Pekerjaan rumah tangga apa yang paling melelahkan bagi Anda ? Kalau saya, pasti akan menjawab mencuci baju dan seterika. Dua pekerjaan tersebut benar-benar membuat energi terkuras *apalagi badan saya kecil, jadi kurang bertenaga*. Belum lagi waktu yang dihabiskan untuk mengerjakan pekerjaan itu, terutama mencuci. Proses merendam baju saja membutuhkan waktu minimal 30 menit, meskipun dalam kenyataannya saya selalu merendam baju-baju saya minimal 2 jam *kelihatan malasnya ya?*. Setelah merendam, harus menguceknya. Mengucek adalah proses yang paling melelahkan dalam mencuci, apalagi kalau pakaiannya besar dan berbahan berat, seperti celana jeans *meskipun berat nyucinya, but i can't live without jeans* dan jaket. Itu sebabnya untuk pakaian-pakaian itu, saya lebih suka memasukkannya ke laundry. Tapi sayangnya di Merauke, jasa laundry sulit sekali ditemukan, sehingga mau tak mau saya harus mencuci semua baju saya, apapun jenisnya. Dan berhubung mencuci adalah pekerjaan berat, saya memilih untuk mengirit penggunaan baju *ah...bilang saja malas, deb!* Satu celana jeans bisa saya pakai selama 1 minggu dan untuk jaket lebih parah lagi, 1 bulan sekali baru dicuci. Selain mengirit penggunaan baju, cara lain yang saya gunakan untuk menghindari aktivitas mencuci adalah saya mencuci seminggu sekali atau setelah pakaian kotor menumpuk dan tak punya baju ganti lagi. Alhasil, pekerjaan mencuci jadi semakin berat dan melelahkan karena jumlah yang dicuci banyak dan pakaianpun jadi kusam karena tidak terawat dengan baik dan benar. Tak jarang pula, pakaian-pun setelah dicuci menjadi berbau apek karena terlalu lama direndam *akibat nyata dari menunda pekerjaan*. Dan, proses berikutnya setelah mengucek adalah membilas. Meskipun pekerjaan membilas ini lebih ringan daripada mengucek, tapi tak urung juga membuat keringat meleleh karena pekerjaan ini dilakukan minimal 3 kali untuk mendapatkan cucian yang benar-benar bersih. Untuk yang menyukai bau harum pada pakaiannya, proses mencuci masih ditambah dengan merendamnya dalam larutan pewangi selama kurang lebih 10 menit. Tapi, proses ini optional-bisa dilakukan bisa tidak. Nah, proses terakhir dari mencuci adalah menjemur pakaian. Ini adalah proses yang paling menyenangkan dari mencuci karena merupakan tahap akhir dan tidak membutuhkan energi yang besar untuk melakukannya. Tapi, kadang-kadang cuaca yang tidak menentu bisa membuat proses ini jadi menyebalkan. Bayangkan saja...ketika menjemur, matahari bersinar dengan teriknya tapi selang satu jam kemudian, matahari tiba-tiba menghilang ditelan awan mendung dan hujan rintik-rintik datang. Kalau sudah begini, pasti kita akan lari tergopoh-gopoh untuk menyelamatkan jemuran agar tidak basah lagi. Eh, setelah selesai menyelamatkan semua jemuran, matahari tiba-tiba muncul lagi dengan malu-malu dan hujan tak jadi datang. Arrrgggghhhhh! Mencuci memang pekerjaan rumah tangga paling berat. Salut untuk para buruh cuci di seluruh dunia yang dengan tekun dan setia menjalani profesi tersebut!
Tapi, kini saya mulai menyukai pekerjaan mencuci. Apa sebabnya ? Karena berkat inovasi cerdas salah satu pabrik cairan pengharum dan pelembut pakaian, pekerjaan mencuci tak lagi berat. Kita bisa menghemat tenaga, waktu dan juga air sekaligus. Benar-benar sebuah penemuan yang paling inovatif abad ini *lebay mode on* Produk ini membuat terobosan di proses membilas, yaitu yang biasanya kita harus membilas 2-3 kali untuk menghasilkan pakaian yang bersih dari busa sabun maka dengan produk tersebut kita cukup membilas 1 kali saja plus mendapatkan bau harum. Waktu mencuci-pun menjadi lebih singkat dan kita tidak perlu mengeluarkan bergalon-galon keringat serta air lagi untuk mencuci. Sangat praktis! Sayapun tak ragu merekomendasikan produk ini pada orang-orang yang saya kenal dan ternyata mereka semua sangat menyukainya. Mencuci tak lagi menjadi pekerjaan yang berat dan melelahkan! Ups...ini tentu saja berlaku bagi orang-orang yang tak memiliki mesin cuci ya! Hmmm....jadi berangan-angan ingin punya mesin cuci *eits, kan hidup sendiri ya, baju yang dicuci juga punya sendiri, ngapain harus pakai mesin cuci? pemborosan!*
O ya, produk ini tidak saja berhasil menghemat tenaga dan waktu tapi juga berhasil menyelamatkan lingkungan. Dengan proses mencuci yang biasa, kita harus menghabiskan air 4 ember besar karena ada 3 kali proses bilas. Tapi produk ini membuat kita hanya menghabiskan 2 ember besar saja-sebuah langkah penghematan air yang nyata bukan ?
Jadi, mari beramai-ramai menggunakan produk canggih tersebut demi lingkungan dan hidup yang lebih berkualitas karena kita jadi lebih punya banyak waktu dan tenaga untuk mengerjakan aktivitas lain yang berguna!
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rumah. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 01 Agustus 2009
Jumat, 17 April 2009
Rumahku Istanaku
Semalam, saya melihat program yang cukup bagus di RCTI, yaitu program Bedah Rumah. Program ini ditayangkan setiap hari Kamis dan Jumat, pk. 18.15 WIT. Program ini bertujuan untuk menyentuh rasa kemanusiaan para pemirsanya, karena dalam program ini akan disajikan sebuah potret kehidupan dari orang-orang yang terpinggirkan dimana mereka adalah orang-orang yang sangat miskin namun berhati emas *tekun, ulet, tak pantang menyerah, sederhana*, yang tak mampu membangun rumah yang layak. Untuk menarik perhatian, program ini mengikutsertakan artis yang diminta untuk menyelami kehidupan para 'target bedah rumah'. Setelah sehari semalam tinggal bersama mereka, sang bintang tamu akan memberikan hadiah berupa tulisan, yaitu "Selamat! Rumah Anda akan kami bedah" dan sim salabim...dalam waktu yang singkat, hanya beberapa jam saja, rumah yang tadinya tak layak huni menjadi tak sekedar layak huni, tapi juga tampak elegan dengan desain eksterior dan interior yang sangat apik. Sebuah program yang bagus kan ?
Yang membuat saya penasaran adalah...apakah rumah yang telah dibedah itu akan awet mengingat dibangun hanya dalam waktu singkat ? Kemudian, apakah nantinya sang empunya rumah akan sanggup membiayai perawatan rumah dan segala perlengkapannya ? Saya sering memperhatikan, sebelum dibedah mereka tidak memiliki pesawat TV ataupun lemari es, tapi setelah dibedah mereka jadi punya segala macam peralatan elektronik dengan spesifikasi produk yang cukup mewah. Darimana mereka akan membayar tagihan listriknya ya? Dan, saya jadi khawatir bahwa nantinya mereka tidak dapat menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai), yang sempat diributkan oleh partai-partai politik saat kampanye pemilu kemarin, karena dengan tampilan rumah yang bagus mereka akan dicap sebagai kalangan berpunya. Duh...semoga saja hal-hal yang saya kuatirkan di atas sudah dipikirkan oleh penggagas program briliyian ini!
Sayangnya, program ini hanya diadakan di sekitar kota Jakarta saja, tidak menyentuh propinsi lain *atau saya yang tidak tahu ya?* Padahal, jika kita melihat daerah lain, misalnya Merauke *contoh yang sangat gampang karena saya tinggal disini*, ada banyak rumah yang lebih tidak layak huni dibandingkan dengan rumah-rumah yang masuk program bedah rumah. Rata-rata rumah di kabupaten Merauke didirikan atas bantuan pemerintah, terutama rumah untuk masyarakat lokal dan masyarakat transmigran. Memang ada banyak rumah bantuan yang akhirnya berkembang menjadi rumah yang nyaman untuk jadi tempat tinggal, tapi masih banyak juga rumah yang semakin bobrok hingga kondisinya mengkhawatirkan. Rumah-rumah ini terbuat dari papan kayu dengan ukuran sekitar 4x5m dengan kamar mandi dan WC yang terpisah jauh dari rumah. Listrik-pun seringkali tak mereka miliki. Apakah ini bisa disebut layak huni ? Seringkali ketika melewati rumah-rumah tersebut saya tidak percaya bahwa saya masih ada di Indonesia, karena saya terbiasa melihat rumah tembok dengan desain arsitektur yang canggih dan dilengkapi dengan 'isi rumah' yang cukup komplit. *saya harus mengucap syukur berkali-kali setiap kali melihat rumah papan itu*
Duh...kenapa ya program Bedah Rumah tidak diadakan di Merauke juga ?
Yang membuat saya penasaran adalah...apakah rumah yang telah dibedah itu akan awet mengingat dibangun hanya dalam waktu singkat ? Kemudian, apakah nantinya sang empunya rumah akan sanggup membiayai perawatan rumah dan segala perlengkapannya ? Saya sering memperhatikan, sebelum dibedah mereka tidak memiliki pesawat TV ataupun lemari es, tapi setelah dibedah mereka jadi punya segala macam peralatan elektronik dengan spesifikasi produk yang cukup mewah. Darimana mereka akan membayar tagihan listriknya ya? Dan, saya jadi khawatir bahwa nantinya mereka tidak dapat menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai), yang sempat diributkan oleh partai-partai politik saat kampanye pemilu kemarin, karena dengan tampilan rumah yang bagus mereka akan dicap sebagai kalangan berpunya. Duh...semoga saja hal-hal yang saya kuatirkan di atas sudah dipikirkan oleh penggagas program briliyian ini!
Sayangnya, program ini hanya diadakan di sekitar kota Jakarta saja, tidak menyentuh propinsi lain *atau saya yang tidak tahu ya?* Padahal, jika kita melihat daerah lain, misalnya Merauke *contoh yang sangat gampang karena saya tinggal disini*, ada banyak rumah yang lebih tidak layak huni dibandingkan dengan rumah-rumah yang masuk program bedah rumah. Rata-rata rumah di kabupaten Merauke didirikan atas bantuan pemerintah, terutama rumah untuk masyarakat lokal dan masyarakat transmigran. Memang ada banyak rumah bantuan yang akhirnya berkembang menjadi rumah yang nyaman untuk jadi tempat tinggal, tapi masih banyak juga rumah yang semakin bobrok hingga kondisinya mengkhawatirkan. Rumah-rumah ini terbuat dari papan kayu dengan ukuran sekitar 4x5m dengan kamar mandi dan WC yang terpisah jauh dari rumah. Listrik-pun seringkali tak mereka miliki. Apakah ini bisa disebut layak huni ? Seringkali ketika melewati rumah-rumah tersebut saya tidak percaya bahwa saya masih ada di Indonesia, karena saya terbiasa melihat rumah tembok dengan desain arsitektur yang canggih dan dilengkapi dengan 'isi rumah' yang cukup komplit. *saya harus mengucap syukur berkali-kali setiap kali melihat rumah papan itu*
Duh...kenapa ya program Bedah Rumah tidak diadakan di Merauke juga ?
Langganan:
Postingan (Atom)