Seharian berkutat dengan data payroll ternyata membawa hikmah tersendiri. Kelelahan yang akut dan kebosanan yang memuncak membawa saya kembali pada kebiasaan lama, yaitu membaca blog-blog keren, salah satunya adalah Ndoro Kakung. Sang penulis adalah teman sekerja saya di media nasional terkemuka di Indonesia sebelum saya pindah ke Merauke. *saya sih tentu saja masih mengingat beliau dengan baik, entah apakah beliau masih mengingat saya ataukah tidak* Membaca tulisan-tulisannya bagaikan menemukan oase di tengah padang gurun. Energi langsung terisi penuh ketika selesai membaca postingan-postingannya yang bernas. Mungkin, dia memang dilahirkan sebagai penulis, tak seperti saya yang dilahirkan entah untuk menjadi apa, sehingga ia mampu memproduksi rentetan kata-kata yang indah dan entah bagaimana caranya selalu mampu membangkitkan sebuah rasa bagi para pembacanya, entah itu manis ataupun pahit, getir atau asam, bahkan kadang-kadang mampu membuat rasa nano-nano.
Sebuah postingannya yang baru sempat saya baca hari ini salah satunya yang mampu menciptakan rasa nano-nano dalam benak saya setelah membacanya. Anda penasaran ? Silahkan langsung meluncur ke TKP! Membaca postingannya membuat rasa penasaran saya akan dunia tulis menulis langsung tergugah. Semangat untuk menulis yang sebelumnya padam dan nyaris terkubur menemukan jalannya kembali. Ide-ide kreatif-pun mendadak keluar dari dalam kepala. Membaca postingannya membuat saya merinding karena saya tersihir oleh semangatnya dalam menulis, tak pernah mati ide. Ya Tuhan...mengapa saya tak terlahir dengan bakat seperti itu ? Dikasih makan apakah mereka itu sehingga mereka begitu kreatif dan produktif dalam menulis ?
Sang Ndoro menjalin kerjasama dengan seorang perempuan pintar yang memiliki blog squeezing marshmallow membuat dua buah cerita bersambung/estafet yang sangat apik. Proyek itu dituangkan dalam dua buah blog, yaitu Perempuanku dan Lelakiku, dan hebatnya mereka mengerjakan itu dalam waktu 28 hari saja. *CMIIW* Sebuah karya yang patut diacungi jempol karena isinya benar-benar sangat romantis dan benar-benar membuat saya serasa menjadi pelakunya-mungkin karena saya pernah mengalami kisah yang sama dengan kisah imajinasi mereka berdua. Saya terpaku dan terhenyak...bagaimana mereka dapat mengisahkan kisah yang sebenarnya lazim dialami orang menjadi indah untuk diikuti melalui serangkaian kata-kata yang sarat makna. OMG...saya ngiri sekali! Adakah yang punya saran bagaimana agar bisa menjadi seperti mereka berdua? Keren, kreatif, pintar dan penuh imajinasi! Tuhan...saya ingin seperti mereka!
Sabtu, 24 April 2010
Jumat, 19 Maret 2010
Sang Pembosan
Apakah seorang pemimpi bisa mengalami rasa bosan ? Hmm... saya tak yakin jawabannya adalah iya, karena seorang pemimpi biasanya pandai membuat dirinya termotivasi dengan impian-impian dan mudah bangkit jika merasa terpuruk. Bagaimana menurut Anda ?
Saya yangpernah menyatakan diri sebagai seorang pemimpi terpaksa harus merenung kembali apakah saya ini benar-benar seorang pemimpi seperti tag line blog saya atau saya hanya berangan-angan dan berandai-andai sebagai pemimpi karena saya adalah orang yang mudah bosan dan jenuh dengan apa yang saya jalani.
Dengan prinsip easy come easy go, saya tumbuh jadi pribadi yang tak pernah betah mengerjakan sesuatu hal dalam jangka waktu lama. Perhatian saya mudah teralihkan oleh hal-hal baru. Bukan sesuatu hal yang baik, apalagi dalam kehidupan profesional. Sebagian besar alasan saya pindah-pindah kerja sampai dengan saat ini-pun sebenarnya adalah karena saya merasa jenuh dengan pekerjaan yang saya lakoni dan seringkali tak tahu harus berbuat apa, namun saya selalu bisa merangkai alasan klasik itu dengan alasan rasional yang memang kebetulan 'mampir' dalam episode kehidupan saya saat itu dan kemudian lari dari rasa bosan dengan berpindah pekerjaan. Alhasil...saya hanya berhasil bertahan tak lebih dari 1,5 tahun di tempat kerja yang sama. Dan yang sekarang ini saya jalani adalah sebuah rekor baru...2 tahun bekerja di tempat yang sama *yippie...congratz for my self!* Tapi itu bukan berarti jiwa pembosan saya telah mati, dia masih hidup dan sekarang saya mulai merasakan kebangkitannya dalam tubuh saya. Sang pembosan yang bersemayam dalam jiwa saya mulai menggeliat, berusaha keluar dan menguasai tubuh. Rasanya tak enak sekali ketika ia mulai mencakar-mencakar semua ruang dalam tubuh untuk mencari celah keluar. Kadang saya menang terhadapnya, tapi terkadang saya kalah telak melawannya seperti yang terjadi selama seminggu ini. Sang pembosan berhasil mendorong jari jemarinya keluar dari tubuh saya dalam bentuk kemalasan tiada tara, semangat kerja yang mendadak hilang dan otak yang buntu-tak sanggup berpikir apapun, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Dan gawatnya, serangan yang bertubi-tubi dari sang pembosan telah membuat daya juang saya melemah-saya yang seharusnya cepat bangkit dan menyatakan perang terhadapnya malah membiarkan saya terseret semakin jauh dalam permainannya, saya membiarkan diri saya terjebak dalam rasa bosan. Fiuh! Haruskah saya melawannya dengan lari lagi dari pekerjaan sekarang ? Atau mengerahkan seluruh tenaga untuk berjuang mencari jalan terang dan mencari senjata yang ampuh untuk membunuh sang pembosan dan membuangnya ke dasar jurang terdalam ? Tapi dimanakah saya dapatkan senjata itu ? Ada yang tahu ?
Sebenarnya, saya sudah memiliki senjata yang ampuh untuk melawan sang pembosan, namun entah kenapa senjata itu terasa berat sekali di tangan. Senjata itu berupa tugas baru untuk mengelola site yang letaknya di tengah hutan. Saya sebenarnya pernah melakukannya dulu sekali ketika saya mulai bergabung di perusahaan sekarang, namun entah kenapa tugas baru itu yang seharusnya bisa jadi jalan keluar dari sang pembosan malah membuat saya merasa gamang. Entah karena tantangannya yang terlalu besar yang tak sesuai dengan kompetensi saya atau karena saya tiba-tiba bisa melihat bahwa sang pembosan akan lebih mudah menguasai saya jika saya mengambil kesempatan itu dan saya akan semakin tak berdaya melawannya. Saya tak tahu pasti...tapi memang senjata itu rasanya berat sekali, bahkan hanya untuk sekedar diangkat, apalagi jika harus dihunuskan ke jantung sang pembosan. Arrrrrggghhhh...saya malas membayangkannya! *derita seorang pekerja yang tengah dilanda rasa bosan yang akut*
Saya yang
Dengan prinsip easy come easy go, saya tumbuh jadi pribadi yang tak pernah betah mengerjakan sesuatu hal dalam jangka waktu lama. Perhatian saya mudah teralihkan oleh hal-hal baru. Bukan sesuatu hal yang baik, apalagi dalam kehidupan profesional. Sebagian besar alasan saya pindah-pindah kerja sampai dengan saat ini-pun sebenarnya adalah karena saya merasa jenuh dengan pekerjaan yang saya lakoni dan seringkali tak tahu harus berbuat apa, namun saya selalu bisa merangkai alasan klasik itu dengan alasan rasional yang memang kebetulan 'mampir' dalam episode kehidupan saya saat itu dan kemudian lari dari rasa bosan dengan berpindah pekerjaan. Alhasil...saya hanya berhasil bertahan tak lebih dari 1,5 tahun di tempat kerja yang sama. Dan yang sekarang ini saya jalani adalah sebuah rekor baru...2 tahun bekerja di tempat yang sama *yippie...congratz for my self!* Tapi itu bukan berarti jiwa pembosan saya telah mati, dia masih hidup dan sekarang saya mulai merasakan kebangkitannya dalam tubuh saya. Sang pembosan yang bersemayam dalam jiwa saya mulai menggeliat, berusaha keluar dan menguasai tubuh. Rasanya tak enak sekali ketika ia mulai mencakar-mencakar semua ruang dalam tubuh untuk mencari celah keluar. Kadang saya menang terhadapnya, tapi terkadang saya kalah telak melawannya seperti yang terjadi selama seminggu ini. Sang pembosan berhasil mendorong jari jemarinya keluar dari tubuh saya dalam bentuk kemalasan tiada tara, semangat kerja yang mendadak hilang dan otak yang buntu-tak sanggup berpikir apapun, bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun. Dan gawatnya, serangan yang bertubi-tubi dari sang pembosan telah membuat daya juang saya melemah-saya yang seharusnya cepat bangkit dan menyatakan perang terhadapnya malah membiarkan saya terseret semakin jauh dalam permainannya, saya membiarkan diri saya terjebak dalam rasa bosan. Fiuh! Haruskah saya melawannya dengan lari lagi dari pekerjaan sekarang ? Atau mengerahkan seluruh tenaga untuk berjuang mencari jalan terang dan mencari senjata yang ampuh untuk membunuh sang pembosan dan membuangnya ke dasar jurang terdalam ? Tapi dimanakah saya dapatkan senjata itu ? Ada yang tahu ?
Sebenarnya, saya sudah memiliki senjata yang ampuh untuk melawan sang pembosan, namun entah kenapa senjata itu terasa berat sekali di tangan. Senjata itu berupa tugas baru untuk mengelola site yang letaknya di tengah hutan. Saya sebenarnya pernah melakukannya dulu sekali ketika saya mulai bergabung di perusahaan sekarang, namun entah kenapa tugas baru itu yang seharusnya bisa jadi jalan keluar dari sang pembosan malah membuat saya merasa gamang. Entah karena tantangannya yang terlalu besar yang tak sesuai dengan kompetensi saya atau karena saya tiba-tiba bisa melihat bahwa sang pembosan akan lebih mudah menguasai saya jika saya mengambil kesempatan itu dan saya akan semakin tak berdaya melawannya. Saya tak tahu pasti...tapi memang senjata itu rasanya berat sekali, bahkan hanya untuk sekedar diangkat, apalagi jika harus dihunuskan ke jantung sang pembosan. Arrrrrggghhhh...saya malas membayangkannya! *derita seorang pekerja yang tengah dilanda rasa bosan yang akut*
Kamis, 18 Maret 2010
Menulis dan Membaca
Ternyata menulis itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Entah sudah berapa kali saya buka blog ini dan hanya sampai pada halaman muka saja kemudian saya anggurkan dan akhirnya saya tutup kembali tanpa hasil tulisan apapun. Butuh konsentrasi dan tekad yang kuat untuk menulis, bahkan jika itupun hanya beberapa patah kata. *saya sudah lama tak update status FB karena tak tahu harus menulis apa dan pikiran buntu* Dulu ketika saya buat blog ini, saya optimis akan bisa menghasilkan tulisan minimal 1 setiap minggunya, tapi ternyata saya salah. Rasa optimis saya tidak realistis karena saya meniadakan faktor M (Malas) yang seringkali merenggut jiwa saya dan hasilnya, sudah 2 bulan ini saya tak menghasilkan satu tulisanpun yang bermutu. Kalau sudah begini, impian untuk jadi penulis rasanya terasa mustahil untuk diraih *mungkin juga saya terlalu PD bahwa saya bisa menulis*
Jangankan menulis, aktivitas membaca saya akhir-akhir ini juga terasa kurang-entah kenapa. Padahal saya tergolong cepat dalam membaca. 1 buku biasa saya lahap dalam 1-3 hari. Sekarang ? Nyaris tak pernah saya sentuh buku-buku baru yang saya borong ketika cuti, bahkan beberapa buku masih terbungkus dalam kepompong plastik. Saya tak tahu apa yang salah dengan diri saya saat ini, tapi jiwa saya benar-benar terasa kosong tanpa membaca dan menulis. Otak saya seperti kram, tak punya denyut di setiap simpul syarafnya. Dan gawatnya, saya tak punya daya untuk melawannya...saya seakan lumpuh, menyerah pada kondisi. Bahkan yang lebih parah, saya seakan membuat permakluman untuk kondisi saya ini, yaitu saya tengah sibuk luar biasa dengan pekerjaan dan kehidupan asmara saya tengah membutuhkan perhatian lebih, padahal kenyataannya tak begitu-pekerjaan saya biasa biasa saja, tak ada aktivitas tambahan yang berarti dan kehidupan asmara saya memang sudah begini adanya sejak dulu. Fiuh!
Tapi akhirnya sedikit demi sedikit, gairah itu mulai muncul lagi meskipun pijarnya tak sebesar dulu...masih berupa api kecil bak nyala api dari korek gas. Beberapa hari ini, saya sudah membaca kembali, meskipun itu adalah buku novel ringan dan saya sudah mulai menulis lagi meskipun hanya tulisan curhat colongan sampah seperti sekarang. Mudah-mudahan api ini terus membesar dan akhirnya benar-benar membakar saya seutuhnya....
*ditulis ketika tak tahu harus berbuat apa di tengah-tengah jam kerja, pernahkah Anda mengalaminya ?*
Jangankan menulis, aktivitas membaca saya akhir-akhir ini juga terasa kurang-entah kenapa. Padahal saya tergolong cepat dalam membaca. 1 buku biasa saya lahap dalam 1-3 hari. Sekarang ? Nyaris tak pernah saya sentuh buku-buku baru yang saya borong ketika cuti, bahkan beberapa buku masih terbungkus dalam kepompong plastik. Saya tak tahu apa yang salah dengan diri saya saat ini, tapi jiwa saya benar-benar terasa kosong tanpa membaca dan menulis. Otak saya seperti kram, tak punya denyut di setiap simpul syarafnya. Dan gawatnya, saya tak punya daya untuk melawannya...saya seakan lumpuh, menyerah pada kondisi. Bahkan yang lebih parah, saya seakan membuat permakluman untuk kondisi saya ini, yaitu saya tengah sibuk luar biasa dengan pekerjaan dan kehidupan asmara saya tengah membutuhkan perhatian lebih, padahal kenyataannya tak begitu-pekerjaan saya biasa biasa saja, tak ada aktivitas tambahan yang berarti dan kehidupan asmara saya memang sudah begini adanya sejak dulu. Fiuh!
Tapi akhirnya sedikit demi sedikit, gairah itu mulai muncul lagi meskipun pijarnya tak sebesar dulu...masih berupa api kecil bak nyala api dari korek gas. Beberapa hari ini, saya sudah membaca kembali, meskipun itu adalah buku novel ringan dan saya sudah mulai menulis lagi meskipun hanya tulisan curhat colongan sampah seperti sekarang. Mudah-mudahan api ini terus membesar dan akhirnya benar-benar membakar saya seutuhnya....
*ditulis ketika tak tahu harus berbuat apa di tengah-tengah jam kerja, pernahkah Anda mengalaminya ?*
Sabtu, 16 Januari 2010
Back to the Reality
Akhirnya musim cuti-pun selesai juga. Setelah 3 minggu bersenang-senang di tempat kelahiran, akhirnya harus kembali juga pada kenyataan, membanting tulang demi sesuap nasi dan segenggam berlian *lebay mode on*.
Cuti kemarin benar-benar mengesankan bagi saya, karena pertama menghabiskan banyak uang untuk mondar-mandir dari satu kota ke kota yang lain; kedua-ketemu dengan banyak teman baru; ketiga-mendapatkan ilmu baru; dan keempat, mendapatkan pengalaman bertualang yang baru. Yang paling mengesankan tentu saja adalah akhirnya saya berhasil juga ke Sumatera, meskipun hanya sampai Lampung. Next destination ketika cuti adalah Bangka Belitung *jatuh tempo cuti masih 6 bulan lagi, tapi dah bermimpi. hehehe...*
Berjuta terima kasih untuk teman-teman yang telah membuat cuti saya begitu bermakna : Fika, Thomas, dan Ralf...teman-teman seperjalanan yang membuat mimpi tanah Sumatera terwujud.
.....to be continued ke cerita Lampung 'The Dancing Dolphin'.....
Cuti kemarin benar-benar mengesankan bagi saya, karena pertama menghabiskan banyak uang untuk mondar-mandir dari satu kota ke kota yang lain; kedua-ketemu dengan banyak teman baru; ketiga-mendapatkan ilmu baru; dan keempat, mendapatkan pengalaman bertualang yang baru. Yang paling mengesankan tentu saja adalah akhirnya saya berhasil juga ke Sumatera, meskipun hanya sampai Lampung. Next destination ketika cuti adalah Bangka Belitung *jatuh tempo cuti masih 6 bulan lagi, tapi dah bermimpi. hehehe...*
Berjuta terima kasih untuk teman-teman yang telah membuat cuti saya begitu bermakna : Fika, Thomas, dan Ralf...teman-teman seperjalanan yang membuat mimpi tanah Sumatera terwujud.
.....to be continued ke cerita Lampung 'The Dancing Dolphin'.....
Langganan:
Postingan (Atom)