Tantangan bagi seorang rekruter adalah mencari tenaga kerja yang dibutuhkan dengan waktu yang cepat dan kandidat yang ada memenuhi semua kriteria yang disyaratkan untuk jabatan tersebut. Dan meskipun kelihatan mudah, namun pekerjaan ini sungguhlah berat. Bagaimana tidak ? Karena waktu untuk menentukan apakah seorang kandidat ini bagus atau tidak sangatlah sempit. Ada beberapa macam metode yang dapat digunakan untuk menilai seorang kandidat, yaitu tes tertulis, wawancara dan terakhir, tes kesehatan. Sudah waktunya sempit, hasil yang didapat dari metode-metode tadi juga belum sepenuhnya menjamin bahwa kandidat yang diperoleh akan memiliki kualitas yang bagus. Metode yang paling sulit dijadikan kriteria untuk memilah kandidat yang terbaik dari sekian banyak pelamar adalah wawancara, karena penilaian yang dilakukan oleh interviewer terkadang subjektif. *salut untuk para rekruter yang memiliki insting tajam terhadap kandidat*
Nah, ternyata bukan hal yang mudah kan untuk mendapatkan seorang kandidat yang sesuai dengan keinginan ? Di tempat kerja saya sekarang, metode yang digunakan untuk menseleksi kandidat hanya ada dua, yaitu wawancara dan tes kesehatan karena tes tertulis sulit untuk dilakukan, maklum saja yang saya test biasanya sulit untuk membaca dan menulis. Jadi, kandidat yang terpilih-pun kualitasnya masih diragukan karena biasanya mereka manis di muka, tapi berontak di belakang. Tapi, rupanya kesulitan untuk mencari kandidat ini tak dipahami oleh sebagian user di tempat saya bekerja. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, tapi hampir semuanya mengira kandidat kandidat yang mereka inginkan itu bisa siap kapan saja jika dibutuhkan. Hei...mereka bukan barang! Dan, memilih orang yang tepat tak semudah memilih barang. Barang jika tak cocok bisa dikembalikan atau ditukar, kalau orang ? *bisa-bisa ditimpuk dan dipukuli deh!* Belum lagi di Merauke, kesulitannya menjadi dobel karena hal-hal kecil, salah satunya bisa dibaca di sini. User tak pernah paham kesulitan-kesulitan ini sehingga seringkali baru hari ini mereka mengajukan permohonan, esok hari sudah ditagih. *please deh!*
Ada lagi user yang aneh dalam merekrut orang. Si bapak user ini selalu mencari sendiri orang-orang yang ingin dijadikan anak buahnya. Jika sudah ketemu, ia akan membawa surat permohonan penambahan karyawan plus sekalian orang yang akan direkrut. Memudahkan kerja saya sih sebenarnya sebagai rekruter, tapi...menyalahi prosedur dan ternyata kandidat yang dibawa tak bagus alias tak memenuhi persyaratan. Yang buat kesal adalah kandidat yang dibawa ternyata masih ada hubungan keluarga, padahal dalam perusahaan terdapat aturan bahwa satu bersaudara tak boleh bekerja dalam departemen yang sama. *ternyata di perusahaan swasta, Nepotisme berkembang dengan subur*
Kemudian, ada lagi yang keukeuh sumekeh bahwa kami harus memproses kandidat yang direkomendasikannya, padahal jelas-jelas kandidat yang dibawa tidak memenuhi syarat. Selidik punya selidik, ternyata si bapak sudah terlanjur berjanji pada rekanannya untuk merekrut kandidat tersebut. Dan yang paling menjengkelkan adalah ketika kata-kata seperti ini keluar, "HRD boleh cari pembandingnya, tapi saya akan tetap pakai yang ini!" *?@!$%&*#@!*
Dan, tak ada lagi yang lebih menjengkelkan selain pengalaman saya yang berikut ini :
Suatu hari saya mewawancara seorang kandidat sopir. Hasilnya tidak bagus dan saya tolak. Rupanya sang kandidat ini pantang menyerah, dia berusaha terus untuk bisa masuk. Tapi, saya tetap keukeuh karena kandidat ini saya nilai bermasalah di attitude. Akhirnya, dengan usaha yang pantang menyerah dia berhasil masuk ke site tapi melalui kontraktor perusahaan. Selama kerja di site, dia terus melobby para user agar bisa masuk ke perusahaan saya dan yup...usahanya berhasil. Seorang user membuat surat rekomendasi agar saya merekrutnya dan meskipun saya sudah jelaskan berbagai alasan tentang kenapa tidak meloloskannya dalam proses seleksi yang lalu, sang user tetap bersikukuh ingin mengambilnya. Geram rasanya karena ini berarti saya menjilat ludah sendiri! Dan, yang menyakitkan adalah pandangan kandidat tersebut setiap kali berpapasan dengan saya, seakan-akan dia bilang...tuh kan saya yang menang! *saya rupanya suka sensitif berlebihan* Belakangan, kecurigaan saya tentang attitude-nya terbukti-ia sering mangkir dari tugasnya dan seenaknya sendiri sehingga terancam kontraknya tidak akan dilanjutkan. Kalau sudah begini, ingin saya teriak ke muka user yang dulu bertahan ingin merekrutnya..."Apa saya bilang dulu? Dia not recommended!" Sayangnya, user yang dulu itu sudah berganti posisi dan ditempatkan di site lain. Hiks!
Tampilkan postingan dengan label rekrutmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rekrutmen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 09 Agustus 2009
Sabtu, 08 Agustus 2009
Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (6)
Saya tidak tahu apakah yang saya alami ini hanya terjadi di kota-kota kecil, seperti Merauke ini ataukah juga terjadi di kota-kota besar, macam Jakarta, tapi yang jelas kejadian ini baru saya alami ketika bekerja di Merauke. Ada seorang karyawan yang sangat gigih memasukkan anggota keluarganya ke perusahaan dengan berbagai macam posisi. Mulai dari perawat, sopir hingga mekanik. Hmmm...oke, itu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan lain. Tapi, yang buat unik adalah yang memasukkan lamaran hingga memfollow up lamaran adalah istri karyawan yang usianya sudah relatif tua. Sementara anak dan menantunya yang melamar kerja, tak pernah sama sekali nongol di kantor untuk mem-follow up lamarannya. Bahkan pernah suatu kali, saya memanggil si menantu untuk wawancara di kantor...eh...yang datang malahan si ibu mertua a.k.a istri karyawan. Saya tentu saja terkejut dan ketika saya tanya kenapa ibu datang kesini, dia jawab, "Tadi ada panggilan untuk si X tapi kurang jelas, bu. Saya mau tanya kapan dia dipanggil?" Ya ampun! Kenapa tidak si menantu yang datang untuk konfirmasi? Kenapa juga harus ibu mertuanya yang sudah renta yang harus datang tergopoh-gopoh ke kantor untuk bertanya? Apakah sang menantu tidak punya keberanian ? Fiuh...saya rasa karyawan saya dan istrinya telah salah mengambil menantu!
Kemudian, ketika hari wawancara tiba...lagi-lagi si ibu mertua yang datang menemui saya, "Ibu, hari ini tho wawancaranya? Itu si X sudah datang!" Please deh...umur sudah 35 tahun, badan seperti preman, tapi datang wawancara saja diantar oleh mertuanya, padahal rumahnya di belakang kantor. *tuing...ingin rasanya mengospek si menantu agar punya semangat juang*
Masih cerita yang sama tentang si X, si menantu kurang ajar itu. Ketika si X menerima gaji untuk pertama kalinya, dia datang kepada saya untuk bertanya apakah gajinya bisa diambil oleh keluarganya. Tentu saja saya bilang tidak bisa, dan meminta dia untuk membuat rekening di bank rekanan kami. Ternyata, dia punya rekening dan meminta ijin untuk mengambilnya. Tak selang berapa lama, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri saya dan mengaku istri si X. Ya ampun...memang parah benar si X ini...selalu sembunyi di balik wanita-wanita perkasa yang membuat hidupnya nyaman. Saya-pun akhirnya menceramahi istrinya bahwa harusnya yang datang menghadap saya itu suaminya sebagai karyawan, bukan keluarganya. *tentu saja dengan gaya ketus khas saya. hehehehe...* Dan, anda tahu...yang diberikan ke saya bukan rekening atas nama sang karyawan alias sang menantu kurang ajar alias si X, tapi rekening istrinya. OMG!
Anak karyawan tidak lebih baik dari si menantu. Yang menyerahkan lamaran ke kantor adalah ibunya dan ibunya pula yang setia menyatroni kantor nyaris tiap hari untuk menanyakan perkembangan lamaran anaknya. Duh...ibu, harusnya anda duduk manis saja di rumah...biarkan para lelaki Anda yang bekerja keras membanting tulang, karena itulah gunanya Anda memiliki anak laki-laki! Saya-pun jadi bertanya-tanya dan menduga bahwa ada yang salah pada cara membesarkan anak di keluarga karyawan itu karena tidak saja anak dan menantu yang membuat si ibu harus bolak-balik ke kantor, tapi juga sang suami. Istri karyawan ini sering bolak balik ke kantor untuk mengurus keperluan kerja suaminya, mulai dari mengurus kredit motor sampai mengurus kartu jamsostek. Hmmm...tak terbayangkan jika keluarga itu nanti kehilangan si ibu! *mudah-mudahan si ibu diberikan kesehatan dan umur panjang*
Tapi, ada hikmahnya juga si buat saya karena sering berhubungan dengan si ibu. Saya diberi souvenir berupa gantungan kunci dan miniatur rumah semut. Yipie!
Kemudian, ketika hari wawancara tiba...lagi-lagi si ibu mertua yang datang menemui saya, "Ibu, hari ini tho wawancaranya? Itu si X sudah datang!" Please deh...umur sudah 35 tahun, badan seperti preman, tapi datang wawancara saja diantar oleh mertuanya, padahal rumahnya di belakang kantor. *tuing...ingin rasanya mengospek si menantu agar punya semangat juang*
Masih cerita yang sama tentang si X, si menantu kurang ajar itu. Ketika si X menerima gaji untuk pertama kalinya, dia datang kepada saya untuk bertanya apakah gajinya bisa diambil oleh keluarganya. Tentu saja saya bilang tidak bisa, dan meminta dia untuk membuat rekening di bank rekanan kami. Ternyata, dia punya rekening dan meminta ijin untuk mengambilnya. Tak selang berapa lama, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri saya dan mengaku istri si X. Ya ampun...memang parah benar si X ini...selalu sembunyi di balik wanita-wanita perkasa yang membuat hidupnya nyaman. Saya-pun akhirnya menceramahi istrinya bahwa harusnya yang datang menghadap saya itu suaminya sebagai karyawan, bukan keluarganya. *tentu saja dengan gaya ketus khas saya. hehehehe...* Dan, anda tahu...yang diberikan ke saya bukan rekening atas nama sang karyawan alias sang menantu kurang ajar alias si X, tapi rekening istrinya. OMG!
Anak karyawan tidak lebih baik dari si menantu. Yang menyerahkan lamaran ke kantor adalah ibunya dan ibunya pula yang setia menyatroni kantor nyaris tiap hari untuk menanyakan perkembangan lamaran anaknya. Duh...ibu, harusnya anda duduk manis saja di rumah...biarkan para lelaki Anda yang bekerja keras membanting tulang, karena itulah gunanya Anda memiliki anak laki-laki! Saya-pun jadi bertanya-tanya dan menduga bahwa ada yang salah pada cara membesarkan anak di keluarga karyawan itu karena tidak saja anak dan menantu yang membuat si ibu harus bolak-balik ke kantor, tapi juga sang suami. Istri karyawan ini sering bolak balik ke kantor untuk mengurus keperluan kerja suaminya, mulai dari mengurus kredit motor sampai mengurus kartu jamsostek. Hmmm...tak terbayangkan jika keluarga itu nanti kehilangan si ibu! *mudah-mudahan si ibu diberikan kesehatan dan umur panjang*
Tapi, ada hikmahnya juga si buat saya karena sering berhubungan dengan si ibu. Saya diberi souvenir berupa gantungan kunci dan miniatur rumah semut. Yipie!
Kamis, 18 Juni 2009
Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (5)
Beberapa hari yang lalu saya mengalami suatu kejadian yang tak mengenakkan hati. Belum juga jarum jam menunjukkan pk. 10.00 WIT, di tengah-tengah hiruk pikuk karyawan yang akan berangkat ke site, saya didatangi kembali oleh seorang pelamar yang selama berbulan-bulan setia menyatroni kantor saya dan sempat sebulan ini menghilang ke Tanah Merah. Jika biasanya ia hanya setia duduk berjam-jam di ruang tamu menunggu lamarannya diproses, kali ini dia datang langsung masuk ke kantor saya dan marah-marah. Rupanya ia sudah kehilangan kesabaran meskipun saya bilang bahwa saya telah memanggilnya untuk diseleksi, tapi saat saya panggil dia sedang berada di Tanah Merah. Dan, dia tetap ngotot menuduh saya tidak memprosesnya. Duh!
Dia memaki-maki saya sambil mengeluarkan kata-kata binatang dan kata-kata jorok lainnya yang sungguh sangat menyakitkan hati. Dia masih menambahi juga dengan ancaman bahwa dia akan mencelakakan saya di jalan dan juga merekam seluruh pembicaraan saat itu. Terakhir, dia membanting map lamarannya di depan muka saya. Bohong jika saya baik-baik saja menghadapi pelamar ini karena meskipun saya memasang muka dingin dan menatap matanya terus, hati saya berdegup kencang. Saya takut jika ia bertindak nekat dan membahayakan nyawa saya, apalagi saat itu saya hanya berdua saja dengan pelamar itu di ruangan. 15 menit berlalu dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda amarahnya. Polisi yang menjaga kantor akhirnya masuk karena mendengar suara ribut-ribut di ruangan saya, tapi sang pelamar baru bisa tenang setelah marah-marah selama 30 menit.
Ketika dia sudah agak tenang, saya ganti menggertak dia *sifat tak mau mengalah saya muncul dalam keadaan tertekan* Saya berikan dia sebuah kesempatan untuk menjadi sopir dump truck di site, tapi saya bilang bahwa penilaian saya terhadap dia sudah berkurang dengan sikapnya tersebut. Pelamar yang tadinya memaki-maki saya akhirnya sibuk memberikan penjelasan atas sikapnya dan meminta maaf. Hehehehehe...dalam hati saya bangga juga pada diri sendiri karena berhasil menghadapi situasi 'genting' dengan tenang, padahal saya biasanya adalah pribadi yang mudah tersulut emosinya.
Esok lusanya, dia siap naik ke site. Dan ketika saya memberikan surat pengantar untuknya, ia memberikan sebongkah emas putih seukuran kelereng untuk saya. Saya terhenyak tapi tak perlu berpikir lama untuk menolak pemberiannya. *lamaran kerja saja dia minta kembali apalagi emas* Saya ingin menunjukkan pada pelamar tersebut, bahwa saya bekerja mengikuti aturan dan tak mau menerima imbalan atas pekerjaan yang memang sudah seharusnya saya lakukan. Mudah-mudahan saja si bapak pelamar itu benar-benar memegang janjinya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membuat keributan.
Dia memaki-maki saya sambil mengeluarkan kata-kata binatang dan kata-kata jorok lainnya yang sungguh sangat menyakitkan hati. Dia masih menambahi juga dengan ancaman bahwa dia akan mencelakakan saya di jalan dan juga merekam seluruh pembicaraan saat itu. Terakhir, dia membanting map lamarannya di depan muka saya. Bohong jika saya baik-baik saja menghadapi pelamar ini karena meskipun saya memasang muka dingin dan menatap matanya terus, hati saya berdegup kencang. Saya takut jika ia bertindak nekat dan membahayakan nyawa saya, apalagi saat itu saya hanya berdua saja dengan pelamar itu di ruangan. 15 menit berlalu dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda amarahnya. Polisi yang menjaga kantor akhirnya masuk karena mendengar suara ribut-ribut di ruangan saya, tapi sang pelamar baru bisa tenang setelah marah-marah selama 30 menit.
Ketika dia sudah agak tenang, saya ganti menggertak dia *sifat tak mau mengalah saya muncul dalam keadaan tertekan* Saya berikan dia sebuah kesempatan untuk menjadi sopir dump truck di site, tapi saya bilang bahwa penilaian saya terhadap dia sudah berkurang dengan sikapnya tersebut. Pelamar yang tadinya memaki-maki saya akhirnya sibuk memberikan penjelasan atas sikapnya dan meminta maaf. Hehehehehe...dalam hati saya bangga juga pada diri sendiri karena berhasil menghadapi situasi 'genting' dengan tenang, padahal saya biasanya adalah pribadi yang mudah tersulut emosinya.
Esok lusanya, dia siap naik ke site. Dan ketika saya memberikan surat pengantar untuknya, ia memberikan sebongkah emas putih seukuran kelereng untuk saya. Saya terhenyak tapi tak perlu berpikir lama untuk menolak pemberiannya. *lamaran kerja saja dia minta kembali apalagi emas* Saya ingin menunjukkan pada pelamar tersebut, bahwa saya bekerja mengikuti aturan dan tak mau menerima imbalan atas pekerjaan yang memang sudah seharusnya saya lakukan. Mudah-mudahan saja si bapak pelamar itu benar-benar memegang janjinya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membuat keributan.
Kamis, 04 Juni 2009
Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (4)
Suatu hari ketika interview berlangsung....
Interviewer : Kalau bapak lolos skill test, maka bapak akan diangkat jadi karyawan. Kalau bapak jadi karyawan maka yang akan bapak terima adalah Gaji Pokok .... dan premi .... . Selain itu, bapak akan dapat asuransi .... dan fasilitas ....
Jelas, pak ? Ada yang ingin ditanyakan ?
Interviewee : Jelas, bu
Interviewer : Ok, kalau begitu bapak kapan bisa mulai skill test ? Kamis ini bisa, pak?
Interviewee : Bisa, bu
Interviewer : Baik, kalau begitu kita ketemu lagi hari Kamis. Secara keseluruhan, ada yang ingin ditanyakan, pak ?
Interviewee : Hmm...ada, bu. Kalau jadi karyawan, nanti Gaji Pokoknya berapa ya ?
Interviewer : Aaaaaaarrrrgggghhhh....@$%#&*^%&!!!!!!
Interviewer : Bawa KTP, pak ?
Interviewee : Tidak, bu
Interviewer : Ok deh. Nama bapak siapa ?
Interviewee : XXXXXXX
Interviewer : Tanggal lahir bapak ?
Interviewee : Aduh...saya lupa, bu...
Interviewer : ?????????????
Interviewer : Pendidikan terakhir bapak apa ?
Interviewee : STM, bu
Interviewer : Kok tidak ada foto copy ijazahnya, pak ?
Interviewee : Oooo...itu, saya tidak lulus STM
Interviewer : Lho ?
Interviewee : Saya ikut ujian paket C, bu
Interviewer : Oooo...terus ijazah Paket C-nya mana, pak ?
Interviewee : Belum diambil, bu
Interviewer : Belum diambil ? Memangnya bapak kapan ikut Paket C-nya ?
Interviewee : Saya kurang tahu, bu. Itu istri saya yang urus.
Interviewer : Lho...istri bapak yang urus ? Tapi kan yang ikut ujian bapak tho...
Interviewee : Istri saya, bu yang ikut ujian...
Interviewer : O...kalau gitu yang ikut paket C itu istri bapak, bukan bapak
Interviewee : Iya saya, bu yang ikut paket C
Interviewer : ...... (No comment sambil menghela nafas panjang)
Interviewer : Bapak melamar untuk posisi apa ?
Interviewee : Direktur, bu
Interviewer : Direktur??? Waduh...kami sudah punya direktur, pak
Interviewee : Kalau gitu wakil direktur, bu
Interviewer : ?????????????!!!!!!!!! (bengong)
Interviewer : Keahlian bapak apa ?
Interviewee : Saya bisa mengoperasikan alat berat, bu
Interviewer : Alat beratnya apa saja ?
Interviewee : Dozer, Tractor, Truck
Interviewer : Ok. Tapi, saat ini kami belum ada lowongan untuk dozer, tractor ataupun truck, pak
Interviewee : Tolonglah, bu...saya hanya ingin bekerja
Interviewer : Iya, pak. Saya tahu. Tapi, kami tidak ada lowongan yang sesuai untuk bapak
Interviewee : Bu, saya ini juga kalau diminta jadi pilot pesawat, saya juga bisa bawa pesawat (marah-marah)
Interviewer : ..... *so what gitu lho!*
Interviewer : Kalau bapak lolos skill test, maka bapak akan diangkat jadi karyawan. Kalau bapak jadi karyawan maka yang akan bapak terima adalah Gaji Pokok .... dan premi .... . Selain itu, bapak akan dapat asuransi .... dan fasilitas ....
Jelas, pak ? Ada yang ingin ditanyakan ?
Interviewee : Jelas, bu
Interviewer : Ok, kalau begitu bapak kapan bisa mulai skill test ? Kamis ini bisa, pak?
Interviewee : Bisa, bu
Interviewer : Baik, kalau begitu kita ketemu lagi hari Kamis. Secara keseluruhan, ada yang ingin ditanyakan, pak ?
Interviewee : Hmm...ada, bu. Kalau jadi karyawan, nanti Gaji Pokoknya berapa ya ?
Interviewer : Aaaaaaarrrrgggghhhh....@$%#&*^%&!!!!!!
Interviewer : Bawa KTP, pak ?
Interviewee : Tidak, bu
Interviewer : Ok deh. Nama bapak siapa ?
Interviewee : XXXXXXX
Interviewer : Tanggal lahir bapak ?
Interviewee : Aduh...saya lupa, bu...
Interviewer : ?????????????
Interviewer : Pendidikan terakhir bapak apa ?
Interviewee : STM, bu
Interviewer : Kok tidak ada foto copy ijazahnya, pak ?
Interviewee : Oooo...itu, saya tidak lulus STM
Interviewer : Lho ?
Interviewee : Saya ikut ujian paket C, bu
Interviewer : Oooo...terus ijazah Paket C-nya mana, pak ?
Interviewee : Belum diambil, bu
Interviewer : Belum diambil ? Memangnya bapak kapan ikut Paket C-nya ?
Interviewee : Saya kurang tahu, bu. Itu istri saya yang urus.
Interviewer : Lho...istri bapak yang urus ? Tapi kan yang ikut ujian bapak tho...
Interviewee : Istri saya, bu yang ikut ujian...
Interviewer : O...kalau gitu yang ikut paket C itu istri bapak, bukan bapak
Interviewee : Iya saya, bu yang ikut paket C
Interviewer : ...... (No comment sambil menghela nafas panjang)
Interviewer : Bapak melamar untuk posisi apa ?
Interviewee : Direktur, bu
Interviewer : Direktur??? Waduh...kami sudah punya direktur, pak
Interviewee : Kalau gitu wakil direktur, bu
Interviewer : ?????????????!!!!!!!!! (bengong)
Interviewer : Keahlian bapak apa ?
Interviewee : Saya bisa mengoperasikan alat berat, bu
Interviewer : Alat beratnya apa saja ?
Interviewee : Dozer, Tractor, Truck
Interviewer : Ok. Tapi, saat ini kami belum ada lowongan untuk dozer, tractor ataupun truck, pak
Interviewee : Tolonglah, bu...saya hanya ingin bekerja
Interviewer : Iya, pak. Saya tahu. Tapi, kami tidak ada lowongan yang sesuai untuk bapak
Interviewee : Bu, saya ini juga kalau diminta jadi pilot pesawat, saya juga bisa bawa pesawat (marah-marah)
Interviewer : ..... *so what gitu lho!*
Jumat, 15 Mei 2009
Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (3)
Untuk tulisan kali ini, saya akan menulis sebuah kisah yang tidak dapat dikategorikan dalam kisah suka maupun duka karena mencakup dua-duanya. Anda pernah merasa mual dan ingin muntah gara-gara menginterview kandidat ? Saya pernah! Bahkan hal ini saya alami berkali-kali.
Bekerja di suatu daerah yang belum tersentuh oleh canggihnya metode pengelolaan SDM, dimana HRD masih dianggap sama dengan Personalia, membuat saya harus melakukan banyak penyesuaian. Untuk merekrut tenaga kerja, utamanya lulusan STM, perusahaan saya bekerja sama dengan BLK setempat. Maksud hati ingin mempermudah rekrutmen, malahan membuat saya lelah tiada duanya. Ini karena pihak BLK belum sepenuhnya paham bagaimana caranya memfasilitasi kebutuhan perusahaan. Bayangkan saja, ketika saya minta kandidat lulusan dari BLK, saya diberi nyaris 30 lamaran yang harus saya proses pada hari interview. Di satu sisi, hal tersebut adalah keuntungan karena saya jadi punya banyak pilihan, tapi di lain sisi mulut saya jadi pegel euy dan banyak membuang waktu karena menginterview kandidat-kandidat yang sebenarnya tak masuk kualifikasi sama sekali. Bayangkan saja...mulut saya harus digunakan untuk mewawancarai 30 orang pada hari yang sama dengan rata-rata waktu interview 10 menit. Saya interview dari pk. 09.00-14.00 non stop. Benar benar melelahkan dan membuat kerongkongan kering. Sebenarnya saya bisa saja umumkan hari itu juga, bagi yang tidak memenuhi kualifikasi-misal pendidikan kurang, umur berlebih-untuk tidak ikut interview, tapi saya takut mengecewakan mereka dan berakhir dengan kejadian anarkis alias saya didemo oleh mereka. *akhir-akhir ini saya memang cari aman. hehehe* Jadi, mau tak mau saya interview semua kandidat yang datang hari itu. Fiuh! Rasa haus dan lapar yang menyerang karena interview 5 jam non stop membuat saya sering kehilangan konsentrasi di peserta-peserta akhir.
Selain mulut pegel dan perut keroncongan, ada satu hal lagi yang membuat saya nyaris pingsan dan mual ketika interview, yaitu bau badan. Yup....BAU BADAN! Entah apa yang dimakan oleh para kandidat ini, dari radius 100 m, ketika mereka memasuki ruang interview, saya langsung lemas mencium bau badan mereka. Campuran antara bau bawang, amis, dan bau kecut sekaligus. Teman-teman sering menjuluki kandidat-kandidat saya dengan sebutan 'manusia berketek empat'. Duh...kenapa si mereka sebelum interview tidak pakai deodoran ? Hmm...jangankan pakai deodoran, datang ke tempat interview saja mereka menggunakan pakaian seadanya, bahkan ada yang bercelana pendek dan bersandal jepit. Kalau sudah begini, saya jadi rindu merekrut di kota-kota besar dimana kandidat-kandidatnya selalu berpakaian rapi, dan berbau harum.
Tapi, inilah konsekuensi bekerja di daerah yang jauh dari ibu kota dimana penampilan adalah harga mutlak. Disini, Anda tak perlu berpenampilan rapi dan berbau harum untuk bisa bekerja karena yang terpenting adalah memiliki kemampuan yang bisa dijual dan semangat untuk bekerja keras. *cover doesn't need at all*
Bekerja di suatu daerah yang belum tersentuh oleh canggihnya metode pengelolaan SDM, dimana HRD masih dianggap sama dengan Personalia, membuat saya harus melakukan banyak penyesuaian. Untuk merekrut tenaga kerja, utamanya lulusan STM, perusahaan saya bekerja sama dengan BLK setempat. Maksud hati ingin mempermudah rekrutmen, malahan membuat saya lelah tiada duanya. Ini karena pihak BLK belum sepenuhnya paham bagaimana caranya memfasilitasi kebutuhan perusahaan. Bayangkan saja, ketika saya minta kandidat lulusan dari BLK, saya diberi nyaris 30 lamaran yang harus saya proses pada hari interview. Di satu sisi, hal tersebut adalah keuntungan karena saya jadi punya banyak pilihan, tapi di lain sisi mulut saya jadi pegel euy dan banyak membuang waktu karena menginterview kandidat-kandidat yang sebenarnya tak masuk kualifikasi sama sekali. Bayangkan saja...mulut saya harus digunakan untuk mewawancarai 30 orang pada hari yang sama dengan rata-rata waktu interview 10 menit. Saya interview dari pk. 09.00-14.00 non stop. Benar benar melelahkan dan membuat kerongkongan kering. Sebenarnya saya bisa saja umumkan hari itu juga, bagi yang tidak memenuhi kualifikasi-misal pendidikan kurang, umur berlebih-untuk tidak ikut interview, tapi saya takut mengecewakan mereka dan berakhir dengan kejadian anarkis alias saya didemo oleh mereka. *akhir-akhir ini saya memang cari aman. hehehe* Jadi, mau tak mau saya interview semua kandidat yang datang hari itu. Fiuh! Rasa haus dan lapar yang menyerang karena interview 5 jam non stop membuat saya sering kehilangan konsentrasi di peserta-peserta akhir.
Selain mulut pegel dan perut keroncongan, ada satu hal lagi yang membuat saya nyaris pingsan dan mual ketika interview, yaitu bau badan. Yup....BAU BADAN! Entah apa yang dimakan oleh para kandidat ini, dari radius 100 m, ketika mereka memasuki ruang interview, saya langsung lemas mencium bau badan mereka. Campuran antara bau bawang, amis, dan bau kecut sekaligus. Teman-teman sering menjuluki kandidat-kandidat saya dengan sebutan 'manusia berketek empat'. Duh...kenapa si mereka sebelum interview tidak pakai deodoran ? Hmm...jangankan pakai deodoran, datang ke tempat interview saja mereka menggunakan pakaian seadanya, bahkan ada yang bercelana pendek dan bersandal jepit. Kalau sudah begini, saya jadi rindu merekrut di kota-kota besar dimana kandidat-kandidatnya selalu berpakaian rapi, dan berbau harum.
Tapi, inilah konsekuensi bekerja di daerah yang jauh dari ibu kota dimana penampilan adalah harga mutlak. Disini, Anda tak perlu berpenampilan rapi dan berbau harum untuk bisa bekerja karena yang terpenting adalah memiliki kemampuan yang bisa dijual dan semangat untuk bekerja keras. *cover doesn't need at all*
Rabu, 29 April 2009
Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (2)
Menjadi seorang rekruter sebenarnya bukanlah pekerjaan impian saya, tapi karena proses pembelajaran dan pengaruh lingkungan ketika saya kuliah, maka akhirnya saya-pun terjerumus ke dalam dunia rekrutmen. Dan, pekerjaan profesional pertama saya adalah sebagai Recruitment Staff. Mungkin karena saya memiliki jiwa adventurir, saya mudah bosan pada pekerjaan rekrutmen yang memang cukup monoton jika dibandingkan dengan area lain dalam bidang Human Resource. Dan sebagai akibatnya, saya sering melirik-lirik area HR yang lain, seperti training dan pengembangan organisasi. Namun, pandangan saya akan pekerjaan rekrutmen yang monoton berubah ketika saya bekerja di Merauke. Rekrutmen tidak saja sekedar pekerjaan mempublikasikan lowongan dan kemudian menseleksi, tapi juga sebuah pekerjaan memberdayakan masyarakat. Dan, alih-alih rekrutmen sebagai pekerjaan yang monoton, rekrutmen-pun jadi pekerjaan yang penuh dengan resiko.
Bekerja sebagai seorang rekruter di Merauke harus memiliki teknik mengelola emosi yang baik karena berhadapan dengan pelamar kerja dan calon karyawan membutuhkan kesabaran yang ekstra mengingat rata-rata SDM di Merauke jarang yang bekerja di sektor formal sehingga banyak dari pelamar yang tidak memahami prosedur rekrutmen dan seleksi. Selain itu, bekerja sebagai rekruter di Merauke juga harus siap diserang dengan isu rasialis. Seperti daerah-daerah Indonesia Timur lainnya, Merauke adalah daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Alam yang cukup besar, namun tidak semuanya dapat dinikmati oleh penduduk asli, seperti halnya kasus Freeport karena ketika sebuah perusahaan besar masuk, maka SDM lokal banyak dikalahkan oleh SDM pendatang.
Bulan pertama saya bekerja di Merauke, saya didemo oleh belasan pelamar kerja. Mereka menuntut saya untuk mempekerjakan orang asli. Muka saya ditunjuk-tunjuk. Duh...mau copot rasanya jantung ini!
Saya terkejut mendengar tuntutan mereka karena tak pernah terlintas sedikit-pun bahwa perusahaan kami akan menerapkan diskriminasi ras seperti yang mereka tuduhkan, bahkan dari awal kami sudah diwanti-wanti oleh BOD untuk memprioritaskan tenaga lokal karena tidak ingin menjadi Freeport kedua. Tapi, rupanya bekerja di daerah Indonesia Timur memang tak semudah di Indonesia Barat, terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat lokal. Saya sudah beratus-ratus kali menyampaikan pada mereka bahwa kami tidak melakukan diskriminasi, dan kami melakukan rekrutmen berdasarkan keahlian, tapi apa yang saya sampaikan rupanya hanya dipahami dalam waktu singkat saja. Beberapa minggu kemudian bisa dipastikan mereka akan menyatroni kantor lagi untuk menuntut pekerjaan. Posisi saya jadi terjepit karena mereka yang menuntut pekerjaan rata-rata tidak memiliki pengalaman atau jika ada, memiliki attitude yang kurang baik dan banyak yang tidak memenuhi syarat pekerjaan, seperti tingkat pendidikan dan usia. Sampai dengan saat ini, saya masih belum menemukan cara yang efektif untuk memberikan pemahaman pada mereka bahwa perusahaan merekrut berdasarkan kompetensi dan ada prosedur-prosedur yang harus ditaati dalam penyelenggaraan rekrutmen.
Adakah yang bisa memberikan saran untuk saya ?
Bekerja sebagai seorang rekruter di Merauke harus memiliki teknik mengelola emosi yang baik karena berhadapan dengan pelamar kerja dan calon karyawan membutuhkan kesabaran yang ekstra mengingat rata-rata SDM di Merauke jarang yang bekerja di sektor formal sehingga banyak dari pelamar yang tidak memahami prosedur rekrutmen dan seleksi. Selain itu, bekerja sebagai rekruter di Merauke juga harus siap diserang dengan isu rasialis. Seperti daerah-daerah Indonesia Timur lainnya, Merauke adalah daerah yang memiliki potensi Sumber Daya Alam yang cukup besar, namun tidak semuanya dapat dinikmati oleh penduduk asli, seperti halnya kasus Freeport karena ketika sebuah perusahaan besar masuk, maka SDM lokal banyak dikalahkan oleh SDM pendatang.
Bulan pertama saya bekerja di Merauke, saya didemo oleh belasan pelamar kerja. Mereka menuntut saya untuk mempekerjakan orang asli. Muka saya ditunjuk-tunjuk. Duh...mau copot rasanya jantung ini!
Ibu ini pilih-pilih orang yang masuk. Yang diterima selalu yang berambut lurus, kulit putih. Kalau begitu...ganti saja nama perusahaan ini jadi M**** Jawa.
Saya terkejut mendengar tuntutan mereka karena tak pernah terlintas sedikit-pun bahwa perusahaan kami akan menerapkan diskriminasi ras seperti yang mereka tuduhkan, bahkan dari awal kami sudah diwanti-wanti oleh BOD untuk memprioritaskan tenaga lokal karena tidak ingin menjadi Freeport kedua. Tapi, rupanya bekerja di daerah Indonesia Timur memang tak semudah di Indonesia Barat, terutama dalam memberikan pemahaman kepada masyarakat lokal. Saya sudah beratus-ratus kali menyampaikan pada mereka bahwa kami tidak melakukan diskriminasi, dan kami melakukan rekrutmen berdasarkan keahlian, tapi apa yang saya sampaikan rupanya hanya dipahami dalam waktu singkat saja. Beberapa minggu kemudian bisa dipastikan mereka akan menyatroni kantor lagi untuk menuntut pekerjaan. Posisi saya jadi terjepit karena mereka yang menuntut pekerjaan rata-rata tidak memiliki pengalaman atau jika ada, memiliki attitude yang kurang baik dan banyak yang tidak memenuhi syarat pekerjaan, seperti tingkat pendidikan dan usia. Sampai dengan saat ini, saya masih belum menemukan cara yang efektif untuk memberikan pemahaman pada mereka bahwa perusahaan merekrut berdasarkan kompetensi dan ada prosedur-prosedur yang harus ditaati dalam penyelenggaraan rekrutmen.
Adakah yang bisa memberikan saran untuk saya ?
Langganan:
Postingan (Atom)