Senin, 27 Juli 2015

HR Series : Working With Heart

http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/5529500a6ea83465588b4567.jpeg?t=o&v=760



Bekerja di bidang HR itu sama seperti bekerja di bidang sales yang bertujuan untuk memuaskan pelanggan. Jika di sales, pelanggannya adalah end customer, maka pelanggan HR adalah karyawan dan managemen. Dan tantangan terbesar dari bekerja untuk memuaskan pelanggan adalah bekerja dengan penuh ketulusan, bukan hanya manis di bibir karena pelanggan dapat merasakan betul mana yang diberikan dengan penuh ketulusan, dan mana yang tidak.

Bicara tentang bekerja penuh ketulusan, saya punya satu cerita menarik tentang seorang rekan kerja di perusahaan di Papua. Ia adalah seorang dokter yang di hire perusahaan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi karyawan dan masyarakat di sekitar area perusahaan yang letaknya terpencil. Diam diam saya kagum padanya karena dia mendedikasikan seluruh hidupnya untuk bermakna bagi orang lain. Dia dibayar cukup besar oleh perusahaan tempat saya bekerja dan mendapatkan fasilitas lainnya yang cukup baik. Banyak orang jika menjadi dirinya akan cukup puas dengan apa yang sudah diraihnya karena dengan posisinya sebagai dokter perusahaan di daerah terpencil, sebenarnya tidak terlalu banyak kasus yang butuh penanganannya sehingga dia bisa bersikap santai. Namun alih-alih bersantai-santai, Ia memilih untuk mengerjakan hal-hal lain, yaitu terlibat dalam kegiatan kemasyarakatan. Tindakan yang awalnya mendapatkan tatapan sinis dari rekan kerja lainnya karena itu bukan area pekerjaannya. Mengabaikan apa yang dibicarakan orang tentang dirinya, Ia tetap tekun menjalani apa yang diyakininya benar dan bahkan menarik orang-orang lain untuk terlibat dalam kegiatannya. Hasilnya? Ia menjadi dicintai oleh masyarakat di sekitar perusahaan dan dihormati oleh rekan-rekan kerja yang lain. Apakah itu hanya karena Ia tekun menjalani apa yang diyakininya benar? Tentu saja tidak. Ia melakukan pengabdian pada masyarakat dengan ketetapan hati bahwa Ia bisa berbuat lebih banyak untuk masyarakat dan ingin membuat masyarakat di daerah pedalaman sana mendapatkan hidup yang lebih baik, lebih sehat dan lebih pintar. Semua orang bisa merasakan ketulusan hatinya saat berinteraksi dengannya. Tak ada yang tidak mengenalnya dan tentu saja sampai bertahun-tahun kemudian, kebaikan hatinya tidak akan pernah dilupakan. Pendidikan bagi anak-anak, perilaku hidup bersih sehat bagi masyarakat, dan masih banyak lagi warisan yang dia tinggalkan untuk masyarakat yang dia cintai sejak pertama kali Ia menjejakkan kaki di sana.

Bekerja dengan penuh ketetapan hati dan tulus bisa dilakukan oleh siapa saja dan jika kita sudah melakukannya, maka kita sendiri yang biasanya akan terkejut dengan efek dari bekerja penuh ketulusan tersebut. Saya menyebutnya 'Bekerja dengan hati'. Beberapa hari yang lalu, saya tiba-tiba ditelpon oleh nomer tidak dikenal. Ternyata yang menelpon saya adalah bapak dari seorang karyawan yang sudah meninggal karena sakit di lokasi kerja saya 3 tahun lalu. Beliau mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri dan percaya atau tidak, beliau tidak pernah absen untuk mengucapkan selamat hari raya. Hati saya langsung terasa disiram es ketika menerima telponnya. Saya merasa tidak melakukan banyak saat anaknya meninggal, namun mungkin apa yang saya lakukan saat itu dirasakan penuh makna oleh beliau. Saya jadi malu karena apa yang saya lakukan adalah memang bagian dari tugas saya sebagai seorang HR. Dan bapak tersebut mengingatkan saya bahwa meskipun itu adalah tugas saya sebagai seorang HR yang memang kodratnya adalah memberikan pelayanan terbaik bagi karyawan, namun jika dilakukan dengan penuh keterpaksaan, maka orang lain akan mudah melupakan apa yang sudah kita lakukan dan bahkan mungkin akan terasa menyakitkan bagi mereka. Dan sebaliknya, jika kita melakukannya dengan penuh ketulusan, maka orang lain akan merasakan dan mengenangnya dengan baik, dan hal itu memberikan pengalaman yang menyenangkan untuk mereka.

Jadi siapapun Anda, apapun bidang pekerjaan Anda, bekerjalah dengan tulus dan dengan hati, maka segala kebaikan akan kembali kepada Anda.

*foto diambil dari http://assets-a2.kompasiana.com/statics/crawl/5529500a6ea83465588b4567.jpeg?t=o&v=760

Jumat, 01 Mei 2015

Travelling series: Semarang (Day 1)

Akhirnya saya melakukan perjalanan lagi setelah 6 bulan yang lalu ke pantai Ora, Maluku. Perjalanan kali ini di seputaran Jawa saja, yaitu ke Semarang. Dan perjalanan ini bukan tanpa tujuan seperti biasanya, tapi dalam rangka menghadiri pernikahan seorang kawan. Mumpung long weekend dan sudah lama nggak travelling sendiri, maka saya-pun bela belain untuk datang ke Semarang.

Untuk perjalanan berangkat, saya memilih moda transportasi kereta api karena:
1. Murah
2. Sudah 2 tahun saya tidak naik kereta api jarak jauh
Pilihan kereta apinya adalah KA Ekonomi Kertajaya dengan harga tiket 90.000 dari Stasiun Pasar Senen ke Semarang Poncol. Saya pilih kereta ini karena hanya kereta ekonomi ini saja yang masih tersisa saat saya mencari tiket ke Semarang 1 bulan yang lalu. Kereta api saat ini jadi moda transportasi primadona karena nyaman dan murah sehingga tidak heran jika tiketnya cepat ludes dalam waktu singkat, apalagi jika long weekend.
Saya berangkat dari rumah kakak di Pekayon, Bekasi pk. 11.00 karena takut KRL banyak tertahan dan terlambat tiba di Stasiun Senen. Untungnya perjalanan KRL lancar dan hanya menunggu lama di Stasiun Jatinegara. Saya tiba di Stasiun Senen pk. 12.45, masih cukup waktu untuk makan siang dan mencari bekal perjalanan. Tapi rencana tinggallah rencana, Stasiun Pasar Senen seperti pasar... Penuh dan tidak ada bangku kosong lagi di tempat tempat makan. Tak terbayangkan nanti waktu mudik lebaran, bagaimana wajah stasiun Pasar Senen...pasti seperti pasar malam hari pertama, penuh sesak!
Saya membeli bekal di 7eleven yang antriannya di kasir seperti ular sawah panjangnya. Setelah cukup mengganjal perut, saya masuk ke kereta api tepat pk. 13.30. Dan sial... AC kereta api mati sehingga rasanya seperti di sauna dalam kontainer. Fiuh! Untung petugas KA cukup sigap untuk lakukan perbaikan dan foila... Suhu 18 derajat mendinginkan gerbong.
Salute untuk PT. KAI, kereta Kertajaya ini berangkat tepat waktu, tidak kurang atau lebih semenitpun. Let's enjoy the trip!
Dan belum 15 menit kereta berjalan, pujian untuk PT. KAI terpaksa saya tarik kembali. AC kembali mati dan panas tak tertahankan karena gerbong tak memiliki jendela sama sekali. Penumpangpun saling berebutan berdiri di bordes karena sudah tidak tahan lagi. Dan tak satupun petugas yang nampak. Hanya satu petugas yang muncul untuk menawarkan bantal tidur dan ketika dikomplain, hanya menyampaikan bahwa kereta memang panas. Lho?! Jawaban menjengkelkan...untung akhirnya disambung dengan ralat ucapannya bahwa teknisi sedang memperbaiki beberapa AC di gerbong belakang. Haiyah... Apa ya sebelum berangkat tidak diperiksa dulu tho...
Dan ternyata siksaan di dalam kereta api belum selesai. Teknisi berhasil memperbaiki AC, namun di tengah perjalanan dari Tegal ke Pekalongan, AC kembali mati dan disusul kemudian dengan lampu. Sudah panas, gelap gulita pula. Katanya gensetnya bermasalah. Oalah... Ini kalau di tambang, sudah stop dioperasikan. Namun sayangnya ini bukan tambang, tapi transportasi umum. Sampai di Stasiun Pekalongan, penumpang banyak yang keluar kereta mencari udara segar dan berharap kereta diperbaiki. Tapi apa daya, baru 5 menit menikmati udara segar, pengumuman kereta akan berangkat terdengar diiringi permintaan maaf bahwa genset akan diperbaiki sambil jalan. Penumpang langsung kompak melontarkan kekecewaan. Dari ungkapan kekecewaan, terselip cerita tak enak tentang calo kereta api. Saya kira dengan sistem yang sekarang sudah sangat baik dari PT. KAI, calo ikutan hilang, namun ternyata mereka masih ada. Seorang ibu bercerita bahwa Ia harus membayar tiket seharga Rp. 275.000,- dari Jakarta ke Surabaya untuk naik kereta ini yang mana harga aslinya adalah Rp. 90.000. Bahkan katanya, ada yang jual sampai harga Rp.500.000. Ironi... Di tengah pemerintah berusaha menyediakan transportasi umum yang terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat, tetap saja ada oknum yang berusaha untuk bermain main dengan aturan demi kepentingan diri sendiri.
Tak ada yang bisa dilakukan oleh penumpang, selain pasrah dengan keadaan... Panas, gelap... Benar benar seperti tinggal di dalam kontainer peti kemas berjalan. Genset baru bisa diperbaiki menjelang masuk Weleri, itupun dengan kondisi hidup mati. Untung saya cuma sampai Semarang, tak terbayangkan yang harus melanjutkan perjalanan sampai Surabaya Turi.

Kereta tiba tepat waktu di Stasiun Semarang Tawang, yaitu tepat pk. 21.50. Ketepatan waktu adalah salah satu hal baik yang terjadi sepanjang perjalanan ini. Sampai di Semarang, disambut dengan suara guntur yang menggelegar, tanda hujan lebat akan turun. Tanpa berpikir terlalu lama, saya langsung naik taksi Blue Bird yang sudah siap sedia mengangkut penumpang di depan pintu kedatangan stasiun. Jarak stasiun ke hotel Quest, tempat saya menginap di daerah Plampitan tidak terlalu jauh dan argo taksi menunjukkan angka Rp. 15.500, namun rupanya si Bapak Driver tidak memiliki kembalian sehingga saya terpaksa bayar Rp. 30.000. Pelajaran penting saat travelling adalah selalu sediakan uang pecahan saat bertransaksi! 
Sampai di hotel, teman saya dari Jogja sudah menunggu. Ia tiba 2 jam lebih cepat dengan menggunakan travel Joglo Semar dari Jogja ke Semarang seharga Rp. 80.000. Dan hal pertama kali yang saya lakukan begitu masuk kamar adalah mandi. Lupakan lapar dan ngantuk karena badan yang lengket dan gatal karena keringat bercucuran di kereta hanya punya 1 obat, yaitu mandi.
Setelah badan kembali bugar, otak saya-pun mulai bekerja normal. Sinyal pertama yang dikirimkan otak saya adalah saya lapar. Sasaran kuliner malam ini adalah Bakmi Jowo yang ada di dekat hotel. Diiringi hujan rintik rintik, saya dan teman berjalan kaki kurang lebih 150m untuk mendapatkan Bakmi Jowo Pak Bagong. Menu saya adalah seperti biasa, yaitu bihun rebus. Tebak berapa yang saya habiskan untuk makan malam hari pertama di Semarang? Rp. 26.000,-
Harga tersebut untuk bihun rebus, nasi goreng, 2 teh manis panas dan 2 krupuk. Di tengah tengah menikmati panasnya bihun rebus, tiba tiba hujan deras datang lagi. Terjebaklah kami di warung bakmi.
Hari sudah semakin malam dan mata rasanya tak bisa diajak kompromi lagi, sementara hujan tidak menunjukkan tanda tanda akan berhenti. Kami-pun memutuskan untuk naik becak kembali ke hotel meskipun jaraknya dekat sekali. Tanpa tawar menawar karena bapak penarik becak tak mau menyebutkan harga, dan akhirnya kami berikan Rp. 10.000 sebagai tanda terima kasih bersedia mengantarkan kami di tengah hujan. Mudah mudahan itu adalah harga yang pantas :)
Sampai di hotel, saya langsung jatuh tertidur karena kecapekan. See you tomorrow...

To be continued... Day 2 at Semarang...

Rabu, 11 Maret 2015

Life on street: Motor pengantin

Sejak saya kembali tinggal dan bekerja di daerah Bekasi dan Jakarta, saya terpaksa harus mengendarai sepeda motor untuk bepergian. Naik sepeda motor sebenarnya bukan pengalaman yang baru buat saya, apalagi dulu jaman masih kuliah, saya sering menjelajah berbagai pelosok pulau Jawa dengan menggunakan motor honda astrea prima milik ayah saya yang bandel sekali dalam segala medan dan cuaca. Pengalaman berkendara terjauh dan melelahkan saya adalah 4 jam nonstop dari Jogja ke Pacitan dengan jarak ratusan kilometer. Sampai di lokasi, tangan saya rasanya kebas dan tidak berhenti gemetar karena seringnya melewati jalan yang bergelombang.
Dan bagaimana pengalaman berkendara di daerah Bekasi dan Jakarta? Amazing! Menurut saya lebih melelahkan daripada Jogja-Pacitan karena saya naik motor tiap hari dengan jarak tempuh 34km pp. Jaraknya memang lebih pendek daripada Jogja Pacitan, namun konsentrasi yang dibutuhkan untuk menempuh jarak tersebut benar benar luar biasa, apalagi jika bertemu dengan musuh besar para pengguna kendaraan, yaitu macet dan banjir. Kepala saya biasanya akan langsung terasa nyeri setiap kali menemui dua hal di atas, apalagi di malam hari. Kombinasi antara rasa capek, mengantuk, jalanan macet, dan banjir benar benar menguji iman. Dan untuk meredakan ketegangan tersebut, saya akan mencoba untuk menuliskan apa yang saya lihat, rasakan, dan jalani selama perjalanan menggunakan motor sebagai media katarsis sekaligus sebagai media pembelajaran bagi kita semua dalam berperilaku di jalan, setidaknya bahan evaluasi untuk perilaku saya sendiri di jalan.

Perilaku yang menurut saya unik hari ini adalah pengendara motor yang beriringan seperti pengantin. Kenapa saya bilang seperti pengantin? Karena salah satu pengendara motor ini menumpangkan kaki kanannya bukan pada footstep motornya sendiri, tapi pada motor temannya sehingga jika dilihat, mereka ini seperti berjalan beriringan bergandengan bak pengantin. Entah apa alasannya melakukan hal tersebut, yang jelas saya tidak melihat adanya keanehan pada motor yang 'nebeng'. Ban tidak bocor, dan bensin tidak habis. Dan mereka berkendara di tengah tengah jalan dengan laju kecepatan sedang, tanpa merasa bersalah bahwa mereka menghambat laju kendaraan di belakangnya.

Hal unik kedua di jalan hari ini adalah mobil polisi yang lampu depannya mati sebelah. Lha gimana mau membuat pengguna jalan patuh aturan kalau yang menegakkan aturan juga melakukan hal yang sama, melanggar aturan. Kalau di tempat kerja saya, sebelum mengoperasikan kendaraan, wajib untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kendaraan, mulai dari kelengkapan kendaraan sampai fungsi dari masing-masing alat di dalam kendaraan tersebut. Jika ada yang tidak lengkap atau tidak berfungsi, maka kendaraan tidak boleh dioperasikan apapun alasannya karena dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain jika dipaksakan untuk dipakai. Apakah polisi tidak memiliki mekanisme pengecekan seperti itu ya?

Sudahkah anda mengecek kondisi kendaraan anda sebelum dioperasikan? 

Sabtu, 21 Februari 2015

Gadget

Ternyata sudah 1 tahun saya vakum dari dunia tulis menulis. Banyak hal yang terjadi selama 1 tahun dan saya tidak akan membuat banyak alasan kenapa saya vakum karena memang hanya ada 1 alasan kenapa saya tidak menulis di tahun 2014, yaitu saya malas. Alasan yang klasik dan saya ternyata gagal bangkit dari rasa malas itu. Tidak ada satupun tulisan yang saya hasilkan. Lalu mengapa sekarang saya tiba tiba terdorong untuk menulis lagi? Salah satu alasannya adalah karena saya membaca berita di detik.com hari ini bahwa penulis 'Fifty Shades of Grey', E.L James, menulis novel erotis yang populer itu menggunakan blackberry. Yup... menggunakan blackberry. Jadi begitu dia punya ide, langsung dituliskan di blackberry-nya yang kemudian baru didetailkan di Macbook-nya. Jadi terbayang dimanapun dan kapanpun dia mampu memaksimalkan penggunaan gadgetnya untuk hal yang produktif.
Hal inilah yang menginspirasi saya untuk melakukan hal yang sama. Saya punya 3 gadget dan penggunaannya akhir akhir ini tidak maksimal sama sekali padahal rasanya waktu saya lumayan cukup untuk membuat sesuatu yang produktif. Why not I'm trying to do something with my gadget? Dan daripada tidak ada sama sekali, maka muncullah tulisan ini.
Bicara tentang gadget, hari Rabu kemarin saya mengalami ke-apes-an a.k.a sial. Saya kehilangan blackberry yang sudah setia menemani saya selama 2 tahun. Bukan tipe yang bagus sih dan sudah sering hang tapi keselnya bukan main karena di situ berisi banyak informasi penting dan saya terbiasa menyimpan segala sesuatu di gadget itu karena bentuknya yang ringkas dan mudah dibawa kemana mana. Yang paling mengesalkan adalah saya kehilangan nomer kontak semua relasi. Kenapa blackberry saya bisa hilang? Karena saya ceroboh dengan mengeluarkan gadget di tengah keramaian dan kemudian menyimpannya sembarangan sehingga mengundang copet untuk mengambilnya. Ya... saya kecopetan di halte busway Slipi Palmerah. Dua hal yang spesial dari kejadian kecopetan itu adalah :
1. Daerah Slipi Palmerah sebenarnya di luar jalur saya pulang dari kantor ke rumah. Saya sampai di sana dan naik busway karena saya ke gereja Salvator di daerah petamburan untuk ikut misa Rabu Abu. Mungkin memang sudah waktunya BB itu berganti karena keinginan untuk misa di Salvator munculnya tiba tiba, padahal kalau dari segi jarak dan waktu, saya sebenarnya bisa misa di Kapel Atmajaya di seberang kantor. Saya tiba tiba punya kerinduan yang sangat untuk misa di Salvator dan rupanya itulah akhir dari perjalanan BB pin 29ece07d dengan saya. Mungkin saya disuruh beramal lebih di awal bulan puasa ini.
Sebenarnya saya sempat membuntuti orang yang saya duga pencopet, namun saya tidak cukup PD untuk menegurnya. Saya putuskan untuk mengikhlaskannya. Hitung hitung move on dari beberapa orang.
2. Special kedua adalah saya seperti mengalami dejavu ketika mengalami kehilangan BB ini. 3 tahun yang lalu ketika saya masih menjadi pegawai baru di PT. BUMA, BB saya ketinggalan di toilet dan hilanglah dalam sekejap. Saat itu saya baru bekerja 1 bulan. Dan sekarang saya kembali kehilangan BB saat baru 1 bulan kembali berkantor di Jakarta. Rasanya jadi seperti ritual yang harus saya jalani ketika berkantor di kantor pusat BUMA ini, tapi kok ya ritualnya nggak enak banget.

Silahkan delete contact saya dari daftar teman di BB anda dan jika masih berkenan berteman dengan saya, berikut pin baru saya 75D1420F.

Jumat, 28 Juni 2013

Travelling series : Menggelandang di Bandara Sepinggan

Akhirnya saya mengambil juga jatah cuti lapangan saya yang sudah molor 3 minggu. Ini adalah cuti pertama di site baru dan cuti kali ini, saya memutuskan untuk travelling ke Oadang sambil menghadiri pernikahan teman di Pekanbaru. Di site baru ini, perjalanan cutidapat dilakukan setiap hari, tidak berjadwal seperti di site sebelumnya dan tiket oesawatmu bebas diambil untuk jam berapapun. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil penerbangan pagi ke Padang. Sempat akan pergi tanggal 27 Juni, namun karena tiket sekali jalan saja sudah melebihi plafon tiket saya, maka saya memilih mundur 1 hari dan itupun masih terancam overplafon untuk tiket pulangnya.
Karena saya mendapat penerbangan pagi, maka saya tidak mungkin ikut mobil sarana yang disediakan oleh perusahaan yang berangkat pk. 04.30 dari mess. Saya-pun memesan travel sendiri dari Batu Kajang ke Penajam seharga Rp. 180.000 sudah termasu kongkos speed boat. Perjalanan dimulai pk. 20.00 dan diperkirakan tiba di Balikpapan pk.01.00 dini hari. Masih jauh sekali dari jadwal penerbangan. Berdasarkan masukan dari teman-teman, sebaiknya menunggu saja di bandara daripada sewa penginapan dan saya-pun mengamini karena jarak waktu menunggunya tanggung untuk digunakan menginap. Sebenarnya perusahaan saya memiliki mess transit di Balikpapan tapi suasananya kurang nyaman dan 'seram' jadi saya memilih mengikuti usul teman-teman yaitu menunggu di bandara.
Sampai di bandara pk.02.00 dan jreng.....kondisi bandara jauh dari bayangan saya. Bayangan saya, bandara sepinggan akan sama dengan bandara makassar yang ramai dengan orang menunggu penerbangan, tapi ternyata bandara ini berbeda 180 derajat. Sepi bahkan tutup....Jiah! Tak ada pilihan lagi karena saya tidak persiapan untuk menginap dibhotel. Iseng-iseng bertanya fasilitas transit di Hotel Santika, tapi ternyata tidak ada. Ok-lah....sepertinya saya memang ditakdirkan untuk menggelandang, apalagi uang sayapun cekak. Menunggu di depan pintu bandara, duduk duduk di teras akhirnya menjadibaktivitas yang harus dijalani selama 6 jam ke depan:)

Note: perjalanan malam dengan menggunakan speed boat benar benar buat jantung copot..tapi nggak kapok kok demi bonus 1 hari perjalanan cuti ;)

Rabu, 03 April 2013

Travelling Series : WASUR



Banyak orang yang mungkin tidak tahu bahwa di ujung timur Indonesia, tepatnya di Merauke, terdapat sebuah Taman Nasional yang cukup apik. Taman Nasional itu bernama Wasur. Apa saja yang bisa dilihat di TN Wasur ini? Anda dapat melihat gugusan rumah semut-yang konon hanya ada di Merauke dan Afrika Selatan saja, penangkaran kangguru, taman anggrek dan berbagai flora fauna khas Merauke lainnya. Memang TN Wasur tidaklah semegah taman nasional lain dalam hal pengelolaan karena taman nasional ini masih relatif baru, namun jika Anda ingin merasakan eksotisme Papua selain yang sudah ramai diperbincangkan seperti Raja Ampat dan pegunungan Jayawijaya, TN Wasur layak untuk dikunjungi. Wasur dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor selama 30 menit-1 jam dari pusat kota Merauke. Untuk saat ini, belum ada sarana transportasi umum menuju ke Wasur, namun Anda dapat menyewa mobil dengan tarif Rp. 60.000/jam. Cukup murah bukan ? Untuk memasuki kawasan TN Wasur, Anda dapat melapor terlebih dahulu pada penjaga di pos yang terletak di gerbang depan taman nasional. Kemarin saat saya berkunjung ke sana, kami hanya diwajibkan membayar Rp. 2.000/orang untuk dapat masuk ke pusat informasi TN Wasur. Pusat Informasi TN Wasur memiliki desain yang sangat unik, yaitu menyerupai rumah semut, ikon dari TN Wasur-sebuah desain arsitektur yang indah. Di dalam pusat informasi Wasur tersebut, Anda akan lebih mengenal tentang flora dan fauna khas Merauke dan juga cara hidup masyarakat asli Merauke.
Jika Anda adalah penggemar tanaman bunga, maka Anda harus mengunjungi taman anggrek yang letaknya tak jauh dari pos penjaga. Disana Anda dapat melihat dan sekaligus membeli anggrek sebagai kenang-kenangan dari TN Wasur. Anggrek yang terkenal di Wasur adalah jenis anggrek nenas (dendrobium similiae). Selain taman anggrek, anda juga dapat mengunjungi penangkaran kangguru. Kangguru Merauke tidaklah sebesar kangguru yang biasa kita lihat di televisi, namun mereka sangat lucu dan menggemaskan. Untuk Anda yang hobi memicu adrenalin, TN Wasur telah menyediakan wahana outbound sehingga Anda dapat maksimal beraktivitas di alam bebas.
Setelah puas bermain di TN Wasur, Anda dapat meneruskan perjalanan menuju Sota, yaitu perbatasan RI-PNG, kurang lebih 1 jam perjalanan dari TN Wasur. Jadi...tunggu apalagi...nikmati eksotisme Papua di TN Wasur!

*sebuah posting saya 3 tahun lalu di sebuah media online*

 

Sabtu, 02 Maret 2013

Resensi film : BLIND DATING

Iseng-iseng meng-copy film dari hard disk external seorang teman yang saya pinjam kali ini berbuah manis karena saya mendapatkan film yang keren banget. Cool! Judulnya seperti yang tertera di subject artikel ini : Blind Dating.
Awalnya saya kira ini adalah film dengan rating dewasa, tapi ternyata film ini adalah film keluarga yang sangat menyentuh sekali, meskipun belum sampai membuat saya berderai air mata, namun cukup untuk membuat kepala saya sedikit pening karena menahan luapan emosi haru.

Film ini bercerita tentang kisah seorang anak bernama Danny V (nama keluarganya sulit sekali dan saya tidak bisa menuliskannya dengan tepat. Maaf…!). Ia dilahirkan buta karena ia lahir premature 3 bulan lebih awal. Meskipun terlahir buta, namun Ia dididik sama seperti anak normal lainnya. Keluarganya sangat mendukung pertumbuhan dan perkembangannya. Ibunya cukup protektif dan mengkuatirkan keadaannya karena merasa bersalah telah membuat Danny lahir premature. Ayahnya mengajarkan pada Danny segala hal yang sebenarnya tidak mungkin dilakukan oleh anak yang mengalami kebutaan, seperti berlatih memukul bola baseball. Kakaknya Larry (Lorenzo) adalah anak yang bandel dan usil namun sangat menyayangi Danny. Usia mereka hanya terpaut 2 tahun saja dan Ia sudah mengerjakan tugasnya menjaga dan mengajarkan segala sesuatu kepada Danny sejak mereka masih kecil sekali. Danny dikelilingi oleh orang-orang yang penuh cinta dan perhatian. Selain keluarga, Ia juga punya seorang sahabat dekat, seorang pria Afro Amerika bernama Jay. Jay dan Danny selalu memanfaatkan kemampuan Danny shooting bola basket untuk bertaruh bahwa Danny akan menang dalam melakukan shooting bola basket melawan orang normal, dan tentu saja mereka menang taruhan karena mereka adalah team yang hebat. Danny bergerak berdasarkan suara yang dibuat oleh Jay di sekitar jaring sehingga Danny dapat menembak bola dengan tepat. Selain Jay, Ia juga memiliki seorang psikolog pribadi yang selalu setia mendengarkan curahan emosi Danny, namun psikolog ini memiliki keanehan yaitu ia memiliki dorongan seksual yang tinggi dan selalu berusaha telanjang di depan Danny ketika mereka sedang melakukan konsultasi psikologis (kelainan ini masih terasa dipaksakan buat saya dan saya tidak dapat menangkap maksudnya, apakah ini memang kelainan yang dimiliki psikolog itu karena memiliki dorongan seksual yang tinggi ataukah hanya karena dia terangsang melihat Danny yang memang tampan-absurd).

Suatu hari, Danny dan Larry jalan bersama-sama menggunakan limosin perusahaan yang dikelola oleh Larry. Kebetulan saat itu, Larry sedang membawa tamu special, yaitu seorang pelacur yang menggunakan limusin Larry sebagai tempat transaksi. Selesai berbisnis, pelacur yang dibawa Larry mencoba menggoda Danny, namun Danny tak bergeming karena Ia tidak dapat melihat kemolekan tubuh si pelacur. Hal ini membuat Larry memiliki ide karena ia kuatir di usia Danny yang menginjak 23 tahun, Ia belum pernah merasakan hubungan seksual dengan wanita manapun. Ide itulah meng-arrange kencan buta untuk Danny. Gadis-gadis yang dibawa Larry ternyata masuk dalam kategori tidak biasa sehingga berantakanlah kencan buta si pria buta. Ada yang terlalu sensitive sehingga tidak berhenti menangis ketika mengetahui bahwa Danny ternyata buta. Ada yang memperlakukannya seperti anaknya dan ternyata wanita itu adalah wanita yang perkasa/jantan sehingga membuat Danny lari terbirit-birit karena dipaksa untuk berhubungan seks dengannya. Ada juga seorang pelacur yang akhirnya membuat Danny marah besar pada Larry karena ia telah berjanji akan mengenalkan Danny pada seorang gadis baik-baik. Dan terakhir ada seorang gadis dari kalangan atas dimana Danny bersikeras untuk menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya buta dari sang gadis. Bisa diduga, rencana itu hancur berantakan hanya gara-gara salah satu orang yang dipercaya untuk menjalankan scenario blind dating itu tiba-tiba terserang flu dan harus pulang lebih cepat. Semua kencan buta yang sudah disetting Larry-pun gagal total.

Di tengah-tengah Larry sibuk mencarikan teman kencan buta untuk Danny, ia bertemu dengan seorang gadis di klinik tempat Danny akan melangsungkan percobaan pengobatan untuk pasien yang mengalami kebutaan. Gadis itu adalah gadis India yang sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang pria India juga. Danny jatuh cinta pada Leeza. Singkat cerita, mereka-pun sering bertemu dan benih-benih cinta-pun tersemai di hati keduanya. Namun karena Leeza sudah berjanji pada orang tuanya untuk menikah dengan pria pilihan orang tuanya dan ia tidak dapat melanggar adat budaya nenek moyangnya, Ia-pun terpaksa memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Danny. Danny-pun patah hati dan percaya bahwa Leeza memutuskannya karena ia buta. Sama-sama hancur perasaannya dan sama-sama terluka, namun mereka tidak dapat berbuat banyak.

Danny akhirnya menjalani operasi neurologis agar ia dapat melihat, setidaknya dalam warna hitam putih. Operasi berjalan dengan lancar dan uji coba melihat menggunakan alat bantu yang memanfaatkan rangsangan pada syaraf di otak juga memberikan hasil yang positif. Namun hal itu tidak berlangsung lama karena proses itu ternyata membuat Danny kesakitan. Uji coba dihentikan sementara waktu. Danny yang sudah terlanjur jatuh cinta pada Leeza-pun nekat tetap menggunakan alat gagal tersebut agar bisa melihat wajah Leeza untuk terakhir kalinya sebelum ia akan terperangkap dalam kegelapan lagi. Danny hadir di saat yang tidak tepat karena pada saat yang bersamaan, Leeza tengah mengadakan acara pertunangan dengan pria pilihan orang tuanya. Meski sedikit klise dan sudah bisa ditebak jalan akhirnya, tak urung ending film ini membuat saya terharu karena kata-kata yang diucapkan Danny kepada Leeza ketika ia akhirnya berani mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya :
"Biarkan aku mengatakan apa itu artinya cinta. Cinta adalah bagaimana kau berbicara denganku. Kau memiliki kelembutan dalam suaramu yang menyentuhku. Dan cinta adalah bagaimana kau menyentuhku dan menuntunku, menunjukkan jalan bagiku dan pada saat kita berciuman, ciuman itu menggerakkan jiwa ragaku."
Oh so sweet… The end. Danny mendapatkan restu dari orang tua Leeza untuk menjalin hubungan dengan anaknya dan keluarga Danny yang berdarah Latin dapat menyesuaikan diri dengan keluarga Leeza yang berdarah India. A happy ending story.

Nice movie, isn't it ? Saya kira moral dari film itu adalah cinta tidak mengenal keterbatasan fisik dan budaya karena cinta berasal dari hati. Meskipun film ini adalah fiksi belaka tapi benar-benar menyentuh terutama pada adegan-adegan yang menggambarkan bagaimana keluarga saling men-support, bagaimana memperlakukan orang yang cacat fisik tanpa melihat keterbatasan mereka, namun focus pada kelebihan yang dimilikinya.
Anda harus menontonnya!


Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 25 Februari 2013

Resensi Film : ACCEPTED



Have you heard about this movie before? I haven’t until I read my friend’s timeline about this film. This is what he said on his facebook : 

“Accepted. Bercerita tentang seorang remaja yang ditolak 8 kali masuk kuliah dan akhirnya memutuskan untuk mendirikan universitas sendiri untuk membuat orang tuanya terkesan. Sudah nonton 3 kali dan gak pernah bosan lihat film ini.”

Sebuah testimony yang sangat mengusik rasa penasaran saya untuk ikut melihat filmnya. Seberapa istimewanyakah film ini sampai orang sanggup menontonnya berkali-kali? Jujur saja, berdasarkan pengalaman sendiri, saya jarang menonton film yang sama berkali-kali hanya karena saya sangat terkesan dengan filmnya. Andaikata saya menontonnya untuk kedua kali atau ketiga kali, itu lebih karena disebabkan saya sudah tidak punya tontonan lain dan saya punya banyak waktu luang yang sayang jika hanya dihabiskan untuk tidur. 

Film ini bercerita tentang seorang remaja Amerika yang baru saja menamatkan SMA-nya dan sedang berusaha untuk dapat diterima di salah satu Perguruan Tinggi yang ada. Namanya adalah Bartleby Gaines. Ia adalah anak yang kritis dan easy going, namun sayangnya Ia kurang beruntung karena tidak ada satupun Universitas yang mau menerimanya dan tentu saja hal ini mengecewakan orang tuanya. Orang tuanya beranggapan bahwa orang akan menjadi sukses jika mereka menempuh pendidikan di Universitas. Demi untuk memuaskan keinginan orang tuanya, B akhirnya melakukan kebohongan bahwa Ia diterima di sebuah Universitas, yaitu South Hammon Institute Of Technology (S.H.I.T). Kebohongan yang awalnya diciptakan hanya untuk membuat orang tuanya terkesan bahwa Ia akhirnya dapat diterima di sebuah Universitas akhirnya menjadi masalah yang semakin besar. Orang tuanya bersikukuh mengantarkannya ke kampus di hari pertamanya kuliah, dan hal ini menuntut dia untuk menyediakan gedung yang layak untuk menutupi kebohongannya tersebut. Akhirnya ditemukanlah sebuah gedung bekas rumah sakit jiwa yang sudah tidak terpakai. Beberapa renovasi dilakukan hanya sekedar untuk membuat orang tuanya percaya bahwa universitas tersebut adalah nyata adanya. Kemudian, orang tuanya menuntut untuk bertemu dekan karena mereka ingin memastikan anaknya mendapatkan pendidikan yang terbaik. Akhirnya, Ia mengajak paman seorang temannya yang pernah menjadi dosen namun kemudian dipecat karena kebiasannya yang suka minum-minum. Ternyata persoalan tidak selesai sampai di situ. Karena kesalahan pembuatan website ‘Universitas Khayalan’, tiba-tiba datanglah sebuah kejutan di hari pertama kuliah karena kemudian ada banyak orang yang mendaftar untuk kuliah di S.H.I.T. Tak kuasa menolak dan mengatakan yang sejujurnya pada orang-orang yang semuanya ditolak untuk masuk Universitas yang sesungguhnya menyebabkan B terpaksa melanjutkan pendirian universitasnya.
Tidak menyangka akan perkembangan yang terjadi, maka B akhirnya memiliki ide untuk menanyakan pada masing-masing mahasiswa (i) tentang apa yang sebenarnya ingin mereka pelajari dan Ia-pun membebaskan setiap mahasiswa (i) untuk berkreasi sesuai dengan keinginan mereka tersebut. Alhasil, setiap mahasiswa hanya mendapatkan fasilitas untuk mendukung apa yang ingin mereka pelajari dan proses belajar mengajar diserahkan sepenuhnya pada kreatifitas mereka. Kampus-pun jadi meriah, terasa menyenangkan, tidak menegangkan dan sangat menghargai. Sangat berbeda dengan kampus Hammon (asli) yang sudah berdiri sejak 153 tahun yang lalu. Kampus Hammon sangat bangga akan tradisi perploncoan-nya yang kerap melecehkan mahasiswa yang tidak popular dan tidak keren. Konflik-pun tidak dapat dihindari antara kampus S.H.I.T dan kampus Hammon yang asli. Puncaknya, para petinggi kampus Hammon asli mengungkapkan identitas kampus S.H.I.T yang ternyata hanyalah palsu belaka. Semua orang kecewa, namun B tetap gigih ingin mempertahankan kampus yang memberikan harapan baru bagi orang-orang yang sudah mengalami penolakan dimana-mana, apalagi setelah Dewan Pendidikan Tinggi memberinya kesempatan untuk mengajukan akreditasi bagi kampus S.H.I.T. Tak disangka, yang mendukung B sangatlah banyak dan semua mahasiswa (i) hadir dalam sidang akreditasi tersebut. B berhasil meyakinkan dewan bahwa yang dibutuhkan mahasiswa (i) adalah sebuah wahana pembelajaran yang kreatif dimana seluruh mahasiswa (i) dapat berkembang sesuai dengan keinginan, minat dan kemampuan masing-masing. Dan akhirnya, S.H.I.T pun berhasil mendapatkan akreditasi meskipun harus menjalani masa percobaan 1 tahun. 

Sebuah kisah yang apik kan ? Bukan film terkenal namun pesan yang dibawa oleh film ini sangatlah mengena dan menurut saya cukup menampar wajah system pendidikan. Apa sebenarnya tujuan dari kuliah ? Tujuan kuliah adalah mempersiapkan mahasiswa (i) menjadi orang yang mandiri dan memiliki pengetahuan sebagai bekal untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Terlihat mudah tujuannya namun dalam pelaksanaannya seringkali system pendidikan lupa meng-akomodir keinginan dan kebutuhan setiap individu untuk menjadi kreatif. Seluruh system pendidikan di-setting seragam dengan tujuan yang pasti yaitu meluluskan siswa dengan nilai yang tinggi, persetan apakah mereka benar-benar mengerti atau tidak, apakah pengetahuan yang mereka ajarkan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sang siswa kelak atau tidak dan apakah mereka dapat menghidupi dirinya dari belajar di bangku sekolah atau tidak. Akhirnya tujuan dari pendidikan-pun menjadi absurd, tak jelas arahnya. 

Apakah kita akan menjadi sukses dengan bersekolah ? Think twice!!

Life on Site : Selingkuh Itu Sedang Musim



Saya membuat tulisan ini karena terinspirasi dari kata-kata Sule dalam acara Pas Mantab di Trans 7 yang sedang tayang pada hari Minggu, 24 Februari 2013. Dalam salah satu percakapannya di acara itu, ia mengatakan bahwa “Sekarang selingkuh itu sedang musim”. Mendengar kata-kata Sule itu, saya sontak tertawa karena apa yang dia katakan itu memang benar adanya. Saya setuju 100% dengan apa yang dikatakan oleh Sule, karena hal itu saya alami sendiri saat ini di site. Ups!
Hidup di site apalagi di lokasi yang jauh dari peradaban dan hingar bingar kota membuat kehidupan di site berjalan agak membosankan. Bertemu dengan orang yang sama setiap harinya, berinteraksi hampir 24 jam sehari dan jauh dari keluarga membuat orang yang tidak kuat iman mudah jatuh dalam godaan yang tidak semestinya, termasuk di dalamnya selingkuh. Selingkuh-pun tidak hanya dilakukan oleh orang yang sudah memiliki status double alias menikah namun juga dilakukan oleh orang yang masih single namun statusnya not available alias sudah punya kekasih, pacar ataupun tunangan. Hidup jauh dari orang terdekat sementara kebutuhan untuk diperhatikan besar dan di site tercipta peluang untuk mendapatkan perhatian yang dibutuhkan, maka perselingkuhan-pun tak dapat dihindari.
Seorang teman, sudah menikah, memiliki beberapa anak, hubungan dengan istrinya sedang dingin bertemu dengan seorang teman lain jenis, single, cantik, dan sangat perhatian. Ketertarikan berawal dari seringnya koordinasi pekerjaan yang dilanjutkan dengan acara makan malam bersama karena menu di kantin yang tidak enak. Pertemuan demi pertemuan tercipta dimana rasa simpati mengalir karena dua insan lain jenis ini merasakan hal yang sama, yaitu jengkel dengan kondisi keluarga, rasa kesepian yang sangat karena bekerja di site dan kebutuhan biologis yang tak pernah tersalurkan dengan lancar. Hal-hal itupun akhirnya mendorong keduanya untuk sepakat menjalin hubungan gelap. Dunia di site mulai terang benderang, tak sesuram sebelumnya dan cuti-pun rela diundur agar memiliki kesempatan lebih lama dengan sang pujaan hati baru. Cerita ini belum berakhir dan tidak tahu apakah akan berakhir atau tidak karena teman saya akhir-akhir ini memutuskan untuk mengabaikan keluarganya dan lebih focus pada selingkuhannya.
Cerita yang lain adalah seorang teman yang masih single namun not available karena sudah punya pacar yang serius dan berencana menikah. Ia bertemu dengan seorang teman baru yang memiliki beberapa kesamaan, namun ternyata teman ini-pun sudah berstatus ‘in relationship’. Berawal dari seringnya menghadiri acara keagamaan bersama kemudian akhirnya dilanjutkan dengan pertemuan-pertemuan lain seperti makan bersama, mengambil hari libur bersama, dan lembur bersama. Bibit-bibit perselingkuhan-pun tersemai dengan suburnya. Namun perselingkuhan ini tak berumur lama karena teman perempuan saya akhirnya sadar bahwa menjalin hubungan dengan teman laki-laki saya itu adalah suatu hal yang sia-sia saja karena pada akhirnya mereka-pun tidak dapat lebih dari sekedar teman selingkuh. Sayangnya, teman laki-laki saya adalah tipe yang tidak tahan jika kesepian. Lepas dari yang satu, ia-pun mencari mangsa yang lain untuk dijadikan selingkuhan padahal ia sedang mempersiapkan pernikahannya and … he got one!
Selingkuh di site bukannya tanpa resiko namun hidup terisolir membuat logika seringkali kalah dari perasaan. Yang unik dari perselingkuhan di site adalah perselingkuhan sebenarnya diketahui oleh hampir seluruh karyawan di site, namun seperti halnya istilah di Las Vegas, yaitu, “What happen in Vegas, let it still in Vegas”. Ungkapan ini mengandung makna bahwa apa yang terjadi di site, biarlah itu tetap menjadi rahasia di site. Akhirnya selingkuh-pun menjadi dosa kolektif karena selingkuh dianggap menjadi urusan masing-masing pribadi dan orang lain tidak berhak untuk melarang meskipun tahu bahwa seorang teman telah melakukan hubungan terlarang. Sikap tahu sama tahu-pun akhirnya diterapkan ketika mengetahui teman terlibat dalam perselingkuhan.
Tak jarang hubungan perselingkuhan lebih dari sekedar membagi perasaan dan perhatian, tapi juga melakukan hubungan seksual. Pintar melihat peluang, memanfaatkan waktu yang ada serta jaringan pertemanan dan sedikit kekuasaan membuat hubungan seksual di site-pun mungkin untuk dilakukan. Di site saya yang terdahulu, bahkan ada yang melegalkan perselingkuhannya dalam sebuah pernikahan siri.
Itulah sepenggal kisah kehidupan di site. Tapi hal ini hanya dilakukan oleh beberapa orang saja yang umumnya tidak kuat iman dan tidak tahan godaan, mungkin hanya 10% dari seluruh populasi karyawan yang bekerja di site (belum ada penelitian yang membuktikan presentase ini). Tips untuk para istri atau suami yang pasangan hidupnya saat ini tinggal di site adalah tetap berikan dukungan dan perhatian sekecil apapun untuk pasangan anda agar jangan sampai pasangan anda mencari perhatian dari orang lain yang lebih dekat secara geografis serta terjangkau setiap harinya dan akhirnya menciptakan perselingkuhan di lingkungan kerja.

Keep the faith is difficult but I’ll try my best to keep it...

Selasa, 05 Februari 2013

Cinta Tidak Harus 'I Love You'

Saya biasanya tidak menyukai Broadcast Message (BM), namun BM dari seorang teman kali ini sangat saya sukai. Begini isi BM-nya :
 
CINTA TIDAK HANYA DIKATAKAN, TETAPI DILAKUKAN (Kisah sepasang Kakek dan Nenek…)


Seorang kakek menyuapi istrinya yang sedang sakit. Memang sangat menyentuh dan menurut saya inilah saat paling romantic dalam hidup sepasang manusia. Apalah arti kata ‘I Love U’ bila hanya sebatas di mulut tanpa tindakan nyata, seperti saling menjaga, mengasihi dan janji setia untuk seumur hidup hanya dengan seorang pria/wanita sebagai ‘pasangan’.
Si kakek ini seumur hidupnya Ia tidak pernah mengucapkan ‘I Love You’ dalam bahasa verbal apapun. Ketika kakek itu melamar si nenek, hanya 3 kata yang diucapkan : “Percayalah kepada Saya”.
Ketika si nenek melahirkan anak perempuan pertama, si kakek mengatakan : “Maaf sudah menyusahkan kamu”.
Ketika anak perempuannya menikah, si istri merasa kehilangan dan si suami ini hanya merangkul dia, dengan mengatakan : “Masih ada saya”
Ketika si nenek sedang sakit parah, Ia mengatakan kepadanya : “Saya akan selalu ada di sampingmu”.
Ketika si nenek sakitnya makin parah dan akan meninggal, si Kakek hanya mengatakan kepada istrinya : “Kamu tunggu saya ya”.

Seumur hidup, Ia tidak pernah sekalipun mengucapkan : “Aku cinta padamu” tetapi “Cinta”nya tidak pernah meninggalkan dia, cintanya diwujudkan dalam hidup keseharian mereka seumur hidup. Tindakan dan perbuatannya selalu penuh dengan cinta. 
Sangat menyentuh meskipun saya tahu itu hanyalah sebuah kisah fiksi belaka. Namun cerita itu jadi mengingatkan saya akan hubungan saya dengan pacar saya yang sekarang, Kay. Awal pendekatan, Ia memang sering bilang cinta dan sayang, namun setelah beberapa lama kami berhubungan, ungkapan-ungkapan itu-pun jarang saya dengar. Tentu saja saya marah padanya karena sebagai wanita, saya membutuhkan perhatian yang lebih dari pasangan dan sedikit kata-kata cinta rasanya sah-sah saja. Dan jawabannya ketika saya menanyakan hal itu kepadanya sangatlah mirip dengan kisah di atas. Saya ingat sekali dia berkata dengan serius kepada saya, “Apalah arti kata cinta kalau itu hanya di mulut saja. Kebanyakan kata cinta itu namanya gombal, hanya merayu saja. Saya tidak mau nona terbuai dalam rayuan, seperti dengan mantan-mantan nona itu” Deg… jawabannya sangat telak, namun tetap masih tidak dapat saya terima karena saya adalah jenis wanita yang suka dirayu. Dan pacar saya tetap kukuh pada pendiriannya yang akhirnya membuat saya-pun terbiasa tidak mendengar kata-kata cinta darinya. Terasa tidak romantis dan hambar rasanya, namun setelah saya renungkan apa yang dia bilang ternyata benar adanya. 


Seringkali kita hanya terjebak pada ‘lip service’ saja. Manis di mulut, belum tentu tindakan juga manis, seperti yang sudah saya alami dengan mantan pacar saya sebelumnya. Dia termasuk royal dalam mengucapkan ‘cinta’, namun setiap di balik kata ‘cinta’ ada rayuan lainnya yang sesat dan puncaknya adalah dia melakukan KDRT terhadap saya. Sungguh menyakitkan dan rupanya pacar saya yang sekarang ingin memberikan pelajaran ini, yaitu untuk tidak mudah mempercayai kata-kata ‘cinta’ tanpa tindakan.


Pacar saya tidak sesempurna kakek dalam kisah di atas. Dia tidak se-romantis kakek itu dalam menjaga saya dan dia tidak selalu ada di samping saya ketika saya membutuhkannya. Namun dia punya tujuan yang penting dalam hubungan kami, yaitu dia tidak ingin saya bergantung padanya, tetap dapat berdiri di atas kaki saya sendiri meskipun saya memiliki dia. Dia meneguhkan rasa percaya diri saya dan mengajarkan saya untuk menerima realita kehidupan bahwa hidup tidak selalu sesuai rencana. Dia akan diam dan menghindari saya ketika kondisi hatinya sedang tidak enak atau sedang banyak pikiran. Mungkin ini bagi sebagian orang terlihat kejam atau egois, namun maksud dia bukanlah itu. Dia tidak ingin saya jadi pelampiasan kekesalannya tanpa sengaja dan tidak ingin bertengkar dengan saya sehingga dia memilih untuk diam dan menghindar ketika sedang dalam masalah atau tidak enak hati. Awalnya saya kesal karena saya merasa tidak dipercaya sebagai pasangan, namun rupanya itu adalah strateginya untuk memecahkan masalah dan saya-pun terbiasa untuk memberinya waktu sendiri.
Pernah kami bertengkar hebat karena masalah di keluarga besarnya dan dia memutuskan saya. Saya kesal bukan main dan merasa sakit hati, namun ketika saya menceritakan hal ini pada keluarga saya, barulah saya terbuka bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah sikap yang ‘gentle’. Dia berani mengakui bahwa keluarganya sedang dalam masalah (sebagian besar pasangan biasanya mentutup-tutupi hal ini dari pasangannya) dan dia merasa tidak adil jika menyeret saya dan melibatkan saya dalam masalah keluarganya karena saya belumlah resmi menjadi istrinya. Selain itu, dia juga ingin saya mendapatkan seseorang yang lebih baik dan siap untuk menikahi saya. Deg… ternyata saya salah menilainya dan dia melakukan itu karena dia sangat mencintai saya.

Masa pacaran kami bukanlah masa yang indah karena kesulitan demi kesulitan menghadang jalan kami. Dan memang harusnya saya mensyukuri hal ini. Tak banyak orang yang bisa survive menghadapi persoalan seperti yang dialami oleh pacar saya dengan kepala tetap dingin, namun pacar saya sejauh ini bisa melakukannya dan dia tidak pernah putus asa untuk keluar dari masalah. Hal ini membuat saya yakin bahwa ketika menikah nanti, kami akan bisa mengatasi masalah dengan baik tanpa salah satu kehilangan akal sehatnya karena kami sudah banyak berlatih di masa pacaran kami. Saya bersyukur diberikan banyak pengalaman pahit bersamanya karena dari pengalaman-pengalaman itulah akhirnya saya bisa menilai kualitas pasangan saya. And it makes me love him more….

Saya sering merasa minder jika jalan bersama dengan pacar saya karena pacar saya tidaklah keren dan tidak pernah mau diajak jalan-jalan untuk kegiatan sosialisasi. Dan, dia-pun bukanlah termasuk orang yang sukses secara materi. Namun akhir-akhir ini saya-pun jadi mentertawakan diri saya yang terlalu ‘naif’ dan dangkal dalam menilai pasangan saya. So what jika dia tidak tampan, tidak gaul dan tidak kaya? Karena ternyata dia memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan kekurangan yang saya sebutkan tadi dan sudah seharusnya saya bangga akan dia. Ada berapa banyak orang anak bungsu yang mau berkorban untuk keluarganya? Rela hidup susah agar keluarganya terpenuhi kebutuhannya? Saya rasa tidak banyak karena saya-pun bukan termasuk orang yang seperti itu, dan pacar saya adalah kategori orang yang mau susah untuk menyenangkan keluarganya, persis seperti ayah saya. Dan dia melakukannya bukan karena sebuah kewajiban sebagai anggota keluarga tapi karena dia adalah orang yang bertanggung jawab. Ada berapa banyak orang yang rela hidup tanpa sinyal telepon dan hidup di daerah pedalaman demi mewujudkan cita-citanya? Saya rasa tidak banyak karena jikalaupun ada, kebanyakan melakukannya karena masalah financial. Pacar saya punya mimpi menjadi kontraktor pembangkit listrik mikro hidro. Itu artinya dia memang harus masuk ke daerah-daerah pedalaman untuk membangun pembangkit-pembangkit listrik bagi penduduk di seluruh Indonesia yang belum terjamah oleh listrik. PLTMH adalah sebuah pembangkit yang mengandalkan tenaga air sungai untuk menghasilkan daya listrik. Biasanya daya listrik yang dihasilkan juga tidak besar karena sangat tergantung debit air sungai dan ini adalah pembangkit yang paling mungkin untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses. It’s cool, isn’t it? Konsekuensi dari itu adalah saya harus siap untuk hidup terpisah dari dia dan itu sebabnya dia tidak menginginkan saya terlalu tergantung pada dirinya karena toh sejak sebelum bertemu dengan dia, saya adalah wanita yang mandiri dan pasangan saya tidak ingin saya berubah, yaitu tetap menjadi diri saya sendiri.

Cinta tidak harus diucapkan dalam kata-kata, namun yang lebih penting adalah diwujudkan dalam tindakan. Ijinkan aku untuk jatuh cinta padamu lagi, Kay…