Sabtu, 21 Februari 2015

Gadget

Ternyata sudah 1 tahun saya vakum dari dunia tulis menulis. Banyak hal yang terjadi selama 1 tahun dan saya tidak akan membuat banyak alasan kenapa saya vakum karena memang hanya ada 1 alasan kenapa saya tidak menulis di tahun 2014, yaitu saya malas. Alasan yang klasik dan saya ternyata gagal bangkit dari rasa malas itu. Tidak ada satupun tulisan yang saya hasilkan. Lalu mengapa sekarang saya tiba tiba terdorong untuk menulis lagi? Salah satu alasannya adalah karena saya membaca berita di detik.com hari ini bahwa penulis 'Fifty Shades of Grey', E.L James, menulis novel erotis yang populer itu menggunakan blackberry. Yup... menggunakan blackberry. Jadi begitu dia punya ide, langsung dituliskan di blackberry-nya yang kemudian baru didetailkan di Macbook-nya. Jadi terbayang dimanapun dan kapanpun dia mampu memaksimalkan penggunaan gadgetnya untuk hal yang produktif.
Hal inilah yang menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Saya punya 3 gadget dan penggunaannya akhir akhir ini tidak maksimal sama sekali padahal rasanya waktu saya lumayan cukup untuk membuat sesuatu yang produktif. Why not I'm trying to do something with my gadget? Dan daripada tidak ada sama sekali, maka muncullah tulisan ini.
Bicara tentang gadget, hari Rabu kemarin saya mengalami ke-apes-an a.k.a sial. Saya kehilangan blackberry yang sudah setia menemani saya selama 2 tahun. Bukan tipe yang bagus sih dan sudah sering hang tapi keselnya bukan main karena di situ berisi banyak informasi penting dan saya terbiasa menyimpan segala sesuatu di gadget itu karena bentuknya yang ringkas dan mudah dibawa kemana mana. Yang paling mengesalkan adalah saya kehilangan nomer kontak semua relasi. Kenapa blackberry saya bisa hilang? Karena saya ceroboh dengan mengeluarkan gadget di tengah keramaian dan kemudian menyimpannya sembarangan sehingga mengundang copet untuk mengambilnya. Ya... saya kecopetan di halte busway Slipi Palmerah. Dua hal yang spesial dari kejadian kecopetan itu adalah :
1. Daerah Slipi Palmerah sebenarnya di luar jalur saya pulang dari kantor ke rumah. Saya sampai di sana dan naik busway karena saya ke gereja Salvator di daerah petamburan untuk ikut misa Rabu Abu. Mungkin memang sudah waktunya BB itu berganti karena keinginan untuk misa di Salvator munculnya tiba tiba, padahal kalau dari segi jarak dan waktu, saya sebenarnya bisa misa di Kapel Atmajaya di seberang kantor. Saya tiba tiba punya kerinduan yang sangat untuk misa di Salvator dan rupanya itulah akhir dari perjalanan BB pin 29ece07d dengan saya. Mungkin saya disuruh beramal lebih di awal bulan puasa ini.
Sebenarnya saya sempat membuntuti orang yang saya duga pencopet, namun saya tidak cukup PD untuk menegurnya. Saya putuskan untuk mengikhlaskannya. Hitung hitung move on dari beberapa orang.
2. Special kedua adalah saya seperti mengalami dejavu ketika mengalami kehilangan BB ini. 3 tahun yang lalu ketika saya masih menjadi pegawai baru di PT. BUMA, BB saya ketinggalan di toilet dan hilanglah dalam sekejap. Saat itu saya baru bekerja 1 bulan. Dan sekarang saya kembali kehilangan BB saat baru 1 bulan kembali berkantor di Jakarta. Rasanya jadi seperti ritual yang harus saya jalani ketika berkantor di kantor pusat BUMA ini, tapi kok ya ritualnya nggak enak banget.

Silahkan delete contact saya dari daftar teman di BB anda dan jika masih berkenan berteman dengan saya, berikut pin baru saya 75D1420F.

Jumat, 28 Juni 2013

Travelling series : Menggelandang di Bandara Sepinggan

Akhirnya saya mengambil juga jatah cuti lapangan saya yang sudah molor 3 minggu. Ini adalah cuti pertama di site baru dan cuti kali ini, saya memutuskan untuk travelling ke Oadang sambil menghadiri pernikahan teman di Pekanbaru. Di site baru ini, perjalanan cutidapat dilakukan setiap hari, tidak berjadwal seperti di site sebelumnya dan tiket oesawatmu bebas diambil untuk jam berapapun. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil penerbangan pagi ke Padang. Sempat akan pergi tanggal 27 Juni, namun karena tiket sekali jalan saja sudah melebihi plafon tiket saya, maka saya memilih mundur 1 hari dan itupun masih terancam overplafon untuk tiket pulangnya.
Karena saya mendapat penerbangan pagi, maka saya tidak mungkin ikut mobil sarana yang disediakan oleh perusahaan yang berangkat pk. 04.30 dari mess. Saya-pun memesan travel sendiri dari Batu Kajang ke Penajam seharga Rp. 180.000 sudah termasu kongkos speed boat. Perjalanan dimulai pk. 20.00 dan diperkirakan tiba di Balikpapan pk.01.00 dini hari. Masih jauh sekali dari jadwal penerbangan. Berdasarkan masukan dari teman-teman, sebaiknya menunggu saja di bandara daripada sewa penginapan dan saya-pun mengamini karena jarak waktu menunggunya tanggung untuk digunakan menginap. Sebenarnya perusahaan saya memiliki mess transit di Balikpapan tapi suasananya kurang nyaman dan 'seram' jadi saya memilih mengikuti usul teman-teman yaitu menunggu di bandara.
Sampai di bandara pk.02.00 dan jreng.....kondisi bandara jauh dari bayangan saya. Bayangan saya, bandara sepinggan akan sama dengan bandara makassar yang ramai dengan orang menunggu penerbangan, tapi ternyata bandara ini berbeda 180 derajat. Sepi bahkan tutup....Jiah! Tak ada pilihan lagi karena saya tidak persiapan untuk menginap dibhotel. Iseng-iseng bertanya fasilitas transit di Hotel Santika, tapi ternyata tidak ada. Ok-lah....sepertinya saya memang ditakdirkan untuk menggelandang, apalagi uang sayapun cekak. Menunggu di depan pintu bandara, duduk duduk di teras akhirnya menjadibaktivitas yang harus dijalani selama 6 jam ke depan:)

Note: perjalanan malam dengan menggunakan speed boat benar benar buat jantung copot..tapi nggak kapok kok demi bonus 1 hari perjalanan cuti ;)

Rabu, 03 April 2013

Travelling Series : WASUR



Banyak orang yang mungkin tidak tahu bahwa di ujung timur Indonesia, tepatnya di Merauke, terdapat sebuah Taman Nasional yang cukup apik. Taman Nasional itu bernama Wasur. Apa saja yang bisa dilihat di TN Wasur ini? Anda dapat melihat gugusan rumah semut-yang konon hanya ada di Merauke dan Afrika Selatan saja, penangkaran kangguru, taman anggrek dan berbagai flora fauna khas Merauke lainnya. Memang TN Wasur tidaklah semegah taman nasional lain dalam hal pengelolaan karena taman nasional ini masih relatif baru, namun jika Anda ingin merasakan eksotisme Papua selain yang sudah ramai diperbincangkan seperti Raja Ampat dan pegunungan Jayawijaya, TN Wasur layak untuk dikunjungi. Wasur dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 30 menit-1 jam dari pusat kota Merauke. Untuk saat ini, belum ada sarana transportasi umum menuju ke Wasur, namun Anda dapat menyewa mobil dengan tarif Rp. 60.000/jam. Cukup murah bukan ? Untuk memasuki kawasan TN Wasur, Anda dapat melapor terlebih dahulu pada penjaga di pos yang terletak di gerbang depan taman nasional. Kemarin saat saya berkunjung ke sana, kami hanya diwajibkan membayar Rp. 2.000/orang untuk dapat masuk ke pusat informasi TN Wasur. Pusat Informasi TN Wasur memiliki desain yang sangat unik, yaitu menyerupai rumah semut, ikon dari TN Wasur-sebuah desain arsitektur yang indah. Di dalam pusat informasi Wasur tersebut, Anda akan lebih mengenal tentang flora dan fauna khas Merauke dan juga cara hidup masyarakat asli Merauke.
Jika Anda adalah penggemar tanaman bunga, maka Anda harus mengunjungi taman anggrek yang letaknya tak jauh dari pos penjaga. Disana Anda dapat melihat dan sekaligus membeli anggrek sebagai kenang-kenangan dari TN Wasur. Anggrek yang terkenal di Wasur adalah jenis anggrek nenas (dendrobium similiae). Selain taman anggrek, anda juga dapat mengunjungi penangkaran kangguru. Kangguru Merauke tidaklah sebesar kangguru yang biasa kita lihat di televisi, namun mereka sangat lucu dan menggemaskan. Untuk Anda yang hobi memicu adrenalin, TN Wasur telah menyediakan wahana outbound sehingga Anda dapat maksimal beraktivitas di alam bebas.
Setelah puas bermain di TN Wasur, Anda dapat meneruskan perjalanan menuju Sota, yaitu perbatasan RI-PNG, kurang lebih 1 jam perjalanan dari TN Wasur. Jadi...tunggu apalagi...nikmati eksotisme Papua di TN Wasur!

*sebuah posting saya 3 tahun lalu di sebuah media online*

 

Sabtu, 02 Maret 2013

Resensi film : BLIND DATING

Iseng-iseng meng-copy film dari hard disk external seorang teman yang saya pinjam kali ini berbuah manis karena saya mendapatkan film yang keren banget. Cool! Judulnya seperti yang tertera di subject artikel ini : Blind Dating.
Awalnya saya kira ini adalah film dengan rating dewasa, tapi ternyata film ini adalah film keluarga yang sangat menyentuh sekali, meskipun belum sampai membuat saya berderai air mata, namun cukup untuk membuat kepala saya sedikit pening karena menahan luapan emosi haru.

Film ini bercerita tentang kisah seorang anak bernama Danny V (nama keluarganya sulit sekali dan saya tidak bisa menuliskannya dengan tepat. Maaf…!). Ia dilahirkan buta karena ia lahir premature 3 bulan lebih awal. Meskipun terlahir buta, namun Ia dididik sama seperti anak normal lainnya. Keluarganya sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Ibunya cukup protektif dan mengkuatirkan keadaannya karena merasa bersalah telah membuat Danny lahir premature. Ayahnya mengajarkan pada Danny segala hal yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan oleh anak yang mengalami kebutaan, seperti berlatih memukul bola baseball. Kakaknya Larry (Lorenzo) adalah anak yang bandel dan usil namun sangat menyayangi Danny. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun saja dan Ia sudah mengerjakan tugasnya menjaga dan mengajarkan segala sesuatu kepada Danny sejak mereka masih kecil sekali. Danny dikelilingi oleh orang-orang yang penuh cinta dan perhatian. Selain keluarga, Ia juga punya seorang sahabat dekat, seorang pria Afro Amerika bernama Jay. Jay dan Danny selalu memanfaatkan kemampuan Danny shooting bola basket untuk bertaruh bahwa Danny akan menang dalam melakukan shooting bola basket melawan orang normal, dan tentu saja mereka menang taruhan karena mereka adalah team yang hebat. Danny bergerak berdasarkan suara yang dibuat oleh Jay di sekitar jaring sehingga Danny dapat menembak bola dengan tepat. Selain Jay, Ia juga memiliki seorang psikolog pribadi yang selalu setia mendengarkan curahan emosi Danny, namun psikolog ini memiliki keanehan yaitu ia memiliki dorongan seksual yang tinggi dan selalu berusaha telanjang di depan Danny ketika mereka sedang melakukan konsultasi psikologis (kelainan ini masih terasa dipaksakan buat saya dan saya tidak dapat menangkap maksudnya, apakah ini memang kelainan yang dimiliki psikolog itu karena memiliki dorongan seksual yang tinggi ataukah hanya karena dia terangsang melihat Danny yang memang tampan-absurd).

Suatu hari, Danny dan Larry jalan bersama-sama menggunakan limosin perusahaan yang dikelola oleh Larry. Kebetulan saat itu, Larry sedang membawa tamu special, yaitu seorang pelacur yang menggunakan limusin Larry sebagai tempat transaksi. Selesai berbisnis, pelacur yang dibawa Larry mencoba menggoda Danny, namun Danny tak bergeming karena Ia tidak dapat melihat kemolekan tubuh si pelacur. Hal ini membuat Larry memiliki ide karena ia kuatir di usia Danny yang menginjak 23 tahun, Ia belum pernah merasakan hubungan seksual dengan wanita manapun. Ide itulah meng-arrange kencan buta untuk Danny. Gadis-gadis yang dibawa Larry ternyata masuk dalam kategori tidak biasa sehingga berantakanlah kencan buta si pria buta. Ada yang terlalu sensitive sehingga tidak berhenti menangis ketika mengetahui bahwa Danny ternyata buta. Ada yang memperlakukannya seperti anaknya dan ternyata wanita itu adalah wanita yang perkasa/jantan sehingga membuat Danny lari terbirit-birit karena dipaksa untuk berhubungan seks dengannya. Ada juga seorang pelacur yang akhirnya membuat Danny marah besar pada Larry karena ia telah berjanji akan mengenalkan Danny pada seorang gadis baik-baik. Dan terakhir ada seorang gadis dari kalangan atas dimana Danny bersikeras untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya buta dari sang gadis. Bisa diduga, rencana itu hancur berantakan hanya gara-gara salah satu orang yang dipercaya untuk menjalankan scenario blind dating itu tiba-tiba terserang flu dan harus pulang lebih cepat. Semua kencan buta yang sudah disetting Larry-pun gagal total.

Di tengah-tengah Larry sibuk mencarikan teman kencan buta untuk Danny, ia bertemu dengan seorang gadis di klinik tempat Danny akan melangsungkan percobaan pengobatan untuk pasien yang mengalami kebutaan. Gadis itu adalah gadis India yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria India juga. Danny jatuh cinta pada Leeza. Singkat cerita, mereka-pun sering bertemu dan benih-benih cinta-pun tersemai di hati keduanya. Namun karena Leeza sudah berjanji pada orang tuanya untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya dan ia tidak dapat melanggar adat budaya nenek moyangnya, Ia-pun terpaksa memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Danny. Danny-pun patah hati dan percaya bahwa Leeza memutuskannya karena ia buta. Sama-sama hancur perasaannya dan sama-sama terluka, namun mereka tidak dapat berbuat banyak.

Danny akhirnya menjalani operasi neurologis agar ia dapat melihat, setidaknya dalam warna hitam putih. Operasi berjalan dengan lancar dan uji coba melihat menggunakan alat bantu yang memanfaatkan rangsangan pada syaraf di otak juga memberikan hasil yang positif. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena proses itu ternyata membuat Danny kesakitan. Uji coba dihentikan sementara waktu. Danny yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Leeza-pun nekat tetap menggunakan alat gagal tersebut agar bisa melihat wajah Leeza untuk terakhir kalinya sebelum ia akan terperangkap dalam kegelapan lagi. Danny hadir di saat yang tidak tepat karena pada saat yang bersamaan, Leeza tengah mengadakan acara pertunangan dengan pria pilihan orang tuanya. Meski sedikit klise dan sudah bisa ditebak jalan akhirnya, tak urung ending film ini membuat saya terharu karena kata-kata yang diucapkan Danny kepada Leeza ketika ia akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya :
"Biarkan aku mengatakan apa itu artinya cinta. Cinta adalah bagaimana kau berbicara denganku. Kau memiliki kelembutan dalam suaramu yang menyentuhku. Dan cinta adalah bagaimana kau menyentuhku dan menuntunku, menunjukkan jalan bagiku dan pada saat kita berciuman, ciuman itu menggerakkan jiwa ragaku."
Oh so sweet… The end. Danny mendapatkan restu dari orang tua Leeza untuk menjalin hubungan dengan anaknya dan keluarga Danny yang berdarah Latin dapat menyesuaikan diri dengan keluarga Leeza yang berdarah India. A happy ending story.

Nice movie, isn't it ? Saya kira moral dari film itu adalah cinta tidak mengenal keterbatasan fisik dan budaya karena cinta berasal dari hati. Meskipun film ini adalah fiksi belaka tapi benar-benar menyentuh terutama pada adegan-adegan yang menggambarkan bagaimana keluarga saling men-support, bagaimana memperlakukan orang yang cacat fisik tanpa melihat keterbatasan mereka, namun focus pada kelebihan yang dimilikinya.
Anda harus menontonnya!


Powered by Telkomsel BlackBerry®