Hari ini, saya kembali dikejar-kejar oleh pelamar yang ngototnya setengah mati untuk minta diterima sebagai karyawan. Duh...! Saya sudah sangat lelah berkali-kali menolaknya, mulai dari cara halus sampai kasar. Hari ini saya tidak mau menemuinya karena saya sadar sepenuhnya bahwa kondisi emosi saya sedang tidak dalam kondisi yang bagus karena dikejar banyak sekali deadline sehingga jika dipaksakan bertemu dengan pelamar tersebut, bisa dipastikan saya akan meledak dan akan menambah masalah.
Akhirnya, saya memutuskan untuk melarikan diri. Sayangnya, teman-teman hari ini kurang kooperatif. Mereka tidak mau menyampaikan pada pelamar tersebut bahwa saya tidak ada di tempat, malahan meminta saya untuk menemui si pelamar yang katanya sudah marah-marah. Tapi, saya tidak peduli. Saya akhirnya lari ke kamar seorang teman di mess yang letaknya jadi satu dengan kantor. Satu jam saya nongkrong di kamar itu bersama teman yang juga sama-sama melarikan diri dari kejaran para debt collector. Saya memberanikan diri keluar dari kamar ketika istirahat makan siang karena saya kelaparan dan yakin bahwa situasi sudah aman. Dan, tepat seperti dugaan saya bahwa pelamar itu akhirnya pergi seperti yang sudah-sudah. Tapi hari Jumat ini dia akan kembali karena saya berjanji melalui receptionist bahwa atasan saya akan menemuinya hari Jumat. Hmmm...bagaimana ya kira-kira tanggapan atasan saya tentang hal ini ? Sungguh...saya ketakutan pada orang ini karena dia nyaris tiap hari ke kantor untuk minta diterima bekerja dan ini membuat saya merasa tidak nyaman, tidak bisa bergerak dan merasa terancam. Apa hari Jumat saya bolos saja ya ?
Sementara saya ketakutan dan cemas akan keselamatan saya, lagi-lagi teman-teman kantor kurang kooperatif. Mereka membuka pintu penghubung antara kantor dan ruang tamu, tanpa menutupnya kembali sehingga membuat saya jadi deg-deg plas. Saya takut jika pelamar itu melihat keberadaan saya di kantor dan memaksa untuk bertemu. Saya tidak berani membayangkan seandainya hal itu terjadi. Benar-benar membuat senewen! Urusan pintu ini membuat saya sulit konsentrasi bekerja karena posisi duduk saya memang pas sekali menghadap ke pintu. Melihat kondisi ini, saya jadi tidak sabar untuk segera mendapatkan mess baru sehingga bangunan yang sekarang dibagi untuk kantor dan mess dapat digunakan seluruhnya untuk kantor. Jika hal ini terjadi maka saya akan punya ruangan sendiri yang jauh dari pintu yang membuat emosi alias pintu penghubung kantor-ruang tamu.
Dan, saya tidak sabar menunggu hari itu tiba.
Apakah hari ini Anda merasa tidak aman seperti saya dan merasa emosi pada sebuah pintu ?
Rabu, 25 Maret 2009
Senin, 23 Maret 2009
Menanggung Resiko Pekerjaan
Saat ini, saya bekerja sebagai seorang supervisor SDM di sebuah perusahaan swasta bonafied yang sedang membuka usaha baru di Merauke. Sebagai seorang supervisor SDM, tugas saya adalah merekrut tenaga kerja, membuat program pelatihan, mengurus gaji karyawan, dan mengerjakan hal-hal lain yang tidak termasuk dalam job desc di kontrak kerja tapi ternyata lebih banyak menyita waktu dan emosi, seperti mengurus rumah, mobilisasi karyawan dari kantor Merauke ke site kerja. Fiuh...!
Rekrutmen sudah saya tekuni sejak saya pertama kali terjun ke dunia industri 3 tahun yang lalu, jadi seharusnya saya mampu menangani pekerjaan ini dengan mudah. Tapi di Merauke, pekerjaan ini menjadi momok bagi saya karena membuat saya berkali-kali harus berhadapan dengan bahaya secara langsung, mulai dari didemo masyarakat hingga teror telpon. Bahkan ada yang pernah mengancam akan mencegat saya di tengah jalan. Ancaman-ancaman ini pulalah yang membuat saya tidak berani keluar kantor, tidak berani naik angkot, dan akhirnya membeli sepeda motor, serta mengganti nomer HP yang sudah setia menemani saya dari tahun 2000.
Banyak teman sebenarnya sudah mengingatkan tentang resiko bekerja di daerah pedalaman, tapi karena saya sangat ingin bekerja di luar Jawa, maka resiko-resiko itu dulu saya abaikan ketika mengambil keputusan pindah kerja. Bekerja di daerah Indonesia Timur memiliki tantangan tersendiri karena SDMnya memiliki kualitas yang jauh dari SDM di Jawa (lebih rendah) tapi dituntut untuk dapat melakukan hal yang sama. Mengapa kualitas mereka jauh dibandingkan dengan SDM di Jawa ? Kita bahas di tulisan yang lain ya...
Sifat kedaerahan masih sangat terasa di sini, sehingga sangat sulit menerapkan rekrutmen 'modern', alhasil jika kita tidak berhasil memuaskan hati SDM pencari kerja disini maka bersiap-siaplah menghadapi teror. Awal-awal saya masih sangat sabar dan selalu memasang muka manis pada setiap pencari kerja, tapi lama kelamaan sikap mereka membuat saya merasa tidak nyaman dan akhirnya kehilangan kesabaran karena mereka tidak pernah mau menerima penjelasan dari saya dan terus merongrong saya untuk diterima bekerja. Sesekali, jika pikiran sedang waras, saya merasa bersalah juga pada mereka karena selalu memasang muka ketus jika mereka bertanya. Mencari kerja dan menuntut pekerjaan kan sebenarnya sah-sah saja dilakukan apalagi di tengah kondisi krisis begini, tapi mengapa saya harus menanggapinya dengan keras. Saya jadi bertanya-tanya apakah saya yang kurang sabar ya ?
Tapi sekarang ini, pikiran saya sedang tidak waras sehingga saya memutuskan untuk cuek. Telepon berdering seratus kali atau sms-sms berebutan memasuki inbox saya hingga penuh, saya tidak mau menggubrisnya sama sekali. Lebih baik mengabaikan daripada menanggapi karena saya merasa sudah lelah. Bobot tubuh saya berkurang, saya sering mengalami psikosomatis, nafas saya sesak...sepertinya memang sudah waktunya untuk mengambil cuti!
Ini adalah sms terakhir yang saya terima hari ini dan tentu saja yang termasuk saya abaikan :
"Maaf klu mnganggu aktifitas anda.sbnrx kmi hnya pngen tau soal kerjaan aj, klu saja msh ad. jauh2 aku mnta nmr hp anda tpi cma sia2 aku telp gk di angkt aku sms gk d bls, ap sbgtu brk skali org miskin sprti kmi ini di mata anda. cuma untk bls sms aj and tdk mau, org mskn mcm kmi in udh gk da artix ya bu."Orang ini meminta pekerjaan yang sudah dia campakkan karena tidak sesuai dengan keinginannya, tapi belakangan dia meminta untuk dipekerjakan lagi karena katanya dia tidak punya penghasilan. Duh....!
Apa ya yang harus saya lakukan ?
Sabtu, 21 Maret 2009
Bangsa over reaction
Hmmm...mungkin saja mereka memang banyak obral janji, tapi kenapa harus dibicarakan terus menerus dan diliput terus menerus seolah-olah hanya dengan berjanji saja, mereka seperti sudah melakukan dosa besar.
Selama saya hidup di Indonesia tercinta ini *sok pernah tinggal di luar negeri* saya jarang sekali mendapati bahwa masyarakat bangsa ini memuji negaranya sendiri, setidaknya melalui media cetak dan elektronik. Yang ada hanyalah cacian, kritikan sepanjang jalan, siapapun yang berkuasa.
Mengapa ya bangsa ini sulit sekali memberikan kata-kata positif bagi bangsanya sendiri, bagi pemerintahnya sendiri ?
Mungkin karena bangsa ini sudah lelah mendapatkan perlakuan buruk. Tapi, bukankah itu sebagian besar karena perilaku mereka sendiri, jadi mengapa harus menyalahkan pemerintah ? Mulai dari perilaku susah diatur, selalu mengharapkan bantuan, malas bekerja, hingga selalu berprasangka buruk kepada orang lain.
Bangsa ini menurut saya selalu berpikiran negatif ! Mungkin hal inilah yang menyebabkan bangsa ini menjadi bangsa yang sulit maju dan selalu over reaction terhadap segala sesuatu, termasuk mengkritisi para caleg yang kampanye. Akhirnya energi habis hanyalah untuk berbalas pantun, saling tangkis menangkis serangan-serangan dan akibatnya...pembangunan yang jadi korban.
Eneg sekali rasanya setiap hari disuguhi tontonan dan sikap yang negatif terus menerus sepanjang hari! Kenapa tidak kita terima saja janji-janji manis mereka karena toh...nanti ada waktunya bagi mereka untuk bekerja mewujudkan janji itu. Jika mereka gagal, pemilu depan tidak perlu kita pilih lagi. Gampang kan ?
Mari kita sukseskan pemilu tahun ini dengan sikap positif demi tercapainya kemajuan bangsa!
I Love U, Indonesia !!
Jumat, 20 Maret 2009
I'm a dreamer
Beberapa hari ini saya merasakan kehampaan, kosong, tanpa greget. Hidup mengalir saja mengikuti rutinitas mulai dari bangun pagi, mandi, berdandan, berangkat menuju kantor, bekerja, menunggu jam berdetak hingga jam 5, pulang, makan malam, kencan, nonton TV, dan tidur. Tak ada yang menarik! Tak bermakna! Tiba-tiba saja saya merindukan saat-saat dimana saya punya banyak aktivitas yang bermakna seperti jaman kuliah dulu. Aaaarggghhh....sayangnya waktu tak dapat diputar kembali ke masa lalu!
Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa merenungi masa lalu adalah suatu kegiatan tak berguna dan dapat memperparah rasa hampa, jadi saya memutuskan untuk lari dari kehampaan. *pencet tombol esc*
Salah satu cara melarikan diri dari kehampaan yang hakiki ini adalah membangkitkan kembali mimpi-mimpi yang sempat tenggelam bersama kesibukan, dan mimpi yang rasanya cukup realistis untuk dibangkitkan saat ini adalah menulis. Saya sudah cukup lama tidak menulis lagi karena selalu beralasan sibuk-suatu alasan klasik yang dibuat dibuat. Akibatnya, blog saya di multiply-pun terbengkalai, tak pernah di update. Dan, untuk membangkitkan lagi jiwa menulis saya yang sempat mati suri, saya tidak mau bersikap tanggung. Saya buat blog baru, di tempat baru, dengan desain baru, dan jiwa yang baru. Semoga saja yang ini berhasil, tidak hangat sesaat seperti tahi ayam karena saya sadar selain memiliki jiwa pemimpi, saya juga memiliki jiwa pembosan yang cukup kuat.
Dan, membuat mimpi terwujud memang tak pernah mudah. Entah sudah berapa kali tombol backspace di laptop saya dipencet hanya untuk menghasilkan beberapa baris kalimat yang jauh dari bermutu ini. Tapi, biarlah...daripada tidak mencoba sama sekali! *suatu pembenaran diri*
Tapi saya sadar sepenuhnya bahwa merenungi masa lalu adalah suatu kegiatan tak berguna dan dapat memperparah rasa hampa, jadi saya memutuskan untuk lari dari kehampaan. *pencet tombol esc*
Salah satu cara melarikan diri dari kehampaan yang hakiki ini adalah membangkitkan kembali mimpi-mimpi yang sempat tenggelam bersama kesibukan, dan mimpi yang rasanya cukup realistis untuk dibangkitkan saat ini adalah menulis. Saya sudah cukup lama tidak menulis lagi karena selalu beralasan sibuk-suatu alasan klasik yang dibuat dibuat. Akibatnya, blog saya di multiply-pun terbengkalai, tak pernah di update. Dan, untuk membangkitkan lagi jiwa menulis saya yang sempat mati suri, saya tidak mau bersikap tanggung. Saya buat blog baru, di tempat baru, dengan desain baru, dan jiwa yang baru. Semoga saja yang ini berhasil, tidak hangat sesaat seperti tahi ayam karena saya sadar selain memiliki jiwa pemimpi, saya juga memiliki jiwa pembosan yang cukup kuat.
Dan, membuat mimpi terwujud memang tak pernah mudah. Entah sudah berapa kali tombol backspace di laptop saya dipencet hanya untuk menghasilkan beberapa baris kalimat yang jauh dari bermutu ini. Tapi, biarlah...daripada tidak mencoba sama sekali! *suatu pembenaran diri*
Langganan:
Postingan (Atom)