Pagi tadi saya membaca sebuah note yang sangat bagus dari seorang teman di FB. Tulisan tersebut berkisah tentang Epilog 34 tahun PALAPSI. Membaca tulisan tersebut membuat saya terkenang pengalaman saya sendiri beberapa tahun yang lalu ketika masih aktif di PALAPSI. Apa sih PALAPSI itu sehingga membuat teman saya bisa membuat tulisan yang sangat dalam dan menyentuh berbagai aspek kehidupan itu ?
PALAPSI adalah sebuah organisasi mahasiswa Psikologi UGM yang mengkhususkan dirinya pada kegiatan kepecintaalaman. Didirikan pada tanggal 28 Juni 1975, PALAPSI (PLP) telah mengukir banyak prestasi dan menjadi organisasi pecinta alam yang diperhitungkan dan disegani karena prestasinya tersebut. PLP memiliki 5 divisi operasional, yaitu air, gunung, tebing, gua dan pengabdian masyarakat, dimana Air menjadi fokus selama beberapa generasi hingga saat ini. Mengapa air ? Karena PLP memiliki ambisi yang cukup besar di bidang ini dan PLP telah membuktikan kepiawaiannya di Air melalui beberapa prestasi membanggakan, seperti first descent Progo hingga menaklukkan jeram-jeram sungai di Thailand baru-baru ini. Menurut saya, PLP adalah organisasi yang kaya akan pembelajaran dimana setiap tahunnya berhasil mencetak kader-kader penerus dengan mimpi yang semakin tinggi. Dan, saya yang pernah bergelut di dalamnya selama kurang lebih 3 tahun merasa bangga telah menjadi bagian dari PLP.
Saya mengawali 'hidup' di PLP pada tahun 1999. Awal mula ketertarikan adalah ajakan dari seorang kakak kelas yang saat itu mempesona saya karena ia memiliki cinta yang besar pada PLP. *m think, i love u at that time* Kegiatan pertama yang dia tawarkan adalah dayung kering, sebuah latihan dasar yang harus dijalani ketika akan berkegiatan di air. Wah...capeknya bukan main, otot-otot-pun langsung tegang, terutama otot tangan. Tapi, cara kakak kelas itu dan senior-senior lain dalam memotivasi membuat rasa capek itu dengan segera terlupakan. Yel-yel NEVER GIVE UP yang selalu didengungkan setiap kali akan berkegiatan mampu menghipnotis saya untuk memacu diri hingga ambang batas kemampuan. Saya-pun jatuh cinta pada PLP! Kegiatan demi kegiatan saya jalani dengan senang hati, terutama kegiatan camping. *ooh...aku rindu camping, bau rumput basah dan dinginnya udara malam*
Tapi, kesenangan itu tak berlangsung lama-hanya 6 bulan saja bulan madu saya dengan PLP. Ibarat pernikahan, setelah masa bulan madu habis, maka mata kita akan terbuka tentang siapa sesungguhnya pasangan kita. Begitu pula hubungan saya dengan PLP, masa bulan madu saya berakhir ketika saya menjadi salah satu pengurus. Derai air mata lebih banyak menghiasi hari-hari saya dibanding dengan tawa, apalagi saat itu kami benar-benar dipush untuk mendapatkan dana segar guna membiayai ekspedisi luar negeri pertama PLP ke Serawak, Malaysia. Saya-pun jatuh bangun mengikuti gerakan PLP. Menangis, bertengkar, merasa diacuhkan adalah makanan sehari-hari. Tapi, tanpa saya sadari pengalaman itu membuat saya memunculkan diri saya yang sebenarnya, potensi saya benar-benar tergali dan akhirnya membentuk saya menjadi pribadi yang 'utuh'. Saya yang dulunya selalu minder berubah menjadi percaya diri, tertutup menjadi terbuka, komunikasi tidak lancar menjadi pandai berbicara, dan saat itu pula saya menyadari bahwa saya adalah orang yang keras hati. *saya baru ngeh kalau saya keras kepala dari feed back teman-teman PLP*
PLP benar-benar merasuki diri saya. Setelah lulus dari masa kepengurusan 2000-2001, saya ditunjuk untuk jadi pengurus kembali, tapi dengan posisi yang berbeda dan masa kepengurusan yang lebih panjang, yaitu menjadi Kadiv Litbang dan masa kepengurusan 1,5 tahun. Masa ini saya jalani dengan lebih matang dan saya-pun membidani beberapa event besar. Sebuah pengalaman yang sungguh tak kan terlupakan karena pada masa itulah saya mengenal outbound training dan saya berhasil mendapatkan pekerjaan di kemudian hari karena pengetahuan saya akan bidang tersebut. Jatuh bangun masih saya alami, tapi rasanya energi tak pernah habis untuk PLP. Pagi kuliah, sore hingga dini hari untuk PLP. Saya-pun kerap dimarahi orang tua karena pulang terlalu larut dan melakukan kegiatan-kegiatan beresiko tinggi serta menguras uang tabungan saya. Tapi, semua itu terbayar dengan pengalaman-pengalaman yang masih berguna intisarinya bagi saya hingga saat ini. Menyenangkan sekali rasanya mengenang saat-saat itu. Tapi, hidup di PLP tak kan memberikan arti sedalam ini bagi saya jika tanpa teman-teman berkegiatan. Teman-teman PLP sekarang ini tak ubahnya bagai saudara karena dengan merekalah saya menghabiskan waktu nyaris 24 jam tiap harinya selama kuliah. Merekalah yang menempa saya menjadi sosok seperti saat ini. *i love u all, guys!*
Terima kasih PALAPSI karena telah membentuk saya menjadi pribadi yang tahan banting dan pantang menyerah!
Selamat ulang tahun yang ke - 34...semoga semakin jaya...!!!!!!
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Kamis, 14 Mei 2009
Rabu, 01 April 2009
Jejaring Cinta

Semalam saya melihat film Jomblo, sebuah karya apik dari sutradara Hanung Bramantyo yang diangkat dari novel karya Adhitya Mulya. Film lama sih, tapi saya baru sempat melihatnya semalam dan saya merasa rugi baru melihatnya sekarang. Filmnya cukup unik dari segi sinematografi, but...saya tidak mau mengomentari dari sisi teknis perfilman karena saya bukan ahlinya. Saya tertarik pada jalan cerita filmnya karena menurut saya film ini sangatlah nyata dan menggambarkan romantika asmara di dunia kuliah.
Film Jomblo sendiri berkisah tentang kehidupan empat orang cowok yang bersahabat dekat dan kuliah di Teknik Sipil UNB. Dari judul filmnya bisa ditebak bahwa keempat cowok tersebut adalah jomblo'ers karena berbagai alasan. Doni (Christian Sugiono) adalah tipe cowok playboy yang tidak siap menjalin komitmen, Bimo (Dennis Adhiswara) adalah tipe cowok yang pantang menyerah untuk mendapatkan pacar meski terkendala masalah fisik alias kurang tampan dan norak, Olip (Rizky Hanggono) adalah tipe cowok yang tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya dan sangat terobsesi pada satu wanita, sedangkan Agus (Ringgo Agus Rahman) adalah tipe cowok yang sangat idealis dalam mencari pacar. Adegan-adegan awal berisi tentang pandangan-pandangan keempat cowok tersebut tentang kriteria cewek idaman dan terus bergulir ke cara-cara mendapatkan cewek idaman tersebut. Konflik atau klimaks film mulai terjadi ketika ada kisah perselingkuhan dan rebutan kekasih di antara sahabat.
Sebuah cerita yang biasa kan ? Tapi, saya yakin itulah kisah asmara sebagian besar mahasiswa di Indonesia, termasuk saya. Dulu, ketika masih muda *sekarang juga masih awet muda* dan masih seneng-senengnya tinggal di kampus, saya terlibat di sebuah organisasi pecinta alam, PALAPSI. PALAPSI bukan hanya menjadi ajang berkegiatan di alam bebas yang mengandung resiko tinggi, tapi juga menjadi ajang olah asmara dengan tingkat kerumitan tinggi. Persis seperti jalan cerita di film jomblo! Hal ini terjadi karena nyaris sebagian besar waktu dihabiskan bersama-sama dengan teman satu organisasi, sehingga memungkinkan orang-orang yang terlibat di dalamnya untuk menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman berkegiatan, termasuk hubungan asmara. Si A suka pada si B, tapi si B suka pada C. Si A disukai oleh D, E, dan F. F dikejar oleh G. E gagal dapat A, menggaet H, putus, jalan sama I. Complicated! Kami menyebut hubungan rumit ini dengan jaring laba-laba cinta. Bahkan, seorang teman sempat iseng menggambarkan hubungan yang complicated itu dalam sebuah peta hubungan yang memang jika dilihat dari bentuk fisiknya menyerupai jaring laba-laba.
Memang tak sedikit yang akhirnya berhasil melewati masa-masa kritis romantika asmara jaman kuliah dan berakhir happy ending dengan pernikahan, tapi banyak pula yang berujung tragis seperti Doni dan Olip karena berebut cinta yang sama sehingga merusak persahabatan. Saya sendiri juga terjebak dalam jaring laba-laba itu. Saya sempat menyukai kakak kelas saya, sebut saja namanya A. Eh...ternyata yang suka pada A ini bukan hanya saya seorang, tapi ada 6 cewek lain dan kami semua bersahabat. Gila kan ? Dan, gawatnya si A tak pernah menjatuhkan pilihan karena A adalah tipe Doni-takut menjalani komitmen! Ada lagi kisah yang lebih gila...seorang teman, sebut saja N, disukai oleh kakak kelas bernama T dan P. Awalnya N suka pada T dan merekapun berpacaran, tapi kemudian si P lebih menarik hati N sehingga N-pun memutuskan T dan berpacaran dengan P. Akibatnya hubungan T dan P yang awalnya bersahabat menjadi tegang. *maaf jika ceritanya kurang pas benar dengan kejadian sesungguhnya karena ini hanyalah pandangan dari pihak ketiga, bukan pelaku utama*
Sebuah kisah asmara yang rumit dan banyak menguras emosi serta air mata pada jamannya, tapi kini kisah-kisah itu telah menjadi bagian dari sejarah dan selalu mengundang senyum dan tawa jika dikenang kembali. Beberapa teman yang terlibat dalam jaring laba-laba kini telah bahagia dengan pasangan hidupnya masing-masing, dan beberapa yang lain masih terus berjuang mengubah status jomblo, termasuk saya. Hehehe...
Gambar diambil dari www.sinemart.com
Langganan:
Postingan (Atom)