Gunung Merapi akhirnya meletus juga, memuntahkan sebagian isi perutnya ke muka bumi pada tanggal 4 dan 5 November 2010 yang lalu. Sebuah peristiwa yang meluluh lantakkan hati banyak orang karena letusannya membuat ribuan orang kehilangan tempat tinggal, harta benda dan bahkan nyawanya. Mbah Marijan, sang tokoh fenomenal penjaga Merapi-pun ikut menjadi korbannya-konon beliau meninggal dalam posisi sembahyang bersujud...sebuah posisi yang mulia ketika maut datang menjemput. Semoga semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan...Selamat Jalan, Mbah !
Bercerita tentang Gunung Merapi dan kehidupan di sekitarnya memang tak akan pernah ada habisnya. Bagi saya, Gunung Merapi tak lagi sekedar gunung tapi sebuah oase untuk menimba kebijaksanaan hidup. Keramahan dan ketulusan penduduk di lereng gunung Merapi selalu membekas dalam benak saya setiap kali saya menjejakkan kaki di sana, entah di belahan Jogja maupun Boyolali *saya belum pernah mengunjungi Merapi dari Klaten*
Tahun 2003, setelah kembali dari lokasi KKN di Wonogiri, saya harus menyusul tim litbang Palapsi di daerah Selo, Boyolali yang sedang melakukan kegiatan pengabdian masyarakat disana. Sebelumnya di tahun 2001, saya yang seperti dituntun oleh alam semesta, menunjuk daerah Selo sebagai daerah untuk melakukan pengabdian masyarakat sebagai salah satu syarat pendidikan lanjutan di Palapsi. Saya memilihnya secara acak, tanpa didasari oleh studi pendahuluan yang mendalam. Sebuah keputusan yang tak pernah saya sesali. Penerimaan penduduk Selo terhadap kami yang notabene adalah sekelompok mahasiswa urakan dan hanya mengejar kesenangan sendiri sungguh di luar dugaan. Pak Carik Selo yang rumahnya kami jadikan base camp tak berkeberatan rumahnya menjadi hiruk pikuk karena kedatangan saya dan rombongan yang berjumlah 10 orang dan tinggal disana selama 3 hari. Anak-anaknya bahkan lengket dengan kami dalam jangka waktu yang singkat. Sajian makanan khas desa Selo-pun tak henti-hentinya diberikan kepada kami. Sungguh sebuah kebaikan yang tulus kepada kami yang bahkan tak tahu harus memberikan apa sebagai imbalan kebaikan hati mereka. Sepanjang jalan ketika kami berkegiatan, penduduk menyapa kami dengan keramahan yang luar biasa, bahkan beberapa muda-mudi desa-pun akhirnya menjadi teman bermain kami. *Thanks to Nungki yang memiliki kemampuan building rapport luar biasa dengan masyarakat*
Kembali ke tahun 2003. Desa Selo kembali menjadi tujuan latihan mengembangkan skill mengabdi pada masyarakat oleh tim Litbang tahun itu. Saya tidak ingat pasti apa tujuan akhir dari kegiatan tersebut, tapi yang jelas salah satu aktivitasnya adalah mengajar di sekolah desa. Kepolosan anak-anak desa Selo membuat kami tak percaya bahwa kami masih ada di belahan bumi Indonesia, bahkan di Jawa. Berbeda sekali kondisinya dengan kami yang dapat mengenyam pendidikan dengan fasilitas lengkap padahal jaraknya tak sampai ribuan kilometer dari tempat tinggal kami dan relatif mudah dijangkau. Yang tertangkap mata saat itu adalah baju seragam dengan emblem bermacam-macam sekolah. Rupanya mereka tak mampu membeli baju seragam sehingga baju yang mereka pakai adalah baju bekas dari sumbangan sekolah-sekolah lain. Meskipun begitu...semangat mereka untuk sekolah luar biasa. Jam 7 kurang, mereka sudah berada di sekolah padahal guru yang mengajar sering kali datang terlambat karena rumahnya jauh di kota. Satu kebiasaan mereka yang membuat saya merasa geli dan lucu adalah mereka berebutan mencium tangan kami dari dahi ke pipi kiri dan kanan dan terakhir ke mulut. Hal itu tak cukup dilakukan sekali, kadang-kadang sampai tiga kali dalam satu kesempatan dan satu anak bisa melakukannya lagi selang beberapa waktu kemudian. Ketika saya tanya...bukannya tadi sudah cium tangan ya? Mereka hanya tersenyum simpul malu-malu.
Meski semua serba terbatas-duduk berhimpitan di bangku sekolah karena ruang kelas yang tak memadai- namun tampak bahwa mereka adalah murid yang pandai. Semua soal yang kami berikan, dapat mereka selesaikan dengan tingkat kesalahan yang sewajarnya. Dan mereka sangat antusias sekali belajar-sebuah pemandangan yang mengharukan dan menampar wajah kami. Fasilitas sekolah yang lengkap membuai kami sehingga sering kali malas untuk belajar dan malah asyik bermain. Suatu ironi jika dibandingkan dengan anak-anak di desa Selo. Mereka sangat tertarik pada pelajaran bahasa Inggris dan juga Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Senang rasanya dapat membantu mereka belajar meski hanya beberapa hari saja. Suatu hari, kami belajar tentang pembagian zona waktu di Indonesia. Saya melontarkan pertanyaan...Jika di Jambi jam 8, maka di Boyolali jam berapa ? Dan, mereka dengan kompak menjawab jam 9. Nah lho? Pertanyaan saya kemudian adalah...Tahu tidak dimana boyolali itu ? Dan tebak...semuanya menggelengkan kepala. Eng i eng...mereka tak tahu bahwa tempat mereka hidup saat ini masuk dalam sebuah wilayah yang bernama Boyolali! Mungkin mereka bukannya tidak tahu, tapi mereka mendadak lupa karena merasa takut dengan ibu gurunya yang cantik tapi galak. Hehehe...
Hari terakhir mengajar adalah hari yang tak akan pernah kami lupakan. Sepanjang pagi, murid-murid bertindak misterius. Mereka sengaja tak ingin mendekati kami dan sembunyi-sembunyi curi-curi pandang malu-malu. Rupanya mereka menyembunyikan sesuatu yang akan membuat kami meneteskan air mata haru setibanya di Jogja. Semua murid membuat surat perpisahan untuk kami dan kami dilarang membukanya sampai nanti ketika tiba di Jogja. Ada yang menangis, ada yang tertawa senang dan ada yang memuja kami ketika saat perpisahan tiba. Yang mengagetkan nama saya dan beberapa teman ditorehkan di jalan...Sungguh mengharukan dan cara yang indah mengekspresikan rasa syukur dan senang atas kehadiran kami.
Tiga jam perjalanan kembali ke Jogja cukup melelahkan, namun kami memiliki semangat baru karena teman-teman kecil kami di SD menularkan semangat dan gairah hidup yang luar biasa. Sesampainya di kampus, kami buka lembar demi lembar surat yang ditujukan untuk kami. Kami tercengang bukan main ketika membuka surat-surat itu. Ada yang berterima kasih, ada yang memuji kami karena cantik, ada yang menyatakan cinta dan ada yang mengkritik. Sebuah luapan perasaan yang tak kami duga akan diungkapkan oleh anak-anak SD. Di surat-surat itu, ada juga kami temukan lembaran uang seribuan cukup banyak. Kami tak tahu apa maksud mereka memberi uang pada kami...apakah sebagai rasa ungkapan terima kasih atau sebagai ungkapan keprihatinan karena kami tak pernah 'jajan' selama berada di sekolah dan hanya bisa memandang murid-murid SD itu membeli berbagai macam penganan dengan air liur menetes. Di tengah kekurangan mereka, mereka masih dapat memberikan jatah uang jajan mereka kepada kami yang notabene lebih berkecukupan daripada mereka. Sungguh sebuah misteri sampai dengan saat ini. Selain uang, ada juga yang memberikan buku tulis kepada kami. Kami tahu betapa bermaknanya buku tulis itu bagi mereka karena kondisi ekonomi yang kurang menguntungkan, sering kali mereka terpaksa menggunakan lagi buku yang sudah dipakai untuk kelas berikutnya. Cukup dengan menghapus tulisan pensil dari kelas sebelumnya...foila...buku dapat digunakan lagi ketika naik kelas. Dan mereka memberikan benda berharganya untuk kami yang sudah jarang menggunakan buku tulis untuk belajar. Sungguh sebuah tindakan yang tak dapat kami mengerti namun membuat kami sekali lagi tertampar. Di tengah kekurangan, mereka berusaha memberikan yang terbaik untuk tamu yang hanya singgah beberapa hari saja. Apakah kita bisa melakukan hal itu pada orang lain, pada orang asing yang sama sekali tak kita kenal ? O ya...salah seorang teman wanita malah mendapatkan hadiah mangkuk cantik! Saya tak bisa berpikir lagi tentang alasan di balik pemberian mangkuk itu...tak terjangkau oleh akal sehat saya.
Ketulusan, keramahan, kebaikan, kedermawanan, dan hidup yang bersahaja adalah pelajaran hidup yang sangat berharga yang saya temui di lereng gunung Merapi. Ada sebuah cinta yang tulus dari masyarakat di lereng Merapi untuk kami...cinta yang akan kami kenang setiap kali melihat gunung Merapi. Semoga cinta itu tak pudar karena letusan Merapi.
*Thanks to pak carik sekeluarga yang bersedia menampung kami, dan pada Sukini-pemudi desa Selo yang tak pernah melupakan kami dan sambutannya yang hangat setiap kali kami datang. Terima kasih Merapi...atas cintamu yang tulus kepada kami...*
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label indonesia. Tampilkan semua postingan
Selasa, 09 November 2010
Minggu, 31 Oktober 2010
Sejumput kenangan untuk Merapi
Indonesia berduka. Dalam rentang waktu yang singkat, bencana datang bertubi-tubi mendera wajah indah Indonesia. Diawali dengan banjir Jakarta, kemudian disusul dengan tsunami Mentawai dan meletusnya Gunung Merapi. Ada apa dengan Indonesia ? Tuhan memang pasti punya rencana yang indah dibalik semua peristiwa alam ini.
Tanpa ingin mengecilkan arti bencana di daerah lain, meletusnya Gunung Merapi menorehkan kesedihan tersendiri dalam lubuk hati saya. Saya dan seperti jutaan orang lain yang pernah tinggal di sekitar gunung Merapi, seperti Jogjakarta, Boyolali, dan Klaten pasti merasakan bencana ini sebagai kesedihan mendalam karena gunung Merapi telah memberikan kenangan tersendiri bagi masing-masing orang yang pernah tinggal di sekitar kakinya yang kokoh menopang tubuh yang sudah renta namun masih tetap aktif menggodok material bumi di perutnya.
Saya pernah melakukan pendakian ke Gunung Merapi pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Setiap pengalaman pendakian memberikan pengalaman tersendiri yang tak akan pernah saya lupakan. Pengalaman pertama pendakian Merapi saya adalah ketika ada even Pendakian Massal bersama PALAPSI. Saat itu, saya hanya sampai Pasar Bubrah saja. Tak kuat dan tak mau mendaki sampai puncaknya. Mendaki gunung bukanlah favorit saya. Pengalaman kedua bersama Merapi adalah ketika saya mengikuti even Pendakian Kartini dimana semua pendakinya adalah wanita, dilakukan pada hari Kartini tahun 2002. Persiapan yang kurang matang membuat kami hanya sampai di Pos 2 saja. Saya dan seorang sahabat terpisah dari rombongan yang lain karena kaki saya yang manja tak kuat mendaki dan kami terjebak dalam badai gunung. Tidur berhimpitan dalam tenda hingga esok menjelang dan gagallah pendakian ke puncak Merapi untuk kedua kalinya. Pendakian ketiga adalah yang paling berkesan dalam hidup saya karena akhirnya setelah 2 kali pendakian gagal, saya akhirnya bisa juga mencium bendera Palapsi di puncak Merapi. Saat itu kami hanya mendaki berdelapan saja. Rasanya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika mampu berdiri di atas puncak Merapi sampai-sampai lupa bahwa harus melakukan perjalanan turun. Meskipun mendaki gunung sulit, tapi saya tak pernah menjumpai cerita yang menyeramkan tentang Merapi, seperti laiknya gunung-gunung lain. Merapi selalu ramah pada setiap pendatang yang ingin merasakan tubuhnya, menikmati keindahan sang Pencipta.
Selain pendakian, saya sudah tak terhitung lagi berapa kali melakukan kegiatan-kegiatan bersenang-senang di lerengnya yang selalu sejuk dan menawarkan kedamaian, apalagi jika pagi menjelang. Kegiatan trekking, baik dalam rangka pendidikan maupun hanya sekedar iseng bersenang-senang nyaris saya lakukan 3-4 kali dalam setahun. Untuk kegiatan trekking, biasanya saya lakukan di daerah Kali Adem dan Bebeng. Titik yang selalu dikunjungi setiap tahun adalah titik 1330. Titik dimana hymne PALAPSI selalu berkumandang dan bendera dibentangkan untuk para pendatang baru PALAPSI. Tersesat, dikejar monyet hutan, dan kaki kram karena harus berhati-hati ketika menuruni lerengnya yang curam adalah pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah hilang begitu mengingat Merapi. Merapi dari berbagai sisi selalu menawarkan pesonanya yang mampu membius setiap pengunjung. Ketenangan, kesejukan dan kedamaian adalah sebuah oase yang ditawarkan Merapi dan akan ditebus dengan harga berapapun oleh orang-orang yang sudah terpikat oleh pesonanya. Ketika memasuki lereng Merapi, segala penat dan lelah seperti luruh karena oksigen tak henti-hentinya membanjiri paru-paru. Mendengarkan suara celoteh burung, gemericik air dan merasakan sejuknya embun telah mengisi energi tubuh menjadi full. Sebuah baterai alami untuk tubuh yang lelah dan penat karena tuntutan hidup sehari-hari.
Terima kasih Merapi...semoga batukmu kali ini cepat sembuh dan kembali menjadi tempat yang menimbulkan berbagai romansa dalam benak setiap orang yang menjadi pemujamu. I'm gonna miss u, Merapi!
-to be continued-
Tanpa ingin mengecilkan arti bencana di daerah lain, meletusnya Gunung Merapi menorehkan kesedihan tersendiri dalam lubuk hati saya. Saya dan seperti jutaan orang lain yang pernah tinggal di sekitar gunung Merapi, seperti Jogjakarta, Boyolali, dan Klaten pasti merasakan bencana ini sebagai kesedihan mendalam karena gunung Merapi telah memberikan kenangan tersendiri bagi masing-masing orang yang pernah tinggal di sekitar kakinya yang kokoh menopang tubuh yang sudah renta namun masih tetap aktif menggodok material bumi di perutnya.
Saya pernah melakukan pendakian ke Gunung Merapi pada tahun 2001, 2002 dan 2003. Setiap pengalaman pendakian memberikan pengalaman tersendiri yang tak akan pernah saya lupakan. Pengalaman pertama pendakian Merapi saya adalah ketika ada even Pendakian Massal bersama PALAPSI. Saat itu, saya hanya sampai Pasar Bubrah saja. Tak kuat dan tak mau mendaki sampai puncaknya. Mendaki gunung bukanlah favorit saya. Pengalaman kedua bersama Merapi adalah ketika saya mengikuti even Pendakian Kartini dimana semua pendakinya adalah wanita, dilakukan pada hari Kartini tahun 2002. Persiapan yang kurang matang membuat kami hanya sampai di Pos 2 saja. Saya dan seorang sahabat terpisah dari rombongan yang lain karena kaki saya yang manja tak kuat mendaki dan kami terjebak dalam badai gunung. Tidur berhimpitan dalam tenda hingga esok menjelang dan gagallah pendakian ke puncak Merapi untuk kedua kalinya. Pendakian ketiga adalah yang paling berkesan dalam hidup saya karena akhirnya setelah 2 kali pendakian gagal, saya akhirnya bisa juga mencium bendera Palapsi di puncak Merapi. Saat itu kami hanya mendaki berdelapan saja. Rasanya tak dapat dilukiskan dengan kata-kata ketika mampu berdiri di atas puncak Merapi sampai-sampai lupa bahwa harus melakukan perjalanan turun. Meskipun mendaki gunung sulit, tapi saya tak pernah menjumpai cerita yang menyeramkan tentang Merapi, seperti laiknya gunung-gunung lain. Merapi selalu ramah pada setiap pendatang yang ingin merasakan tubuhnya, menikmati keindahan sang Pencipta.
Selain pendakian, saya sudah tak terhitung lagi berapa kali melakukan kegiatan-kegiatan bersenang-senang di lerengnya yang selalu sejuk dan menawarkan kedamaian, apalagi jika pagi menjelang. Kegiatan trekking, baik dalam rangka pendidikan maupun hanya sekedar iseng bersenang-senang nyaris saya lakukan 3-4 kali dalam setahun. Untuk kegiatan trekking, biasanya saya lakukan di daerah Kali Adem dan Bebeng. Titik yang selalu dikunjungi setiap tahun adalah titik 1330. Titik dimana hymne PALAPSI selalu berkumandang dan bendera dibentangkan untuk para pendatang baru PALAPSI. Tersesat, dikejar monyet hutan, dan kaki kram karena harus berhati-hati ketika menuruni lerengnya yang curam adalah pengalaman-pengalaman yang tak kan pernah hilang begitu mengingat Merapi. Merapi dari berbagai sisi selalu menawarkan pesonanya yang mampu membius setiap pengunjung. Ketenangan, kesejukan dan kedamaian adalah sebuah oase yang ditawarkan Merapi dan akan ditebus dengan harga berapapun oleh orang-orang yang sudah terpikat oleh pesonanya. Ketika memasuki lereng Merapi, segala penat dan lelah seperti luruh karena oksigen tak henti-hentinya membanjiri paru-paru. Mendengarkan suara celoteh burung, gemericik air dan merasakan sejuknya embun telah mengisi energi tubuh menjadi full. Sebuah baterai alami untuk tubuh yang lelah dan penat karena tuntutan hidup sehari-hari.
Terima kasih Merapi...semoga batukmu kali ini cepat sembuh dan kembali menjadi tempat yang menimbulkan berbagai romansa dalam benak setiap orang yang menjadi pemujamu. I'm gonna miss u, Merapi!
-to be continued-
Kamis, 02 April 2009
Janji Manis
Hari ini ada artikel menarik di Kompas, yaitu tentang janji partai politik. Bukan...saya tak hendak mengkritisi partai itu, tapi saya tertawa getir karena mereka sangat mudah sekali melontarkan kata-kata indah penyejuk hati atau yang lebih dikenal dengan nama janji. Dan, itu bukan hanya dilakukan oleh mereka tapi juga oleh puluhan partai lain. Memang sih tak ada salahnya mengumbar janji manis, apalagi di masa-masa kampanye seperti sekarang karena inilah moment yang tepat untuk melancarkan jurus-jurus menarik hati masyarakat. Tapi...mbok kalau buat janji itu yang realistis! Jika kami menang, maka infrastruktur akan dibangun! Saya jadi bertanya-tanya...beranikah mereka mengucapkan janji manis yang sama di daerah Merauke ? Sanggupkah mereka untuk membangun infrastruktur di Merauke jika mereka menang dengan kondisi infrastruktur Merauke yang seperti sekarang ?

Saya kok sedikit pesimis bahwa mereka mampu melakukannya. Eits! Saya pesimis bukan tanpa dasar lho! Foto di atas adalah foto jalan menuju Jagebob, suatu distrik atau kecamatan di kabupaten Merauke. Jagebob sendiri sudah ada sejak pertengahan tahun 1980-an ketika program transmigrasi masih marak dan ini adalah jalan menuju kampung para transmigran. Coba Anda hitung sudah berapa kali pemilu sejak tahun 1980 ? Dan, siapakah yang keluar sebagai pemenang ? Berhasilkah mereka membangun infrastruktur di Merauke ????
Satu hal lagi yang membuat saya tertawa getir ketika membaca artikel di Kompas tadi :
Tapi, kita tidak boleh patah arang hanya karena janji yang rasanya terlalu manis dan sekaligus kurang realistis. Bangsa ini maju bukan karena partai ini berhasil membuat itu atau partai itu sukses membangun ini. Bangsa ini maju karena kita-masyarakatnya!
Maukah Anda berpartisipasi membangun bangsa ini ?
Saya kok sedikit pesimis bahwa mereka mampu melakukannya. Eits! Saya pesimis bukan tanpa dasar lho! Foto di atas adalah foto jalan menuju Jagebob, suatu distrik atau kecamatan di kabupaten Merauke. Jagebob sendiri sudah ada sejak pertengahan tahun 1980-an ketika program transmigrasi masih marak dan ini adalah jalan menuju kampung para transmigran. Coba Anda hitung sudah berapa kali pemilu sejak tahun 1980 ? Dan, siapakah yang keluar sebagai pemenang ? Berhasilkah mereka membangun infrastruktur di Merauke ????
Satu hal lagi yang membuat saya tertawa getir ketika membaca artikel di Kompas tadi :
" Jika ...... menang, perbaikan infrastruktur di Sulteng akan segera dilaksanakan "Mengapa komitmen untuk membangun bangsa, harus menggunakan syarat ? Kesannya kok tidak ikhlas. Jika partai lain yang menang, apakah lantas mereka tidak mau ikut berpartisipasi membangun bangsa ? Sepertinya Anda semua sudah tahu jawabannya !
Tapi, kita tidak boleh patah arang hanya karena janji yang rasanya terlalu manis dan sekaligus kurang realistis. Bangsa ini maju bukan karena partai ini berhasil membuat itu atau partai itu sukses membangun ini. Bangsa ini maju karena kita-masyarakatnya!
Maukah Anda berpartisipasi membangun bangsa ini ?
Sabtu, 21 Maret 2009
Bangsa over reaction
Hmmm...mungkin saja mereka memang banyak obral janji, tapi kenapa harus dibicarakan terus menerus dan diliput terus menerus seolah-olah hanya dengan berjanji saja, mereka seperti sudah melakukan dosa besar.
Selama saya hidup di Indonesia tercinta ini *sok pernah tinggal di luar negeri* saya jarang sekali mendapati bahwa masyarakat bangsa ini memuji negaranya sendiri, setidaknya melalui media cetak dan elektronik. Yang ada hanyalah cacian, kritikan sepanjang jalan, siapapun yang berkuasa.
Mengapa ya bangsa ini sulit sekali memberikan kata-kata positif bagi bangsanya sendiri, bagi pemerintahnya sendiri ?
Mungkin karena bangsa ini sudah lelah mendapatkan perlakuan buruk. Tapi, bukankah itu sebagian besar karena perilaku mereka sendiri, jadi mengapa harus menyalahkan pemerintah ? Mulai dari perilaku susah diatur, selalu mengharapkan bantuan, malas bekerja, hingga selalu berprasangka buruk kepada orang lain.
Bangsa ini menurut saya selalu berpikiran negatif ! Mungkin hal inilah yang menyebabkan bangsa ini menjadi bangsa yang sulit maju dan selalu over reaction terhadap segala sesuatu, termasuk mengkritisi para caleg yang kampanye. Akhirnya energi habis hanyalah untuk berbalas pantun, saling tangkis menangkis serangan-serangan dan akibatnya...pembangunan yang jadi korban.
Eneg sekali rasanya setiap hari disuguhi tontonan dan sikap yang negatif terus menerus sepanjang hari! Kenapa tidak kita terima saja janji-janji manis mereka karena toh...nanti ada waktunya bagi mereka untuk bekerja mewujudkan janji itu. Jika mereka gagal, pemilu depan tidak perlu kita pilih lagi. Gampang kan ?
Mari kita sukseskan pemilu tahun ini dengan sikap positif demi tercapainya kemajuan bangsa!
I Love U, Indonesia !!
Langganan:
Postingan (Atom)
