk. 21.50. Ketepatan waktu adalah salah satu hal baik yang terjadi sepanjang perjalanan ini. Sampai di Semarang, disambut dengan suara guntur yang menggelegar, tanda hujan lebat akan turun. Tanpa berpikir terlalu lama, saya langsung naik taksi Blue Bird yang sudah siap sedia mengangkut penumpang di depan pintu kedatangan stasiun. Jarak stasiun ke hotel Quest, tempat saya menginap di daerah Plampitan tidak terlalu jauh dan argo taksi menunjukkan angka Rp. 15.500, namun rupanya si Bapak Driver tidak memiliki kembalian sehingga saya terpaksa bayar Rp. 30.000. Pelajaran penting saat travelling adalah selalu sediakan uang pecahan saat bertransaksi! 
Sampai di hotel, teman saya dari Jogja sudah menunggu. Ia tiba 2 jam lebih cepat dengan menggunakan travel Joglo Semar dari Jogja ke Semarang seharga Rp. 80.000. Dan hal pertama kali yang saya lakukan begitu masuk kamar adalah mandi. Lupakan lapar dan ngantuk karena badan yang lengket dan gatal karena keringat bercucuran di kereta hanya punya 1 obat, yaitu mandi.
Setelah badan kembali bugar, otak saya-pun mulai bekerja normal. Sinyal pertama yang dikirimkan otak saya adalah saya lapar. Sasaran kuliner malam ini adalah Bakmi Jowo yang ada di dekat hotel. Diiringi hujan rintik rintik, saya dan teman berjalan kaki kurang lebih 150m untuk mendapatkan Bakmi Jowo Pak Bagong. Menu saya adalah seperti biasa, yaitu bihun rebus. Tebak berapa yang saya habiskan untuk makan malam hari pertama di Semarang? Rp. 26.000,-
Harga tersebut untuk bihun rebus, nasi goreng, 2 teh manis panas dan 2 krupuk. Di tengah tengah menikmati panasnya bihun rebus, tiba tiba hujan deras datang lagi. Terjebaklah kami di warung bakmi.
Hari sudah semakin malam dan mata rasanya tak bisa diajak kompromi lagi, sementara hujan tidak menunjukkan tanda tanda akan berhenti. Kami-pun memutuskan untuk naik becak kembali ke hotel meskipun jaraknya dekat sekali. Tanpa tawar menawar karena bapak penarik becak tak mau menyebutkan harga, dan akhirnya kami berikan Rp. 10.000 sebagai tanda terima kasih bersedia mengantarkan kami di tengah hujan. Mudah mudahan itu adalah harga yang pantas :)
Sampai di hotel, saya langsung jatuh tertidur karena kecapekan. See you tomorrow...

To be continued... Day 2 at Semarang...