Jumat, 10 September 2010

Semangat Lebaran

Tahun ini merupakan tahun pertama saya merayakan Lebaran di site setelah dua tahun lebaran di kota Merauke. Sungguh teramat sepi...! Di kota Merauke saja suasana terasa sepi, beda dengan di Jawa, apalagi di site. Pagi-pagi, teman-teman yang merayakan lebaran yang jumlahnya-pun tak seberapa berbondong-bondong *terlalu hiperbolis sebenarnya menggunakan kata berbondong-bondong mengingat jumlahnya tak sampai 30 orang* ke mesjid untuk menunaikan sholat Ied. Sementara saya bisa ditebak...bangun kesiangan! Jam setengah sembilan saya baru bangun. He he he... bangun siang adalah hal yang tak bisa saya lakukan kalau lebaran di Jawa, apalagi di tempat simbah. Berani bangun lewat jam 6 saja, pasti sudah kena omelan karena anak cucu yang tidak ikut sholat Ied harus menyiapkan berbagai hidangan untuk tamu-tamu simbah yang banyak sekali jumlahnya plus membersihkan rumah agar tampak kinclong sedikit. *sebuah ritual yang sebenarnya melelahkan tapi selalu dirindukan jika tak dilakukan* Saya sudah 3 tahun tidak berlebaran di rumah simbah dan tidak menginjakkan kaki di Jawa-sudah seperti bang Thoyib. Buat saya yang masih single *mudah-mudahan tahun depan sudah double:p* dan memang sebenarnya tidak merayakan lebaran mungkin tak terasa menyakitkan, tapi buat teman-teman yang pada umumnya bapak-bapak yang sudah menikah, lebaran di site pasti terasa mengharu biru. Biasanya bertemu dengan istri, anak, orang tua, mertua dan kerabat sekarang hanya bisa lebaran sendiri ditemani oleh teman-teman lain yang sama merananya. 

Setelah bangun tidur, saya bergegas mandi untuk kemudian akan melakukan anjang sana ke rumah-rumah teman-teman yang lebaran. Hanya 3 rumah saja yang bisa dikunjungi karena yang lain setelah sholat ied, sudah kembali bekerja biasa. Beginilah jika hidup di dunia kapitalis industri-tak ada nafas untuk sekedar duduk dan bercengkrama dengan teman dan kerabat berbagi rasa. Sungguh terasa menyesakkan dada menemui mereka. Meskipun tak diungkapkan dengan kata-kata, namun sorot mata mereka jelas sekali menyiratkan kerinduan yang dalam kepada suasana lebaran di kampung. Biasanya jika anjang sana atau silaturahmi, kita akan kenyang dengan berbagai hidangan, maka di site sangat berbeda. Ada snack kecil saja sudah sangat lumayan. Untungnya teman-teman dapur membuat ketupat sehingga lebaran-pun tetap tak kehilangan ciri khasnya. *terima kasih untuk teman-teman dapur yang begadang sampai jam 2 pagi untuk membuat ketupat. salute!* Semoga pengorbanan teman-teman yang tak bisa lebaran di kampung halaman mendapatkan balasan yang setimpal. Keluarga mereka tetap diberikan kebahagiaan meskipun sang kepala keluarga tak ada di tempat dan semoga tahun depan mereka bisa pulang kampung untuk merayakan meriahnya lebaran di kampung. 

Selamat Lebaran, teman...Mohon Maaf Lahir dan Bathin!

Jumat, 27 Agustus 2010

Jiwa Ksatria

Seorang rekan kerja yang tak perlu disebutkan namanya terkenal karena kehebohannya. Hobbynya adalah membuat dunia persilatan geger, entah karena celotehannya yang bak air mengalir-tak bisa berhenti ataupun karena tingkah lakunya yang kadang-kadang dinilai ganjil oleh orang awam. Ia adalah seorang individu yang sangat...sangat percaya diri, jadi dia tak pernah ambil pusing bahwa tingkah lakunya tersebut membuat orang merasa tidak nyaman atau terkadang membuat orang pusing kepala. Dan, karena rasa percaya diri yang sangat tinggi tersebut, ia tak pernah mau disalahkan. Ia selalu punya sejuta alasan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar dan jika sudah melakukan pembelaan diri, maka pengacara kelas wahid-pun akan kalah dalam adu argumentasi. Satu kata dari lawan bicara, sudah dibalasnya dengan rentetan kata bak peluru yang ditembakkan dari senapan otomatis. Pekak telinga ketika mendengarnya!

Di luar perilakunya yang aneh dan sering menyebalkan, sebenarnya ia adalah individu yang sangat perhatian pada orang lain dan ringan tangan. Namun, sayangnya terkadang kebaikannya tersebut terlalu berlebihan sehingga membuat orang lain risih dan akhirnya memilih untuk menjauh atau terkadang ada juga yang memanfaatkan kebaikan hatinya untuk kepentingan sendiri karena kebetulan rekan kerja saya memiliki posisi yang strategis di perusahaan. Nah...belum lama ini, dia membuat heboh lagi, yaitu ia dikritik oleh rekan kerja dari departemen lain karena hasil kerjanya tidak memuaskan. Dan sudah bisa ditebak akhir ceritanya, dia mengomel dan sibuk melakukan pembelaan diri. Ok-lah kalau pembelaan diri itu dilakukan dengan cara-cara yang elegan seperti menunjukkan bukti dan dengan tata bahasa yang sopan serta etika, tapi rekan kerja saya memilih melakukan pembelaan dengan cara-cara yang menurut saya malah menunjukkan ketidakmampuannya alias menunjukkan pepesan kosong. Malam-malam dia membangunkan atasan tertinggi hanya untuk menunjukkan bahwa dia tidak pantas dikomplain dan di setiap ruangan yang dia masuki, ia akan dengan sukarela mengoceh tentang orang-orang yang pernah komplain tentang kinerjanya dengan nada suara tinggi dan mengalir bak air bah. Akhirnya, orang memang tidak ada yang komplain, bukan karena takut, tapi mereka sudah pada titik jenuh dan malas berurusan dengan sang penembak kata-kata. Akibatnya, departemen yang dipimpin oleh rekan kerja saya itu tak pernah mengalami kemajuan sejak pertama kali dibentuk 2,5 tahun yang lalu. Tak ada inovasi...mati! Orang dipaksa untuk menerima standar pelayanan yang jelek dari departemen tersebut. 


Mungkin saja departemen rekan kerja saya itu akan jadi departemen yang paling bagus dan paling banyak mendapat pujian mengingat fungsinya terhadap kenyamanan dan kelangsungan hajat hidup orang banyak jika saja rekan kerja saya itu mau sedikit mendengar komplain dan dengan segala rasa rendah hati menerima kritikan. Mengapa mesti membela diri dan menutup mata serta telinga jika itu untuk kebaikan ? Mungkin akar penyebab dari tak mau menerima kritik tersebut adalah tiadanya jiwa ksatria untuk mengakui kesalahan, selalu menganggap diri sendiri adalah yang benar atau sudah melakukan tindakan yang benar dan yang lain salah. Padahal bagi saya, semakin ngotot seseorang membela dirinya maka ia sebenarnya semakin kencang juga menyuarakan ketidakmampuannya untuk menampilkan kinerja terbaik. Itu sebabnya dia perlu membela diri, karena dia tak bisa memenuhi tuntutan yang lebih tinggi atau takut keluar dari zona nyaman yang sudah bertahun-tahun dibangunnya. 
Afraid to get out from the box makes us think that our world never change and makes us easy to satisfied with everything and never accept other opinion! 
Do you agree with me ?



Jumat, 20 Agustus 2010

Komitmen = hilang kebebasan ?

Seringkali orang bertanya mengapa saya masih betah sendiri di usia yang sudah layak disebut 'tak muda lagi', apalagi yang saya cari-demikian orang sering bertanya pada saya. Saya bukanlah perempuan yang tak laku-ada beberapa pria yang mendekati saya, bahkan berniat serius, dan saya adalah perempuan yang menurut ukuran sosial ekonomi cukup mapan karena punya penghasilan yang lumayan dan punya pekerjaan tetap dengan jabatan yang cukup tinggi, jadi apa lagi yang saya cari ? Saya tak mencari apa-apa, cuma entah mengapa kehidupan pernikahan terasa berat ketika dibayangkan apalagi dijalani. Saya takut menikah! Berpacaran it's ok, tapi menikah ? Saya perlu berpikir seribu kali untuk mengatakan 'Yes, I do' di depan altar gereja. 

Mengapa hal ini terjadi ? Mungkin jawabannya terletak pada cara hidup saya. Sejak kecil, hidup saya selalu ditentukan oleh orang lain. Dari menentukan sekolah dimana hingga baju seperti apa yang harus saya pakai. Waktu kecil, saya adalah pribadi yang kurang mandiri-saya ingat dulu selalu membontot/mengikuti kemanapun kakak saya pergi. Dia melakukan apa, saya-pun ikut. Akibatnya, saya jadi tak punya pendirian sendiri, tergantung pada kakak dan orang tua. Takut menyuarakan pendapat sendiri karena takut dimarahi. Saya jadi terkungkung dalam sangkar-tak berani untuk mengambil keputusan atau bertindak karena takut salah atau tak sesuai dengan harapan orang-orang di sekitar saya. 
Namun, hal itu berubah ketika saya pergi meninggalkan rumah untuk kuliah. Tuntutan untuk hidup mandiri-pun jelas di depan mata. Saya harus punya sikap sendiri dan berani mengambil keputusan sendiri. Keragu-raguan harus saya hapus dari benak saya karena saya harus berdiri di atas kaki saya sendiri. Dan, ternyata mandiri itu rasanya sangat menyenangkan. Saya sangat menikmati menjadi mandiri, hidup bebas tapi tetap bertanggung jawab. Namun, rupanya euforia kemandirian itu membuat petaka dalam hidup percintaan saya. Kesenangan untuk hidup bebas tak terikat menjadi hambatan ketika saya memiliki pasangan. Hidup berpasangan selalu membutuhkan sesuatu untuk mengikat yang lazim disebut dengan komitmen. Komitmen biasanya membutuhkan pengorbanan dan biasanya akan sedikit merenggut kebebasan masing-masing orang yang telah bersumpah setia dalam ikatan tersebut. Dan, saya takut untuk berkomitmen karena itu artinya saya harus kehilangan kesenangan saya untuk hidup bebas. 


Berkali-kali saya gagal menjalin akhir cinta yang manis dengan pasangan saya karena masalah kebebasan ini. Apa yang menurut saya sah dan wajar, ternyata buat pasangan sudah dianggap sebagai pelanggaran komitmen. Umumnya masalah yang sering terjadi adalah keinginan saya untuk tetap bebas berekspresi tidak sepenuhnya didukung oleh pasangan. Saya dituntut untuk lebih banyak membatasi diri ketika sudah berdua alias berpasangan. Ngobrol seru dengan pria lain dianggap sebagai pengkhianatan, jalan-jalan sendiri tidak boleh karena dianggap tidak pantas, bekerja sampai larut tak diijinkan karena harus punya waktu lebih banyak untuk pasangan. Dan, setiap kali memikirkan kesenangan-kesenangan yang akan terenggut itu, saya langsung bersikap antipati terhadap komitmen. Saya ketakutan akan kembali ke masa kecil saya dimana saya tak berani bersikap karena takut dimarahi atau takut tak sesuai dengan harapan orang-orang yang saya cintai. Saya tak mau melepaskan kesenangan yang sudah terlanjur saya nikmati. Saya takut kembali terkungkung dalam sangkar dan tak bisa menikmati indahnya dunia. Mungkin itu sebabnya banyak orang yang sudah menikah, sangat mendambakan 'me-time', suatu waktu dimana mereka bisa fokus untuk melakukan hobbynya sendiri. Dan, menurut saya itu adalah hal yang sangat sulit didapatkan dalam hidup pernikahan.


Namun, cepat atau lambat saya harus segera membuat keputusan...mengikatkan diri dengan seseorang dan tak lagi bebas ATAU memilih untuk bebas dan terlambat untuk menikah. Terus terang, sampai detik ini ketika hati saya telah memilih seseorang, perasaan saya belum solid. Ketakutan-ketakutan akan konsekuensi yang harus dijalani ketika membuat komitmen sehidup semati tak bisa dihapuskan begitu saja dari benak dan keinginan-keinginan untuk hidup bebas sendiri tak bisa begitu saja lenyap dari lubuk hati yang paling dalam. 
Haruskah saya tinggalkan semua hobby saya, seperti backpacking atau berkegiatan di alam bebas atau membaca di dalam kesendirian ? Hiks...Sedih rasanya membayangkan kehilangan semua itu...! Saya memang perlu banyak belajar untuk menjalani hidup ini...menyeimbangkan semua hal agar tak merasa tersiksa dan ikhlas ketika menjalani setiap episode kehidupan.

Jumat, 18 Juni 2010

Responsibility

Hari ini perusahaan tempat saya bekerja mengeluarkan 2 internal memo yang berkaitan dengan kedisiplinan karyawan. Mengapa sampai perlu mengeluarkan 2 memo sekaligus dalam waktu bersamaan ? Jawabannya menurut saya cukup singkat, yaitu agar karyawan berani mempertanggungjawabkan tindakan/perilaku-perilakunya yang menyimpang dari peraturan perusahaan. *memang sih...banyak orang bilang peraturan dibuat untuk dilanggar, tapi apa salahnya mencoba untuk sedikit patuh* Dan, rupanya untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab dibutuhkan sebuah hukuman yang cukup ekstrem, tak cukup lagi dengan sebuah teguran atau sindiran halus. Sistem reward & punishment terbukti efektif untuk membentuk perilaku, meski awalnya akan menimbulkan sedikit rasa tidak nyaman.

Perusahaan saya menghadapi permasalahan yang cukup pelik tentang masalah kedisiplinan dan produktivitas karyawan. Sebagian besar karyawan belum berpengalaman bekerja di sebuah perusahaan sehingga masih belum familiar dengan peraturan-peraturan perusahaan. Akibat yang nyata terjadi adalah mereka cenderung bertindak sesuka hati, tidak memikirkan bahwa tindakan yang mereka lakukan akan berakibat cukup signifikan terhadap perusahaan. Contohnya adalah ijin meninggalkan pekerjaan untuk hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan perusahaan, seperti istri sakit, anak sakit, keluarga meninggal, kerabat menikah, dll. Dan, jika dihitung total per bulan, maka angka kehadiran mereka rata-rata hanya 21 hari, jauh dari aturan standart menurut Undang-undang, yaitu 25 hari kerja dalam sebulan. Gawatnya adalah mereka merasa tindakan ini sah-sah saja dilakukan dan tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan kadang memprotes perusahaan yang katanya tidak mengerti akan kesejahteraan karyawan. Fiuh!

Menurut saya, sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika setiap orang memiliki sedikit saja rasa tanggung jawab. Tanggung jawab disini berarti berani menanggung konsekuensi atas tindakan yang diambil dan melakukan kewajiban dengan bersungguh-sungguh, baru kemudian menuntut hak yang sepadan dengan hasil yang dicapai. Beberapa orang mungkin punya beberapa tanggung jawab sekaligus dalam hidupnya sesuai dengan perannya dalam lingkungan, yaitu tanggung jawab sebagai pekerja, tanggung jawab sebagai orang tua, tanggung jawab sebagai suami/istri atau tanggung jawab sebagai anggota komunitas, dll. Masalahnya adalah pemenuhan tanggung jawab dari masing-masing peran di atas kadang tidak seimbang dan yang paling sering dikorbankan adalah tanggung jawab sebagai pekerja. Tidak masalah jika seseorang menyadari bahwa jika dia tidak melakukan kewajibannya maka berarti dia tidak boleh menuntut haknya. Nah....yang sering terjadi di perusahaan saya adalah karyawan menuntut haknya padahal jelas-jelas mereka tidak menunaikan kewajibannya dan jika sudah begini, biasanya mereka alih-alih merasa bersalah, mereka malah sering mengintimidasi perusahaan dengan segala macam cara sehingga seolah-olah apa yang mereka lakukan adalah benar. *akhirnya jadi sulit membedakan...yang tidak bertanggung jawab ini sebenarnya siapa...karyawan atau perusahaan. piss* Apakah wajar seorang karyawan tidak masuk tanpa ijin selama nyaris sebulan, kemudian tiba-tiba datang dan melapor bahwa dia tidak masuk karena mengurus keluarganya yang sakit dan sekarang menuntut untuk dipekerjakan kembali ? Atau apakah wajar di saat jam kerja normal, bekerja secara santai, kemudian ketika memasuki jam-jam akhir kerja sengaja pura-pura sibuk agar dapat lembur ? Dan, apakah wajar telah menghilangkan barang inventaris perusahaan dan ketika diminta untuk menggantinya malah berdalih macam-macam yang buntutnya adalah tidak mau mengganti ? Saya jadi bingung...apakah urat malu saat ini mudah putus sehingga mengabaikan tanggung jawab sudah menjadi hal yang biasa dan bahkan dianggap sebagai 'pembenaran' demi kesenangan diri semata ?

Apakah Anda termasuk orang yang bertanggung jawab ?