Kamis, 01 Maret 2012

Putusnya Urat Malu = Tidak Bertanggung jawab?

Saya bukanlah penggemar sepak bola, jadi ketika buka FB beberapa saat yang lalu, saya baru tahu jika timnas Indonesia telah menelan pil pahit kekalahan telak dari Bahrain dan memecahkan rekor 10 kali kebobolan. Betapa memalukan! Yang menarik bagi saya adalah membaca berita-berita di detik.com tentang kicauan para pemain timnas setelah laga usai. Hampir semua meminta maaf karena telah mengecewakan rakyat Indonesia dengan hasil yang buruk, namun memohon untuk jangan disalahkan karena mereka sudah berusaha memberikan yang terbaik. 'What the h*ll!',pikir saya. Menurut saya, sudah menjadi tugas dan tanggung jawab mereka untuk bermain bagus, bukan hanya berusaha karena mereka telah terpilih untuk mewakili negara dari ratusan juta penduduk Indonesia. Mengapa kita tidak boleh menyalahkan mereka yang tidak memberikan performa terbaiknya untuk bangsa? Apakah mereka tidak malu berkata seperti itu? Menurut saya, itu adalah pembelaan diri paling buruk, karena mengalihkan tanggung jawab pada pihak lain. Sudah jelas tidak dapat memberikan hasil yang memuaskan, tapi tidak mau bertanggung jawab, dan malah menyalahkan pihak lain sebagai penyebab kekalahan, yaitu wasit. Dimana semangat kalian? Dimana spirit kalian? Apakah sudah sedemikian rendahnya mental bangsa Indonesia-cepat menyerah, tak punya semangat kompetisi, yang penting minta maaf untuk membela diri dan lari dari kenyataan dengan memposisikan diri sebagai 'korban' dari pihak lain? Mungkin karena pertandingan kemarin hanya syarat saja, toh menang atau kalah sudah tak ada artinya dalam kompetisi, maka para pemain timnas merasa tak perlu bermain apik. Namun itu-pun tak bisa dijadikan alasan karena sadarkah mereka bahwa untuk mengikuti pertandingan tersebut berapa biaya yang sudah dikeluarkan? Tiket pesawat, biaya akomodasi, dll. Hmmm...kalau ini diibaratkan perusahaan, mungkin timnas Indonesia sudah lama gulung tikar karena tak pernah untung-outputnya tak sebanding dengan pemasukannya.
Dari sekian banyak kicauan pemain timnas, hanya 1 setahu saya yang tidak meminta untuk tidak disalahkan, yaitu Irfan Bachdim. Dia berani mengakui bahwa dia telah bermain buruk dan akan berusaha lebih keras lagi dan tidak menyerah. Mudah-mudahan apa yang dia tulis bukan hanya pemanis bibir tapi memang dapat dilakukan.

Namun saya cermati, apa yang dilakukan oleh timnas-tidak mau bertanggung jawab-memang sekarang sudah jamak dilakukan oleh sebagian besar dari rakyat negara Indonesia ini. Berani berbuat, namun tidak mau bertanggung jawab dan seringkali memposisikan diri sebagai 'korban'. Contohnya adalah maraknya kasus-kasus pencurian kecil-kecilan yang menjadi perhatian media massa. Beramai-ramai masyarakat membela para pelaku karena katanya mereka tak layak mendapat hukuman seperti itu. Eits...tunggu dulu! Saya setuju bahwa hukumannya tidak sebanding dengan perbuatannya, apalagi kalau dibandingkan dengan hukuman yang diberikan kepada para pencuri kelas kakap alias koruptor, namun sadarkah kalian bahwa perilaku mencuri tetaplah sebuah kesalahan yang patut untuk diganjar sebuah hukuman sebagai bentuk dari rasa bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan? Tren yang berkembang sekarang yang saya amati adalah beramai-ramai orang membela para tersangka jika mereka melakukan pencurian kecil dan para tersangka-pun berusaha menempatkan diri mereka sebagai 'korban', tidak mengakui perbuatan bahkan ketika semua bukti sudah jelas mengarah padanya, ramai-ramai berdemo dan menghujat sistem peradilan ketika hukuman dijatuhkan. Bagaimanapun juga mencuri, bahkan jika itu hanya barang yang kecil dan tidak berharga sekalipun adalah perbuatan yang tidak dapat dibenarkan karena akan merugikan pihak lain. Pernah kehilangan HP, uang 10ribu, sandal? Bagaimana rasanya? Pasti kesal meskipun barang-barang itu dengan mudah dapat kita peroleh lagi dan saat kehilangan itu dapat dipastikan kita menghujat habis-habisan yang mengambilnya tanpa ijin dari kita. Mari kita budayakan kembali rasa malu dengan mau bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kita lakukan. Berani berbuat, berani bertanggung jawab!
Pelaku pencurian tetaplah salah dan harus bertanggung jawab atas perbuatannya, tapi hukuman yang diberikanlah yang harusnya dicermati dan dievaluasi bersama apakah akan dapat memberikan rasa malu dan jera hingga akhirnya mereka tak lagi berani berbuat hal yang keliru.


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, 03 November 2011

DeBoeng is writing something

Tahun 2011 dapat dikatakan bukanlah tahun terbaik saya. Saya mengalami kebangkrutan finansial, beberapa bulan kehidupan tak tentu arah, dan jobless. Rasanya semua kesialan kompak terjadi di tahun 2011 ini dan apa yang sudah saya lakukan untuk kembali bangkit ? Tak ada sama sekali. Saya seperti tak punya daya juang, hanya menunggu sesuatu yang lebih baik akan terjadi dalam hidup saya tanpa sungguh-sungguh berusaha mendapatkannya. Dan parahnya, saya juga seringkali terjebak dalam romantisme kejayaan masa lalu sehingga perasaan, pikiran dan tingkah laku seringkali mengkhianati kenyataan yang sebenarnya. Saya hanya duduk-duduk saja menggemukkan badan, persis seperti hewan ternak yang akan dikurbankan di hari raya kurban tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Saya tak muda lagi tapi saya malah tak bergerak untuk melakukan sesuatu yang berguna untuk sisa hidup saya. Entah apa yang salah, tapi bermalas-malasan, doing nothing, tak bertanggung jawab rasanya nikmat sekali. Tapi jiwa saya tak bisa dibohongi! Setiap saat, ada letupan-letupan perasaan dan pikiran yang membuat saya tidak tenang, merasa tak komplit sebagai seorang manusia dewasa. Rasa cemas, takut, kuatir akan masa depan sering terlintas tapi saya tetap tak melakukan apa-apa. Hmmm...jika dipikir-pikir sebenarnya saya bisa melakukan banyak hal yang berguna selama masa kosong ini, seperti membaca kembali teori-teori tentang HRD-dunia karir saya, menulis, merapikan kembali kekacauan-kekacauan yang saya buat tapi memang yang namanya SETAN itu sulit untuk ditepis. 
Maka untuk membangkitkan hidup saya lagi, saya mencoba menulis sesuatu...entah itu bermakna atau tidak...hanya demi mengasah intuisi perjuangan saya, mengingatkan saya bahwa saya adalah seorang pejuang...not a loser! (terima kasih untuk blog teman-teman lama yang telah menyalakan 'api' dalam jiwa saya meski nyalanya masih kecil)
Menulis memang terapi yang handal ketika hidup sedang berada dalam titik nadir...sebuah pengingat yang abadi akan drama kehidupan...

ditulis ketika sedang membuang waktu di daerah Trisakti, Grogol

Kamis, 01 September 2011

Konvoi Motor

Pemandangan yang sering dijumpai ketika ritual mudik terjadi adalah
adanya konvoi motor pemudik yang bertujuan ke suatu kota tertentu atau
menggunakan merk sepeda motor tertentu. Mudik dengan menggunakan motor
beberapa tahun belakangan ini menjadi trend dan semakin diminati oleh
masyarakat karena harga motor yang semakin terjangkau dan juga mudik
menggunakan kendaraan sendiri memiliki waktu yang lebih leluasa
dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum. Dan tak asyik rasanya
jika mudik menggunakan motor hanya sendirian saja, karena itu banyak
yang memutuskan untuk melakukan konvoi. Tujuannya bukan hanya agar tak
sendirian di jalan, tapi juga meningkatkan keamanan dan keselamatan.

Beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih duduk di bangku kuliah,
saya juga senang melakukan konvoi motor. Tujuannya tidak jauh sih
hanya Jogja-Wonogiri atau sebaliknya karena konvoi itu dilakukan saat
mudik ke Jogja dari lokasi KKN. Kami menggunakan 5 motor atau kurang
bersama-sama pergi ke Jogja atau hanya sekedar main ke kota. Tak ada
penanda khusus yang kami kenakan untuk menyatakan kami adalah 1
rombongan, seperti pita atau jaket. Dalam berkendara secara
berombongan, biasanya kami merasa lebih tenang karena merasa memiliki
teman perjalanan, jika terjadi sesuatu di jalan maka ada teman-teman
yang selalu siap sedia membantu, dan perjalanan lebih efektif karena
bisa bergantian menjadi pengemudi jika ada yang kecapaian. Biasanya
kami sudah saling mengenal style mengemudi masing-masing personal
sehingga ketika di jalan kami akan langsung dapat memposisikan diri
siapa yang jadi leader, siapa yang di tengah dan siapa yang di
belakang. Jarak kami dalam berkendara tak boleh jauh-jauh untuk
menjaga satu sama lain dan memastikan jika ada yang mengalami masalah,
maka yang lain akan tahu. Jika ada yang jaraknya terlalu jauh maka
yang di depan akan sengaja melambatkan jalannya atau berhenti untuk
menunggu. Sungguh kental rasa persahabatan dan persaudaraannya. Namun
ada juga ruginya berkonvoi seperti itu, terutama kalau tak satupun
dari anggota konvoi tahu arah jalan, maka satu tersesat semua akan
tersesat. Tapi tersesat beramai ramai lebih baik daripada tersesat
sendiri.

Suatu hari ingin juga melakukan konvoi motor lagi tapi dengan jarak
yang pendek-pendek saja mengingat usia tak muda lagi dan stamina sudah
berkurang.

--
Sent from my mobile device

Jumat, 19 Agustus 2011

Who said that cover is not important?

Hari ini saya mengalami peristiwa yang sedikit memalukan. Siang
menjelang istirahat, saya dipanggil oleh direktur HRD. Saya memang
biasa dipanggil oleh beliau untuk tugas-tugas nan ajaib di
tengah-tengah kerepotan saya mengerjakan berbagai tugas rutin. Tapi
rupanya kali ini beliau tidak memanggil saya dalam rangka memberikan
tugas, namun memberikan sedikit feed back atas penampilan saya. Saya
dinilai 'lusuh' dan kali ini memang harus saya amini. Pagi-pagi saya
sudah bingung akan pakai baju apa karena baju-baju terbaik saya
semuanya sedang masuk dalam keranjang cucian. Damn! Akhirnya pilihan
jatuh pada pakaian yang memang jauh dari trendi dan saya-pun merasa
kurang nyaman memakainya. Mungkin body language saya-pun mengatakan
demikian sehingga secara keseluruhan saya-pun jadi kelihatan tidak
menarik. Si ibu direktur-pun mengkoreksi penampilan saya karena saya
berada di posisi strategis dan sebaiknya berpenampilan profesional. No
hurt feeling! Saya terima masukannya dan saya memang juga merasa tidak
nyaman dengan penampilan hari ini, ditambah lagi dengan beberapa
agenda kerja yang berantakan.
Satu hal yang membuat saya berkesan adalah si ibu menyampaikan bahwa
kita hidup di Indonesia dan culture Indonesia masih sangat
memperhatikan penampilan. Benarkah begitu? Hmmm...mungkin juga! Karena
jumlah penduduk yang jutaan banyaknya, maka orang-pun harus
menggunakan berbagai cara untuk dapat menarik perhatian orang lain.
Salah satu cara paling mudah adalah lewat penampilan. So...who's gonna
say that cover is not important? Untuk tertarik membaca sebuah buku,
maka cover haruslah dibuat se-atraktif mungkin sehingga orang akan
datang untuk memegang, membaca sinopsisnya, membeli, merobek
plastiknya dan kemudian membacanya. Jika ternyata isinya jelek...it's
ok...karena buku tersebut toh telah terbeli dan terbaca. Sampul yang
tak menarik...orang-pun enggan untuk melirik.

Fiuh! Tapi untuk tampil menarik butuh dana yang tidak sedikit apalagi
jika kita tidak memiliki sedikitpun tabungan atau modal awal. Dan
itulah yang terjadi pada saya. Damn yang kedua! Adakah yang ingin
mengajak saya berbelanja? Really need a make over...apalagi sekarang
di usia 30-an, jerawat malah banyak bermunculan...kenapa juga baru
datang sekarang? Kemana saja selama 30 tahun ini...benar-benar muncul
di saat yang tidak tepat!

*ditulis saat sedang tidak punya uang dan harus belanja perlengkapan
untuk tampil cantik*

--
Sent from my mobile device