Gunung Merapi akhirnya meletus juga, memuntahkan sebagian isi perutnya ke muka bumi pada tanggal 4 dan 5 November 2010 yang lalu. Sebuah peristiwa yang meluluh lantakkan hati banyak orang karena letusannya membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal, harta benda dan bahkan nyawanya. Mbah Marijan, sang tokoh fenomenal penjaga Merapi-pun ikut menjadi korbannya-konon beliau meninggal dalam posisi sembahyang bersujud...sebuah posisi yang mulia ketika maut datang menjemput. Semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan...Selamat Jalan, Mbah !
Bercerita tentang Gunung Merapi dan kehidupan di sekitarnya memang tak akan pernah ada habisnya. Bagi saya, Gunung Merapi tak lagi sekedar gunung tapi sebuah oase untuk menimba kebijaksanaan hidup. Keramahan dan ketulusan penduduk di lereng gunung Merapi selalu membekas dalam benak saya setiap kali saya menjejakkan kaki di sana, entah di belahan Jogja maupun Boyolali *saya belum pernah mengunjungi Merapi dari Klaten*
Tahun 2003, setelah kembali dari lokasi KKN di Wonogiri, saya harus menyusul tim litbang Palapsi di daerah Selo, Boyolali yang sedang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat disana. Sebelumnya di tahun 2001, saya yang seperti dituntun oleh alam semesta, menunjuk daerah Selo sebagai daerah untuk melakukan pengabdian masyarakat sebagai salah satu syarat pendidikan lanjutan di Palapsi. Saya memilihnya secara acak, tanpa didasari oleh studi pendahuluan yang mendalam. Sebuah keputusan yang tak pernah saya sesali. Penerimaan penduduk Selo terhadap kami yang notabene adalah sekelompok mahasiswa urakan dan hanya mengejar kesenangan sendiri sungguh di luar dugaan. Pak Carik Selo yang rumahnya kami jadikan base camp tak berkeberatan rumahnya menjadi hiruk pikuk karena kedatangan saya dan rombongan yang berjumlah 10 orang dan tinggal disana selama 3 hari. Anak-anaknya bahkan lengket dengan kami dalam jangka waktu yang singkat. Sajian makanan khas desa Selo-pun tak henti-hentinya diberikan kepada kami. Sungguh sebuah kebaikan yang tulus kepada kami yang bahkan tak tahu harus memberikan apa sebagai imbalan kebaikan hati mereka. Sepanjang jalan ketika kami berkegiatan, penduduk menyapa kami dengan keramahan yang luar biasa, bahkan beberapa muda-mudi desa-pun akhirnya menjadi teman bermain kami. *Thanks to Nungki yang memiliki kemampuan building rapport luar biasa dengan masyarakat*
Kembali ke tahun 2003. Desa Selo kembali menjadi tujuan latihan mengembangkan skill mengabdi pada masyarakat oleh tim Litbang tahun itu. Saya tidak ingat pasti apa tujuan akhir dari kegiatan tersebut, tapi yang jelas salah satu aktivitasnya adalah mengajar di sekolah desa. Kepolosan anak-anak desa Selo membuat kami tak percaya bahwa kami masih ada di belahan bumi Indonesia, bahkan di Jawa. Berbeda sekali kondisinya dengan kami yang dapat mengenyam pendidikan dengan fasilitas lengkap padahal jaraknya tak sampai ribuan kilometer dari tempat tinggal kami dan relatif mudah dijangkau. Yang tertangkap mata saat itu adalah baju seragam dengan emblem bermacam-macam sekolah. Rupanya mereka tak mampu membeli baju seragam sehingga baju yang mereka pakai adalah baju bekas dari sumbangan sekolah-sekolah lain. Meskipun begitu...semangat mereka untuk sekolah luar biasa. Jam 7 kurang, mereka sudah berada di sekolah padahal guru yang mengajar sering kali datang terlambat karena rumahnya jauh di kota. Satu kebiasaan mereka yang membuat saya merasa geli dan lucu adalah mereka berebutan mencium tangan kami dari dahi ke pipi kiri dan kanan dan terakhir ke mulut. Hal itu tak cukup dilakukan sekali, kadang-kadang sampai tiga kali dalam satu kesempatan dan satu anak bisa melakukannya lagi selang beberapa waktu kemudian. Ketika saya tanya...bukannya tadi sudah cium tangan ya? Mereka hanya tersenyum simpul malu-malu.
Meski semua serba terbatas-duduk berhimpitan di bangku sekolah karena ruang kelas yang tak memadai- namun tampak bahwa mereka adalah murid yang pandai. Semua soal yang kami berikan, dapat mereka selesaikan dengan tingkat kesalahan yang sewajarnya. Dan mereka sangat antusias sekali belajar-sebuah pemandangan yang mengharukan dan menampar wajah kami. Fasilitas sekolah yang lengkap membuai kami sehingga sering kali malas untuk belajar dan malah asyik bermain. Suatu ironi jika dibandingkan dengan anak-anak di desa Selo. Mereka sangat tertarik pada pelajaran bahasa Inggris dan juga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Senang rasanya dapat membantu mereka belajar meski hanya beberapa hari saja. Suatu hari, kami belajar tentang pembagian zona waktu di Indonesia. Saya melontarkan pertanyaan...Jika di Jambi jam 8, maka di Boyolali jam berapa ? Dan, mereka dengan kompak menjawab jam 9. Nah lho? Pertanyaan saya kemudian adalah...Tahu tidak dimana boyolali itu ? Dan tebak...semuanya menggelengkan kepala. Eng i eng...mereka tak tahu bahwa tempat mereka hidup saat ini masuk dalam sebuah wilayah yang bernama Boyolali! Mungkin mereka bukannya tidak tahu, tapi mereka mendadak lupa karena merasa takut dengan ibu gurunya yang cantik tapi galak. Hehehe...
Hari terakhir mengajar adalah hari yang tak akan pernah kami lupakan. Sepanjang pagi, murid-murid bertindak misterius. Mereka sengaja tak ingin mendekati kami dan sembunyi-sembunyi curi-curi pandang malu-malu. Rupanya mereka menyembunyikan sesuatu yang akan membuat kami meneteskan air mata haru setibanya di Jogja. Semua murid membuat surat perpisahan untuk kami dan kami dilarang membukanya sampai nanti ketika tiba di Jogja. Ada yang menangis, ada yang tertawa senang dan ada yang memuja kami ketika saat perpisahan tiba. Yang mengagetkan nama saya dan beberapa teman ditorehkan di jalan...Sungguh mengharukan dan cara yang indah mengekspresikan rasa syukur dan senang atas kehadiran kami.
Tiga jam perjalanan kembali ke Jogja cukup melelahkan, namun kami memiliki semangat baru karena teman-teman kecil kami di SD menularkan semangat dan gairah hidup yang luar biasa. Sesampainya di kampus, kami buka lembar demi lembar surat yang ditujukan untuk kami. Kami tercengang bukan main ketika membuka surat-surat itu. Ada yang berterima kasih, ada yang memuji kami karena cantik, ada yang menyatakan cinta dan ada yang mengkritik. Sebuah luapan perasaan yang tak kami duga akan diungkapkan oleh anak-anak SD. Di surat-surat itu, ada juga kami temukan lembaran uang seribuan cukup banyak. Kami tak tahu apa maksud mereka memberi uang pada kami...apakah sebagai rasa ungkapan terima kasih atau sebagai ungkapan keprihatinan karena kami tak pernah 'jajan' selama berada di sekolah dan hanya bisa memandang murid-murid SD itu membeli berbagai macam penganan dengan air liur menetes. Di tengah kekurangan mereka, mereka masih dapat memberikan jatah uang jajan mereka kepada kami yang notabene lebih berkecukupan daripada mereka. Sungguh sebuah misteri sampai dengan saat ini. Selain uang, ada juga yang memberikan buku tulis kepada kami. Kami tahu betapa bermaknanya buku tulis itu bagi mereka karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, sering kali mereka terpaksa menggunakan lagi buku yang sudah dipakai untuk kelas berikutnya. Cukup dengan menghapus tulisan pensil dari kelas sebelumnya...foila...buku dapat digunakan lagi ketika naik kelas. Dan mereka memberikan benda berharganya untuk kami yang sudah jarang menggunakan buku tulis untuk belajar. Sungguh sebuah tindakan yang tak dapat kami mengerti namun membuat kami sekali lagi tertampar. Di tengah kekurangan, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk tamu yang hanya singgah beberapa hari saja. Apakah kita bisa melakukan hal itu pada orang lain, pada orang asing yang sama sekali tak kita kenal ? O ya...salah seorang teman wanita malah mendapatkan hadiah mangkuk cantik! Saya tak bisa berpikir lagi tentang alasan di balik pemberian mangkuk itu...tak terjangkau oleh akal sehat saya.
Ketulusan, keramahan, kebaikan, kedermawanan, dan hidup yang bersahaja adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang saya temui di lereng gunung Merapi. Ada sebuah cinta yang tulus dari masyarakat di lereng Merapi untuk kami...cinta yang akan kami kenang setiap kali melihat gunung Merapi. Semoga cinta itu tak pudar karena letusan Merapi.
*Thanks to pak carik sekeluarga yang bersedia menampung kami, dan pada Sukini-pemudi desa Selo yang tak pernah melupakan kami dan sambutannya yang hangat setiap kali kami datang. Terima kasih Merapi...atas cintamu yang tulus kepada kami...*
Tampilkan postingan dengan label palapsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label palapsi. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 November 2010
Minggu, 31 Oktober 2010
Sejumput kenangan untuk Merapi
Indonesia berduka. Dalam rentang waktu yang singkat, bencana datang bertubi-tubi mendera wajah indah Indonesia. Diawali dengan banjir Jakarta, kemudian disusul dengan tsunami Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi. Ada apa dengan Indonesia ? Tuhan memang pasti punya rencana yang indah dibalik semua peristiwa alam ini.
Tanpa ingin mengecilkan arti bencana di daerah lain, meletusnya Gunung Merapi menorehkan kesedihan tersendiri dalam lubuk hati saya. Saya dan seperti jutaan orang lain yang pernah tinggal di sekitar gunung Merapi, seperti Jogjakarta, Boyolali, dan Klaten pasti merasakan bencana ini sebagai kesedihan mendalam karena gunung Merapi telah memberikan kenangan tersendiri bagi masing-masing orang yang pernah tinggal di sekitar kakinya yang kokoh menopang tubuh yang sudah renta namun masih tetap aktif menggodok material bumi di perutnya.
Saya pernah melakukan pendakian ke Gunung Merapi pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Setiap pengalaman pendakian memberikan pengalaman tersendiri yang tak akan pernah saya lupakan. Pengalaman pertama pendakian Merapi saya adalah ketika ada even Pendakian Massal bersama PALAPSI. Saat itu, saya hanya sampai Pasar Bubrah saja. Tak kuat dan tak mau mendaki sampai puncaknya. Mendaki gunung bukanlah favorit saya. Pengalaman kedua bersama Merapi adalah ketika saya mengikuti even Pendakian Kartini dimana semua pendakinya adalah wanita, dilakukan pada hari Kartini tahun 2002. Persiapan yang kurang matang membuat kami hanya sampai di Pos 2 saja. Saya dan seorang sahabat terpisah dari rombongan yang lain karena kaki saya yang manja tak kuat mendaki dan kami terjebak dalam badai gunung. Tidur berhimpitan dalam tenda hingga esok menjelang dan gagallah pendakian ke puncak Merapi untuk kedua kalinya. Pendakian ketiga adalah yang paling berkesan dalam hidup saya karena akhirnya setelah 2 kali pendakian gagal, saya akhirnya bisa juga mencium bendera Palapsi di puncak Merapi. Saat itu kami hanya mendaki berdelapan saja. Rasanya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika mampu berdiri di atas puncak Merapi sampai-sampai lupa bahwa harus melakukan perjalanan turun. Meskipun mendaki gunung sulit, tapi saya tak pernah menjumpai cerita yang menyeramkan tentang Merapi, seperti laiknya gunung-gunung lain. Merapi selalu ramah pada setiap pendatang yang ingin merasakan tubuhnya, menikmati keindahan sang Pencipta.
Selain pendakian, saya sudah tak terhitung lagi berapa kali melakukan kegiatan-kegiatan bersenang-senang di lerengnya yang selalu sejuk dan menawarkan kedamaian, apalagi jika pagi menjelang. Kegiatan trekking, baik dalam rangka pendidikan maupun hanya sekedar iseng bersenang-senang nyaris saya lakukan 3-4 kali dalam setahun. Untuk kegiatan trekking, biasanya saya lakukan di daerah Kali Adem dan Bebeng. Titik yang selalu dikunjungi setiap tahun adalah titik 1330. Titik dimana hymne PALAPSI selalu berkumandang dan bendera dibentangkan untuk para pendatang baru PALAPSI. Tersesat, dikejar monyet hutan, dan kaki kram karena harus berhati-hati ketika menuruni lerengnya yang curam adalah pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah hilang begitu mengingat Merapi. Merapi dari berbagai sisi selalu menawarkan pesonanya yang mampu membius setiap pengunjung. Ketenangan, kesejukan dan kedamaian adalah sebuah oase yang ditawarkan Merapi dan akan ditebus dengan harga berapapun oleh orang-orang yang sudah terpikat oleh pesonanya. Ketika memasuki lereng Merapi, segala penat dan lelah seperti luruh karena oksigen tak henti-hentinya membanjiri paru-paru. Mendengarkan suara celoteh burung, gemericik air dan merasakan sejuknya embun telah mengisi energi tubuh menjadi full. Sebuah baterai alami untuk tubuh yang lelah dan penat karena tuntutan hidup sehari-hari.
Terima kasih Merapi...semoga batukmu kali ini cepat sembuh dan kembali menjadi tempat yang menimbulkan berbagai romansa dalam benak setiap orang yang menjadi pemujamu. I'm gonna miss u, Merapi!
-to be continued-
Tanpa ingin mengecilkan arti bencana di daerah lain, meletusnya Gunung Merapi menorehkan kesedihan tersendiri dalam lubuk hati saya. Saya dan seperti jutaan orang lain yang pernah tinggal di sekitar gunung Merapi, seperti Jogjakarta, Boyolali, dan Klaten pasti merasakan bencana ini sebagai kesedihan mendalam karena gunung Merapi telah memberikan kenangan tersendiri bagi masing-masing orang yang pernah tinggal di sekitar kakinya yang kokoh menopang tubuh yang sudah renta namun masih tetap aktif menggodok material bumi di perutnya.
Saya pernah melakukan pendakian ke Gunung Merapi pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Setiap pengalaman pendakian memberikan pengalaman tersendiri yang tak akan pernah saya lupakan. Pengalaman pertama pendakian Merapi saya adalah ketika ada even Pendakian Massal bersama PALAPSI. Saat itu, saya hanya sampai Pasar Bubrah saja. Tak kuat dan tak mau mendaki sampai puncaknya. Mendaki gunung bukanlah favorit saya. Pengalaman kedua bersama Merapi adalah ketika saya mengikuti even Pendakian Kartini dimana semua pendakinya adalah wanita, dilakukan pada hari Kartini tahun 2002. Persiapan yang kurang matang membuat kami hanya sampai di Pos 2 saja. Saya dan seorang sahabat terpisah dari rombongan yang lain karena kaki saya yang manja tak kuat mendaki dan kami terjebak dalam badai gunung. Tidur berhimpitan dalam tenda hingga esok menjelang dan gagallah pendakian ke puncak Merapi untuk kedua kalinya. Pendakian ketiga adalah yang paling berkesan dalam hidup saya karena akhirnya setelah 2 kali pendakian gagal, saya akhirnya bisa juga mencium bendera Palapsi di puncak Merapi. Saat itu kami hanya mendaki berdelapan saja. Rasanya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika mampu berdiri di atas puncak Merapi sampai-sampai lupa bahwa harus melakukan perjalanan turun. Meskipun mendaki gunung sulit, tapi saya tak pernah menjumpai cerita yang menyeramkan tentang Merapi, seperti laiknya gunung-gunung lain. Merapi selalu ramah pada setiap pendatang yang ingin merasakan tubuhnya, menikmati keindahan sang Pencipta.
Selain pendakian, saya sudah tak terhitung lagi berapa kali melakukan kegiatan-kegiatan bersenang-senang di lerengnya yang selalu sejuk dan menawarkan kedamaian, apalagi jika pagi menjelang. Kegiatan trekking, baik dalam rangka pendidikan maupun hanya sekedar iseng bersenang-senang nyaris saya lakukan 3-4 kali dalam setahun. Untuk kegiatan trekking, biasanya saya lakukan di daerah Kali Adem dan Bebeng. Titik yang selalu dikunjungi setiap tahun adalah titik 1330. Titik dimana hymne PALAPSI selalu berkumandang dan bendera dibentangkan untuk para pendatang baru PALAPSI. Tersesat, dikejar monyet hutan, dan kaki kram karena harus berhati-hati ketika menuruni lerengnya yang curam adalah pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah hilang begitu mengingat Merapi. Merapi dari berbagai sisi selalu menawarkan pesonanya yang mampu membius setiap pengunjung. Ketenangan, kesejukan dan kedamaian adalah sebuah oase yang ditawarkan Merapi dan akan ditebus dengan harga berapapun oleh orang-orang yang sudah terpikat oleh pesonanya. Ketika memasuki lereng Merapi, segala penat dan lelah seperti luruh karena oksigen tak henti-hentinya membanjiri paru-paru. Mendengarkan suara celoteh burung, gemericik air dan merasakan sejuknya embun telah mengisi energi tubuh menjadi full. Sebuah baterai alami untuk tubuh yang lelah dan penat karena tuntutan hidup sehari-hari.
Terima kasih Merapi...semoga batukmu kali ini cepat sembuh dan kembali menjadi tempat yang menimbulkan berbagai romansa dalam benak setiap orang yang menjadi pemujamu. I'm gonna miss u, Merapi!
-to be continued-
Sabtu, 03 Oktober 2009
GOJEK KERE
Pernah mendengar istilah 'gojek kere'? Saya yakin sebagian dari anda belum pernah mendengar istilah ini, terutama yang berasal dari luar jawa. Gojek kere adalah sebuah istilah dalam bahasa jawa. Gojek bisa diartikan sebagai guyonan *halah... boso jowo meneh!* atau gurauan. Sementara kere bisa diartikan sebagai melarat *iki boso jowo opo endonesa yo?* atau miskin papa. Jadi kalau digabung maka arti dari gojek kere adalah guyonane wong melarat atau gurauannya orang miskin. Mengapa bisa disebut gojek kere? Kalau ini, jujur saya tidak tahu asal muasalnya. Yang saya tahu gojek kere biasanya dilakukan untuk mentertawakan nasib sendiri atau orang lain dan nasib yang ditertawakan adalah nasib yang tragis atau menyedihkan. Mengapa sesuatu yang menyedihkan bisa ditertawakan ? Yah...daripada ditangisi yang tak memberikan faedah apapun, maka lebih baik ditertawakan-bisa memberikan efek kesehatan karena tertawa itu sehat *filosofi ngasal ala deBoeng* Gojek kere-pun biasanya berkembang menjadi saling ejek, seperti mentertawakan fisik yang kurang rupawan, kisah hidup yang kurang mulus ataupun kisah-kisah asmara yang sad ending. Tapi, syarat utama dari gojek kere adalah tidak bermaksud untuk membuat orang lain tersinggung atau menyakiti hati orang lain. Maka, para pelaku utama dari gojek kere biasanya memang memiliki jiwa yang besar dan pantang untuk tersinggung serta memiliki tingkat intelektualitas dan pemahaman akan makna hidup yang dalam. Mengapa begitu ? Karena orang-orang yang cerdas dan berwawasan luas sajalah yang bisa mentertawakan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa dirinya adalah hanya secuil titik di tengah dunia *halah...sok berfilsafat lagi!* Baik...cukup sudah membicarakan asal muasal gojek kere karena nanti kalau dilanjutkan saya kuatir saya bakalan menciptakan ilmu baru tentang dunia pergojekan.
Bicara tentang gojek kere, saya selalu rindu dengan teman-teman kuliah yang aktif di PALAPSI. Gojek kere adalah kebiasaan yang tidak dapat dilepaskan ketika nongkrong bersama mereka. Saya heran bagaimana sesuatu hal bisa menjadi bahan gojekan yang meluas dan mampu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal melupakan segala masalah. Dan, gojek kere mencapai klimaksnya jika seseorang yang dijadikan bahan gojekan tampak menyerah pada keinginan publik. Sasaran gojek kere bisa siapa saja tergantung dari hot issue saat itu dan kasus yang menerpa sang objek penderita. Di komunitas PALAPSI *alumni* saat ini, yang paling sering dijadikan objek penderita adalah adik kelas saya. Tampangnya yang jauh dari lumayan, penampilannya yang kurang menjual, dan nasib perjalanan cintanya yang selalu kandas membuatnya jadi sasaran empuk. Memang kadang-kadang ia tersinggung, tapi itu tak lebih dari hitungan jam, ia akan kembali ceria. Dan gojek kere sebenarnya akan lebih seru jika sang objek memberikan perlawanan berupa pembelaan diri.
Gojek kere jika dilihat memang tidak memberikan manfaat, tapi jika dirasakan maka gojek kere sebenarnya memiliki banyak manfaat, terutama adalah membentuk kekuatan mental dan kepasrahan diri. Saya belajar untuk tidak terlalu stress dalam menghadapi segala persoalan (lebih legawa dan pasrah) dan juga tahan banting menghadapi segala ocehan dan cemoohan. Mengapa harus stress jika semua hal di dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah panggung drama yang penuh dengan hal-hal yang lucu ? Mari kita tertawa bersama !
Bicara tentang gojek kere, saya selalu rindu dengan teman-teman kuliah yang aktif di PALAPSI. Gojek kere adalah kebiasaan yang tidak dapat dilepaskan ketika nongkrong bersama mereka. Saya heran bagaimana sesuatu hal bisa menjadi bahan gojekan yang meluas dan mampu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal melupakan segala masalah. Dan, gojek kere mencapai klimaksnya jika seseorang yang dijadikan bahan gojekan tampak menyerah pada keinginan publik. Sasaran gojek kere bisa siapa saja tergantung dari hot issue saat itu dan kasus yang menerpa sang objek penderita. Di komunitas PALAPSI *alumni* saat ini, yang paling sering dijadikan objek penderita adalah adik kelas saya. Tampangnya yang jauh dari lumayan, penampilannya yang kurang menjual, dan nasib perjalanan cintanya yang selalu kandas membuatnya jadi sasaran empuk. Memang kadang-kadang ia tersinggung, tapi itu tak lebih dari hitungan jam, ia akan kembali ceria. Dan gojek kere sebenarnya akan lebih seru jika sang objek memberikan perlawanan berupa pembelaan diri.
Gojek kere jika dilihat memang tidak memberikan manfaat, tapi jika dirasakan maka gojek kere sebenarnya memiliki banyak manfaat, terutama adalah membentuk kekuatan mental dan kepasrahan diri. Saya belajar untuk tidak terlalu stress dalam menghadapi segala persoalan (lebih legawa dan pasrah) dan juga tahan banting menghadapi segala ocehan dan cemoohan. Mengapa harus stress jika semua hal di dunia ini sebenarnya hanyalah sebuah panggung drama yang penuh dengan hal-hal yang lucu ? Mari kita tertawa bersama !
Kamis, 14 Mei 2009
Mengenang PALAPSI
Pagi tadi saya membaca sebuah note yang sangat bagus dari seorang teman di FB. Tulisan tersebut berkisah tentang Epilog 34 tahun PALAPSI. Membaca tulisan tersebut membuat saya terkenang pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu ketika masih aktif di PALAPSI. Apa sih PALAPSI itu sehingga membuat teman saya bisa membuat tulisan yang sangat dalam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan itu ?
PALAPSI adalah sebuah organisasi mahasiswa Psikologi UGM yang mengkhususkan dirinya pada kegiatan kepecintaalaman. Didirikan pada tanggal 28 Juni 1975, PALAPSI (PLP) telah mengukir banyak prestasi dan menjadi organisasi pecinta alam yang diperhitungkan dan disegani karena prestasinya tersebut. PLP memiliki 5 divisi operasional, yaitu air, gunung, tebing, gua dan pengabdian masyarakat, dimana Air menjadi fokus selama beberapa generasi hingga saat ini. Mengapa air ? Karena PLP memiliki ambisi yang cukup besar di bidang ini dan PLP telah membuktikan kepiawaiannya di Air melalui beberapa prestasi membanggakan, seperti first descent Progo hingga menaklukkan jeram-jeram sungai di Thailand baru-baru ini. Menurut saya, PLP adalah organisasi yang kaya akan pembelajaran dimana setiap tahunnya berhasil mencetak kader-kader penerus dengan mimpi yang semakin tinggi. Dan, saya yang pernah bergelut di dalamnya selama kurang lebih 3 tahun merasa bangga telah menjadi bagian dari PLP.
Saya mengawali 'hidup' di PLP pada tahun 1999. Awal mula ketertarikan adalah ajakan dari seorang kakak kelas yang saat itu mempesona saya karena ia memiliki cinta yang besar pada PLP. *m think, i love u at that time* Kegiatan pertama yang dia tawarkan adalah dayung kering, sebuah latihan dasar yang harus dijalani ketika akan berkegiatan di air. Wah...capeknya bukan main, otot-otot-pun langsung tegang, terutama otot tangan. Tapi, cara kakak kelas itu dan senior-senior lain dalam memotivasi membuat rasa capek itu dengan segera terlupakan. Yel-yel NEVER GIVE UP yang selalu didengungkan setiap kali akan berkegiatan mampu menghipnotis saya untuk memacu diri hingga ambang batas kemampuan. Saya-pun jatuh cinta pada PLP! Kegiatan demi kegiatan saya jalani dengan senang hati, terutama kegiatan camping. *ooh...aku rindu camping, bau rumput basah dan dinginnya udara malam*
Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama-hanya 6 bulan saja bulan madu saya dengan PLP. Ibarat pernikahan, setelah masa bulan madu habis, maka mata kita akan terbuka tentang siapa sesungguhnya pasangan kita. Begitu pula hubungan saya dengan PLP, masa bulan madu saya berakhir ketika saya menjadi salah satu pengurus. Derai air mata lebih banyak menghiasi hari-hari saya dibanding dengan tawa, apalagi saat itu kami benar-benar dipush untuk mendapatkan dana segar guna membiayai ekspedisi luar negeri pertama PLP ke Serawak, Malaysia. Saya-pun jatuh bangun mengikuti gerakan PLP. Menangis, bertengkar, merasa diacuhkan adalah makanan sehari-hari. Tapi, tanpa saya sadari pengalaman itu membuat saya memunculkan diri saya yang sebenarnya, potensi saya benar-benar tergali dan akhirnya membentuk saya menjadi pribadi yang 'utuh'. Saya yang dulunya selalu minder berubah menjadi percaya diri, tertutup menjadi terbuka, komunikasi tidak lancar menjadi pandai berbicara, dan saat itu pula saya menyadari bahwa saya adalah orang yang keras hati. *saya baru ngeh kalau saya keras kepala dari feed back teman-teman PLP*
PLP benar-benar merasuki diri saya. Setelah lulus dari masa kepengurusan 2000-2001, saya ditunjuk untuk jadi pengurus kembali, tapi dengan posisi yang berbeda dan masa kepengurusan yang lebih panjang, yaitu menjadi Kadiv Litbang dan masa kepengurusan 1,5 tahun. Masa ini saya jalani dengan lebih matang dan saya-pun membidani beberapa event besar. Sebuah pengalaman yang sungguh tak kan terlupakan karena pada masa itulah saya mengenal outbound training dan saya berhasil mendapatkan pekerjaan di kemudian hari karena pengetahuan saya akan bidang tersebut. Jatuh bangun masih saya alami, tapi rasanya energi tak pernah habis untuk PLP. Pagi kuliah, sore hingga dini hari untuk PLP. Saya-pun kerap dimarahi orang tua karena pulang terlalu larut dan melakukan kegiatan-kegiatan beresiko tinggi serta menguras uang tabungan saya. Tapi, semua itu terbayar dengan pengalaman-pengalaman yang masih berguna intisarinya bagi saya hingga saat ini. Menyenangkan sekali rasanya mengenang saat-saat itu. Tapi, hidup di PLP tak kan memberikan arti sedalam ini bagi saya jika tanpa teman-teman berkegiatan. Teman-teman PLP sekarang ini tak ubahnya bagai saudara karena dengan merekalah saya menghabiskan waktu nyaris 24 jam tiap harinya selama kuliah. Merekalah yang menempa saya menjadi sosok seperti saat ini. *i love u all, guys!*
Terima kasih PALAPSI karena telah membentuk saya menjadi pribadi yang tahan banting dan pantang menyerah!
Selamat ulang tahun yang ke - 34...semoga semakin jaya...!!!!!!
PALAPSI adalah sebuah organisasi mahasiswa Psikologi UGM yang mengkhususkan dirinya pada kegiatan kepecintaalaman. Didirikan pada tanggal 28 Juni 1975, PALAPSI (PLP) telah mengukir banyak prestasi dan menjadi organisasi pecinta alam yang diperhitungkan dan disegani karena prestasinya tersebut. PLP memiliki 5 divisi operasional, yaitu air, gunung, tebing, gua dan pengabdian masyarakat, dimana Air menjadi fokus selama beberapa generasi hingga saat ini. Mengapa air ? Karena PLP memiliki ambisi yang cukup besar di bidang ini dan PLP telah membuktikan kepiawaiannya di Air melalui beberapa prestasi membanggakan, seperti first descent Progo hingga menaklukkan jeram-jeram sungai di Thailand baru-baru ini. Menurut saya, PLP adalah organisasi yang kaya akan pembelajaran dimana setiap tahunnya berhasil mencetak kader-kader penerus dengan mimpi yang semakin tinggi. Dan, saya yang pernah bergelut di dalamnya selama kurang lebih 3 tahun merasa bangga telah menjadi bagian dari PLP.
Saya mengawali 'hidup' di PLP pada tahun 1999. Awal mula ketertarikan adalah ajakan dari seorang kakak kelas yang saat itu mempesona saya karena ia memiliki cinta yang besar pada PLP. *m think, i love u at that time* Kegiatan pertama yang dia tawarkan adalah dayung kering, sebuah latihan dasar yang harus dijalani ketika akan berkegiatan di air. Wah...capeknya bukan main, otot-otot-pun langsung tegang, terutama otot tangan. Tapi, cara kakak kelas itu dan senior-senior lain dalam memotivasi membuat rasa capek itu dengan segera terlupakan. Yel-yel NEVER GIVE UP yang selalu didengungkan setiap kali akan berkegiatan mampu menghipnotis saya untuk memacu diri hingga ambang batas kemampuan. Saya-pun jatuh cinta pada PLP! Kegiatan demi kegiatan saya jalani dengan senang hati, terutama kegiatan camping. *ooh...aku rindu camping, bau rumput basah dan dinginnya udara malam*
Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama-hanya 6 bulan saja bulan madu saya dengan PLP. Ibarat pernikahan, setelah masa bulan madu habis, maka mata kita akan terbuka tentang siapa sesungguhnya pasangan kita. Begitu pula hubungan saya dengan PLP, masa bulan madu saya berakhir ketika saya menjadi salah satu pengurus. Derai air mata lebih banyak menghiasi hari-hari saya dibanding dengan tawa, apalagi saat itu kami benar-benar dipush untuk mendapatkan dana segar guna membiayai ekspedisi luar negeri pertama PLP ke Serawak, Malaysia. Saya-pun jatuh bangun mengikuti gerakan PLP. Menangis, bertengkar, merasa diacuhkan adalah makanan sehari-hari. Tapi, tanpa saya sadari pengalaman itu membuat saya memunculkan diri saya yang sebenarnya, potensi saya benar-benar tergali dan akhirnya membentuk saya menjadi pribadi yang 'utuh'. Saya yang dulunya selalu minder berubah menjadi percaya diri, tertutup menjadi terbuka, komunikasi tidak lancar menjadi pandai berbicara, dan saat itu pula saya menyadari bahwa saya adalah orang yang keras hati. *saya baru ngeh kalau saya keras kepala dari feed back teman-teman PLP*
PLP benar-benar merasuki diri saya. Setelah lulus dari masa kepengurusan 2000-2001, saya ditunjuk untuk jadi pengurus kembali, tapi dengan posisi yang berbeda dan masa kepengurusan yang lebih panjang, yaitu menjadi Kadiv Litbang dan masa kepengurusan 1,5 tahun. Masa ini saya jalani dengan lebih matang dan saya-pun membidani beberapa event besar. Sebuah pengalaman yang sungguh tak kan terlupakan karena pada masa itulah saya mengenal outbound training dan saya berhasil mendapatkan pekerjaan di kemudian hari karena pengetahuan saya akan bidang tersebut. Jatuh bangun masih saya alami, tapi rasanya energi tak pernah habis untuk PLP. Pagi kuliah, sore hingga dini hari untuk PLP. Saya-pun kerap dimarahi orang tua karena pulang terlalu larut dan melakukan kegiatan-kegiatan beresiko tinggi serta menguras uang tabungan saya. Tapi, semua itu terbayar dengan pengalaman-pengalaman yang masih berguna intisarinya bagi saya hingga saat ini. Menyenangkan sekali rasanya mengenang saat-saat itu. Tapi, hidup di PLP tak kan memberikan arti sedalam ini bagi saya jika tanpa teman-teman berkegiatan. Teman-teman PLP sekarang ini tak ubahnya bagai saudara karena dengan merekalah saya menghabiskan waktu nyaris 24 jam tiap harinya selama kuliah. Merekalah yang menempa saya menjadi sosok seperti saat ini. *i love u all, guys!*
Terima kasih PALAPSI karena telah membentuk saya menjadi pribadi yang tahan banting dan pantang menyerah!
Selamat ulang tahun yang ke - 34...semoga semakin jaya...!!!!!!
Rabu, 01 April 2009
Jejaring Cinta

Semalam saya melihat film Jomblo, sebuah karya apik dari sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel karya Adhitya Mulya. Film lama sih, tapi saya baru sempat melihatnya semalam dan saya merasa rugi baru melihatnya sekarang. Filmnya cukup unik dari segi sinematografi, but...saya tidak mau mengomentari dari sisi teknis perfilman karena saya bukan ahlinya. Saya tertarik pada jalan cerita filmnya karena menurut saya film ini sangatlah nyata dan menggambarkan romantika asmara di dunia kuliah.
Film Jomblo sendiri berkisah tentang kehidupan empat orang cowok yang bersahabat dekat dan kuliah di Teknik Sipil UNB. Dari judul filmnya bisa ditebak bahwa keempat cowok tersebut adalah jomblo'ers karena berbagai alasan. Doni (Christian Sugiono) adalah tipe cowok playboy yang tidak siap menjalin komitmen, Bimo (Dennis Adhiswara) adalah tipe cowok yang pantang menyerah untuk mendapatkan pacar meski terkendala masalah fisik alias kurang tampan dan norak, Olip (Rizky Hanggono) adalah tipe cowok yang tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya dan sangat terobsesi pada satu wanita, sedangkan Agus (Ringgo Agus Rahman) adalah tipe cowok yang sangat idealis dalam mencari pacar. Adegan-adegan awal berisi tentang pandangan-pandangan keempat cowok tersebut tentang kriteria cewek idaman dan terus bergulir ke cara-cara mendapatkan cewek idaman tersebut. Konflik atau klimaks film mulai terjadi ketika ada kisah perselingkuhan dan rebutan kekasih di antara sahabat.
Sebuah cerita yang biasa kan ? Tapi, saya yakin itulah kisah asmara sebagian besar mahasiswa di Indonesia, termasuk saya. Dulu, ketika masih muda *sekarang juga masih awet muda* dan masih seneng-senengnya tinggal di kampus, saya terlibat di sebuah organisasi pecinta alam, PALAPSI. PALAPSI bukan hanya menjadi ajang berkegiatan di alam bebas yang mengandung resiko tinggi, tapi juga menjadi ajang olah asmara dengan tingkat kerumitan tinggi. Persis seperti jalan cerita di film jomblo! Hal ini terjadi karena nyaris sebagian besar waktu dihabiskan bersama-sama dengan teman satu organisasi, sehingga memungkinkan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman berkegiatan, termasuk hubungan asmara. Si A suka pada si B, tapi si B suka pada C. Si A disukai oleh D, E, dan F. F dikejar oleh G. E gagal dapat A, menggaet H, putus, jalan sama I. Complicated! Kami menyebut hubungan rumit ini dengan jaring laba-laba cinta. Bahkan, seorang teman sempat iseng menggambarkan hubungan yang complicated itu dalam sebuah peta hubungan yang memang jika dilihat dari bentuk fisiknya menyerupai jaring laba-laba.
Memang tak sedikit yang akhirnya berhasil melewati masa-masa kritis romantika asmara jaman kuliah dan berakhir happy ending dengan pernikahan, tapi banyak pula yang berujung tragis seperti Doni dan Olip karena berebut cinta yang sama sehingga merusak persahabatan. Saya sendiri juga terjebak dalam jaring laba-laba itu. Saya sempat menyukai kakak kelas saya, sebut saja namanya A. Eh...ternyata yang suka pada A ini bukan hanya saya seorang, tapi ada 6 cewek lain dan kami semua bersahabat. Gila kan ? Dan, gawatnya si A tak pernah menjatuhkan pilihan karena A adalah tipe Doni-takut menjalani komitmen! Ada lagi kisah yang lebih gila...seorang teman, sebut saja N, disukai oleh kakak kelas bernama T dan P. Awalnya N suka pada T dan merekapun berpacaran, tapi kemudian si P lebih menarik hati N sehingga N-pun memutuskan T dan berpacaran dengan P. Akibatnya hubungan T dan P yang awalnya bersahabat menjadi tegang. *maaf jika ceritanya kurang pas benar dengan kejadian sesungguhnya karena ini hanyalah pandangan dari pihak ketiga, bukan pelaku utama*
Sebuah kisah asmara yang rumit dan banyak menguras emosi serta air mata pada jamannya, tapi kini kisah-kisah itu telah menjadi bagian dari sejarah dan selalu mengundang senyum dan tawa jika dikenang kembali. Beberapa teman yang terlibat dalam jaring laba-laba kini telah bahagia dengan pasangan hidupnya masing-masing, dan beberapa yang lain masih terus berjuang mengubah status jomblo, termasuk saya. Hehehe...
Gambar diambil dari www.sinemart.com
Langganan:
Postingan (Atom)