Tampilkan postingan dengan label merauke. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merauke. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

Three years ago


Sejak saya kecil, saya bercita-cita ingin bekerja di pedalaman Papua-dulu namanya masih Irian Jaya. Sebuah artikel kecil di majalah Kartini tentang seorang dokter perempuan dari Jawa yang dengan penuh semangat pengabdian mengorbankan masa mudanya melayani masyarakat di pedalaman Papua telah menggugah minat saya dan dalam hati kecil saya selalu terucap..."Saya harus seperti dia jika besar nanti, bekerja di Irian Jaya". Dan, rupanya keinginan yang terucap terus menerus dalam hati itu-pun mendapatkan kesempatan untuk terwujud. 

Tiga tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di sebuah perusahaan media, saya mendapat telpon dari HR Manager PT. M****Papua dan meminta saya untuk datang interview. Wow...saya tak merasa melamar kesana tapi kenapa saya dipanggil? Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya. Sambil mencuri-curi waktu ketika mengurus vendor training, saya datang untuk memenuhi panggilan interview tersebut. *maaf mas ogie dan mas chaly...saya mencuri waktunya-membuat pengakuan* Perusahaan yang saya tahu persis adalah perusahaan besar dan terkenal cukup menggetarkan hati saya ketika datang ke kantornya untuk pertama kali dan saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa saya layak untuk mendapat panggilan disana. Bertemu dengan HR Manager yang ternyata adalah seorang ibu yang sangat gesit, tegas dan percaya diri membuat saya minder sesaat. Namun, lama kelamaan minat saya yang besar akan Papua perlahan-lahan mengikis rasa minder saya dan berganti menjadi rasa percaya diri bahwa saya mampu menjawab tantangan yang dilontarkan oleh ibu HR Manager tersebut. Bahkan ketika direktur Finance dan SDM memberikan pertanyaan kepada saya, lebih suka bekerja di Jakarta atau Papua? Saya jawab dengan mantap tanpa keraguan...Papua! Hehehe...mungkin jawaban itulah yang akhirnya membuat saya tidak melalui proses panjang untuk diterima sebagai karyawan. *belakangan saya heran pada diri saya sendiri kenapa bisa seyakin itu dalam menjawab. hehehe...* Bahkan saya-pun melanggar ketentuan perusahaan untuk proses mengundurkan diri satu bulan sebelumnya karena saya sudah tak sabar ingin segera ke Papua. Di kemudian hari, saya menyesali tindakan konyol saya itu (tidak melalui proses one month notice-red.) karena saya merasa melukai hati mantan boss saya yang telah memberikan banyak ilmu untuk saya. Mereka memang tak berkata-kata tapi pesta perpisahan yang dilakukannya ketika saya pergi membuat saya mengerti bahwa mereka menghargai saya dan menyayangi saya. Ikatan emosi yang kuat tak pelak membuat saya merasa berat juga meninggalkan perusahaan lama, tapi apa boleh buat...impian masa kecil di depan mata, tak bisa lagi ditunda untuk terwujud. Saya nyaris menangis ketika mengucapkan kata-kata resign kepada boss saya dan dia benar-benar terkejut karena saya tak menunjukkan tanda-tanda akan hengkang dari situ. Tatapan matanya dan nasehat yang meluncur dari mulutnya benar-benar mengoyak pertahanan batin saya. Satu yang saya ingat dari pesannya, yaitu setiap kali saya merasa ragu, saya harus bertanya pada diri saya sendiri..."What are you looking for?" Dan, it works! Setiap kali saya merasa putus asa dan ingin menyerah ketika berada di Papua, saya langsung teringat pada kata-kata itu. Kata-kata itu bak mantra ajaib yang akan selalu mengembalikan saya ke jalan mimpi saya, memastikan agar saya tak melenceng dari jalur. 

Tanggal 10 Maret 2008, saya resmi bergabung dengan PT. M****Papua dan ditempatkan di Merauke. Pertama kali masuk, saya terkejut bukan main karena ternyata perusahaan ini baru berdiri dan saya-pun termasuk karyawan pioneer. Nomer Induk Karyawan saya-pun masih berbilang puluhan, yaitu no 34. Wedeh...saya salah tangkap rupanya ketika interview. Merasa dibohongi ? Sedikit! Tapi kaki sudah melangkah dan tak bisa menekan tombol backspace, sehingga hambatan harus dilihat sebagai tantangan. Saya ikut menghadiri presentasi para kontraktor yang akan membangun di site Buepe, Merauke tempat perusahaan saya akan beroperasi nantinya dan surprise...ternyata tempatnya masih berupa hutan belantara...belum dibuka sama sekali. Duh! Dan semenjak surprise pertama itu, kejutan demi kejutan lainnya saya terima. Awalnya saya memang sempat pesimis dapat menjalani itu semua karena saya tidak punya pengalaman sebagai HR di site yang notabene akan lebih banyak bersinggungan dengan urusan administrasi dan hubungan industrial. Tapi perlahan lahan saya-pun mulai menemukan kenikmatan bekerja disana. Setiap hari adalah tantangan baru! Teman-teman datang silih berganti, ada yang bertahan *rombongan pertama hanya menyisakan 5 orang termasuk saya*, ada yang tak bisa pergi jauh dari keluarganya dan ada juga yang terlalu takut untuk menjalani kerasnya kehidupan di tanah Papua sehingga hanya bertahan tak lebih dari seminggu kemudian pulang kembali ke Jawa. Jauh dari keluarga membuat teman-teman seperjuangan menjadi keluarga. Saya menemukan sahabat, keluarga baru, bahkan pacar (:p) dan saya sangat bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan untuk merasakan itu semua. Saya juga dapat banyak pengalaman yang tak mungkin saya dapatkan ketika saya memilih tetap bekerja di tempat lama, yaitu berkonflik dengan masyarakat lokal, diancam, didemo karyawan, sampai dengan perubahan management dan politik kantor. Pengalaman-pengalaman yang benar-benar menempa saya untuk semakin kuat dan dewasa...

Tiga tahun sudah saya berada di Papua dan saya masih ingin kembali kesana...membangun tanah Papua dengan kemampuan yang saya miliki...karena itulah mimpi saya!

Happy 3rd anniversary for me...Never Give Up!:p
March 10, 2008 - March 10, 2011

Sabtu, 08 Agustus 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (6)

Saya tidak tahu apakah yang saya alami ini hanya terjadi di kota-kota kecil, seperti Merauke ini ataukah juga terjadi di kota-kota besar, macam Jakarta, tapi yang jelas kejadian ini baru saya alami ketika bekerja di Merauke. Ada seorang karyawan yang sangat gigih memasukkan anggota keluarganya ke perusahaan dengan berbagai macam posisi. Mulai dari perawat, sopir hingga mekanik. Hmmm...oke, itu juga banyak terjadi di perusahaan-perusahaan lain. Tapi, yang buat unik adalah yang memasukkan lamaran hingga memfollow up lamaran adalah istri karyawan yang usianya sudah relatif tua. Sementara anak dan menantunya yang melamar kerja, tak pernah sama sekali nongol di kantor untuk mem-follow up lamarannya. Bahkan pernah suatu kali, saya memanggil si menantu untuk wawancara di kantor...eh...yang datang malahan si ibu mertua a.k.a istri karyawan. Saya tentu saja terkejut dan ketika saya tanya kenapa ibu datang kesini, dia jawab, "Tadi ada panggilan untuk si X tapi kurang jelas, bu. Saya mau tanya kapan dia dipanggil?" Ya ampun! Kenapa tidak si menantu yang datang untuk konfirmasi? Kenapa juga harus ibu mertuanya yang sudah renta yang harus datang tergopoh-gopoh ke kantor untuk bertanya? Apakah sang menantu tidak punya keberanian ? Fiuh...saya rasa karyawan saya dan istrinya telah salah mengambil menantu!
Kemudian, ketika hari wawancara tiba...lagi-lagi si ibu mertua yang datang menemui saya, "Ibu, hari ini tho wawancaranya? Itu si X sudah datang!" Please deh...umur sudah 35 tahun, badan seperti preman, tapi datang wawancara saja diantar oleh mertuanya, padahal rumahnya di belakang kantor. *tuing...ingin rasanya mengospek si menantu agar punya semangat juang*

Masih cerita yang sama tentang si X, si menantu kurang ajar itu. Ketika si X menerima gaji untuk pertama kalinya, dia datang kepada saya untuk bertanya apakah gajinya bisa diambil oleh keluarganya. Tentu saja saya bilang tidak bisa, dan meminta dia untuk membuat rekening di bank rekanan kami. Ternyata, dia punya rekening dan meminta ijin untuk mengambilnya. Tak selang berapa lama, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang menghampiri saya dan mengaku istri si X. Ya ampun...memang parah benar si X ini...selalu sembunyi di balik wanita-wanita perkasa yang membuat hidupnya nyaman. Saya-pun akhirnya menceramahi istrinya bahwa harusnya yang datang menghadap saya itu suaminya sebagai karyawan, bukan keluarganya. *tentu saja dengan gaya ketus khas saya. hehehehe...* Dan, anda tahu...yang diberikan ke saya bukan rekening atas nama sang karyawan alias sang menantu kurang ajar alias si X, tapi rekening istrinya. OMG!

Anak karyawan tidak lebih baik dari si menantu. Yang menyerahkan lamaran ke kantor adalah ibunya dan ibunya pula yang setia menyatroni kantor nyaris tiap hari untuk menanyakan perkembangan lamaran anaknya. Duh...ibu, harusnya anda duduk manis saja di rumah...biarkan para lelaki Anda yang bekerja keras membanting tulang, karena itulah gunanya Anda memiliki anak laki-laki! Saya-pun jadi bertanya-tanya dan menduga bahwa ada yang salah pada cara membesarkan anak di keluarga karyawan itu karena tidak saja anak dan menantu yang membuat si ibu harus bolak-balik ke kantor, tapi juga sang suami. Istri karyawan ini sering bolak balik ke kantor untuk mengurus keperluan kerja suaminya, mulai dari mengurus kredit motor sampai mengurus kartu jamsostek. Hmmm...tak terbayangkan jika keluarga itu nanti kehilangan si ibu! *mudah-mudahan si ibu diberikan kesehatan dan umur panjang*
Tapi, ada hikmahnya juga si buat saya karena sering berhubungan dengan si ibu. Saya diberi souvenir berupa gantungan kunci dan miniatur rumah semut. Yipie!



Kamis, 18 Juni 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (5)

Beberapa hari yang lalu saya mengalami suatu kejadian yang tak mengenakkan hati. Belum juga jarum jam menunjukkan pk. 10.00 WIT, di tengah-tengah hiruk pikuk karyawan yang akan berangkat ke site, saya didatangi kembali oleh seorang pelamar yang selama berbulan-bulan setia menyatroni kantor saya dan sempat sebulan ini menghilang ke Tanah Merah. Jika biasanya ia hanya setia duduk berjam-jam di ruang tamu menunggu lamarannya diproses, kali ini dia datang langsung masuk ke kantor saya dan marah-marah. Rupanya ia sudah kehilangan kesabaran meskipun saya bilang bahwa saya telah memanggilnya untuk diseleksi, tapi saat saya panggil dia sedang berada di Tanah Merah. Dan, dia tetap ngotot menuduh saya tidak memprosesnya. Duh!

Dia memaki-maki saya sambil mengeluarkan kata-kata binatang dan kata-kata jorok lainnya yang sungguh sangat menyakitkan hati. Dia masih menambahi juga dengan ancaman bahwa dia akan mencelakakan saya di jalan dan juga merekam seluruh pembicaraan saat itu. Terakhir, dia membanting map lamarannya di depan muka saya. Bohong jika saya baik-baik saja menghadapi pelamar ini karena meskipun saya memasang muka dingin dan menatap matanya terus, hati saya berdegup kencang. Saya takut jika ia bertindak nekat dan membahayakan nyawa saya, apalagi saat itu saya hanya berdua saja dengan pelamar itu di ruangan. 15 menit berlalu dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda amarahnya. Polisi yang menjaga kantor akhirnya masuk karena mendengar suara ribut-ribut di ruangan saya, tapi sang pelamar baru bisa tenang setelah marah-marah selama 30 menit.

Ketika dia sudah agak tenang, saya ganti menggertak dia *sifat tak mau mengalah saya muncul dalam keadaan tertekan* Saya berikan dia sebuah kesempatan untuk menjadi sopir dump truck di site, tapi saya bilang bahwa penilaian saya terhadap dia sudah berkurang dengan sikapnya tersebut. Pelamar yang tadinya memaki-maki saya akhirnya sibuk memberikan penjelasan atas sikapnya dan meminta maaf. Hehehehehe...dalam hati saya bangga juga pada diri sendiri karena berhasil menghadapi situasi 'genting' dengan tenang, padahal saya biasanya adalah pribadi yang mudah tersulut emosinya.

Esok lusanya, dia siap naik ke site. Dan ketika saya memberikan surat pengantar untuknya, ia memberikan sebongkah emas putih seukuran kelereng untuk saya. Saya terhenyak tapi tak perlu berpikir lama untuk menolak pemberiannya. *lamaran kerja saja dia minta kembali apalagi emas* Saya ingin menunjukkan pada pelamar tersebut, bahwa saya bekerja mengikuti aturan dan tak mau menerima imbalan atas pekerjaan yang memang sudah seharusnya saya lakukan. Mudah-mudahan saja si bapak pelamar itu benar-benar memegang janjinya untuk bekerja dengan sungguh-sungguh dan tidak akan membuat keributan.


Selasa, 26 Mei 2009

Nonton Road Race

Akhirnya...setelah beberapa hari saya ribut di Facebook mencari dukungan untuk nonton road race, saya berkesempatan nonton juga di hari Minggu, 24 Mei 2009 nan panas. Berbekal topi dan kamera, saya dengan semangat 45 meluncur menuju Jl. Raya Mandala yang telah diubah menjadi sirkuit dadakan, padahal saat itu suhu badan saya sedikit tinggi karena terserang flu. Saya tiba di arena balap pk. 14.00 dan jalanan sudah padat dengan penonton yang tampak antusias melihat event yang diselenggarakan setahun sekali di Merauke ini. Jalanan di Merauke sebenarnya jauh dari layak untuk dijadikan sebagai arena adu kecepatan karena jalannya tak mulus dan bergelombang tapi rupanya itu jadi tantangan tersendiri bagi pembalap.

Saya melewatkan satu seri balapan ketika menemukan tempat yang nyaman untuk menonton. Sebenarnya saya mengincar lokasi menonton di tikungan tapi karena datang terlambat, tikungan-pun sudah habis dilibas oleh penonton yang haus hiburan. Saya-pun cukup berpuas diri menonton di trek lurus. Saya sebelumnya tak tertarik pada even-even yang melibatkan banyak orang seperti itu, tapi road race yang cuma diadakan 1 tahun sekali ini merupakan hiburan tersendiri bagi saya, seperti halnya menonton karnaval kemerdekaan karena tak banyak hiburan yang bisa dinikmati di kota paling timur Indonesia ini. Jadi, motivasi saya menonton road race bukan karena saya hobby olahraga otomotif tapi karena saya tak punya pilihan hiburan lain.

Menonton road race sama seperti menonton karnaval, tak ada pembatas antara peserta balapan dan penonton. Ngeri juga menyaksikan banyak anak-anak kecil tanpa pengawasan dari orang tua atau orang dewasa yang ikut menonton road race. Mereka belum mengenal bahaya sehingga sering kali mereka terlalu ke tengah jalan ketika balapan berlangsung. Untung saja, polisi tanpa kenal lelah selalu menghalau penonton-penonton yang nakal melongok bahaya. Balapan usai menjelang sore hari. Di tengah-tengah pembalap melakukan victory lap, penonton sudah semburat bubar jalan sehingga tak ayal pembalap yang masih berkendara dengan kecepatan cukup tinggi harus mengerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan penonton. Sungguh tontonan yang menarik sekaligus sarat dengan bahaya!

Road race-pun usai-pemenang lomba berdiri dengan gagah di atas tribun kemenangan dan penonton puas karena telah diberikan suguhan atraktif dan mendebarkan jantung. Tapi, road race masih menyisakan pekerjaan bagi pekerja jalanan, yaitu sampah. Kesadaran yang rendah akan kebersihan lingkungan *tak ada satupun tempat sampah di jalan-jalan merauke* membuat arena balap yang notabene adalah jalan raya menjadi tempat sampah raksasa. Botol-botol minuman dan pembungkus makanan-pun menghiasi jalanan hingga hari senin menjelang.

Foto-foto road race dapat dilihat di blog saya yang ini.


Selasa, 05 Mei 2009

SOTA-Sebuah perbatasan Republik Indonesia & Papua New Guinea




Perbatasan RI - PNG di Merauke terletak di distrik Sota. Tugu perbatasan dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor selama 2 jam dari kota Merauke. Tugu perbatasan belum dikelola secara maksimal, sehingga kurang memberikan kepuasan kepada pengunjungnya. Tapi, tak ada salahnya jika ingin berkunjung ke batas akhir negara tercinta Indonesia ini! Enjoy the picture!

Pola Wisata di Merauke

Beberapa hari disibukkan oleh pekerjaan yang seolah-olah tak ada hentinya *pura-pura sibuk mode on*, akhirnya saya berkesempatan refreshing juga. Hari Minggu kemarin, saya dan rekan-rekan satu departemen berwisata bersama memanfaatkan moment kunjungan seorang petinggi HR dari Jakarta. Tujuan wisata kali ini adalah Sota, yaitu daerah perbatasan Indonesia-Papua New Guinea. Saya pernah berkunjung ke Sota beberapa bulan yang lalu, dan berniat tidak akan kesana lagi alias kapok, karena pengalaman yang didapat disana tidaklah sebanding dengan perjalanannya yang cukup lama, yaitu sekitar 1,5 jam dari kota Merauke. Perbatasan RI-PNG di Merauke yang terletak di distrik Sota sangatlah sepi dan tidak menarik karena tak ada atraksi, fasilitas wisata ataupun pemandangan yang indah-sangat jauh berbeda dengan perbatasan RI-PNG yang terletak di Jayapura. Sepanjang perjalanan menuju perbatasan juga cukup monoton, yaitu hamparan pepohonan eukaliptus dan rawa, sehingga membuat saya sering tertidur dalam perjalanan. Hoam...! Namun karena objek hiburan di Merauke sangatlah terbatas, objek yang kurang menarik macam Sota-pun laris manis dikunjungi oleh wisawatawan lokal. Sesampainya saya disana, sudah ada beberapa rombongan yang duduk-duduk berpiknik di taman yang dikelola oleh para tentara perbatasan. O ya, jika Anda berminat datang kesana jangan lupa melapor ke pos tentara yang terletak tak jauh dari tugu perbatasan. Cukup meninggalkan KTP saja!
Foto-foto perbatasan RI-PNG di Sota dapat dilihat disini.

Jika kita menuju Sota, maka kita akan melewati kawasan Taman Nasional Wasur. TN Wasur adalah daerah konservasi yang melindungi berbagai species khas Merauke, baik hewan maupun tumbuhan. Disini akan dijumpai banyak kangguru, anggrek, dan tak ketinggalan adalah rumah semut-sebuah fenomena alam yang hanya bisa dijumpai di Merauke dan Afrika Selatan. Saya belum pernah berkunjung secara khusus ke TN Wasur ini karena dulu saat saya berkunjung ke Sota, tidak ada seorang-pun yang berjaga di posnya. Kemarin, kami sungguh beruntung karena TN Wasur sedang 'hidup', jadi ada penjaga yang siaga di pos. Dengan Rp. 2.000, kami diijinkan masuk ke dalam pusat informasi TN Wasur yang berbentuk seperti rumah semut, sebuah hasil seni arsitektur yang indah. Tapi, ternyata pusat informasinya hanya berisi poster-poster berisi himbauan menyelamatkan hutan, penjelasan tentang flora fauna di Merauke, pakaian adat dan silsilah suku-suku besar di Merauke. Tak ada diorama ataupun film yang dapat membuat pengunjung takjub. Sungguh sangat disayangkan...dengan potensi alam yang cukup kaya, TN Wasur sebenarnya bisa membuat suguhan-suguhan atraktif untuk menarik minat pengunjung guna menambah income sekaligus mengenalkan cara-cara menyelamatkan lingkungan. Namun mulai minggu kemarin, TN Wasur sudah berbenah diri dengan membuka wahana outbound sebagai sarana rekreasi warga sekitar Merauke. Bekerja sama dengan Tim SAR, wahana outbound dibuka dengan biaya masuk Rp. 20.000/orang-mudah mudahan minggu depan saya berkesempatan mengunjunginya.
Foto-foto TN Wasur saya tampilkan di blog saya yang lain.

Biasanya orang-orang ke Wasur untuk berenang di kolam pemandian yang tak jauh dari pusat informasi. Lokasi pemandian sebenarnya seperti danau di tengah rawa-rawa yang kemudian oleh pengelola TN Wasur dibangun beberapa gazebo di atasnya sehingga nyaman untuk dijadikan tempat berwisata bagi keluarga. Tapi, hati-hati jika berenang disana karena beberapa waktu yang lalu katanya pernah ada yang terbelit akar pepohonan hingga akhirnya tenggelam dan tak bisa diselamatkan. Setelah puas berendam di kolam pemandian, biasanya warga Merauke akan menyerbu pantai Lampu Satu yang terletak di kota Merauke untuk menyaksikan balapan liar di pantai. Pantai sepanjang kurang lebih 2 km akan dijadikan ajang memacu kecepatan dan memompa adrenalin oleh pemuda-pemuda Merauke setiap hari Minggu atau hari libur karena mereka tak memiliki area yang layak untuk menyalurkan hobby. Sebuah pola wisata yang sangat monoton karena Merauke minim objek wisata dan public area yang nyaman.


Terhibur oleh balapan motor liar di pantai Lampu Satu

Foto diambil dari dokumentasi pribadi

Jumat, 17 April 2009

Rumahku Istanaku

Semalam, saya melihat program yang cukup bagus di RCTI, yaitu program Bedah Rumah. Program ini ditayangkan setiap hari Kamis dan Jumat, pk. 18.15 WIT. Program ini bertujuan untuk menyentuh rasa kemanusiaan para pemirsanya, karena dalam program ini akan disajikan sebuah potret kehidupan dari orang-orang yang terpinggirkan dimana mereka adalah orang-orang yang sangat miskin namun berhati emas *tekun, ulet, tak pantang menyerah, sederhana*, yang tak mampu membangun rumah yang layak. Untuk menarik perhatian, program ini mengikutsertakan artis yang diminta untuk menyelami kehidupan para 'target bedah rumah'. Setelah sehari semalam tinggal bersama mereka, sang bintang tamu akan memberikan hadiah berupa tulisan, yaitu "Selamat! Rumah Anda akan kami bedah" dan sim salabim...dalam waktu yang singkat, hanya beberapa jam saja, rumah yang tadinya tak layak huni menjadi tak sekedar layak huni, tapi juga tampak elegan dengan desain eksterior dan interior yang sangat apik. Sebuah program yang bagus kan ?

Yang membuat saya penasaran adalah...apakah rumah yang telah dibedah itu akan awet mengingat dibangun hanya dalam waktu singkat ? Kemudian, apakah nantinya sang empunya rumah akan sanggup membiayai perawatan rumah dan segala perlengkapannya ? Saya sering memperhatikan, sebelum dibedah mereka tidak memiliki pesawat TV ataupun lemari es, tapi setelah dibedah mereka jadi punya segala macam peralatan elektronik dengan spesifikasi produk yang cukup mewah. Darimana mereka akan membayar tagihan listriknya ya? Dan, saya jadi khawatir bahwa nantinya mereka tidak dapat menerima BLT (Bantuan Langsung Tunai), yang sempat diributkan oleh partai-partai politik saat kampanye pemilu kemarin, karena dengan tampilan rumah yang bagus mereka akan dicap sebagai kalangan berpunya. Duh...semoga saja hal-hal yang saya kuatirkan di atas sudah dipikirkan oleh penggagas program briliyian ini!

Sayangnya, program ini hanya diadakan di sekitar kota Jakarta saja, tidak menyentuh propinsi lain *atau saya yang tidak tahu ya?* Padahal, jika kita melihat daerah lain, misalnya Merauke *contoh yang sangat gampang karena saya tinggal disini*, ada banyak rumah yang lebih tidak layak huni dibandingkan dengan rumah-rumah yang masuk program bedah rumah. Rata-rata rumah di kabupaten Merauke didirikan atas bantuan pemerintah, terutama rumah untuk masyarakat lokal dan masyarakat transmigran. Memang ada banyak rumah bantuan yang akhirnya berkembang menjadi rumah yang nyaman untuk jadi tempat tinggal, tapi masih banyak juga rumah yang semakin bobrok hingga kondisinya mengkhawatirkan. Rumah-rumah ini terbuat dari papan kayu dengan ukuran sekitar 4x5m dengan kamar mandi dan WC yang terpisah jauh dari rumah. Listrik-pun seringkali tak mereka miliki. Apakah ini bisa disebut layak huni ? Seringkali ketika melewati rumah-rumah tersebut saya tidak percaya bahwa saya masih ada di Indonesia, karena saya terbiasa melihat rumah tembok dengan desain arsitektur yang canggih dan dilengkapi dengan 'isi rumah' yang cukup komplit. *saya harus mengucap syukur berkali-kali setiap kali melihat rumah papan itu*
Duh...kenapa ya program Bedah Rumah tidak diadakan di Merauke juga ?

Foto diambil di Muara Bian.
Rumah di atas masih termasuk dalam kategori rumah papan yang cukup besar dan layak di Merauke


Selasa, 14 April 2009

Air Hidup

Beberapa hari ini, saya tertarik mengamati sekumpulan laki-laki yang menimba air dari sumur di pinggir jalan. Sebenarnya ketertarikan saya akan aktivitas mereka sudah sejak dulu, tapi baru terjawab ketika hari libur kemarin di rumah salah seorang teman. Mereka menggunakan jasa para lelaki perkasa ini untuk mensuplai air yang digunakan untuk menyambung hidup sehari-hari, seperti memasak, mandi, dan lain-lain. Dan, harga yang harus dibayar untuk 13 jerigen air ini tergantung dari jarak tempuh sang lelaki perkasa dari sumber air ke rumah-rumah pelanggannya. Teman saya, yang rumahnya berjarak sekitar 4 km dari sumber air harus merogoh kantongnya agak dalam untuk mengeluarkan uang Rp. 40.000. Harga yang sangat mahal untuk air, tapi apa daya...yang dibeli bukan saja air tapi juga tenaga para lelaki perkasa yang menyusuri jalanan aspal panas dengan kaki telanjang.

Air memang sumber kehidupan, tapi saya baru benar-benar menyadarinya ketika berada di Merauke. Topografi Merauke yang berupa dataran rendah dan nyaris dipenuhi oleh rawa menyebabkan Merauke mengalami kesulitan untuk menyediakan air bersih bagi penghuninya. Di beberapa tempat, air tidaklah sulit didapat, tapi ternyata tak layak untuk dikonsumsi karena airnya asin. Ini terjadi di daerah-daerah pinggiran pantai, seperti rumah teman saya. Di tempat-tempat yang bukan pinggiran pantai dan punya sumber air yang baik-pun, tak menjamin airnya layak untuk dikonsumsi, sehingga jasa penyediaan air minum galon-pun laris manis. Di musim hujan, para lelaki perkasa akan sejenak beristirahat karena para pelanggannya memilih untuk menampung air hujan yang tercurah dari langit dalam bak-bak penampungan sehingga mereka bisa berhemat.

Air memang sumber kehidupan. Di Merauke, saya baru menyadari arti penting air dan lebih menghargai jasa orang-orang perkasa yang telah berjalan ribuan kilometer untuk mensuplai air. Sungguh suatu profesi yang mulia dan tak akan pernah lekang oleh waktu, kecuali Indonesia sudah memiliki teknologi canggih untuk menyediakan air bersih dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakatnya.




Sabtu, 11 April 2009

Pemilu....oh....Pemilu

Pemilu akhirnya datang lagi setelah 5 tahun berlalu sejak tahun 2004. Pemilu kali ini saya cukup bersemangat untuk berpartisipasi karena alasan-alasan eksternal, yaitu ini pemilu pertama saya di daerah Indonesia Timur jadi saya ingin ikut merasakan situasinya, dan kedua...saya ingin mencoba menggunakan kamera baru saya untuk memotret momen-momen khusus. Hehehehe...alasan yang aneh ya ? Saya sendiri tidak terlalu tertarik dengan siapa yang menang karena menurut saya, siapapun pemenangnya tidak terlalu signifikan merubah kehidupan saya.

Jam 10 saya datang ke kantor karena ada janji dengan teman-teman yang tergabung dalam 1 TPS untuk mencontreng bersama. Menurut informasi yang kami peroleh dari OB di kantor, kami terdaftar di TPS 21, yaitu TPS yang terletak di sasana tinju, belakang kantor. Kami-pun bergegas kesana karena menurut informasi, kami harus mendaftar dulu kemudian menunggu untuk dapat panggilan dan saat ini, situasinya sedang antri. Sampai disana, kami memang melihat ada banyak orang tengah antri dan kami sempat bingung tentang tata cara pendaftaran dan pemilihan karena tidak ada keterangan apapun yang ditempel di TPS. Akhirnya, kami iseng melihat DPT yang dipasang di pintu masuk dan...nama kami tidak ada. Weks! Takut bahwa kami kurang teliti melihat DPT karena nama tidak tersusun sesuai abjad, kami menelusuri lagi satu demi satu nama dari berlembar lembar DPT TPS 21 dan nama kami-pun tetap tak ada. Wah...bagaimana ini? Salah seorang petugas TPS menyarankan kami untuk melihat DPT di kantor kelurahan karena disana datanya lengkap. Hmm...untung saja kantor kelurahan letaknya dekat, jadi kami-pun rela menuju ke sana untuk menunaikan kewajiban sebagai warga negara yang baik.

Sesampainya di kantor kelurahan, kami tidak sendiri. Ada banyak orang yang sibuk mencari nama masing-masing di dalam DPT yang ditempel di papan pengumuman kantor kelurahan. Masih tidak percaya nama kami tidak ada di TPS 21, sekali lagi saya mencari nama kami dalam DPT TPS 21 dan daftar itu tetap sama, tidak ada yang berubah-nama kami tetap tidak ada. Fiuh! Akhirnya, saya melirik DPT di sebelah, yaitu di TPS 22. Lembar demi lembar saya susuri hingga ke halaman terakhir dan...nama saya tertera dengan indahnya di urutan 295. Duh senangnya... Saya bisa ikut pemilu di TPS 22! Yang saya heran, kami beralamat di satu rumah tapi berbeda TPS. OB dan istrinya terdaftar di TPS 21, sementara saya dan 4 teman yang lain terdaftar di TPS 22. Ada yang tahu bagaimana cara penyusunan DPT?



Dari kantor kelurahan, kami langsung meluncur ke TPS 22 yang berlokasi di kantor DISPENDA, Merauke, 300 m dari kantor. Sampai disana, TPS sepi, hanya ada para saksi saja. Saya kurang tahu pasti apakah kami yang datang terlambat atau TPS ini memang sepi peminat karena menurut kabar burung, Pemilu kali ini jumlah golput meningkat pesat. Kami langsung mendaftar di petugas pendaftaran dengan menunjukkan KTP masing-masing. Setelah itu, langsung menuju petugas yang memberikan kartu suara. Kami dapat 4 macam kertas suara, entah untuk apa saja, yang jelas warnanya kuning, merah, biru dan hijau. Kami dapat pesan sponsor dari petugas tersebut, "Nanti kalau kertas suaranya robek, kasih kembali ya!"

Setelah mendapat kertas suara, kami langsung menuju bilik pemungutan suara. Yang pertama saya buka ternyata kertas suara untuk perwakilan daerah dan saya bingung karena tidak mengenal sama sekali caleg-caleg yang wajahnya terpampang di kertas suara itu. Beberapa memang pernah saya lihat di poster-poster sepanjang jalan tapi saya tidak yakin dengan reputasinya, jadi saya melewatkan kertas suara perwakilan daerah tersebut dan berniat untuk golput. Kertas berikutnya yang saya buka adalah kertas suara yang memuat nama partai dan calegnya, tapi saya tidak memperhatikan untuk pemilihan mana. Karena saya hanya memilih partai, saya tidak begitu peduli pada caleg-calegnya. Selesai mencontreng, saya kesulitan untuk melipat kertas suaranya! Butuh waktu 1,5 menit untuk menemukan pola lipatan yang benar. Hehehe...lambat banget ya? Tapi, itu hanya berlaku untuk kertas suara pertama saja. Kertas suara kedua dan ketiga saya sudah paham pola lipatan dan letak partai pilihan saya, jadi tidak perlu membuka kertas suaranya lebar-lebar, jadi waktu yang dibutuhkan untuk mencontreng tidak lama. Tapi kerugiannya adalah saya jadi tidak tahu kalau ada cacat di kertas suara itu. Biarlah...! Setelah 3 kertas suara selesai, saya teringat pada iklan yang dibintangi Maudy Kusnaidi, yaitu "PILIH CALEG PEREMPUAN!". Akhirnya, saya buka kembali kertas suara untuk perwakilan daerah dan saya contreng caleg perempuan yang paling 'lokal'. Hehehe...kemakan iklan banget ya? Hidup Perempuan!

Contreng mencontreng-pun selesai, saya kemudian memasukkan semua kartu ke dalam kotaknya masing-masing. Dan, mencelupkan jari di tutup botol tinta pemilu sebagai tanda sudah menggunakan hak pilih. Lup...kelingking saya-pun jadi biru! Sayangnya, petugas di TPS 22 ini kurang sigap dalam menunaikan tugasnya. Saya hampir kelupaan mencelupkan jari, bahkan teman saya sudah pergi dari TPS, baru ingat belum mencelupkan jari dan tak satupun petugas TPS yang mengingatkan padahal botol tinta dijaga oleh petugas tersendiri. Hmm...semoga saja itu adalah kejadian yang tidak disengaja! Selesai memilih, kami-pun pulang ke rumah masing-masing. Hingga saat ini, saya tidak tahu siapa yang tampil jadi pemenang di TPS 22. Epen kah? :)

Senin, 06 April 2009

Suka Duka jadi Rekruter di Pedalaman (1)

Saya adalah seorang praktisi HRD dengan spesialisasi di rekrutmen dan training. Selama 1 tahun ini, saya bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di industri pengolahan kayu dan ditempatkan di Merauke, Papua. Jika anda mendengar kata Papua, apa yang terbayang di benak Anda ? Kalau saya, yang terbayang di benak saya saat pertama kali ditawari bekerja di Merauke adalah kondisi alam yang menantang dan SDM yang kualitasnya jauh tertinggal dari SDM yang ada di Jawa, dan...bayangan saya tepat sekali dengan kenyataan. Ada banyak kisah duka yang menguras emosi dan membuat saya berlinangan air mata, dan hanya sedikit saja kisah suka ketika menjalankan tugas di Tanah Papua tercinta ini. Tapi, saya percaya ini hanya terjadi di awal-awal saja karena proyek perusahaan saya yang masih embrio. Dan jika perusahaan ini terus berkembang dan eksis, saya yakin kisah suka akan lebih banyak menghiasi hari-hari saya dibanding kisah duka. Berhubung peristiwa yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang tidak bisa diulang dan pengalaman adalah guru yang paling baik di dunia, maka saya mencoba untuk menuliskan semua hal yang saya alami-baik suka maupun duka, di blog ini agar bisa menjadi bahan pembelajaran bagi saya di kemudian hari atau bagi siapapun yang membutuhkan.

Kisah pertama saya akan diawali dengan kisah duka. Tiba di Merauke, saya langsung dihadapkan pada job desc yang tidak jelas karena saya adalah satu-satunya HRD di masa itu. Alhasil, saya stress luar biasa di 3 bulan pertama karena saya harus mengerjakan hal-hal yang tidak ada dalam kamus pengalaman saya selama ini. Bahkan, pekerjaan yang biasa saya lakukan-pun tidaklah mudah untuk dilaksanakan karena berbagai kendala. Sebagai seorang rekruter tentu saja tugas utama saya adalah merekrut kandidat yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan serta permintaan user. Langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengerjakan tugas itu adalah mempublikasikan lowongan kerja dan sourcing kandidat dari data yang ada. Langkah awal ini mudah untuk dilakukan meski menggunakan media konvensional, yaitu lewat RRI, dengan biaya Rp. 25.000/siaran. Animo masyarakat-pun cukup bagus, yang terbukti dari banyaknya lamaran yang masuk setelah pengumuman lowongan disiarkan.

Kendala mulai ada ketika langkah kedua rekrutmen dijalankan, yaitu pemanggilan kandidat dan dari sinilah kisah duka saya dimulai!

"Hmmm...kandidat ini sepertinya bisa untuk posisi itu. Panggil ah!" *ini pikiran saya ketika sedang sourcing lamaran*
"Tit..tut...tit...tut...tit...tut...tit...tut...tit...tut...tit...tut" *saya memencet nomer telpon yang tertera di surat lamaran dengan semangat 45*
"
Maaf...nomer yang anda hubungi tidak aktif atau berada di luar jangkauan" *ini adalah jawaban yang saya terima dari seberang sana*
"
Hmm...belum beruntung ni, orang. Coba yang lain ah!" *Saya belum menyerah ketika yang pertama gagal dihubungi*
"Tit..tut...tit...tut...tit...tut...tit...tut...tit...tut...tit...tut" *adegan pemencetan nomer telpon kandidat terulang
"
Truuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuttttttttttttttttttt" *suara di seberang diganti dengan bunyi bising

Dan, adegan di atas terjadi berkali-kali hingga stok lamaran yang bisa dipertimbangkan telah habis di tangan saya. Damn! Apakah orang-orang ini semua HPnya dicuri atau habis masa aktifnya bersama-sama ? Saya-pun menggerutu sendiri! Inilah akibat dari murahnya kartu perdana...membuat konsumen gampang ganti nomer dan akhirnya menyusahkan rekruter seperti saya. Fenomena ini membuat saya tertarik untuk membuat penelitian dengan hipotesa "Semakin murah kartu perdana maka semakin sulit orang mendapatkan rejeki dari perusahaan" Fiuh!

Kendala lainnya adalah...banyak kandidat tidak punya nomer telepon. OMG! Serasa kembali ke tahun 80-an deh! Alhasil, saya terpaksa menggunakan pilihan terakhir, yaitu memakai jasa 'pak pos melayang di udara' alias radio, untuk memanggil kandidat-kandidat yang saya inginkan. Hasilnya...hanya 50% yang mendengar dan datang! Niat gak sih ?????!!!!!!!!@@@@########

Belajar dari pengalaman pertama yang buruk, saya akhirnya memasang berita tambahan setiap kali membuka pengumuman lowongan, yaitu mohon mencantumkan nomer telepon yang bisa dihubungi di surat lamaran! Hasilnya...yang mencantumkan nomer telepon prosentasenya meningkat! Tapi, tidak menjamin bisa dihubungi ketika waktu pemanggilan tiba karena...kartu perdana sangat murah dan sinyal jatuhnya tidak merata! Damn again!

-to be continued-


Kamis, 02 April 2009

Janji Manis

Hari ini ada artikel menarik di Kompas, yaitu tentang janji partai politik. Bukan...saya tak hendak mengkritisi partai itu, tapi saya tertawa getir karena mereka sangat mudah sekali melontarkan kata-kata indah penyejuk hati atau yang lebih dikenal dengan nama janji. Dan, itu bukan hanya dilakukan oleh mereka tapi juga oleh puluhan partai lain. Memang sih tak ada salahnya mengumbar janji manis, apalagi di masa-masa kampanye seperti sekarang karena inilah moment yang tepat untuk melancarkan jurus-jurus menarik hati masyarakat. Tapi...mbok kalau buat janji itu yang realistis! Jika kami menang, maka infrastruktur akan dibangun! Saya jadi bertanya-tanya...beranikah mereka mengucapkan janji manis yang sama di daerah Merauke ? Sanggupkah mereka untuk membangun infrastruktur di Merauke jika mereka menang dengan kondisi infrastruktur Merauke yang seperti sekarang ?


Saya kok sedikit pesimis bahwa mereka mampu melakukannya. Eits! Saya pesimis bukan tanpa dasar lho! Foto di atas adalah foto jalan menuju Jagebob, suatu distrik atau kecamatan di kabupaten Merauke. Jagebob sendiri sudah ada sejak pertengahan tahun 1980-an ketika program transmigrasi masih marak dan ini adalah jalan menuju kampung para transmigran. Coba Anda hitung sudah berapa kali pemilu sejak tahun 1980 ? Dan, siapakah yang keluar sebagai pemenang ? Berhasilkah mereka membangun infrastruktur di Merauke ????

Satu hal lagi yang membuat saya tertawa getir ketika membaca artikel di Kompas tadi :

" Jika ...... menang, perbaikan infrastruktur di Sulteng akan segera dilaksanakan "
Mengapa komitmen untuk membangun bangsa, harus menggunakan syarat ? Kesannya kok tidak ikhlas. Jika partai lain yang menang, apakah lantas mereka tidak mau ikut berpartisipasi membangun bangsa ? Sepertinya Anda semua sudah tahu jawabannya !

Tapi, kita tidak boleh patah arang hanya karena janji yang rasanya terlalu manis dan sekaligus kurang realistis. Bangsa ini maju bukan karena partai ini berhasil membuat itu atau partai itu sukses membangun ini. Bangsa ini maju karena kita-masyarakatnya!

Maukah Anda berpartisipasi membangun bangsa ini ?


Gambar mobil high land yang terjerembab ke dalam lumpur karena jalan yang rusak. Mobil ini sedang dalam perjalanan Merauke-Tanah Merah *foto diambil oleh Nurul-driver angkutan umum penumpang Merauke-Tanah Merah*

Selasa, 07 Oktober 2008

Lebaran di Merauke : Indahnya Pantai Kaiburse

Saya dan teman-teman kantor yang tidak bisa mudik karena tidak dapat jatah cuti memilih menghabiskan waktu libur lebaran dengan berkeliling dari rumah ke rumah kenalan yang jumlahnya tidak seberapa di kota Merauke ini. Berkeliling dari rumah ke rumah ini kami lakukan karena 2 alasan. Pertama, untuk menjalin tali silaturahmi dengan beberapa kenalan baru di tanah rantau dan kedua, mencari makanan untuk mengisi perut yang kelaparan karena ditinggal tukang masak kantor selama hari lebaran.

Hari pertama lebaran, kami habiskan setiap rumah di Merauke yang potensial untuk dikunjungi. Hari kedua, kami memutuskan untuk berkunjung ke mess teman-teman kehutanan di daerah Kurik karena mereka menjanjikan untuk menghidangkan bebek goreng. Maka 3 rombongan diberangkatkan ke Kurik demi mengisi perut yang kelaparan di hari Lebaran, sekaligus bersilaturahmi dan refreshing. Satu bus berisi 17 orang, satu ford ranger berisi 5 orang dan satu inova berisi 8 orang-pun membelah jalanan Merauke menuju Kurik dengan muka 'mupeng' membayangkan lezatnya bebek goreng.

Sesampainya di Kurik, sang empunya rumah terkejut bukan main karena tidak membayangkan akan diserbu oleh banyak orang. Tapi karena motivasi berkunjung bukan hanya sekedar mencari makan, kami tidak terlalu kecewa ketika mengetahui bahwa bebek gorengnya masih hidup alias tidak ada hidangan bebek goreng. Hidangan dari tuan rumah, yaitu ayam goreng dan sate-pun licin tandas disikat oleh tamu-tamu dari Merauke yang sudah berhimpitan dalam kendaraan selama 2 jam. Makanan memang terasa nikmat ketika disantap ramai-ramai di tengah kehangatan sebuah keluarga besar. Tidak penting apa yang kita makan, tapi dengan siapa kita makan!

Puas membuat 'kekacauan' di mess Kurik, kami memutuskan pergi menikmati indahnya pantai di dekat Kurik, yaitu Pantai Kaiburse. Selain ingin menikmati keindahan alam pantai Merauke, kami juga ingin mengetahui suasana lebaran di Pantai Kaiburse yang menurut masyarakat selalu ramai dikunjungi jika lebaran tiba. Sayangnya kami terlambat sampai di Pantai Kaiburse karena panggung hiburannya baru saja usai. Akhirnya untuk mengobati kekecewaan, kami putuskan untuk bermain di pantai sambil hunting foto-foto 'keluarga'.

Inilah hasil jepretan-jepretan fotografer amatir di Pantai Kaiburse !

                              Kamera yang kepencet...hasilnya unik!                              Foto...ambil gambar!                              Pantai ketika surut...bergelombang!
                             
                              Siluet berbagai bentuk tubuh....
  
                              Wajah-wajah di balik kapal karam....

I love my new family!


Selasa, 26 Agustus 2008