Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pekerjaan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Maret 2011

Three years ago


Sejak saya kecil, saya bercita-cita ingin bekerja di pedalaman Papua-dulu namanya masih Irian Jaya. Sebuah artikel kecil di majalah Kartini tentang seorang dokter perempuan dari Jawa yang dengan penuh semangat pengabdian mengorbankan masa mudanya melayani masyarakat di pedalaman Papua telah menggugah minat saya dan dalam hati kecil saya selalu terucap..."Saya harus seperti dia jika besar nanti, bekerja di Irian Jaya". Dan, rupanya keinginan yang terucap terus menerus dalam hati itu-pun mendapatkan kesempatan untuk terwujud. 

Tiga tahun yang lalu ketika saya masih bekerja di sebuah perusahaan media, saya mendapat telpon dari HR Manager PT. M****Papua dan meminta saya untuk datang interview. Wow...saya tak merasa melamar kesana tapi kenapa saya dipanggil? Itu adalah pertanyaan pertama yang muncul dalam benak saya. Sambil mencuri-curi waktu ketika mengurus vendor training, saya datang untuk memenuhi panggilan interview tersebut. *maaf mas ogie dan mas chaly...saya mencuri waktunya-membuat pengakuan* Perusahaan yang saya tahu persis adalah perusahaan besar dan terkenal cukup menggetarkan hati saya ketika datang ke kantornya untuk pertama kali dan saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa saya layak untuk mendapat panggilan disana. Bertemu dengan HR Manager yang ternyata adalah seorang ibu yang sangat gesit, tegas dan percaya diri membuat saya minder sesaat. Namun, lama kelamaan minat saya yang besar akan Papua perlahan-lahan mengikis rasa minder saya dan berganti menjadi rasa percaya diri bahwa saya mampu menjawab tantangan yang dilontarkan oleh ibu HR Manager tersebut. Bahkan ketika direktur Finance dan SDM memberikan pertanyaan kepada saya, lebih suka bekerja di Jakarta atau Papua? Saya jawab dengan mantap tanpa keraguan...Papua! Hehehe...mungkin jawaban itulah yang akhirnya membuat saya tidak melalui proses panjang untuk diterima sebagai karyawan. *belakangan saya heran pada diri saya sendiri kenapa bisa seyakin itu dalam menjawab. hehehe...* Bahkan saya-pun melanggar ketentuan perusahaan untuk proses mengundurkan diri satu bulan sebelumnya karena saya sudah tak sabar ingin segera ke Papua. Di kemudian hari, saya menyesali tindakan konyol saya itu (tidak melalui proses one month notice-red.) karena saya merasa melukai hati mantan boss saya yang telah memberikan banyak ilmu untuk saya. Mereka memang tak berkata-kata tapi pesta perpisahan yang dilakukannya ketika saya pergi membuat saya mengerti bahwa mereka menghargai saya dan menyayangi saya. Ikatan emosi yang kuat tak pelak membuat saya merasa berat juga meninggalkan perusahaan lama, tapi apa boleh buat...impian masa kecil di depan mata, tak bisa lagi ditunda untuk terwujud. Saya nyaris menangis ketika mengucapkan kata-kata resign kepada boss saya dan dia benar-benar terkejut karena saya tak menunjukkan tanda-tanda akan hengkang dari situ. Tatapan matanya dan nasehat yang meluncur dari mulutnya benar-benar mengoyak pertahanan batin saya. Satu yang saya ingat dari pesannya, yaitu setiap kali saya merasa ragu, saya harus bertanya pada diri saya sendiri..."What are you looking for?" Dan, it works! Setiap kali saya merasa putus asa dan ingin menyerah ketika berada di Papua, saya langsung teringat pada kata-kata itu. Kata-kata itu bak mantra ajaib yang akan selalu mengembalikan saya ke jalan mimpi saya, memastikan agar saya tak melenceng dari jalur. 

Tanggal 10 Maret 2008, saya resmi bergabung dengan PT. M****Papua dan ditempatkan di Merauke. Pertama kali masuk, saya terkejut bukan main karena ternyata perusahaan ini baru berdiri dan saya-pun termasuk karyawan pioneer. Nomer Induk Karyawan saya-pun masih berbilang puluhan, yaitu no 34. Wedeh...saya salah tangkap rupanya ketika interview. Merasa dibohongi ? Sedikit! Tapi kaki sudah melangkah dan tak bisa menekan tombol backspace, sehingga hambatan harus dilihat sebagai tantangan. Saya ikut menghadiri presentasi para kontraktor yang akan membangun di site Buepe, Merauke tempat perusahaan saya akan beroperasi nantinya dan surprise...ternyata tempatnya masih berupa hutan belantara...belum dibuka sama sekali. Duh! Dan semenjak surprise pertama itu, kejutan demi kejutan lainnya saya terima. Awalnya saya memang sempat pesimis dapat menjalani itu semua karena saya tidak punya pengalaman sebagai HR di site yang notabene akan lebih banyak bersinggungan dengan urusan administrasi dan hubungan industrial. Tapi perlahan lahan saya-pun mulai menemukan kenikmatan bekerja disana. Setiap hari adalah tantangan baru! Teman-teman datang silih berganti, ada yang bertahan *rombongan pertama hanya menyisakan 5 orang termasuk saya*, ada yang tak bisa pergi jauh dari keluarganya dan ada juga yang terlalu takut untuk menjalani kerasnya kehidupan di tanah Papua sehingga hanya bertahan tak lebih dari seminggu kemudian pulang kembali ke Jawa. Jauh dari keluarga membuat teman-teman seperjuangan menjadi keluarga. Saya menemukan sahabat, keluarga baru, bahkan pacar (:p) dan saya sangat bersyukur bahwa saya diberikan kesempatan untuk merasakan itu semua. Saya juga dapat banyak pengalaman yang tak mungkin saya dapatkan ketika saya memilih tetap bekerja di tempat lama, yaitu berkonflik dengan masyarakat lokal, diancam, didemo karyawan, sampai dengan perubahan management dan politik kantor. Pengalaman-pengalaman yang benar-benar menempa saya untuk semakin kuat dan dewasa...

Tiga tahun sudah saya berada di Papua dan saya masih ingin kembali kesana...membangun tanah Papua dengan kemampuan yang saya miliki...karena itulah mimpi saya!

Happy 3rd anniversary for me...Never Give Up!:p
March 10, 2008 - March 10, 2011

Jumat, 01 Oktober 2010

Open your mind, Sir !

Bekerja di perusahaan yang sekarang sangatlah jauh berbeda iklimnya dengan perusahaan saya sebelumnya. Di perusahaan saya sebelumnya, yaitu perusahaan media terkemuka di Indonesia, iklim intelektualitas sangatlah terasa. Di setiap sudut ruangan selalu berhembus aroma diskusi dan begitu banyak kosakata yang terhambur dari para pekerjanya. Sementara di perusahaan yang sekarang, jangankan diskusi, kosakata yang dipakai-pun sangatlah terbatas pada pekerjaan sehari-hari dan bahasa pergaulan sehari-hari, tak bertambah pengetahuan. Kerinduan akan suasana diskusi-pun tak pelak hadir dalam hati saya setiap waktu. Dulu, saya bisa betah ngobrol panjang lebar dengan supervisor serta manager saya hingga tak terasa waktu berjam-jam terlewati begitu saja. Obrolan bisa mulai dari tentang konsep HRD, psikologi manusia, hingga bergosip tentang para pekerja di kantor. Salah satu keuntungan menjadi HRD adalah bisa membicarakan karyawan lain dengan bebas tanpa merasa bersalah, sedangkan jika departemen lain membicarakan kinerja karyawan lain di luar departemennya bisa dianggap bergosip. He he he... Eniwei, saya betul-betul rindu akan suasana sharing ide seperti dulu. Pengetahuan saya berkembang, sel-sel otak saya-pun dirangsang terus untuk selalu berpikir sehingga otak saya hidup...terasa berdenyut bergairah. Setiap orang punya idenya masing-masing dan bisa menyanggah serta mengkritik ide yang lain dengan bertanggung jawab. Saya paling sering kalah argumen dengan manager saya, dia memang pintar luar biasa. Dia punya berbagai macam sudut pandang sehingga sulit dikalahkan argumennya, tapi dia sedikit kewalahan jika harus berdebat dengan supervisor saya yang 'kutu buku'. Kata-kata indah dan cuplikan-cuplikan teori dari buku-buku tebal dan tokoh-tokoh terkenal-pun meluncur dengan indah dari mulut mereka berdua. It's amazing to hear that...! Perdebatan mereka ibarat dua ksatria yang tengah berperang namun senjatanya bukan pedang, melainkan kata-kata. Kalau sudah begitu, saya yang mengaku gemar membaca selalu tak pernah bisa mengutip atau bahkan mengingat dengan baik siapa membuahkan teori apa atau teori apa dibuat oleh siapa. Jika dibandingkan dengan mereka berdua, saya memang bagaikan bayi baru lahir. Alhasil dengan iklim yang seperti itu, berbagai ide dan konsep-pun lahir dengan mulus dan tak pernah mati. 

Namun keadaan ini berbeda 180 derajat dengan perusahaan saya sekarang. Boss saya adalah tipe pragmatis yang lebih suka menjadi tipe pelaksana daripada konseptor sehingga hanya membuka ruang yang sangat sedikit untuk diskusi panjang lebar. Jangankan ngobrol panjang lebar tentang sesuatu hal, diskusi melalui dunia maya-pun tak terfasilitasi. Alhasil, pengetahuan saya mandeg, saya tumbuh bak katak dalam tempurung. Saya tak tahu apa yang saya lakukan ini memang sudah benar atau masih salah karena saya tak pernah diberikan feed back ataupun kritik yang membangun dan juga tak ada kesempatan untuk membandingkan dengan katak-katak di luar tempurung. Saya seringkali jengkel bukan main kalau ingin mengawali diskusi dengan departemen lain atau sesama rekan kerja dalam tim langsung di-cut oleh atasan saya itu. Menurutnya, diskusi tak ada gunanya. Fiuh! Sungkan untuk mengakui bahwa diri sendiri tak mampu, diri sendiri tak tahu sehingga harus bertanya pada pihak lain, yang mungkin menyebabkan boss saya tak mau membuka ruang diskusi. Yang lebih menjengkelkan adalah boss saya seringkali menolak ide-ide besar untuk perubahan ke arah yang lebih baik jika dirasa itu merepotkan dan kadang kala resistensinya itu adalah sikap yang tak pantas ditunjukkan oleh seorang leader dari departemen yang dituntut untuk selalu dinamis seperti HRD. 

Saya selalu tertantang untuk melakukan segala sesuatu, termasuk bekerja di daerah remote area seperti sekarang. Tapi apa jadinya jika akhirnya sel otak saya mati karena tak pernah mendapatkan stimulus ? Akankah otak saya mati sia-sia di tengah hutan belantara ini ?
Dibutuhkan segera : TEMAN DISKUSI !!!!!

Selasa, 31 Maret 2009

Laporan...laporan...laporan

5 menit yang lalu, saya menerima email dari manager saya di Jakarta. Beliau meminta laporan mingguan.

Dear All,

Sesuai dengan pertemuan di site ,untuk HR report : Daily, Weekly & Monthly

Kita sepakat utk start from tgl 21 Maret, akan ada weekly report terutama utk laporan OT & Premi proyek ,

termasuk evidence atas penyimpangan atas jam kerja/OT ,

if ada Up to today belum ada report ?


Oh tidak...saya paling tidak bisa diminta untuk membuat laporan...dari dulu! Buat saya, laporan terlalu menyita energi dan waktu sedangkan hasilnya kadang tidak sebanding. Apalagi yang sifatnya mingguan! Duh...jangan-jangan waktu hanya akan habis untuk membuat laporan dan gak sempat lagi untuk bekerja. Hehehe....terlalu berlebihan ya ? Tapi, memang sih...kalau bagi saya, membuat laporan adalah hal yang paling memusingkan. Pusing disuruh mengingat-ingat kembali atau membuka arsip hanya untuk membuat laporan!

Saya jadi teringat ketika bekerja di perusahaan sebelumnya, yaitu di perusahaan media cukup terkemuka di Indonesia. Saya suka menunda membuat laporan, alhasil...ketika mau resign dan pindah ke perusahaan sekarang, saya harus berusaha keras menyelesaikan laporan-laporan yang terbengkalai. Saya bukannya tidak bisa membuat laporan tapi entah mengapa energi saya tidak pernah terdistribusi secara merata. Saya senang mempersiapkan segala sesuatu dan melaksanakan apa yang saya rencanakan tersebut, tapi giliran diminta untuk membuat laporannya, terutama laporan kegiatan, saya langsung mati ide. Energi saya melesat tinggi ketika pre dan during kegiatan, dan menukik turun tajam di post kegiatan.

Kesulitan membuat laporan bukan hanya saya alami ketika bekerja saja, tapi sudah sejak kuliah. Ketika saya masih aktif menjadi ketua divisi litbang di sebuah organisasi pecinta alam, bernama PALAPSI, saya sering sekali diminta untuk membuat sebuah kegiatan dalam skala besar dengan konsep yang cukup wah, seperti membuat program kreativitas mahasiswa dengan tema Outbound Training untuk mengurangi Agresivitas Remaja, dan beberapa penelitian kemasyarakatan. Keren kan ? *mode narsis on* Kegiatan-kegiatan tersebut saya lakukan dengan semangat 45, terutama saat pembuatan konsep. Dan, ketika konsep itu diterima dengan tepukan tangan oleh berbagai pihak, saya-pun semangat untuk melaksanakan kegiatan tersebut dengan sempurna. Tapi, seringkali pelaksanaan tak seindah konsep, sehingga ketika diminta membuat laporan, saya tak lagi bersemangat. Hehehe...ini sebenarnya sebuah denial bahwa saya tidak sanggup mengalami kegagalan. Eits...tapi itu tidak hanya dialami oleh saya seorang lho! Teman-teman satu organisasi juga paling malas jika diminta untuk membuat laporan. Gejala apa ya ini ?

Saya pernah di tes di sebuah lembaga psikologi terkenal di Jakarta dalam rangka tes masuk sebuah perusahaan. Mau tahu hasilnya ?

Subjek perlu diyakinkan bahwa tugas yang sifatnya administratif dan pembuatan laporan penting untuk dilakukan dalam sebuah pekerjaan.
Saya jadi curiga...ketidakmampuan saya membuat laporan adalah bawaan orok. Hmm...jika begitu adanya, posisi apa ya...eh...pekerjaan apa ya yang cocok untuk saya ? *garuk-garuk kepala*






Rabu, 25 Maret 2009

Pintu Emosi

Hari ini, saya kembali dikejar-kejar oleh pelamar yang ngototnya setengah mati untuk minta diterima sebagai karyawan. Duh...! Saya sudah sangat lelah berkali-kali menolaknya, mulai dari cara halus sampai kasar. Hari ini saya tidak mau menemuinya karena saya sadar sepenuhnya bahwa kondisi emosi saya sedang tidak dalam kondisi yang bagus karena dikejar banyak sekali deadline sehingga jika dipaksakan bertemu dengan pelamar tersebut, bisa dipastikan saya akan meledak dan akan menambah masalah.

Akhirnya, saya memutuskan untuk melarikan diri. Sayangnya, teman-teman hari ini kurang kooperatif. Mereka tidak mau menyampaikan pada pelamar tersebut bahwa saya tidak ada di tempat, malahan meminta saya untuk menemui si pelamar yang katanya sudah marah-marah. Tapi, saya tidak peduli. Saya akhirnya lari ke kamar seorang teman di mess yang letaknya jadi satu dengan kantor. Satu jam saya nongkrong di kamar itu bersama teman yang juga sama-sama melarikan diri dari kejaran para debt collector. Saya memberanikan diri keluar dari kamar ketika istirahat makan siang karena saya kelaparan dan yakin bahwa situasi sudah aman. Dan, tepat seperti dugaan saya bahwa pelamar itu akhirnya pergi seperti yang sudah-sudah. Tapi hari Jumat ini dia akan kembali karena saya berjanji melalui receptionist bahwa atasan saya akan menemuinya hari Jumat. Hmmm...bagaimana ya kira-kira tanggapan atasan saya tentang hal ini ? Sungguh...saya ketakutan pada orang ini karena dia nyaris tiap hari ke kantor untuk minta diterima bekerja dan ini membuat saya merasa tidak nyaman, tidak bisa bergerak dan merasa terancam. Apa hari Jumat saya bolos saja ya ?

Sementara saya ketakutan dan cemas akan keselamatan saya, lagi-lagi teman-teman kantor kurang kooperatif. Mereka membuka pintu penghubung antara kantor dan ruang tamu, tanpa menutupnya kembali sehingga membuat saya jadi deg-deg plas. Saya takut jika pelamar itu melihat keberadaan saya di kantor dan memaksa untuk bertemu. Saya tidak berani membayangkan seandainya hal itu terjadi. Benar-benar membuat senewen! Urusan pintu ini membuat saya sulit konsentrasi bekerja karena posisi duduk saya memang pas sekali menghadap ke pintu. Melihat kondisi ini, saya jadi tidak sabar untuk segera mendapatkan mess baru sehingga bangunan yang sekarang dibagi untuk kantor dan mess dapat digunakan seluruhnya untuk kantor. Jika hal ini terjadi maka saya akan punya ruangan sendiri yang jauh dari pintu yang membuat emosi alias pintu penghubung kantor-ruang tamu.
Dan, saya tidak sabar menunggu hari itu tiba.

Apakah hari ini Anda merasa tidak aman seperti saya dan merasa emosi pada sebuah pintu ?

Senin, 23 Maret 2009

Menanggung Resiko Pekerjaan

Setahun bekerja di Merauke, membuat saya menjadi bersentuhan dengan bahaya karena pekerjaan. Sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya akan saya alami karena di pekerjaan saya di 2 perusahaan sebelumnya, nyaris tidak ada bahaya yang jelas mengancam seperti sekarang.
Saat ini, saya bekerja sebagai seorang supervisor SDM di sebuah perusahaan swasta bonafied yang sedang membuka usaha baru di Merauke. Sebagai seorang supervisor SDM, tugas saya adalah merekrut tenaga kerja, membuat program pelatihan, mengurus gaji karyawan, dan mengerjakan hal-hal lain yang tidak termasuk dalam job desc di kontrak kerja tapi ternyata lebih banyak menyita waktu dan emosi, seperti mengurus rumah, mobilisasi karyawan dari kantor Merauke ke site kerja. Fiuh...!

Rekrutmen sudah saya tekuni sejak saya pertama kali terjun ke dunia industri 3 tahun yang lalu, jadi seharusnya saya mampu menangani pekerjaan ini dengan mudah. Tapi di Merauke, pekerjaan ini menjadi momok bagi saya karena membuat saya berkali-kali harus berhadapan dengan bahaya secara langsung, mulai dari didemo masyarakat hingga teror telpon. Bahkan ada yang pernah mengancam akan mencegat saya di tengah jalan. Ancaman-ancaman ini pulalah yang membuat saya tidak berani keluar kantor, tidak berani naik angkot, dan akhirnya membeli sepeda motor, serta mengganti nomer HP yang sudah setia menemani saya dari tahun 2000.

Banyak teman sebenarnya sudah mengingatkan tentang resiko bekerja di daerah pedalaman, tapi karena saya sangat ingin bekerja di luar Jawa, maka resiko-resiko itu dulu saya abaikan ketika mengambil keputusan pindah kerja. Bekerja di daerah Indonesia Timur memiliki tantangan tersendiri karena SDMnya memiliki kualitas yang jauh dari SDM di Jawa (lebih rendah) tapi dituntut untuk dapat melakukan hal yang sama. Mengapa kualitas mereka jauh dibandingkan dengan SDM di Jawa ? Kita bahas di tulisan yang lain ya...
Sifat kedaerahan masih sangat terasa di sini, sehingga sangat sulit menerapkan rekrutmen 'modern', alhasil jika kita tidak berhasil memuaskan hati SDM pencari kerja disini maka bersiap-siaplah menghadapi teror. Awal-awal saya masih sangat sabar dan selalu memasang muka manis pada setiap pencari kerja, tapi lama kelamaan sikap mereka membuat saya merasa tidak nyaman dan akhirnya kehilangan kesabaran karena mereka tidak pernah mau menerima penjelasan dari saya dan terus merongrong saya untuk diterima bekerja. Sesekali, jika pikiran sedang waras, saya merasa bersalah juga pada mereka karena selalu memasang muka ketus jika mereka bertanya. Mencari kerja dan menuntut pekerjaan kan sebenarnya sah-sah saja dilakukan apalagi di tengah kondisi krisis begini, tapi mengapa saya harus menanggapinya dengan keras. Saya jadi bertanya-tanya apakah saya yang kurang sabar ya ?

Tapi sekarang ini, pikiran saya sedang tidak waras sehingga saya memutuskan untuk cuek. Telepon berdering seratus kali atau sms-sms berebutan memasuki inbox saya hingga penuh, saya tidak mau menggubrisnya sama sekali. Lebih baik mengabaikan daripada menanggapi karena saya merasa sudah lelah. Bobot tubuh saya berkurang, saya sering mengalami psikosomatis, nafas saya sesak...sepertinya memang sudah waktunya untuk mengambil cuti!

Ini adalah sms terakhir yang saya terima hari ini dan tentu saja yang termasuk saya abaikan :
"Maaf klu mnganggu aktifitas anda.sbnrx kmi hnya pngen tau soal kerjaan aj, klu saja msh ad. jauh2 aku mnta nmr hp anda tpi cma sia2 aku telp gk di angkt aku sms gk d bls, ap sbgtu brk skali org miskin sprti kmi ini di mata anda. cuma untk bls sms aj and tdk mau, org mskn mcm kmi in udh gk da artix ya bu."
Orang ini meminta pekerjaan yang sudah dia campakkan karena tidak sesuai dengan keinginannya, tapi belakangan dia meminta untuk dipekerjakan lagi karena katanya dia tidak punya penghasilan. Duh....!

Apa ya yang harus saya lakukan ?